Monday, November 28, 2016

Inisiasi Produksi Film Sejarah Sultan Iskandar Muda

Inisiasi Produksi Film Sejarah Sultan Iskandar Muda
Datuk Imam Marzuki, Mahasiswa Pasca UIN RF Palembang dan Dosen UMSU


 Media merupakan bagian dari kekuatan institusi suatu masyarakat (society’s institutional forces); penyebaran pesan dapat memengaruhi masyarakat sebagai representasi budaya. Sayangnya, nilai budaya tidak sepenuhnya dapat ditranformasikan, apalagi jika budaya itu dianggap telah lalu. Banyak kendala, selain persoalan dana atau biaya produksi, karena masih ada anggapan bahwa yang lama telah usang. Istilah bangsa yang melupakan sejarah masa lalu adalah gambaran gagalnya transformasi budaya. Pahlawan tinggal nama, tanpa ada pelajaran nilai-nilai perjuangan yang dapat dipetik di dalamnya.menangkap jejak sejarah perkembangan peradaban sebuah bangsa film dapat dimasukkan dalam disiplin seni. kajian komunikasi (sebagai media/kanal penyampaian pesan yang dipandang efektif).
Tulisan ini melihat pesan-pesan Product Peradaban dari cerita Sultan Iskandar Muda yang disampaikan dalam film  religi yang mengangkat perjuangan seorang  tokoh. Pada dasarnya merupakan transformasi budaya  masa lalu (sejarah). Bangsa besarlah yang mau becermin pada sejarah, dalam  arti  sejarah  masa lalu dijadikan  guru bagi menata visi dan misi bangsa ke depan. Film kebangsaan mencerminkan mentalitas bangsa itu lebih dari yang tercermin lewat media artistic. Dari sekelumit sejarah tersebut sebenarnya dapat kita lihat sebuah contoh kebijakan. Film sebagai media dapat dimaknai sebagai kanal pembebasan, mesin yang bisa dipakai untuk mengungkapkan berbagai rasa dari para pembuatnya. Disddari atau tidak, film adalah bahasa komunikasi yang paling cepat ditangkap oleh manusia, sehingga melalui film, kita dapat mengerti apa visi dan misi yang diemban cerita film tersebut, atau lazim disebut amanat film. Proses produksinya saja juga merupakan hasil karya yang sempurna, dimana terdapat komunikasi yang mengalir (suara dan gambar), sehingga tak jarang film digunakan sebagai alat komunikasi massa yang bertujuan untuk hal yang kita inginkan.
Lahirnya kebangkitan film di era 2000-an, dan maraknya film religi dewasa ini, telah membawa angin segar bagi tumbuhnya industri ini. Kelahiran film religi mendapat perhatian yang marak dari penonton, misalnya film Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Surban, Dalam Mihrab Cinta, Sang Kiayi atau Sang Pencerah sendiri, memerlukan kajian lebih mendalam. Dalam arti tidak semata sukses industri semata, namun lebih jauh merupakan hasil budaya bangsa yang memiliki nilai-nilai kekayaan yang tak ternilai.  Kini ekspresi film di Indonesia lebih luas, lebih bebas, segala yang difikirkan bisa diutarakan, bahkan banyak kritikus film yang menyatakan sebagai “era bebas yang kebablasan”. Sebut saja film-film horor yang tak tanggung-tanggung konyolnya, gurauan komedi sekarang bukan lagi menjurus bahkan menyentuh dan membuka tabir ketabuan seksualitas. Film-film sensual berkedok horor, komedi, drama, action dan sebagainya menggejala dan dianggap wajar saja. Kekerasan-demi kekerasan dipertontonkan kepada publik tanpa batasan usia yang jelas.

Sosok Sultan Iskandar Muda
Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda merupakan  masa kejayaan yang sangat gemilang. Sultan Iskandar Muda merupakan  raja paling berpengaruh pada Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1583. Nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Sultan Iskandar Muda mulai menduduki tahta Kerajaan Aceh pada usia yang terbilang cukup muda (24 tahun). Ia berkuasa di Kerajaan Aceh antara 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga oleh dunia luar (Thomas Best, 1934 : 468)..
Pada masa kekuasaannya, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia. Langkah utama yang ditempuh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan adalah dengan membangun angkatan perang yang umumnya diisi dengan tentara-tentara muda. Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Konon, ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis dan Ustmaniyah Turki (Lombard, 2006 : 237). Sultan Iskandar Muda mempunyai karakter yang sangat tegas dalam menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal 6 karena kuatnya benteng pertahanan musuh.  Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh pendudukan di daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti.
Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai raja yang sangat tegas dalam menerapkan syariat Islam. Ia bahkan pernah melakukan rajam terhadap puteranya sendiri, yang bernama Meurah Pupok karena melakukan perzinaan dengan istri seorang perwira. Sultan Iskandar Muda juga pernah mengeluarkan kebijakan tentang pengharaman riba. Tidak aneh jika kini Nagroe Aceh Darussalam menerapkan syariat Islam karena memang jejak penerapannya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sultan Iskandar Muda juga sangat menyukai tasawuf. Karakter Sultan Iskandar tersebut memang banyak dipengaruhi oleh sifat kakeknya. Kejayaan dan kegemilangan Kerajaan Aceh pada saat itu memang tidak luput dari karakter kekuasaan monarkhi karena model kerajaan berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis.

