Monday, November 28, 2016

Narkoba Lebih Berbahaya Daripada Terorisme Datuk Imam Marzuki, TKS Napza Kemensos

Isu Teroris hari ini terus menjadi perhatian bagi masyarakat Indonesia, bahkan lebih menakutkan lagi para pelaku teror seakan-akan ada disekeliling kita. sehingga penegak hukum seperti pucuk pimpinan Polri berada di depan untuk memaparkan kondisi kekinian isu teroris di Indonesia. begitu juga media massa seperti televisi swasta seolah-olah lebih menayangkan pada bahaya para pelaku teror. sungguh naïf dan tidak berpihak kepada kepentingan banyak terutama kegelisahan masyarakat Indonesia terkhusus penduduk Sumatera Utara. padahal masyarakat sekarang ini benar-benar ketakutan dengan adanya para pengedar dan pemakai narkoba. bagaikan dua sisi mata uang, mereka para pemakai berefek kepada prilaku criminal, yang akhirnya mencuri dan merampok. ini menjadi kegelisahan bangsa sehingga Presiden Jokowi Maju ke depan menyampaikan dipidatonya akan Bahaya Narkoba.
begitu Sosialisasi yang disampaikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mengatakan: “Darurat Narkoba Jauh Lebih Mengerikan Daripada Terorisme”  ungkapan ini dikatan ketika melaksanakan sosialisasi dan peresmian Pusat informasi dan edukasi Napza dipanti Putra Yogyakarata kemarin. Khofifah mengungkapkan narkoba jauh lebih mengerikan karena sehari 40 orang pecandu meninggal dunia.
Menjadi menarik untuk didiskusikan ketika narkoba dihadapkan dengan isu terorisme, pertama, Korban penyalahgunaan narkoba telah meluas sedemikian rupa sehingga melampaui batas-batas strata sosial, umur, jenis kelamin. Merambah tidak hanya perkotaan tetapi merambah sampai pedesaan dan melampaui batas negara yang akibatnya sangat merugikan perorangan, masyarakat, dan negara, khususnya generasi muda. Bahkan dapat menimbulkan bahaya lebih besar lagi bagi kehidupan dan nilai-nilai budaya bangsa yang pada akhirnya dapat melemahkan ketahanan nasional. Kedua, Ketidak adilan dan penindasan yang dilakukan oleh kelompok kuat terhadap kelompok yang lemah adalah akar permasalahan munculnya perilaku teror. Dalam konteks global, terorisme yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia hanyalah limbah dari efek politik ganda yang dilakukan negara kuat terhadap negara lemah. Artinya wacana terorisme ini tidak sampai merasuki “akar rumput” sehingga memporak-porandakan masa depan pemuda dan remaja diperkotaan sampai pedesaan.
Bangsa Indonesia, saat ini pada keadaan yang sangat mengkhawatirkan akibat semakin maraknya penggunaan narkotika, kekhawatiran ini semakin dipertajam akibat meluasnya peredaran narkotika di kalangan generasi muda. Selain itu Indonesia yang beberapa waktu lalu menjadi tempat transit dan pasar bagi peredaran narkotika, saat ini sudah berkembang menjadi produsen narkotika. Hal yang lebih memprihatinkan adalah fakta menunjukkan penyalahgunaan narkoba didominasi oleh kaum muda dan remaja. Dari 4% (8 juta) seluruh penduduk Indonesia menjadi pemakai narkoba. Sekitar 70% nya dari pecandu itu berusia 14-21 tahun di usia sekolah (Dadang Hawari)
Jadi, didukung teknologi, kejahatan penyalahgunaan narkoba, sangat mudah menjangkau siapapun tanpa pandang tempat. Satu hal yang ingin saya tekankan, zaman saat ini (sudah) tidak ada yang namanya pelosok maupun kota, semua sama. Semenjak ada internet dan smartphone, dunia saat ini tidak ada sekat lagi. salah satu faktor hadirnya narkoba karena wacana globalisasi. padahal ada kemanfaatan besar yang diperoleh dari adanya globalisasi yang telah memberikan warna bagi kemajuan ilmu pengetahuan, komunikasi yang tidak terbatas, teknologi yang terus meningkat, serta memberi banyak peluang yang cukup besar. Sehingga adanya globalisasi secara tidak langsung telah membuat arena kompetisi yang cukup hebat.

