Monday, November 28, 2016

Pergeseran Orientasi Spiritual Datuk Imam Marzuki, Mahasiswa Pasca UIN RF Palembang

Pergeseran Orientasi Spiritual
Datuk Imam Marzuki, Mahasiswa Pasca UIN RF Palembang


Tulisan ini menjelaskan tentang adanya pergeseran orientasi institusi spritual, yang memfokuskan pada upaya “olah-spritual” menjadi “olah-material”, ditandai adanya praktek komodifikasi ritual. Pergeseran orientasi ini dipengaruhi menguatnya pertukaran nilai sakral menjadi nilai profan, yang “memaksa” pengelola paguyuban  tidak lagi memandang ritual yang dilakukan sebagai aktifitas spritual-keakhiratan saja, tetapi juga menjadi aktifitas material-keduniaan.
Fenomena Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti keduanya diduga melakukan tindak pidana kriminal. Taat diduga terlibat dalam tindak pidana pembunuhan dan penipuan penggandaan uang. Sedangkan Gatot tertangkap tangan karena memiliki narkoba dan terakhir, diduga melakukan pemerkosaan anak di bawah umur. Baik Taat dan Gatot atau pengikut-pengikutnya menggunakan kedok agama untuk menjalankan kegiatan kriminal mereka. Taat menjadi pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dan Aa Gatot menjadi bos di Padepokan Baramusti di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Taat dan Gatot atau para pengikutnya mengaku keduanya memiliki ilmu sakti mandraguna, Taat untuk melakukan penipuan penggandaan uang dan Gatot barangkali untuk memikat wanita-wanita yang diinginkannya. Bahkan keduanya mengaku berkawan akrab dengan jin. Gatot misalnya, mengaku ia kadang-kadang adalah jin atau uncle. Taat dan Gatot sama-sama memiliki pengikut atau murid yang fanatik dan yang menakjubkan, di antara pengikut-pengikutnya itu adalah orang-orang yang terkenal, tokoh masyarakat. Pada kasus Gatot, sebut saja ada artis Elma Theana dan penyanyi Reza Artamevia.

Kasus menyangkut irasionalitas yang dibicarakan di media massa saat ini yakni fenomena “guru spiritual” dikalangan selebritis dan pejabat bahkan cendikiawan. Keberadaan “guru spiritual” seolah-olah menjadi trend di media massa, hampir seluruh stasiun televisi menanyangkan berita dengan topik tersebut. Dipercayai mempunyai kesaktian untuk dapat membawa kenikmatan dunia (harta) dan kemuliaan sesaat bagi pengikutnya dengan cara yang instan. Hal ini terungkap dalam buku “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis yang menyatakan bahwa ciri keempat manusia Indonesia adalah masih percaya tahayul. Dulu dan sekarang juga masih ada yang demikian, manusia Indonesia percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau,karang, pohon, patung, bangunan, keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat dan manusia harus mengatur hubungan khusus dengan ini semua (Lubis, 1978). Hal ini menyimpulkan masyarakat Indonesia masih memiliki kepercayaan-kepercayaan terhadap hal gaib sehingga mengakibatkan masyarakat belum dapat berfikir rasional melihat peristiwa.

Dalam banyak aliran kebatinan, orang-orang dengan tanpa alasan wajar, menganggap perasaan sendiri adalah wahyu atau panggilan Tuhan. Untuk dapat membedakannya, dapat dilihat dari jalan atau cara yang membawa orang tersebut kepada pengalaman batin tertentu. Seorang yang beriman mendekati Tuhan dengan doa, amal saleh, renungan, cinta kepada sesama, pengekangan nafsu duniawi, itulah layak mengharapkan anugerah pengalaman rohani otentik. Tetapi dalam aliran-aliran kebatinan seringkali dijumpai teknik olah-rasa yang aneh-aneh, yang bersifat gaib dan magis, yang tidak memenuhi kaidah moral. Pastilah dalam hal sebegitu orang tidak merasai hadirat Tuhan, melainkan merasai sang aku sendiri saja. Mereka menipu dirinya sendiri. Kesadaran diri dianggap bernilai religius. Angan-angan sendiri dianggap panggilan Tuhan. Rasa panca indera dianggap pengalaman iman. Tegasnya: mereka hidup dalam ilusi dan ilusinya disiarkan kepada orang lain sebagai seruan yang berasal dari Tuhan