Film Budaya Membangkitkan Nasionalisme Aceh
Indonesia juga kaya akan film yang dapat digunakan untuk melihat sejarah dan perkembangan bangsa. Baik film yang bertema drama/roman, komedi, hingga ‘film perang’ yang sarat muatan heroik dan nasionalisme. Film-film yang lebih dikenal sebagai Film revolusi atau film perang di Indonesia pada awalnya diproduksi tidak memiliki tujuan secara spesifik untuk propaganda/kampanye (yang bertujuan untuk mempengaruhi sikap maupun opini). Film-film revolusi (perjuangan) yang bisa kita sebut di Era itu antara lain; Untuk Sang Merah Putih (M. Said, 1950), Darah Dan Doa (Usmar Ismail, 1950), Enam Jam Di Jogja (Usmar Ismail, 1950). Studio PERSARI pimpinan Haji Jamaluddin Malik di tahun 1951 : Bakti Bahagia (M. Said), Bunga Bangsa (Nawi Ismail), dan Sepanjang Malioboro (H. Asby). Ketiga film ini berkisah tentang kesulitan para bekas pejuang menyesuaikan diri selepas revolusi (Said, 1991 : 50), dan masih banyak lagi yang serupa. Mengkaji dunia perfilman dari kacamata disiplin komunikasi adalah usaha untuk melihat film dalam  potensinya untuk dijadikan media komunikasi yang efektif karena kemampuannya memadukan setidaknya dua teknologi media sekaligus yaitu pandang dan dengar (audio & visual).
Makna tentang sebuah negara bagi masyarakat Aceh merupakan sebuah proses sejarah yang panjang dan memiliki dinamika cukup menarik. Romantisme tentang “kehebatan” atau kejayaan kedua kerajaan tersebut bagi masyarakat Aceh masih melekat kuat dalam ingatan mereka.   Tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh pasukan Belanda terhadap rakyat Aceh bukanlah menyurutkan perlawananannya, bahkan semakin mengobarkan semangat perlawanan yang berbasis pada semangat agama dan ingatan akan kejayaan Aceh di masa lampau.Peperangan yang terjadi di Aceh dilakukan dan diakui oleh Belanda bahwa peperangan tersebut merupakan perang besar guna mengukuhkan eksistensi kekuasaan Belanda di seluruh wilayah Nusantara.
Perang besar dan berlarut dengan memakan korban jiwa yang sangat banyak dikatakan van ‘T Veer. bahwa, “tidak pernah Belanda melakukan perang yang lebih besar dari pada perang di Aceh. Dalam hal lama masa berlangsungnya perang ini dapat dibandingkan dengan perang delapan puluh tahun. Walaupun Belanda mengirimkan ekspedisi kekuatan militernya secara besar-besaran dan menyatakan “proklamasinya” terhadap Aceh, pada kenyataan Belanda tidak sepenuhnya berhasil menguasai seluruh Aceh karena selalu mendapat perlawanan sengit dari rakyat Aceh yang dipimpin oleh tokoh agama maupun tokoh masyarakat dalam lintas generasi. Militansi rakyat Aceh tidak terlepas dari dukungan dari pihak pemuka agama. Merekalah yang memberikan pengaruh agama Islam terhadap setiaplangkah perjuangan jihad mereka. Mereka beranggapan bahwa nantinya akan memperoleh kebahagian di akherat kelak bila meninggal berupa surge karena mati syahid. Mati demi membela agama terhadap kaum kafir. Dan “keyakinan” itu dilegitimasikan melalui beberapa hikayat yang melegenda dan dijadikan sebagai way of life rakyat Aceh.
Dalam Hikayat Suekreuet Mawot dituliskan bagaimana bahagianya orang yang mati syahid. Sebagaimana kronologis sejarah perjuangan rakyat Aceh, kecintaan pada “negara” terwariskan dari generasi ke generasi. Pada jaman Belanda mereka mendambakan negeri yang penuh kemakmuran sebagaimana pada jaman Sultan Iskandar Muda. Pada masa revolusi Indonesia, pasca- Proklamasi kemerdekaan, dengan sungguh-sungguh seluruh rakyat Aceh berdiri mendukung dan menyatakan sebagai bagian dari negara Indonesia.Jadi negara Indonesia menjadi “negara” tujuan. Perjuangan panjang masyarakat Aceh untuk ”merdeka” dari penderitaan dan harapan mewujudkan negara dapat terealisasikan pada saat masyarakat Aceh berikrar untuk menjadi bagian dari negara Republik Indonesia pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Pernyataan politik dari rakyat Aceh sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia tertuang dalam Makloemat Oelama Seloeroeh Atjeh oleh beberapa tokoh ulama besar Aceh atas nama masyarakat Aceh pada tanggal 15 Oktober 1945.

No comments:

Post a Comment