Monday, October 26, 2015

CORAK DINAMIKA EKONOMI KERAJAAN ISLAM MELAYU

Corak Dinamika Ekonomi Kerajaan Islam Melayu Pada masa Islam, kegiatan perekonomian terutama menyangkut perdagangan sudah maju dengan pesat. Berdirinya bandar-bandar atau pelabuhan tempat transaksi biasanya dilakukan adalah fakta yang menguatkan hal itu. Berbagai bandar itu tidak hanya disingahi oleh pedagang prbumi, tapi juga oleh pedagang asing/mancanegara. Pedagang dari mancanegara umumnya berasal dari arab, persia, China, bahkan dari Eropa. Pedagang dari arab memperjualkan permadani, kain-kain. Sering dijumpai kampung ini terletak di daerah pesisir. Pada tahap awal, jalur perdagangan adalah satu-satunya jalan yang paling memungkinkan , karena lalu-lintas perdagangan memang telah ramai sejak abad ke-7 sampai abad ke-16 M. Jalur ini sangat menguntungkan karena para raja-raja juga terlibat dalam aktivitas perdagangan ini, bahkan mereka merupakan pemilik kapal dan saham. Selanjutnya jalur ini menjadi lebih penting dan strategis karena sebagaian dari mereka adalah penguasa, sehingga proses Islamisasi lebih mudah terlaksana.Namun tak jarang kampung ini juga dibentuk di daerah yang jauh dari garis pantai, dan cenderung dekat dengan pusat kota yang ramai. Sama halnya dengan pedagang dari Arab, pedagang dari Persia pun melakukan kegiatan perdagangan di daerah pelabuhan serta di daerah pedalaman yang jauh dari pantai. Dan untuk barang-barang yang dijual oleh pedagang dari Persia, hampir sama dengan pedagang asal Arab. Barang-barang itu meliputi sorban, kain-kain permadani. Perbedaan dengan pedagang Arab adalah pedagang Persia tidak mebentuk komunitas tersendiri, yang dapat menyatukan mereka dalam suatu wadah tersendiri. Tidak kalah dengan dua bangsa asal Asia Barat, pedagang asal China di Indonesia pun mampu memberikan perannya dalam memajukan perdagangan di Indonesia. Dari segi etos kerja, pedagang China pun sangat baik. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pedagang China yang sukses pada masa itu serta mampu menempati posisi yang tinggi dalam kegiatan perdagangan. Dan guna menyatukan komunitas mereka serta melancarjan kegiatan perdagangan mereka, mereka pun membentuk komunitas tersendiri yang dikenal dengan kampung China. Untuk barang-barang diperjualkan oleh pedagang China meliputi guci, keramik, sutera, kertas. Berbeda dengan ketiga pedagang Asia di atas, yang datang sejak awal perkembangan Islam, atau bahkan jauh sebelum itu. Kedatangan pedagang Eropa ke nusantara terjadi pada saat Islam sudah mulai memasuki masa keemasan di bumi Indonesia, yang dibuktikan dengan semakin banyaknya kerajaan bercorak Islam. Bangsa Eropa datang jauh-jauh dari Eropa karena Konstantinopel yang saat itu jatuh ke Turki Usmani, tertutup bagi orang Eropa. Karena hal inilah, yang kemudian memaksa mereka untuk mencari sendiri kebutuhan pokok mereka yang salah satunya adalah rempah-rempah. Dan perjalanan mereka untuk mencari rempah-rempah sendiri ke daerah timur dipelopori oleh Ferdinand de Magelhans (asal Portugis). Antara Islam dan perdagangan merupakan suatu keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Banyak sekali contoh yang menyebutkan bahwa dalam perdagangan, disebarkan pula agama Islam atau perdagangan di Indonesia dilakukan oleh pedagang Islam. Perkembangan ekonomi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dengan kontribusi pedagang-pedagang Islam. Misalnya pedagang Islam asal Arab, Gujarat, bahkan China. Perkembangan ini dari mulai ujung barat Indonesia (Aceh) sampai Indonesia timur, termasuk berhasil masuk dan berkembang di pulau rempah-rempah (Maluku). Para pedagang Jawa dan Melayu yang beragama Islam menetap di pesisir Banda, tetapi tidak ada seorang raja pun di sana, dan daerah pedalaman masih non-muslim. Ternate, Tidore, dan Bacan mempunyai raja-raja Muslim. Penguasa-penguasa Tidore dan Bacan memakai gelar India ’raja’, tetapi penguasa Ternate telah menggunakan gelar ’Sultan’, dan raja Tidore telah memakai nama Arab ”al-Manshur”. Keseluruhan bukti di atas memberi suatu gambaran umum mengenai perkembangan ekonomi pada abad XIII hingga awal abad XVI. Derah-daerah yang paling penting atau menjadi jalur perdagangan Intenasional meliputi pesisir-pesisir Sumatera di selat Malaka, semenanjung Malaya, pesisir utara Jawa, Brunei, Sulu, dan Maluku. Menurut Tome Pires, tidak semua daerah perdagangan yang penting telah memeluk Islam, misalnya Timor dan Sumba yang menghasilkan kayu cendana tetapi masih tetap non-Islam. Adanya perdagangan internasional hanya memberi sedikit penjelasan mengapa sudah ada bangsawan-bangsawan yang beragama Islam di Istana Majapahit pada abad XIV, atau mengapa Trengganu merupakan daerah Malaya pertama tempat Islamisasi berlangsung. Meskipun demikian, tampaknya memang ada kaitannya antara perdagangan dengan Islam. 