Monday, November 28, 2016

Kembalikan Fungsi Mesjid Datuk Imam Marzuki,

Fungsi Masjid pada zaman Rasululloh sangatlah dominan ditengah masyarakat dan memainkan peranan yang sangat utama, sehingga Rasululloh mampu di Masjid mengubah masyarakat Jahiliyah menjadi masyarakat madani, baik dari segi peradaban, pemikiran, mau pun kekuatan ekonomi (Shihab, 1996). Masjid Nabawi menjadi jantung kota Madinah saat itu. Masjid ini digunakan untuk kegiatan politik, perencanaan kota, menentukan strategi militer, dan untuk mengadakan perjanjian. (Hasan Ibrohim :2009). Lewat Masjid Rasulullah SAW membangun kultur masyarakat baru yang lebih dinamis dan progressif. Masjid di zaman Rasulullah SAW mempunyai banyak fungsi. Itulah sebabnya Rasulullah SAW membangun Masjid terlebih dahulu. Masjid menjadi simbol persatuan umat Islam. Selama sekitar 700 tahun sejak Nabi mendirikan Masjid pertama, fungsi Masjid masih kokoh dan original sebagai pusat peribadatan dan peradaban yang mencerdaskan dan mensejahterakan umat manusia. (Supardi dkk: 2001:1)
Dilihat dari sisi pertumbuhan Masjid di Indonesia, cukup menggembirakan, dari tahun ke tahun jumlah Masjid makin bertambah, tetapi dapat diakui bahwa fungsinya berkurang dan belum maksimal. Banyak fungsi Masjid yang telah hilang dibandingkan pada zaman Rasul dan para Khalifah. shalat 5 waktu dan hanya sebagian kecil yang memanfaatkan Masjid untuk kegiatan umat lainnya seperti pengajian, pendidikan agama Islam, ceramah, klinik, akad nikah dan lainnya. Padahal Masjid mempunyai peran strategis dalam membangun kesejahteraan umat. Masjid selama ini hanya berperan sebatas tempat ibadah shalat ritual semata, seharusnya jika masyarakat bisa memberdayakan harta Masjid sesuai syariat Islam dengan jumlah Masjid yang cukup banyak maka akan cukup membantu untuk masyarakat sekitar. Karena itu, harus dilakukan rekonstruksi paradigma pemahaman manajemen Masjid sesuai dengan fitrahnya.
Masjid, di berbagai sudut pandang berdiri dengan anggunnya melalui berbagai gaya dan arsitektur yang indah dan megah. Namun di sisi lain, tidak mustahil banyak pula masjid-masjid yang seakan-akan meratapi nasibnya karena tidak berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan tidak mustahil sepi dari jama‟ahnya. Sungguh sangat ironis dan/atau tidak diharapkan andaikata banyak masjid “yang meneteskan air matanya” karena kemungkinan banyak masjid yang sudah berubah bagaikan “pekuburan cina”, bagus bangunannya, tetapi kondisi yang nampak sungguh sangat sunyi dari berbagai aktivitas. Dengan kasat mata, kita sering dengar suara mengalun melalui pengeras suara yang dikumandangkan dari masjid ke seluruh sudut kehidupan, akan tetapi ruh dari masjid itu hanya ada sebagian saja.
Masyarakat beranggapan selain tempat shalat mesjid tidak mempunyai fungsi lain yang bisa digunakan, Akibatnya mesjid hanya menjadi bangunan kosong dan tidak diberdayakan lagi. Kenyataan ini sudah menjadi fenomena di masayarakat kita, hanya segelintir yang mengerti apa sebenarnya fungsi mesjid. Kemunduran Umat sudah mulai Nampak, salah satunya para pengurus Badan Takmirul Mesjid tidak lagi memahami secara menyeluruh fungsi mesjid. Begitu juga Masyarakat sekitar mesjid memandang fungsi mesjid hanya untuk tempat shalat saja. menurut data di Indonesia jumlah mesjid sekitar 687.568. Sampai ke pelosok desa, merupakan potensi utama dalam mengoptimalkan peranan masjid sebagai sarana pembinaan umat, dengan mengimplementasikan fungsi – fungsi masjid sebagai berikut :
1.      Fungsi persatuan dan Ukhuwah Islamiyah, maksudnya adalah dengan berkumpulnya umat Islam dalam rangka melaksankan shalat jama’ah di masjid akan mengarahkan segenap Muslimin dan Muslimat untuk semakin memperkokoh keutuhan persatuan dan persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah)
2.      Fungsi masjid sebagai Pewaris nilai – nilai ajaran agama Islam, dengan memposisikan masjid menjadi tempat pengajaran, pendidikan Islam dan pengembangan ilmu ;
3.      Fungsi Dakwah, yakni masjid dapat dimanfaatkan para Da’i (Muballigh dan Muballighat) untuk memberikan fatwa atau nasehat agama kepada segenap umat Islam di sekitarnya
4.      Sebagai penghimpun khasanah ilmu pengetahuan dengan menempatkan sarana perpustakaan
5.      Masjid dapat berfungsi sebagai tempat bermusyawarah terhadap berbagai persoalan umat

