Monday, November 28, 2016

Antara Artis dan Simbol Negara (Komunikasi Pemaknaan Semiotika) Mahasiswa Pascasarjana UIN RF Palembang, Dosen UMSU



Antara Artis dan Simbol Negara (Komunikasi Pemaknaan Semiotika)
Mahasiswa Pascasarjana UIN RF Palembang, Dosen UMSU


Artis dikonotasikan sebagai “trendmade” industry media, sikap dan prilakunya menjadi pusat perhatian” “bagi para pemirsa televisi. Tulisan ini mengangkat tentang fenomena artis berinisial ZG atas ucapannya yang asal bunyi saat tampil di sebuah program televisi. Dalam acara itu, Zaskia bersama Ayu Ting Ting dan Julia Perez menjadi peserta sebuah kuis. Denny 'Cagur' sebagai pemandu kuis itu pun bertanya, kapan proklamasi dikumandangkan. Zaskia menjawabnya dengan nyeleneh, 'saat azan subuh', diikuti jawaban 'ngasal' lainnya yang menyebut tanggal proklamasi pada 32 Agustus. Begitu juga ketika ditanya lambang sila kelima Pancasila, Zaskia mengatakan sesuatu yang bikin terperangah: "Bebek nungging!.
Ungkapan nyeleneh artis tersebut langsung membuat para hatters menyela ZG di media social. Sehingga menjadi perhatian public dan media, bahkan sampai kepada pengaduan oleh LSM karena adanya indikasi tindak pidana penghinaan symbol Negara. ZG langsung “menggelar jumpa pers di kantor Nagaswara, Jalan Johar, Jakarta Pusat, Selasa, Zaskia juga terlihat berkaca-kaca meski berusaha untuk tegar. Ia mengakui kesalahan itu sebagai keteledorannya pribadi."Saya sama sekali tidak ada niat dan unsur kesengajaan, itu spontan saja," tuturnya
Artis juga memahami, jika berita mengenai dirinya di media massa akan berdampak secara psikologis bagi publik. Berita dengan citra yang positif akan menghasilkan dampak popularitas yang positif. Sebaliknya, jika berita memuat citra negatif, maka akan menghasilkan dampak popularitas yang negatif pula. Akibat dari citra diri yang dibingkai oleh wartawan dalam berita di media massa, dampaknya adalah popularitas artis yang meningkat di publik
Dalam kajian komunikasi ini disebut dengan komunikasi media massa bekerja untuk menyampaikan informasi. Bagi khalayak, informasi itu dapat membentuk, mempertahankan atau meredefinisikan citra. Menurut Mc.Luhan (dalam Rakhmat, 2008: 224) media massa adalah perpanjangan alat indra kita. Dengan media massa, kita memperoleh informasi tentang benda, tempat yang tidak kita alami secara langsung, maupun figur-figur tertentu. Realitas yang ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi – realitas tangan kedua (second hand reality). Wartawan adalah orang yang kemudian menampilkan realitas simbol-simbol yang diterimanya.

