Monday, October 26, 2015

MISKOMUNIKASI DALAM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

A. Pendahuluan Masyarakat kota Medan yang terdiri dari berbagai etnis, suku bangsa dan agama dapat hidup rukun. Masyarakat ini mencerminkan kondisi masyarakat Indonesia yang plural dan memiliki keanekaragaman budaya. Mereka juga hidup seperti halnya masyarakat lainnya dengan saling ketergantungan, saling menghargai dan menghormati, saling menjaga keharmonisan satu dengan yang lain. Dalam kemajemukannya, masyarakat kota Medan tetap dapat menjaga integrasi bangsa. Semua suku dan agama tetap mempertahankan identitas masing-masing tanpa harus adanya etnosentrisme atau menjadi lawan dari suku atau agama lainnya. Mereka tetap dapat bekerjasama dan hidup rukun di dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan beragamnya masyarakat kota Medan, mustahil tidak ada konflik. Apalagi konflik yang berhubungan dengan agama karena berbicara masalah agama merupakan masalah yang esensial bagi masyarakat kota Medan. Sebagaimana penulis ketahui bahwa masyarakat Medan adalah masyarakat yang agamais. Sebenarnya konflik di kota Medan tetap ada, tetapi masih bisa diminimalisir oleh pemerintah kota Medan sehingga konflik tersebut tidak meluas yang menimbulkan bentrokan fisik. Tekanan perkotaan yang semakin besar terjadi sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang tinggal di kota dewasa ini. PBB misalnya memperkirakan bahwa pada tahun 2025 penduduk Indonesisa yang tinggal di kota akan mencapai 60, 7% (United Nation, 1995:81). Proses urbanisasi yang sedang dan akan terus berlangsung sejalan dengan perhitungan di atas akan menyebabkan semakun menghilangnya batas-batas fisik (physical boundaries) suatu etnis karena pergeseran tempat (saat pindah ke kota) dan percampuran dengan etnis-etnis lain dalam suatu pemukiman baru. Dalam lingkungan yang multi etnis yang memiliki ekspresi etnisitas yang berbeda-beda dengan asal-usul yang berbeda pasti memiliki simbol yang berbeda. Simbol komunikasi yang dibangun bersama ditanam dan dipelihara dalam rangkaian interaksi. Dengan memperhatikan konteks semacam ini basis konflik dengan berbagai tekanan sosial dan perbedaan etnis memperhatikan posisi masyarakat sebagai “aktor” yang memiliki kapasitas. Harus disadari bahwa berbagai etnis memiliki perspektif dari dalam tentang respon mereka terhadap berbagai macam disintegrasi. Apalagi pada kondisi masyarakat yang serba majemuk, yang memiliki ragam perbedaan dilihat berdasarkan tingkat pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, geografis, etnis maupun agama. Terlebih-lebih pada masyarakat yang berbeda agama, sosialisasi syariat Islam perlu secara proporsional dijelaskan sehingga tidak menimbulkan prasangka negatif, konflik serta berbagai hambatan maupun benturan yang dapat mengganggu kelancaran proses pelaksanaan Sebagai suatu kenyataan, kemajemukan sesungguhnya merupakan potensi yang patut disyukuri karena merupakan kekayaan bangsa. Namun potensi kekayaan ini secara cepat akan berubah menjadi kerawanan sosial dan faktor pemicu disintegrasi jika tidak dikelola dengan baik. Kerawanan berlatar belakang isu agama, etnis dan suku dapat menimbulkan konflik kepentingan di antara kelompok atau komunitas yang berbeda, dengan mengesampingkan toleransi dan kerukunan. Juga kerawanan ini bisa dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk mencari keuntungan politik dengan memprovokasi komunitas yang ada. Di samping menghadapi tantangan pluralitas, agama juga dihadapkan dengan tantangan modernitas. Sebagai kewajaran logis dari proses sejarah umat manusia yang cenderung dinamis dan progresif, sehingga modernitas tidak dapat dielakkan. Kultur masyarakat Indonesia sebagaimana digambarkan oleh Denny J.A. bersifat konfliktual, yang tergambar dari sejarah konflik komunal yang panjang (Islam versus Kristen, pribumi versus non-pribumi, pendatang versus penduduk asli). Kota Medan sebagai daerah yang dikenal dengan kerukunannya di tingkat nasional menyandang predikat yang positif untuk kehidupan beragama. Tanah melayu ini dikenal inklusif bagi para pendatang etnis, agama dan suku. Tetap saja dibalik kemajemukan tersebut ada riak-riak yang disebut konflik kepentingan Adanya praktik main hakim sendiri dikarenakan bukan sekedar menunjukan proses deinstitusionalisasi yang parah menjauhkan kita dari jalan yang lurus ke arah pemecahan krisis dan kepemimpinan. Suatu kekerasan bersifat demokratis pada saat ia menjadi suatu pilihan bersama . konflik antar umat beragama juga disebabkan oleh faktor kultural, menyangkut kehidupan sosial, ekonomi , maupun politik. Sebagai contoh masalah ternak babi merupakan salah satu faktor pemicu konflik, dikarenakan area ternak tersebut di kawasan sebahagiannya penganut muslim. Aroma ternak yang menyengat sehingga masyarakat muslim merasa terganggu dengan hal tersebut. pengaduan masyarakat ke pihak pemerintah walikota Medan . Perhatian serius bagi pihak terkait para tokoh masing agama mewakili Islam misalnya dengan membawa agama mengharamkan ternak babi di wilayah muslim, sementara pihak nashrani beternak babi untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini terjadi disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah di dalam mendefenisikan rakyatnya sebagai citizen dengan hak-hak yang jelas dan dengan perlindungan yang terjamin dalam berbagai proses sosial, ekonomi dan politik. dan tindakan itu dapat diinterpertasikan dan dipahami oleh anggota atau pihak lain walaupun tindak itu merugikan orang lain. Bentuk kekerasan ini memungkinkan individu dan kelompok hidup dibawah permukaan struktur sosial yang mendua yang menyebabkan disoreintasi pihak lain dalam suatu rangkaian hubungan. Kekerasan ini merusak bentuk-bentuk tingkah laku yang disepakati. Kekerasan yang terjadi dalam berbagai bentuk itu sudah menjadi suatu budaya bersama dan telah menjadi praktik kolektif, sehingga kekerasan bukan lagi sesuatu yang bersifat brutal tetapi satu-satunya jalan yang efektif untuk mencapai tujuan-tujuan individu dan kelompok. Demikian pula kekerasan bukan berarti hilangnya empati dan ekspresi cinta tetapi itu hanya suatu bentuk bersifat nihilistik yang tidak dapat diadaptasikan: yakni suatu tindakan yang tidak dapat diharapkan dan tidak dapat diprediksikan (Rapport dan Overing, 2000:385). Fenomena saling berbeda ini perlu dijembatani melalui peran culutural brokers (pialang budaya) dalam pengertian seluas-luasnya melalui pendekatan komunikasi lintas budaya. Sebab, bilamana perbedaan budaya antar individu tidak dipahami (yakni menyangkut nilai, keyakinan, asumsi dan dorongan internal), maka akan menyebabkan komunikasi berjalan tidak efektif, bahkan dapat memunculkan streotip dan saling menyalahkan. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) merupakan alat perpanjangan tanganpemerintah untuk menyatukan umat berbagai agama. FKUB melalui tugas pokoknya lebih mengkonsentrasikan perhatiannya pada toleransi dan kerukunan yang harus dibangun bersama. Maka dibutuhkan komunikasi antar umat beragama sebagai penghubung. komunikasi memainkan peran penting dalam mewujudkan timbulnya kesamaan makna bagi individu amupun masyarakat dalam raga perbedaan, sehingga perbedaan dapat diemilir menuju persatuan dan kesatuan. Hal ini dilakukan agar dapat memperkuat toleransi antar umat beragama dan kelompok etnis sebagai upaya pencegahan terjadinya konflik agama dan identitas etnis serta meningkatkan peran organisasi-organisasi kerukunan beragama dan kerukunan etnis dalam pengelolaan pembangunan yang berbasiskan keragaman agama dan etnis serta membangun strategic resources pencegahan terjadinya intoleransi antar agama dan identitas etnis. Kerukunan hidup beragama berarti hidup rukun, yaitu hidup dalam suasana baik dan damai, bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbeda-beda agamanya atau antara umat dalam satu agama. Hidup beragama merupakan pengalaman ajaran agama dalam hidup dan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun sosial secara harmonis dan dalam bingkai pengamalan ajaran agamanya masing-masing. Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk membahas lebih mendalam tentang langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah kota Medan sehingga terciptanya kerukunan umat beragama. Pembahasan ini akan penulis angkat menjadi suatu bahan penelitian dengan judul Miskomunikasi Dalam Kerukunan Umat Beragama (Studi Atas Peran Elit Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Medan) B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka timbul beberapa masalah yang disusun menjadi rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana Miskomunikasi Antar Umat Beragama Terjadi? 2. Apa Yang Menjadi Dasar Terjadi Miskomunikasi Antar Umat Beragama? 3. Bagaimana Komunikasi Yang Kondusif Bagi Kerukunan Umat Beragama? C. Ruang Lingkup Penelitian Agar penelitian tidak terlalu melebar dan mengaburkan penelitian, maka penulis membuat ruang lingkup penelitian sebagai berikut: Penelitian ini bersifat mengkaji dan meneliti lebih dalam kebijakan-kebijakan elit FKUB Kota Medan terhadap kerukunan umat beragama. D. Tujuan Penelitian Secara rinci tujuan penelitian ini dijabarkan sebagai berikut: 1. Mengetahui hambatan-hambatan komunikasi apa yang terjadi Antar Umat Beragama sekaligus untuk mendeskripsikan kondisi sosial yang berlangsung di Kota Medan 2. Untuk menemukan faktor-faktor penghambat komunikasi Antar Umat Beragama di Kota Medan 3. Untuk memahami Komunikasi Yang Kondusif Bagi Kerukunan Umat Beragama di Kota Medan. E. Kegunaan Penelitian 1. Secara teoritis, penelitian ini berguna bagi pengembangan ilmu komunikasi Islam dan pengembangan masyarakat Islam. Secara pragmatis, temuan yang dihasilkan dari penelitian ini dapat menjadi sumbangan bagi orang-orang yang membutuhkan informasi tentang hambatan komunikasi antar umat beragama, di Kota Medan 2. Penelitian ini sangat berguna untuk menjaga dan merawat keberagaman yang ada di Kota Medan dari riak-riak konflik yang mulai muncul di permukaan. 