Penyalahgunaan narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) di Indonesia beberapa tahun terakhir ini menjadi masalah serius dan telah mencapai masalah keadaan yang memperihatinkan sehingga menjadi masalah nasional. Secara Nasional dari total 111.000 tahanan, 30% karena kasus narkoba, perkara narkoba telah menembus batas gender, kelas ekonomi bahkan usia (Berita Mahkamah Konstitusi, 2007). Narkoba jenis psikotropika maupun narkotika sama-sama mengakibatkan sesuatu yang yang tidak baik bagi para penggunanya. Narkoba dapat mengakibatkan orang menjadi resah, gelisah, mengkhayal terlalu tinggi, serta dapat membawa pelaku pada penghilangan fungsi akal yang sebenarnya.
Narkoba jenis psikotropika maupun narkotika sama-sama mengakibatkan sesuatu yang yang tidak baik bagi para penggunanya. Narkoba dapat mengakibatkan orang menjadi resah, gelisah, mengkhayal terlalu tinggi, serta dapat membawa pelaku pada penghilangan fungsi akal yang sebenarnya. Tindak Pidana penyalahgunaan dan peredaran Narkotika, sangat diperlukan karena kejahatan Narkotika pada umumnya tidak dilakukan oleh perorangan secara berdiri sendiri, melainkan dilakukan secara bersama-sama bahkan dilakukan oleh sindikat yang terorganisasi secara mantap, rapi dan sangat rahasia. Di samping itu, kejahatan Narkotika yang bersifat transnasional dilakukan dengan menggunakan modus operandi dan teknologi canggih, termasuk pengamanan hasil-hasil kejahatan Narkotika. Perkembangan kualitas kejahatan narkotika tersebut sudah menjadi ancaman yang sangat serius bagi kehidupan umat manusia (Hadiman, Jakarta, 1999).
Tindak Pidana Penyalahgunaan narkotika tampaknya semakin merajalela, terutama di kota-kota besar yang merupakan tempat terjangkitnya wabah narkotika yang seolah-olah tidak dapat dibendung lagi. Penyalahgunaan narkotika ini bukan lagi sebagai mode (gengsi) tetapi motivasinya sudah dijadikan semacam tempat pelarian. Akhir-akhir ini penyalahgunaan narkotika tidak saja menjadi kendala di kota-kota besar tetapi mulai meramba ke desa-desa. Selama ini yang melakukan penyalahgunaan narkotika berasal dari keluarga yang dianggap mampu. Masyarakat menengah ke bawah juga sudah ikut, sampai-sampai karena tidak ada pekerjaan menjadi “pengedar”, mencuri bahkan sampai menjadi begal.
 Penyalahgunaan narkotika bukan lagi sebagai lambang kejantanan, keberanian, modern dan lain-lain tetapi motivasinya telah dikaitkan dengan pandangan yang lebih jauh dan ketergantungan serta dijadikan pelarian karena frustasi dan kecewa. Adalah Methamphetamine yang bisa diinjeksikan dan dianggap sebagai narkotika amat berbahaya oleh anak- anak muda. Beda methamphetamine dengan tipe-tipe lain yaitu methamphetamine mempunyai daya rangsang yang lebih kuat terutama bila dinjeksikan. Kegugupan atau kegelisahan yang dapat memuncak sehingga dibutuhkan penenang,, Dapat menyebabkan keracunan, Menimbulkan ketegangan, dan Koma yang jika tidak segera diobati akan berakibat kematian.