“Pelecehan” Makna Simbol Negara
Lambang suatu negara memiliki makna filosofis dan historis bangsa. Oleh karena itu, bentuk, warna, dan bagian-bagiannya secara keseluruhan memiliki makna yang berkaitan sejarah perjuangan bangsa. Dan, penggunaannya pun, ada ketentuan-ketentuan yang mengatur sehingga lambang tersebut diperlakukan sebagaimana seharusnya demi menjaga kedaulatan bangsa dan negara. bulu pada masing-masing sayap, 8 helai bulu pada ekor, 19 helai bulu pada perisai, dan 45 helai bulu di leher. Warna dasar pada ruang perisai adalah warna bendera kebangsaan Indonesia "merah-putih". Sedangkan pada bagian tengahnya berwarna dasar hitam. Pada perisai terdapat lima buah ruang yang mewujudkan dasar Negara Pancasila.
Lambang negara memiliki makna historis bangsa, oleh karena itu, bentuk, warna, dan bagian-bagiannya secara keseluruhan memiliki makna yang berkaitan sejarah perjuangan bangsa. Dalam penggunaannya pun, ada ketentuan-ketentuan yang mengatur sehingga lambang tersebut diperlakukan sebagaimana seharusnya demi menjaga kedaulatan bangsa dan negara. Setiap orang dilarang: 1. mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan
Lambang Negara; 2. menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk,
warna, dan perbandingan ukuran; 3. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan
4. menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang.
ZG artis yang mengakui “ketidaktahuannnya” karena berhenti dibangku sekolah melanjutkan karirnya menjadi penyanyi dan manggung reguler dari satu kafe ke kafe lainnya. ZG Tidak memahami betul makna dan arti dari sebuah symbol Negara, tapi tidak seharusnya “semena-mena” memaknai “liar” arti dari symbol tersebut yang berakibat fatal. Dugaan pelanggaran terhadap UU tentang dasar negara, pasal 57 huruf A juncto pasal 68 UU Nomor 24 tahun 2009 tentang penghinaan atau pelecehan dasar negara dengan ancaman hukuman lima tahun penjara dan denda Rp 500 Juta rupiah. karena dianggap telah melanggar Pasal 154a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penodaan terhadap bendera kebangsaan Indonesia dan Pasal 155 KUHP tentang penghinaan terhadap Pemerintah Indonesia. "Sejatinya penyiaran itu bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memperkukuh integrasi nasional dan membentuk akhlak yang baik. Kalau acara seperti ini diakomodir terus, akhlak anak kita bagaimana? Sudah tidak ada lagi penghormatan terhadap apapun terhadap bangsa Indonesia nantinya," (Fahira Idris:Anggota DPD RI)

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kalimat tersebut memiliki makna yang sangat luas. Makna dari sila ke lima Pancasila yang disarikan isi dan naskah tersebut kedalam 45 butir P-4, Rakyat Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk membela negaranya. Rakyat indonesia juga memiliki jaminan hak asasi manusia yang tertuang dalam UUD 1945. Hak asasi manusia tersebut mencakup hak atas kwdudukan yang sama dalam hukum, hak atas penghidupan yang layak, hak atas kehidupan berserikat dan , berkumpul, hak atas kebebasan mengeluarkan pendapat, hak atas kemerdekaan memeluk agama, hak untuk mendapatkan pengajaran,
Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia dilambangkan dengan kapas dan padi di bagian kanan bawah perisai berlatar putih yang bermakna: a. Kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat. b. Seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagiaan bersama menurut potensi masing-masing. c. Melindung yang lemah agar kelompok warga masyarakat dapat bekerja sesuai bidangnya. Sila ke lima Pancasila yang berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat indonesia diliputi, didasari, dijiwai oleh sila ke 1,2,3,4. Dengan demikian makna yang terkandung dalam sila ke lima Pancasila merupakan gambaran terlengkap dari makna keseluruhan Pancasila. Namun nilai yang terkandung dalam Pancasila selain sila ke 5 juga memiliki keterkaitan dengan sila lainnya.


