Monday, November 28, 2016

Cita-Cita Pemuda Muhammadiyah Datuk Imam Marzuki, MA, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dosen UMSU


Cita-Cita Pemuda Muhammadiyah
Datuk Imam Marzuki, MA, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dosen UMSU



Mukaddimah

Menjelang Musyawarah Pemuda Muhammadiyah Kota Medan yang dilaksanakan 9-10 April 2016 di Asrama Haji yang dihadiri 30 cabang dengan 650 peserta se-Kota Medan untuk mengevaluasi program kerja yang lalu dan merumuskan program yang akan datang. Dalam level kepemimpinan pemuda diharapkan memunculkan sumber dinamika, yang merupakan sumber pengembangan kreativitas dalam melahirkan gagasan baru, serta mendobrak hambatan-hambatan untuk mencari pemecahan masalah. Kekuatan dan semangat berada ditangan pemuda yang menjadi sangat ideal bagi peran operasional yang membutuhkan energi besar. Oleh karena itu, tugas para pemimpin pemuda untuk membangun semangat, kemampuan maupun pengamalan kepeloporan dan kepemimpinan Dengan demikian, maka sungguh banyak kewajiban pemuda, tanggung jawab, dan semakin berlipat, hak-hak umat yang harus ditunaikan oleh para pemuda. Pemuda dituntut untuk berfikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat dan hendaknya mampu menunaikan hak-hak umat dengan baik. Dengan kata lain, pemuda sesungguhnya dituntut untuk mendidik dirinya menjadi pemuda yang memiliki jiwa-jiwa pemimpin.
Pemimpin pemuda adalah entitas intelektual dan generasi enerjik yang menempati posisi strategis sebagai komponen alih generasi kepemimpinan bangsa dalam perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang peran tersebut juga tetap disandang oleh pemuda Indonesia hingga kini (Baidhawi, Zakiyuddin). Pemuda adalah pelopor perubahan, teladan perjuangan, dan aset masa depan bangsa Indonesia. Salah satu lembaga pemuda yang berupaya melakukan perubahan pada masyarakat Indonesia adalah Pemuda Muhammadiyah. Lembaga kepemudaan Islam ini adalah bagian dari organisasi otonom Muhammadiyah yang bergerak dilevel kepemudaan dan memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam bidang dakwah dan sosial.
Dalam upaya mencapai tujuan–tujuan tersebut maka dibutuhkan kerjasama yang baik di antara sumber daya yang terdapat dalam organisasi. Salah satu sumber daya yang terdapat dalam organisasi adalah anggota. Anggota merupakan salah satu bagian yang dapat menentukan keberhasilan sebuah organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya. Tanpa adanya dukungan yang baik dari para anggota maka organisasi akan sulit dalam mencapai tujuan tersebut. Anggota dapat berkerja dengan baik apabila di dalam organisasinya terdapat bentuk hubungan dan komunikasi yang baik antara lembaga yang diwakili oleh pihak pimpinan dan para anggota sebagai bawahannya. Kemampuan semacam inilah yang dinamakan dengan kepemimpinan, sebab kepemimpinan menurut Pamudji bahwa “Kepemimpinan adalah kemampuan untuk menggerakan atau mengarahkan orang-orang disekitarnya, sedemikin rupa sehingga mereka mau bergerak secara sukarela ke arah pencapaian tujuan organisasi (La Monica, Elaine L., 1998)
Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi di dalam lingkungannya. Salah satu bentuk adalah yang mengatur hubungan antara pimpinan dan para anggotanya adalah employee relations dilakukan antara lain adalah untuk menciptakan bentuk hubungan atau komunikasi dua arah yang baik antara pihak kelembagaan dengan para anggotanya dalam upaya membina kerjasama dan hubungan yang harmonis di antara keduanya. Faktor kepemimpinan komunikasi erat hubunganya dalam mempengaruhi prestasi kerja.
Komunikasi Organisasi dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu Dengan kata lain, employee relations bertujuan untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding), kerjasama (relationship) serta loyalitas diantara  pihak kedua belah pihak. Setiap organisasi, baik organisasi non-profit ataupun organisasi profit tentunya memiliki tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Dalam upaya mewujudkan tujuan dan misinya, Pemuda Muhammadiyah Kota Medan sebagai sebuah organisasi Pemuda Islam (nirlaba), tidak dapat terlepas dengan fungsi-fungsi pengorganisasian dan kepemimpinan yang ada, sebagaimana halnya organisasi sosial lainnya. Organisasi merupakan elemen yang sangat diperlukan di dalam kehidupan manusia, apalagi dalam kehidupan modern. Organisasi membantu kita melaksanakan hal-hal atau kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dilaksanakan dengan baik sebagai individu.  
Karena idealnya seorang pemuda mempunyai fisik dan mental pantang menyerah, untuk itu mengawali dari wacana ini penulis berikan gambaran pencerahan dari cerita nabi Muhammad Saw. Penggalian parit itu terpaksa dihentikan. Sebuah batu besar menghadang di depan mata. Meski sudah berkali-kali para sahabat Rasulullah saw menghantamkan pukulan, namun tak ada tanda-tanda batu itu retak apalagi hancur. Batu itu terlalu keras, tapi harus dihancurkan. Kalau tidak, parit yang akan menjadi benteng pertahanan kaum Muslimin dari ancaman pasukan Ahzab bisa terputus.
Beberapa sahabat segera menemui Rasulullah saw dan memberitahu perihal batu besar itu. Rasulullah saw pun datang sambil membawa sebuah beliung. Setelah membaca basmalah, beliau menghantamkan pukulan pertama. "Allahu Akbar! Aku diberi kunci pembuka negeri Syam. Demi Allah, aku melihat istananya yang merah," ujar Rasulullah saw begitu melihat percikan sinar menyala akibat kerasnya pukulan beliau menghantam batu.
Lalu, Rasulullah saw menghantamkan pukulan kedua. "Allahu Akbar. Aku diberi negeri Persia. Demi Allah, aku melihat istananya yang putih," ujar Rasulullah saw. Lalu, beliau menghantamkan pukulan ketiga. Allahu Akbar. Aku diberi kunci negeri Yaman. Demi Allah. aku benar-benar melihat pintu-pintu Shan'a dari tempatku ini. Aku diberitahu Jibril bahwa umatku akan menguasainya semuanya. Sampaikan berita ini kepada yang lain," ujar Rasulullah saw kepada para sahabat.
Berita itu segera mendapatkan cemoohan dari orang-orang munafik.  Muhammad hanya memberi angan-angan dan mimpi saja. Bagaimana mungkin dia melihat istana Romawi, Persia dan Yaman dari Madinah. Bagaimana mungkin kalian menguasai negeri sedangkan pekerjaan kalian hanya menggali parit dari ujung ke ujung," ejek orang-orang munafik.
 Allah segera menurunkan firman-Nya, "Katakanlah, wahai Allah yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Eng-kau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehen-daki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Se-sungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu," (QS Ali Imran: 26).