3. Temuan penelitian ini menjadi sumbangan berharga dan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi para peneliti lain yang bermaksud melakukan penelitian sejenis. F. Batasan Istilah Miskomunikasi: artinya hambatan-hambatan komunikasi yang terjadi di lingkungan fisik artinya bahwa, tidak mungkin terjadi komunikasi bila lingkungan fisik seperti daerah dan tempat mengizinkan terjadinya komunikasi. Artinya dalam penelitian ini bahwa komunikasi langsung antar umat beragama tidak terjadi bila masyarakat tidak mendiami satu wilayah yang sama. Dalam hubungannya dengan penalitian iklim komunikasi antar umat beragama di Kota Medan tidak lagi menjadi perdebatan, karena lingkungan fisik telah memungkinkan terjadinya komunikasi langsung. Demikian hal nya dengan waktu, bahwa tidak mungkin terjadi komunikasi langsung antar umat beragama bila waktu tidak memungkinkan terjadinya proses komunikasi. Dimensi psikologi dalam iklim komunikasi adalah bagaimana keadaan psikologi orang-orang yang berperan dalam komunikasi mempengaruhi proses komunikasi yang terjadi. Dimensi psikologi turut mempengaruhi bagaimana komunikasi menjadi efektif atau tidak. Dimensi psikologi dalam penelitian komunikasi membutuhkan kajian tersendiri karena menyangkut aspek-aspek psikologi yang sangat banyak. Kata “umat” dalam kamus bahasa Indonesia berarti para penganut suatu agama, kadang juga diartikan sebagai penganut nabi. Kata “umat” dalam pengertian yang lebih umum berarti makhluk manusia. Istilah “umat beragama” dalam penelitian ini terbatas pada penganut agama Kristen dan agama Islam karena di Kota Medan ada beberapa agama yang dianut oleh masyarakat, yakni Islam sebagai agama mayoritas, Kristen, Konghucu dan Budha minoritas. F. Sistematika Penulisan Seluruh rangkaian penelitian ini terdiri dari lima bab, dan masing-masing bab memiliki keterkaitan dengan bab-bab sebelumnya. Bab I, pendahuluan. Pada bab ini dijelaskan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian serta sistematika penulisan. Bab II, Tinjauan Pustaka. Pada bab ini diuraikan beberapa teori maupun konsep yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Di antara teori dan konsep yang dipaparkan adalah mengenai pluralisme agama, kerukunan hidup beragama, miskomunikasi, komunikasi antar budaya, serta beberapa penelitian terdahulu. Bab III, Metodologi Penelitian. Pada bab ini dijelaskan lokasi penelitian, pendekatan yang digunakan, informan penelitian, sumber data, alat pengumpul data dan analisis data. Bab IV, Hasil Penelitian. Pada bab ini diuraikan temuan-temuan penelitian, Hambatan-hambatan komunikasi apa yang terjadi Antar Umat Beragama sekaligus untuk mendeskripsikan kondisi sosial yang berlangsung di Kota Medan. menemukan faktor-faktor penghambat komunikasi Antar Umat Beragama di Kota Medan. dan memahami Komunikasi Yang Kondusif Bagi Kerukunan Umat Beragama di Kota Medan Bab V, Penutup. Bab ini berisikan uraian kesimpulan dan saran-saran. G. Tinjauan Pustaka dan Teori Dalam pengertian yang luas, komunikasi tidak hanya sebagai pertukaran informasi antar individu, melainkan juga antar kelompok dan masyarakat luas mengenai tukar-menukar data, fakta, maupun ide/gagasan. Dilihat dalam sistem sosial, komunikasi memiliki fungsi sebagai informasi informasi, sosialisasi, motivasi, perdebatan atau diskusi, menyediakan dan saling menukar fakta, pendidikan, memajukan kebudayaan, hiburan dan integrasi. Arni Muhammad mengatakan, ada hubungan sirkuler antara iklim organisasi dengan iklim komunikasi. Tingkah laku komunikasi mengarah pada perkembangan iklim, di antaranya iklim organisasi. Iklim organisasi dipengaruhi oleh bermacam-macam cara anggota organisasi dalam berkomunikasi. Iklim komunikasi penuh dengan persaudaraan, yang mendorong para anggota organisasi berkomunikasi secara terbuka, rileks, ramah. Sedangkan iklim negatif menjadikan anggota tidak berani berkomunikasi secara terbuka. Makhluk yang tidak mampu melepaskan dirinya dari kebutuhan terhadap agama, sebab pada dirinya terdapat potensi dan kecenderungan beragama. Untuk itu dapat dibenarkan bila Robert H. Lowie memprediksi bahwa tidak satu kelompok masyarakat pun di dunia ini yang tidak menganut agama. Meskipun demikian, fenomena ini tidak berarti memberi garansi adanya hegemoni sistem kepercayaan manusia. Sepanjang sejarah perjalanannya, umat manusia mengenal jenis agama dan kepercayaan majemuk, baik dari segi nama, bentuk, aturan, maupun tatacara pelaksanaan. Berdasarkan asal dan sifatnya, agama-agama yang muncul dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yaitu agama yang bersumber dari wahyu Tuhan (revealed) dan agama yang bukan berasal dari wahyu Tuhan (non revealed). Olaf Schumann mengatakan bahwa konsep civil religion dengan memisahkan organisasi keagamaan dan organisasi negara dari ghetto pelembagaan yang membuatnya tunduk pada kepentingan lain, sehingga agama-agama bebas untuk menentukan sendiri bagaimana cita-citanya yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang dapat dibawahkan dalam suatu dialog sosial dengan golongan lain. Konsepsi kerukuan dalam keanekaragaman penganut agama di Indonesia telah lama menjadi perbincangan yang hanya. Secara historis, istilah kerukunan hidup beragama pertamakali muncul dalam pidato Menteri Agama K.H.M. Dachlan pada pembukaan Musyawarah Antar Agama, 30 November 1967 yang berlangsung di Gedung Dewan