Dari jumlah mesjid yang sebanyak itu kebanyakan masyarakat menggunakan mesjid hanya untuk shalat setelah itu pergi meninggalkannya dan melakukan aktifitas yang lain. Sebagai contoh, setelah melaksanakan shalat wajib Badan Ta’mirul langsung menutup dan mengunci pintu mesjid. Dengan beralasan takut kehilangan kotak infaq dan alat elektronik. Bahkan ada tulisan himbauan dilarang istirahat, bagi jama’ah yang setelah shalat untuk “meluruskan kakinya” atau tidur. jika hal ini menerus menghinggapi para Badan Ta’mirul Mesjid, maka kemunduran Islam bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan. Lebih riskan, para pemuda dan remaja tidak lagi menjadikan mesjid pusat kegiatan, tapi warung kopi, warnet dan kafe tempat mereka berkumpul dan bertemu, seharusnya mesjidlah untuk mereka membicarakan permasalahan yang ada,  perencanaan kegiatan atau minimal berdiskusi. Mereka remaja dan pemuda idealnya diayomi dan diperhatikan serius oleh para orang tua sekitarnya. Malah terkadang para BKM terkesan acuh dan memberikan perhatian “miring” kepada remaja sekitar mesjid. Dengan menyebutkan sebahagian pemuda disini terlibat Narkoba sehingga jangan diberikan “kepercayaan”.Padahal mereka para pemuda itu korban, dari kejahatan Traninternasional.
Namun di sisi lain, masa remaja adalah masa pubertas di mana setiap kaum remaja selalu mencari identitas pribadinya, terkadang sering kali mengakibatkan seseorang terjerumus lari dari pahit getirnya kehidupan kepada dunia khayal dan/atau dunia fantasi, terkadang juga melakukan hal-hal yang negatif. Dengan demikian, maka akan timbul berbagai masalah bagi para orang tua yang merasa kehilangan anak-anakya. Rasa kasih sayang memudar dengan menimbulkan kecurigaan kepada pemuda dan remaja setempat. Alhasil mereka meninggalkan symbol peradaban ibadah agama Islam. Tulisan ini berharapan agar merekomendasikan pihak terkait seperti MUI dan Dewan Mesjid agar merevitalisasi lagi fungsi mesjid. Untuk menjawab Tantangan Zaman, dan agar agama ini tidak lagi ditinggalkan pemeluknya perlulah ada kebijakan yang dinamis, seperti memberikan fasilitas internet dengan didampingi oleh para Badan Ta’mirul dengan memperbolehkan akses internet sehat. Karena infaq dan sedekah umat diberdayakan dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
Kebulatan tekad serta keberpihakan proaktif kita semua terhadap hal di atas, sangat menentukan keberhasilan akan ketulusan niat dan keluhuran cita–cita terhadap upaya pelaksanaan dan penegakan syiar Islam.

No comments:

Post a Comment