Kehidupan modern yang materialis-hedonistic dan hanya menekankan pada aspek lahiriyah semata, berakibat pada kegersangan spiritual dan dekandensi moral serta stress menjadi fenomena yang lumrah. Pada titik jenuhnya, manusia akan kembali mencari kesegaran rohaniyah untuk memenuhi dahaga spiritualnya. Apabila hal ini terjadi maka agama justru menjadi terasing dengan persoalan kehidupan manusia, karena fungsi agama menjadi kabur. Agama yang seharusnya menjadi pembebas akan terperosok dan terjebak pada aspek romantisme formal. Oleh
sebab itu sangat wajar, apabila ketika kesalehan dijadikan alat politik untuk mencari popularitas, posisi, kedudukan, dan kekuasan konsekuensi logis yang akan ditanggung oleh umat beragama adalah ketidak berdayaan eksistensi. Agama harus kembali kepada semangat awal yakni berfungsi profetis. Agama harus kritis terhadap kekuasaan, harus mampu membebaskan masyarakat dari kebodohan, ketakutan, kemiskinan, dan sistem yang menindas. Dalam realitas banyak masyarakat yang menghayati agama secara formalis. Mereka rajin beribadah, tetapi juga rajin menjelekkan orang lain. Mereka rajin berdoa tetapi juga rajin menindas sesama. Mereka rajin berziarah, tetapi juga rajin korupsi dan manipulasi.



Revolusioner Kesadaran Spiritual

Dalam konteks tersebut, agama dalam tema universalnya dapat dipahami sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya. Melalui interaksi sukarela berbasis hubungan guru-murid dalam arti sesungguhnya atau imajiner inilah komunitas muslim negeri ini menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi secara swadaya dari membangun tempat ibadat, pesantren, madrasah atau sekolah modern hingga perguruan tinggi. Realitas warga sipil komunitas muslim ini sering kurang memperoleh perhatian pemerintah yang bekuasa, bahkan juga organisasi social Islam atau partai-partai berbasis Islam. Struktur hubungan sufistik dalam dimensi spiritual di atas berhubungan dengan struktur hierarhi realitas alam sebagai ciptaan Tuhan. Manusia bukan hanya bagian alam, tetapi sebagai puncak ciptaan yang memiliki kemampuan memahami subyek pencipta yaitu Allah sendiri. Aktualisasi struktur puncak itu tergantung usaha sang manusia untuk memahami diri dan realitas alam sebagai penanda atau ayat-ayat Tuhan. Kaum spiritualitas melakukan berbagai usaha guna merealisasi kualitas itu secara bertahap yang puncaknya disebut makrifat.

Kecenderungan baru pemikiran dan realitas budaya sebagai konsekuensi dari berakhirnya modernisme yang ditandai oleh semakin terbatasnya gerak kemajuan dan kebaruan di dalam berbagai bidang kultural, sehingga kini kebudayaan memalingkan mukanya ke wilayah-wilayah masa lalu dalam rangka memungut kembali warisan bentuk, simbol, dan maknanya. Terlepas setuju atau tidak, cara dan isi ajaran sufi dan tarekat terbukti mampu mengubah kepribadian dan kesadaran seseorang secara radikal dan revolusioner. agama yang dipahami dalam konteks primitif, maupun agama yang dipahami dalam konteks modern. Konteks demikian memberikan pemahaman bahwa agama sebagai hal yang fitrah (natural) pada diri manusia selalu berkaitan dengan perkembangan kebudayaan manusia itu sendiri. Dengan demikian antara agama dan budaya suatu masyarakat selalu terdapat kaitan yang signifikan.