Perimbangan Agung (DPA) Jakarta. Musyawarah itu dihadiri pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha. Sejak masa itulah, kerukunan hidup beragama digunakan dalam berbagai wacana peraturan perundang-undangan, GBHN, dan program-program pemerintah. Makna kerukunan hidup umat beragama adalah perihal hidup rukun yaitu hidup dalam suasana baik dan damai, bersatu hati dan bersepakat antar umat yang berbeda-beda agama atau antara umat dalam satu agama. Dalam terminologi yang digunakan pemerintah selama ini, konsep kerukunan hidup umat beragama mencakup tiga hal, yaitu (1) kerukunan intern umat beragama; (2) kerukunan antar umat yang berbeda-beda agama; dan (3) kerukunan antara (pemuka) umat beragama dengan pemerintah. Dalam konteks keIndonesiaan, agama dipersepsikan sebagai landasan moral, etik spritual bagi pembangunan. Kontribusi agama sangat dirasakan akselerasinya dalam dinamika pembangunan menuju terwujudnya masyarakat adil, makmur dan sejahtera. Melalui doktrin ajarannya, agama menawarkan konsep-konsep kehidupan yang begitu anggun. Bila komunitas mematuhi dan mengamalkan ajaran agama tentu akan terwujud masyarakat sejahtera, sebab setiap individu akan selalu berupaya berbuat yang terbaik bagi hidupnya. Tegasnya, bagi bangsa Indonesia masyarakat adil dan makmur yang diidam-idamkan hanya dapat terwujud secara baik dan sempurna jika agama dilibatkan dalam proses pencapaiannya. Keberadaan teori konflik muncul setelah fungsionalisme, namun, sesungguhnya teori konflik sebenarnya sama saja dengan suatu sikap kritis terhadap Marxisme ortodox. Seperti Ralp Dahrendorf, yang membicarakan tentang konflik antara kelompok-kelompok terkoordinasi (imperatively coordinated association), dan bukan analisis perjuangan kelas, lalu tentang elit dominan, daripada pengaturan kelas, dan manajemen pekerja, daripada modal dan buruh. Perspektif konflik dapat dilacak melalui pemikiran tokoh-tokoh klasik seperti Karl Marx (1818-1883), Emile Durkheim (1879-1912), Max Weber (1864-1920), sampai George Simmel (1858-1918). Keempat pemikir ini memberi kontribusi sangat besar terhadap perkembangan analisis konflik kontemporer. Satu pemikiran besar lainnya, yaitu Ibnu Kholdun sesungguhnya juga berkontribusi terhadap teori konflik. Teori konflik Kholdun bahkan merupakan satu analisis komprehensive mengenai horisontal dan vertikal konflik. Marx adalah satu tokoh yang pemikirannya mewarnai sangat jelas dalam perkembangan ilmu sosial. Pemikiran Marx berangkat dari filsafat dialektika Hegel. Hanya saja ia menggantikan dialektika ideal menjadi dialektika material, yang diambil dari filsafat Fuerbach, sehingga sejarah merupakan proses perubahan terus menerus secara material. Sebagaimana dijelaskan Cambell dalam Tujuh Teori Sosial (1994), bahwa Marx menciptakan tradisi materialisme historis yang menjelaskan proses dialektika sosial masyarakat, penghancuran dan penguasaan secara bergilir kekuatan-kekuatan ekonomis, dari masyarakat komunis primitif kepada feodalisme, berlanjut ke kapitalisme, dan terakhir adalah masyarakat komunis. Ada beberapa teori mengenai berbagai penyebab konflik yaitu sebagai berikut: 1. Teori hubungan masyarakat. Teori ini menganggap bahwa konflik disebabkan oleh polarisasi yang terus menerus, terjadi ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda dalam satu masyarakat. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah untuk meningkatkan komunikasi dan saling mengerti antara kelompok yang mengalami konflik, dan mengusahakan toleransi agar masyarakat lebih bisa saling menerima keragaman yang niscaya ada di dalam masyarakat. 2. Teori negosiasi prinsip. Teori ini menganggap bahwa konflik disebabkan oleh posisi-posisi yang tidak selaras, adanya perbedaan tentang sesuatu hal oleh pihak-pihak yang mengalami konflik dengan memisahkan perasaan pribadi dan berbagai masalah atau isu, bagaimana memampukan mereka untuk melakukan negosiasi berdasarkan kepentingan-kepentingan mereka dari suatu posisi tertentu yang sudah ada, sekaligus tetap melancarkan proses pencapaian kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak atau semua pihak. 3. Teori kebutuhan manusia. Teori ini berasumsi bahwa konflik yang berakar dalam diri manusia disebabkan oleh kebutuhan dasar manusia secara fisik, mental dan sosial, yang tidak terpenuhi atau dihalangi keamanan, identitas, pengakuan, partisipasi dan otonomi. Sasaran yang ingin dicapai teori ini adalah untuk membantu pihak-pihak yang mengalami konflik dalam mengidentifikasikan dan mengupayakan bersama kebutuhan mereka yang tidak tercapai dan menghasilkan pilihan-pilihan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Hal itu dilakukan agar pihak-pihak yang mengalami konflik mencapai kesepakatan untuk memenuhi kebutuhan dasar semua pihak. 4. Teori identitas. Teori ini berasumsi bahwa konflik disebabkan karena identitas yang terancam, yang sering berakar pada hilangnya sesuatu dan mengakibatkan penderitaan di masa lalu yang tidak diselesaikan. Sasaran yang ingin dicapai melalui teori ini adalah dengan melalui fasilitas lokakarya dan dialog antara pihak-pihak yang mengalami konflik agar mereka dapat mengidentifikasikan ancamanancaman dan ketakutan yang mereka rasakan masing-masing dan untuk membangun empati dan rekonsiliasi di antara mereka. 