Urgensi Memaknai symbol Negara
Pancasila dirumuskan dari kehidupan bangsa Indonesia yang digunakan untuk pedoman bangsa Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila memiliki fungsi sebagai dasar filsafah negara dijabarkan juga sebagai jiwa bangsa, sebagai kepribadian bangsa, sebagai pandangan hidup bangsa, yang kemudian dijadikan sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Jika kita mengamati kejadian di lingkungan masyarakat sekitar kita, kita dapat mengetahui berapa jauh perubahan norma manusia yang melenceng dari kaidah dan nilai Pancasila. Maka, agar Pancasila itu benar- benar terasa dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus melestarikan Pancasila, maka rakyat Indonesia harus berusaha melaksanakan pedoman pengamalan Pancasila, dengan mendarah dagingkan nilai – nilai yang luhur yang terkandung dalam Pancasila.
Didalam burung garuda banyak makna-makna yang terkandung dalam burung garuda yang digunakan sebagai lambang negara Republik Indonesia ini. Dalam tubuhnya mengemas kelima dasar dari Pancasila. Terdapat pula perisai yang berupa tameng yang telah lama dikenal dalam kebudayaan dan peradaban Indonesia sebagai bagian senjata yang melambangkan perjuangan, pertahanan, dan perlindungan diri untuk mencapai tujuan. Di tengah-tengah perisai terdapat sebuah garis hitam tebal yang melukiskan garis khatulistiwa yang menggambarkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu negara tropis yang dilintasi garis khatulistiwa membentang dari timur ke barat. Terlihat pula kedua cakar Garuda Pancasila mencengkeram sehelai pita putih bertuliskan "Bhinneka Tunggal Ika" berwarna hitam. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap adalah satu kesatuan, bahwa di antara pusparagam bangsa Indonesia adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan.
Lambang negara merupakan sebuah tanda yang dibuat berdasarkan pada pencitraan bangsa. Sedangkan semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Semiotika berasal dari bahasa yunani “semeion” yang memiliki arti “tanda”. Semiotika yang biasanya didefinisikan sebagai pengkajian tanda-tanda (the study of sign), pada dasarnya merupakan sebuah studi atas  kodekode, yaitu sistem apapun yang memungkinkan untuk memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna (Budiman, 2011:1).
Akmal Sutja, dalam buku Mencari Telur Garuda, menjelaskan bahwa garuda itu adalah istilah yang dipakai dalam mitologi untuk menunjukkan burung elang rajawali, sementara bentuk atau wujud asli atau alamiahnya adalah elang rajawali. Burung garuda dari mitologi menurut perasaan orang Indonesia berdekatan dengan elang rajawali. Penggunaan elang sebagai simbol memberikan asosiasi kepada ketinggian, semangat yang membara seperti matahari dan prinsip burung secara umum. Elang adalah burung yang hidup dengan pengaruh matahari secarah menyeluruh, karena itu elang dianggap sebagai bercahaya dalam esensinya dan memiliki elemen udara dan api. Berbeda dengan burung hantu yang dilambangkan dengan kematian dan kegelapan. Sejak elang diidentifikasikan dengan matahari, elang juga dapat menjadi simbol dari ayah (Bapa). Elang secara lebih lanjut dijadikan sebagai simbol dari kecepatan dan keberanian untuk terbang lebih tinggi. Elang merupakan raja dari para burung, yang dikenal sebagai simbol dari kekuasaan yang besar dan kegagahan.
Komunikasi inter-subjektivitas sesungguhnya menjadi prasyarat bagi kebenaran fenomenologis. Melalui dialog yang membudaya, masyarakat Indonesia diyakini akan mampu menciptakan komunikasi yang intens inter-subjektif, inilah pemahaman nilai-nilai Pancasila sebagai The Five First Principles semakin menunjukkan kualitas yang afirmatif sekaligus kritis. Timbal baliknya, dalam komunikasi yang menentukan pemahaman tersebut, Pancasila merupakan prinsip pertama yang harus digunakan sebagai semangat ataupun guiding ideal. Pancasila sebagai guiding ideal merupakan “utopia relevan” yang secara normatif mengarahkan nilai-nilai hidup bangsa Indonesia yang menjamin adanya “kelangsungan hidup”, “penghargaan terhadap martabat manusia”, dan “kebebasan” (Sastrapatedja, 1986: 299). Kebenaran tentang Pancasila bukan lagi terletak pada ”realitas objektif” baik mengatasi ataupun di dalam individualitas manusia Indonesia, melainkan ada berproses bersama dalam “realitas Indonesia” yang bersifat aktual, organis dan dinamis.

No comments:

Post a Comment