Ibrah
 Ada beberapa hal yang menarik dari kisah di atas. Pertama, seorang Pemuda Muslim harus mempunyai cita-cita tinggi. Teriakan Rasulullah saw ketika memukul batu besar itu, bukan slogan. Tapi, cita-cita! Beliau sengaja meneriakkan itu dengan suara keras agar cita-citanya diketahui para sahabat. Beliau ingin cita-cita itu bukan cita-citanya saja, tapi cita-cita kaum Muslimin. Terbukti, teriakan Rasulullah saw itu benar-benar membekas dalam jiwa para sahabat. Runtuhnya negeri Persia dan Romawi menjadi impian mereka. Impian itu terus menggelora dan membakar semangat mereka untuk berjuang. Sampai akhirnya beberapa puluh tahun kemudian, dua kerajaan besar itu takluk di bawah naungan Islam. Cita-cita itu tercapai. Abu Ayyub al-Anshari yang mendengar langsung teriakan Rasulullah saw kala itu, turut menjadi saksi bakal runtuhnya kerajaan Romawi. Makamnya hingga kini tetap abadi diantara bangunan di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Kedua, dalam mewujudkan cita-cita itu, kedua kaki harus tetap berpijak di bumi. Teriakan Rasulullah Saw bahwa melihat kunci pembuka negeri Syam, Yaman, Persia dan Romawi adalah cita-cita beliau. Cita-cita kaum Muslimin. Adalah impian mereka untuk bisa menaklukkan Persia dan Romawi yang sedang berkuasa kala itu. Cita-cita mereka kala itu amat tinggi. Bagaimana mungkin mereka bisa menguasai Persia dan Romawi, sedangkan untuk menghadapi pasukan Ahzab saja kala itu kaum Muslimin harus bekerja keras. Jumlah mereka yang hanya sekitar 3000 orang harus menghalau pasukan gabungan yang nominalnya mencapai 10.000 tentara. Untuk itu, mereka harus menggali parit lebih dari separuh keliling Madinah.
Begitulah kenyataannya. Dengan demikian, tak heran kalau orang-orang munafik menertawakan ucapan Rasulullah itu. "Bagaimana mungkin kalian menguasai negeri Persia, Yaman dan Romawi, sedangkan pekerjaan kalian hanya menggali parit dari ujung ke ujung," ejek orang-orang munafik. Tapi begitulah yang dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Memang, cita-cita Rasulullah Saw dan kaum Muslimin kala itu setinggi langit: mengalahkan Persia dan Romawi, tapi langkah konkret mereka tetap membumi: menggali parit untuk menghalau serangan pasukan Ahzab.
 Itu yang harus diteladani kaum Muslimin saat ini.. Di berbagai negara, kaum Muslimin ditindas, diteror dan dituduh pelaku kejahatan. Penindasan, teror dan tuduhan itu terus berlangsung tanpa bisa dihalau oleh kaum Muslimin. Sehingga, tegaknya keadilan seolah-olah hanya sekadar impian yang tak mungkin terwujud. Tapi, bagi kaum Muslimin tak ada yang tak mungkin terjadi. Apalagi kalau Rasulullah saw sudah menjanjikan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Baihaqi, Rasulullah saw menggambarkan periode perjalanan sejarah umat Islam. Di antara periode itu ada fase mulkan jabbarlyan (fase raja-raja diktator). Setelah itu akan muncul fase khilafah ala man-hajin nubuwah. Fase inilah yang sedang kita tunggu. Fase inilah yang menjadi cita-cita kaum Muslimin. Kita yakin fase itu akan datang.


No comments:

Post a Comment