Faktor Penyebab Memakai Narkoba
Faktor lingkungan, seperti hubungan antara ayah dan ibu tidak harmonis, komunikasi yang kurang efektif antara orang tua dan anak, anggota keluarga ada yang menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkoba. Di samping itu lingkungan pergaulan di sekolah maupun di luar sekolah, serta lingkungan masyarakat juga menjadi faktor penyebab penyalahgunaan narkoba.beberapa contoh sebagai berikut: sering berkunjung ke tempat hiburan malam seperti diskotik, karaoke dan lain-lain; gaya hidup materilaistis dan hanya mengejar kesenangan; serta mudahnya seseorang memperoleh narkoba.
Beberapa ciri perkembangan remaja Menurut Landau (dalam Afiatin, 2004) yang rentan terhadap gangguan penggunaan narkotika, psikotropika, alkohol dan zat adiktif lain adalah seperti berikut:
a)      Perasaan galau. Masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa dapat menimbulkan rasa tertekan, tegang, resah, bingung, rasa tidak aman, sedih dan depresi. Zat adiktif sering dipakai untuk menghilangkan perasaan tersebut. Perasaan demikian dapat berkurang atau hilang untuk sementara.
b)      Tekanan kawan (“gang”). Seorang remaja membutuhkan pergaulan dengan teman sebaya dan berharap dapat diterima dalam kelompoknya. Zat adiktif dapat meningkatkan atau mempermudah interaksi sosial di dalam kelompok tersebut.
c)      Pemberontakan. Gangguan penggunaan zat dapat dipandang sebagai suatu penyimpangan perilaku yang bersifat menentang nilai-nilai yang diakui oleh masyarakat orang dewasa. Proses perkembangan jiwa remaja yang normal menuntut pemisahan dari otoritas orang tua dan mengembangkan otoritas dan identitas diri sendiri. Pada saat itu ada dorongan untuk memberontak atau melawan apa saja yang berbau otoritas orang tua, lebih-lebih jika orang tuanya memang bersifat otoriter. Peraturan dan tata tertib yang semula dipatuhi, ditinggalkan dan ditentang dengan keras. Pola hidup orang tua ditinggalkan diganti dengan pola hidup kelompok sebaya. Gangguan penggunaan zat sering dianggap sebagai pola hidup baru para remaja.
d)     Keingintahuan. Masa remaja, dapat menimbulkan dorongan yang kuat untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya, untuk mencoba hal baru dan dorongan mencari pengalaman hidup baru termasuk mencoba zat adiktif.
e)      Jiwa petualang. Gangguan penggunaan zat dapat dipandang sebagai suatu penyaluran dorongan ilmiah untuk melakukan perbuatan yang mengundang risiko besar (risktaking behaviour).
f)       Meniru orang dewasa. Gangguan penggunaan zat dapat dipandang sebagai simbol kedewasaan. Para remaja ingin agar dianggap sudah dewasa, terutama bila orang tua masih selalu menganggap dirinya sebagai anak kecil.
g)      Obat mujarab. Gangguan penggunaan zat dapat pula terjadi akibat usaha remaja dalam mengatasi kecemasan, ketakutan atau perasaan bersalah akibat eksplorasi seksualnya. Kadang-kadang zat adiktif dipakai untuk meningkatkan sensasi dalam hubungan seksualnya, menghilangkan hambatan psikologik, mempermudah timbulnya fantasi, dan meningkatkan empati dalam hubungan interpersonal.
h)      Keyakinan yang salah. Keyakinan yang khas dan unik pada remaja berusia 15-16 tahun, bahwa apa yang terjadi pada orang lain tidak akan terjadi pada dirinya. Ia yakin bahwa zat adiktif dapat merugikan atau membahayakan orang lain tetapi tidak akan membahayakan dirinya walaupun kenyataan di sekitarnya membuktikan sebaliknya (personal fable).

No comments:

Post a Comment