5. Teori kesalahpahaman antarbudaya. Teori ini berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh ketidakcocokan dalam cara-cara komunikasi di antara berbagai budaya yang berbeda. Sasaran yang ingin dicapai oleh teori ini adalah untuk menambah pengetahuan pihak-pihak yang mengalami konflik mengenai budaya pihak lain, mengurangi stereotip negatif yang mereka miliki tentang pihak lain dan meningkatkan keefektifan komunikasi antarbudaya. 6. Teori transformasi konflik. Teori ini berasumsi bahwa konflik disebabkan oleh masalah-masalah ketidaksetaraan dan ketidakadilan, termasuk kesenjangan ekonomi, meningkatkan jalinan hubungan dalam sikap pengertian jangka panjang di antara pihak-pihak yang mengalami konflik, mengembangkan berbagai proses dan sistem untuk mempromosikan pemberdayaan keadilan, perdamaian, pengampunan, rekonsiliasi dan pengakuan. Pada setiap konflik, secara umum dapat dibedakan dalam a. Konflik data disebabkan antara lain : kekurangan informasi, kesalahan informasi, perbedaan pandangan terhadap data mana yang relevan, perbedaan interpretasi data, perbedaan terhadap prosedur. b. Konflik relasi disebabkan oleh : emosi yang kuat, salah persepsi, miskin komunikasi, salah komunikasi, mengulang prilaku negatif. c. Konflik nilai disebabkan oleh : perbedaan kriteria untuk mengevaluasi gagasan atau perilaku orang lain, nilai baru untuk mencapai tujuan yang dikemukakan terlalu eksklusif, gaya hidup yang berbeda, perbedaan politik, ideologi, agama. d. Konflik kepentingan disebabkan oleh isi, prosedur, dan kepentingan psikologis. Dalam sejarah bangsa kita, kemajemukan telah melahirkan perpaduan yang sangat indah dalam berbagai bentuk mozaik budaya, berbagai suku, agama, adat istiadat dan budaya dapat hidup berdampingan dan memiliki ruang negosiasi yang sangat tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, keragaman yang terajut indah itu bisa terkoyak dan tercabik-cabik oleh sikap eksklusif yang tumbuh dari akar primodialisme sempit kesukuan, agama dan golongan. Peristiwa konflik atau kerusuhan terjadi di beberapa daerah, baik dalam eskalasi kecil maupun besar dengan membawa korban harta, manusia, bangunan perkantoran maupun perdagangan dan lainnya sehingga menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan dan kebangsaan kita. H. Penelitian Terdahulu Penelitian M. Ridwan Lubis, dkk., berjudul “Pengelolaan Keserasian Sosial Antar Umar Beragama di Kota Medan”, menyimpulkan bahwa penganut agama-agama di kota Medan memiliki sejumlah unsur doktrinal yang memungkinkan mereka membangun hubungan sosial yang harmonis, di samping unsur pemisah yang dapat memicu terjadinya konflik sosial. Pada prinsipnya, usaha membangun keserasian sosial antara umat beragama di kota Medan dimulai dari penyelesaian masalah-masalah yang berhubungan dengan aspek ekonomi, pemukiman dan etnisitas/budaya. Kunci paling penting dari semua upaya pengelolaan keserasian sosial adalah semangat toleransi dan keterbukaan dari semua komunitas penganut agama. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya, adalah pertama, menempatkan variabel miskomunikasi dalam kehidupan sosial beragama masyarakat, artinya ada hambatan komunikasi yang tidak dapat disalurkan sehingga terjadi konflik kepentingan. Kedua, penelitian ini memiliki ruang dan waktu yang berbeda dengan penelitian di atas, sehingga harus terus dilakukan secara berkelanjutan, mengingat riak-riak konflik terus bermunculan. Selain itu, objek penelitian terfokus pada organisasi Forum Kerukunan Umat Beragama yang didalamnya adalah perwakilan tokoh-tokoh agama sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah untuk melakukan komunikasi efektif dengan masyarakat yang majemuk baik agama, etnis dan suku yang ada di Kota Medan. I. Metodologi Penelitian a). Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di FKUB Kota medan Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 12 Mei 2015 hingga 13 November 2015. b). Fokus Penelitian Adapun fokus penelitian ini adalah miskomuikasi antar umat beragama dalam pelaksanaan syariat Islam. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, yaitu dengan menggambarkan keadaan objek penelitian pada saat penelitian ini dilakukan, berdasarkan fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Untuk memberikan bobot yang lebih tinggi pada metode ini, maka data atau fakta yang ditemukan dianalisa dan disajikan secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Di samping sifatnya sebagai peneltian yang deskriftif analitis, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini didominasi oleh pendekatan kualitatif, yaitu suatu pendekatan yang tidak dilakukan dengan mempergunakan rumus-rumus dan simbol-simbol statistik. Seluruh rangkaian cara kerja atau proses penelitian kualitatif ini berlangsung secara simultan (serempak), dilakukan dalam bentuk pengumpulan, pengolahan dan menginterpretasikan sejumlah data dan fakta yang ada, dan selanjutnya disimpulkan dengan metode induktif. c). Informan Penelitian. Untuk memperoleh data mengenai miskomunikasi dalam kerukunan umat beragama dibutuhkan informan penelitian yakni media dan masyarakat (baik Muslim maupun non Muslim) yang berada di lokasi penelitian yang diwakili oleh 3 tokoh agama Islam dan 3 tokoh agama Kristen. Penarikan informan penelitian akan berhenti manakala informasi yang dibutuhkan telah dianggap jenuh. Oleh karenanya, metode penetapan jumlah informan penelitian menggunakan teknik snowball sampling. d). Alat Pengumpul Data Sumber data penelitian ini terdiri dari data primer dan data skunder. Data primer dikumpulkan dari informan penelitian, dengan melakukan wawancara dan observasi. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi. 1. Wawancara. Wawancara adalah usaha mengumpulkan data dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula yaitu dengan cara kontak langsung atau dengan tatap muka. Wawancara dilakukan terhadap masyarakat Muslim maupun non Muslim yang dianggap representatif untuk memberikan data penelitian. Informasi penelitian ini diperoleh dari wawancara dengan informan mewakili kalangan birokrasi sebanyak dua informan, pemuka agama Islam sebanyak 9 informan dan pemuka agama Kristen sebanyak 5 informan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan panduan berstruktur. Dalam penelitian kualitatif, John Lofland dan Lyn Lofland menjelaskan bahwa sumber data utamanya adalah kata-kata dan tindakan. Sejalan dengan itu, permasalahan penelitian ini dapat dijawab harus mencari kata-kata dan melihat tindakan. Kata-kata dimaksud adalah keterangan para anggota masyarakat yang berbeda agama, serta tindakan atau prilaku mereka dalam berkomunikasi di lokasi penelitian. Diawali dengan proses klarifikasi data agar tercapai konsistensi, dilanjutkan dengan langkah abstraksi-abstraksi teoritis terhadap informasi di lapangan, dengan mempertimbangkan menghasilkan pernyataan-pernyataan yang sangat memungkinkan dianggap mendasar dan universal. 2. Observasi Untuk mendukung data lapangan yang valid, peneliti juga melakukan teknik pengumpulan data observasi, yakni mengamati secara seksama iklim komunikasi anggota masyarakat yang berbeda agama dalam kaitannya dengan pelaksanaan syariat Islam, untuk selanjutnya mengamati pula dampak yang ditimbulkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Obeservasi dilakukan selama kurun waktu penelitian berlangsung dengan cara peneliti berinteraksi dalam kehidupan masyarakat. Kegiatan observasi ini dilakukan untuk mendengar, melihat, merasakan dan memahami konteks hambatan komunikasi antar umat beragama. Data sekunder dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dari berbagai instansi, baik secara langsung terkait dalam penelitian ini maupun secara tidak langsung. Untuk BPS Kota Medan yang dibutuhkan berupa data-data dokumentasi kependudukan, jumlah lembaga agama dan lain sebagainya. Selain itu, data sekunder juga diperoleh dari hasil-hasil penelitian maupun literatur yang mendukung studi ini sebagai bahan perbandingan dan pengayaan materi. e). Analisis Data Setelah data dan informasi yang diperlukan terkumpulkan selanjutnya dianalisis dalam rangka menemukan makna temuan. Menurut Moloeng, analisis data ialah proses mengorganisasian dan mengurutkan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Selanjutnya dikemukakan bahwa analisis data merupakan proses yang terus menerus dilakukan didalam riset observasi partisipan. Data atau informasi yang diperoleh dari lokasi penelitian akan dianalisis secara kontiniu setelah dibuat catatan dilapangan untuk menemukan iklim komunikasi antar umat beragama dalam penerapan Syariat Islam di Kecamatan Lawe Sigala-gala. Analisis data dalam penelitian kualitatif bergerak secara induktif yaitu data/fakta dikategorikan menuju ketingkat abstraksi yang lebih tinggi melakukan sintesis dan mengembangkan teori bila diperlukan. Setelah data dikumpulkan dari lokasi penelitian melalui wawancara, observasi dan dokumen maka dilakukan pengelompokan dan pengurangan yang tidak penting. Setelah itu dilakukan analisis penguraian dan penarikan kesimpulan. Kemudian Moleong berpendapat bahwa analisis data juga dimaksudkan untuk menemukan unsur – unsur atau bagian bagian yang berisikan kategori yang lebih kecil dari data penelitian. Data yang baru didapat terdiri dari catatan lapangan yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi dianalisis terlebih dahulu agar dapat diketahui maknanya dengan cara menyusun data, menghubungkan data, mereduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi selama dan sesudah pengumpulan data. Analisis ini berlangsung secara sirkuler dan dilakukan sepanjang penelitian. Spradley menjelaskan “in order to discover the cultural pattern of any social situation,you must undertake an intensive analysis of you data before preceding further”. Karena itu sejak awal penelitian, peneliti sudah memulai mencari pola–pola tingkah laku aktor, penjelasan penjelasan, konfirmasi-konfirmasi yang mungkin terjadi, alur kausal dan mencatat keteraturan. Pada tahap awal pegumpulan data, fokus penelitian masih melebar dan belum tampak jelas, sedangkan observasi masih