Mayoritas penduduk Indonesia seperti terbagi habis ke dalam pola spiritualitas sufistik tersebut dalam hubungan patron-klien. Berbagai tradisi seperti yasinan,tahlilan, pengajian, hingga jamaah langgar atau musolla dan masjid atau yang lebih sistematis organisasi sosial keagamaan dan partai politik, mencerminkan komunitas patronklien. Umat awam di posisi murid atau klien, sedang ulama, kiai, guru ngaji, muballigh, ustad, pada posisi guru (patron). Organisasi keagamaan berbasis guru-murid dengan struktur dasar yang dibangun secara sukarela memunculkan beragam kelompok pengajian, tahlilan, yasinan, rukun kematian, jamaah langgar dan masjid. Walaupun tidak seluruh pemeluk Islam merupakan pengikut tarekat, namun relatif memiliki guru, seperti guru ngaji, ustad, muballigh atau kiai. Guru kelompok primer ini mempunyai guru di tingkat lebih tinggi dan seterusnya hingga tingkat nasional. Inilah struktur terdasardari organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan NU yang meluas pada hubungan organisasi politik, khususnya yang bersimbol Islam. Pandangan sang guru dan organisasi keagamaan tingkat nasional atau lokal, merupakan fatwa yang menjadi referensi umat dalam melakukan berbagai tindakan sosial, ekonomi, dan politik. Struktur hubungan sufistik di atas relatif berada di luar system tata hubungan politik kenegaraan.
Selain aksi-aksi pribadi, tahap revolusioner kesadaran spiritual di atas kadang diperoleh melalui dialog atau tindakan bersama. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebebasan spiritual dan perubahan revolusioner tentang hubungan si sufi dan dunia benda atau kehidupn duniawi. Tidak jarang aksi-aksi ini dilakukan melalui paparan kisah-kisah mistis dan atau dialog tentang pengalaman empirik dan spiritual tokoh dengan implikasi kesadaran yang kurang lebih serupa. Sebagian mengalami revolusi spiritual melalui guru yang dalam tradisi sufi disebut mursyid, namun banyak yang mencapai melalui usaha pribadi. Praktik sufi dengan guru mursyid atau usaha pribadi dilakukan umat dalam hidupnya sehari-hari. Sebagian menyadari dirinya sedang menempuh jalan spiritual itu dan banyak yang lain berlangsung otomatis, namun seluruhnya adalah cara manusia memberi makna hidup sosial dan empriknya di dunia ini.
Menurut Prof. Muhammad Muhsin Jayadiguna, aliran kebatinan di Indonesia dapat dibedakan dalam empat golongan: Golongan pertama yang mementingkan ilmu gaib dapat disebut dengan science occultes atau lebih singkat occultisme, golongan ini yang mementingkan ilmu gaib.  Golongan kedua yang berusaha mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan dinamakan dengan mystic atau mistisisme. Golongan ketiga yang membahas “paran sangkaning dumadi” dinamakan ahli metafisik, yakni tentang hal-hal di luar alam. Golongan keempat yang mementingkan budi luhur, dinamakan moralist, alirannya adalah morale atau ethics. Golongan pertama ini yang hendak menggunakan kekuatan-kekuatan gaib untuk melayani berbagai keperluan manusia. Selanjutnya golongan yang berusaha untuk mempersatukan jiwa manusia dengan Tuhan, selama manusia itu masih hidup, agar dengan demikian, manusia dapat merasakan dan mengetahui hidup yang baka sebelum manusia mengalami mati. golongan selanjutnya yang berniat mengenal Tuhan, dan menembus alam rahasia “paransangkaning dumadi”, dari mana hidup manusia dan hendak kemana hidup itu akhirnya pergi. golongan yang berhasrat untuk menempuh budi luhur di dunia ini serta berusaha menciptakan masyarakat yang berdasarkan saling menghargai dan mencintai dengan senantiasa mengindahkan perintah Tuhan (M. Rayidi: 1992)

No comments:

Post a Comment