bersifat umum dan luas. Setelah fokus semakin jelas maka peneliti menggunakan observasi yang lebih berstruktur untuk menapatkan data yang lebih spesifik. Menurut Huberman & Miles , analisis data dikatagorikan kepada tiga tahap proses, yaitu : tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi . Proses analisis terjadi sebelum pengumpulan data dalam membuat rancanganpenelitian, pada tahap pengumpulan data dan pelaksanaan analisis awal ,serta setelah pengumpulan data sebagai hasil akhir. (a) Reduksi data. Data yang didapat dalam penelitian akan direduksi, agar tidak terlalu bertumpuk–tumpuk memeudahkan dalam mengelompokkan data dan memudahkan dalam menyimpulkannya. Lebih lanjut dijelaskan Miles dan Huberman mendefenisikan reduksi data sebagai suatu proses pemilihan, memfokuskan pada penyederhanaan, pengabstrakkan dan transformasi data “ mentah/kasar” yang muncul dari catatan – catatan tertulis dilapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menonjolkan hal-hal yang penting, meggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak dibutuhkan dan mengorganisasikan data agar lebih sistematis, sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan yang bermakna. Data yang telah direduksi akan dapat memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan. (b) Penyajian Data Penyajian data merupakan proses pemberian sekumpulan informasi yang sudah disusun yang memungkinkan untuk penarikan kesimpulan. Penyajian data merupakan gambaran secara keseluruhan dari sekelompok data yang diperoleh agar mudah dibaca secara menyeluruh. Penyajian data–data berupa matriks, grafik, jaringan kerja dan lainnya. (c) Kesimpulan Data awal yang berwujud kata-kata, tulisan dantingkah laku sosial oleh para aktor diperoleh melalui hasil observasi dan wawancara serta studi dokumen. Kesimpulan pada awalnya masih longgar namun kemudian meningkatkan menjadi lebih rinci dan mendalam dengan bertambahnya data dan akhirnya kesimpulan merupakan suatu kofigurasi yang utuh. Dalam memperoleh pengakuan terhadap hasil penelitian ini terletak pada keabsahan data penlitian yang telah dikumpulkan. Berpedoman kepada pendapat Lincoln&Guba, untuk mencapai trustworthiness (kebenaran) dipergunakan berbagai tekni, yaitu : 1) Kredibilitas Kredibilitas identik dengan internal konsintensi yang dibangun sejak pengumpulan dan analisis data melalui tiga kegiatan, yaitu : a. Keterikatan yang lama (prolonged engagement) peneliti dengan yang diteliti memiliki konsekuensi memperpanjang waktu yang cukup guna mencapai tujuan yang ditetapkan dalam penelitian– penelitian. Untuk mencapai masud ini maka kegiatan penelitian dilaksanakan dengan tidak tergesa–gesa. b. Ketekunan pengamatan (Persistent Observation) atau melakukan observasi menetap terhadap fakta-fakta yang muncul di lapangan penelitian. c. Melakukan triangulasi (triangulation), yaitu memeriksa informasi yang diperoleh dari beberapa sumber antara data wawancara dengan data pengamatan dan dokumen. Menurut Moloeng, triangulasi ialah teknik pemeriksaan keabsahaan data dapat memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh dari penggunaan teknik pengumpulan data. 2). Transferabilitas Generalisasi dalam penelitian kualitatif tidak mempersyaratkan asumsi-asumsi seperti rata-rata populasi dan rata-rata sampel atau asumsi kurva norma. Transferabilitas memperhatikan kecocokan arti fungsi unsur-unsur yang terkandung dalam fenomena study dan fenomena lain diluar ruang lingkup studi. 3).Dependanbilitas. Dependabilitatas dibangun sejak dari pengumpulan data dan analisis data lapangan serta saat pengkajian data laporan penelitian. Dalam pengembangan bersaing keabsahan data dibangun mulai dari pemilihan kasus dan fokus, melakukan orientasi lapangan dan pengembangan kerangka konseptual. 4). Komfirmabilitas. Komfirmabilitas dilakukan dengan cara mengkonsultasikan setiap langkah kegiatan kepada pembimbing sejak dari pengembangan desain, refocusing, penentuan konteks dan narasumber, instrumentasi, pengumpulan dan analisasi data serta penyajian data penelitian. Beberapa hal yang menjadi pokok diskusi adalah keabsahan sample/subjek, kesesuaian logika kesimpulan dan data yang tersedia, pemeriksaan terhadap bias peneliti, ketepatan langkah dalam pengumpulan data dan ketepatan kerangka konseptual serta konstruksi yang dibangun berdasarkan data lapangan. Setiap dari tahapan ini merupakan jaminan dalam mengembangkan komfirmobilitas penelitian. DAFTAR PUSTAKA A.J., Denny, “Problem Demokrasi di Indonesia”, Makalah Workshop for Lecture on Civic Education diselenggarakan oleh ICCE IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Bogor, 6-18 Agustus 2001. Andaito (ed.), Atas Nama Agama.andung: Pustaka Hidayah, 1998. Anderson, Norman, Law Reform in the Muslim World. London: University of Londong, The AthlonePress, 1978. Ashshiddiqi, T.M. Hasbi, Filsafat Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang, tth. Bellah, Robert N., Beyond Belief, Esei-Esei Tentang Agama di Dunia Modern, Menemukan Kembali Agama, Terjemahan Rudy Harisyah Alam. Jakarta: Paramadina, 2000. Bogdan, R. dan Biklen, S.K., Qualitive Research for Education. Boston: Allyn and Bacon, 1992. Cangara, Hafied, Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005. Clarck, Walter Hutson, the Psychology of Religion. New York: McMillan, 1967. Dahrendrof, Ralf, Class and Class Conflict in Industrial Society. London: Rantlidge & Keegan Paul, 1973. Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2002. Effendy, Onong Uchjana, Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001. Effendy, Onong Uchjana, Dinamika Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. Fisher, B. Aubrey, Small Group Decision Making: Communication and the Group Process. New York: Harper & Row Publisihing Inc., 1980. Fischer, Heinz-Dietrich dan John C. Merril (eds), Intercultural and International Communication. New York: Hastings House Publisher, 1978.. Ghazali, Adeng Muchtar,Agama dan Keberagaman dalam Konteks Perbandingan Agama. Bandung: Pustaka Setia, 2004. Giddens, Athony, A Contemporary Critique of Historical Materialism: Power, Property and the State v. 1 (Contemporary Social Theory). London : Macmillan Press , 1981. Hanafi, Abdillah, Memahami Komunikasi Antar Manusia. Surabaya: Usaha Nasional, 1984. Hutchison, John A., Paths of Faith. USA: McGrow-Hill Inc., 1981. Kahmad, Dadang, Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000. Kim, Young Yun (eds), Methods for Intercultural Communication Research. Beverly Hills: Sage Publications, 1984. Khallaf, Abd Wahab, Ushul al-Fiqh. Kairu: Dar al-Ma’arif, 1971. Lehman, Arthur C. dan James E. Myers. (ed), Magic Witchraft, and Religion: an Anthtropological Study of the Supernatural. California: Mayfield Publisihing Company, 1985. Lembaga Informasi Nasional, Kerukunan Hidup Umat Beragama. Jakarta: Lembaga Informasi Nasional, 2001. Liliweri, Alo, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003. __________, Gatra-Gatra Komunikasi Antarbudaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001. Linton, Ralp (ed.), The Science of Man in The World Crisis. New York: Columbia University Press, 1945. Lofland, John dan Lyn H. Lofland, Anliyzing Social Setting: A Guide to Qualitative Observation and Analysis. Belmont: Wadsworth Publishing Company, 1984. Lubis, M. Ridwan dkk, “Pengelolaan Keserasian Sosial Antarumat Beragama di Kota Medan: Riset Partisipatoris untuk Perumusan Kebijakan”, dalam Khaeroni, dkk (ed), Islam dan Hegemoni Sosial. Jakarta: Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Departemen Agama RI, 2001. Majid, Ishamuddin Darbalah ‘Ashim Abdul, Menolak Syariat Islam: Dalam Perspektif Hukum Syar’i. Solo: Pustaka al-‘Alaq, 2004. Masdoosi, Ahmad Abdullah, Living Religions of the World: a Sosio Political Study. Karachi: Begum Aisha Bawani Waktu, 1962. McQuail, Dennis dan Steven Windhal, Comunication Models for the Study of Mass Communications. Londong: Longman, 1981. McQuarie, Donald, Marx : Sociology, Social Change, Capitalism. Publisher: Quartet, 1978. Miles, Matthew dan Michel Huberman, Analisis Data Kualitatif. Terj. Tjetjep Rohindi Jakarta: UI Press, 1992. Miles, Matthew dan Michel Huberman, Data Management and Analysis Methods. New York: Jersey Pers, 1984. Moleng, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualiatif. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999. Muhajir, Noeng, Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rekasarasin, 1992. Muhammad, Arni, Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara, 1992. Mulyana, Deddy dan Jalaluddin Rakhmat (eds.), Komunikasi Lintas Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Bandung: Rosdakarya, 2003. Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Sosial . Yogyakarta: UGM-Press, 1987. Nawawi, Hadari dan Mimi Martini, Penelitian Terpadu. Yogyakarta: Gajah Mada University Perss, 1996. Notoatmodjo, Soekidjo, Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka Cipta, 2003. Nottingham, Elizabeth K., Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar Sosiologi Agama, terjemahan Abdul Muis Naharong. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996. Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2001, tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh Sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Banda Aceh: Dinas Informasi dan Komunikasi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, 2002. Qurthubi, Abdillah, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Kairo: Dar al-‘Arabi, 1867 H. jilid VI. Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998. Sasongko, Haryo, Kerukunan Beragama, Daulat Politik dan Kereta Reformasi. Jakarta: Harapan Baru Raya, 2005. Samovar, Larry A. dkk., Understanding Intercultural Communication. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company, 1981. Saral, Tulsi B. “Intercultural Communication Theory and Research: An Overview of Challengnes and Opportunities”, dalam Dan Nimmo (ed.), Communication Yearbook 3. New Brunswick, New Jersey: Transaction Book, 1979. Schacht, Joseph, An Introduction to Islamic Law . Oxford: Oxford University Press, 1964. Schuon, Frithjof, Islam dan Filsafat Perennial, terjemahan Rahmani Astuti. Bandung: Mizan, 1993.

No comments:

Post a Comment