1. Kerajaan Langkat Kerajaan Langkat termasuk kerajaan yang makmur ini terlihat dari bangunan-bangunan yang didirikan pada masa kerajaan ini seperti istana-istana yang megah, lembaga pendidikan dan mesjid yang berdiri dengan kokoh dan kuat. Menurut John Anderson selaku wakil pemerintahan Inggeris di Penang menyatakan bahwa pada tahun 1823 kerajaan Langkat merupakan sebuah kerajaan yang kaya. Ekspor ladanya bermutu sangat baik mencapai 20.000 pikul dalam setahun. Hasil-hasil lainnya dari Langkat seperti rotan, lilin, buah-buahan, gambir emas (dari Bahorok), gading, tembakau dan padi. Kerajaan Langkat termasuk kepada kerajaan yang makmur, ini terlihat dari bangunan-bangunan yang didirikan pada masa kerajaan ini seperti istana-istana yang megah, lembaga pendidikan dan masjid yang berdiri dengan indah dan kokoh. Menurut Laporan John Anderson selaku wakil pemerintahan Inggris di Penang bahwa pada tahun 1823 kerajaan Langkat merupakan sebuah kerajaan yang kaya. Ekspor ladanya bermutu sangat baik, mencapai 20.000 pikul (+ 800.000 kg) dalam setahun. Hasil-hasil lainnya dari Langkat seperti rotan, lilin, buah-buahan hutan, gambir, emas (dari Bahorok), gading, tembakau dan beras. Sumber penghasilan kesultanan Langkat, terutama berasal dari hasil pertanian, pajak perkebunan asing (Deli Maatschappij yang sekarang menjadi PTPN), perdagangan dan hasil pertambangan minyak bernama “De Koniklijke” (Koniklijke Nederlandsche Maatschappij Tot Exploitatie Petroleumbronnen In Nederlandsche-Indie) atau juga dikenal dengan nama BPM (Bapapte Petroleum Maatschappij) sehingga kesultanan Langkat terkenal sebagai kerajaan yang kaya. Kekayaan kerajaan turut dinikmati oleh rakyatnya, ini dibuktikan bahwa setiap tahun sultan mengeluarkan zakat atau sedekah dengan mengumpulkan seluruh rakyat di masjid atau istana pada malam 27 Ramadhan. Kepada mereka diberikan uang sebesar f 2,50 per-orang. Ketika itu jumlah ini cukup untuk membeli beras sebanyak 50 kati serta memberikan bantuan-bantuan lainnya seperti minyak lampu yang digunakan untuk penerangan di bulan Ramadhan. Sumber penghasilan kesultanan Langkat terutama dari hasil pertanian, pajak perkebunan asing (Deli Maatschaooij yang searang berupah menjadi PTPN), perdagangan dan hasil pertambangan minyak Bapapte Pertoleum Maatschappij (BPM) sehingga kesultanan Langkat terkenal dengan kerajaan yang kaya. Kekayaan kerajaan dapat dinikmati oleh masyarakat ini dapat dirasakan bahwa sultan setiap tahun mengeluarkan zakat dengan mengumpilkan seluruh rakyat di mesjid atau di istana pada malam 27 Ramadhan serta memberikan bantuan-bantuan lainnya seperti minyak lampu yang digunakan untuk penerangan di Bulan Ramadhan. 2. Kerajaan Samudra Pasai Perkembangan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudera Pasai bertambah pesat, sehingga selalu menjadi perhatian sekaligus incaran dari kerajaan – kerajaan di sekitarnya. Setelah Samudera Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka maka pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka Letak Kerajaan Samudera Pasai yang strategis, mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar - bandar yang digunakan untuk: a) Menambah perbekalan untuk pelayaran selanjutnya b) Mengurus masalah – masalah perkapalan c) Mengumpulkan barang – barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri d) Menyimpan barang – barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia Setelah dikuasai oleh pembesar Islam, para pedagang dari Tuban, Palembang, malaka, India, Cina dan lain-lain datang berdagang di Samudra Pasai. Menurut Ibnu Batutah: Samudera Pasai merupakan pelabuhan terpenting dan Istana Raja telah disusun dan diatur secara indah berdasarkan pola budaya Indonesia dan Islam. Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Bersamaan dengan Pidie, Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama. Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, Samudera Pasai berkembang menjadi pusat perdagangan internasional. Pelabuhannya diramaikan oleh pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, Cina, dan Eropa. Saat itu Pasai diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000- 10.000 bahara setiap tahunnya, selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor impor yang maju. Sebagai bandar dagang yang maju, Samudera Pasai mengeluarkan mata uang sebagai alat pembayaran. Salah satunya yang terbuat dari emas dikenal sebagai uang dirham. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang-pedagang Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudera Pasai. Mereka dibebaskan dari pembayaran cukai. 3. Kerajaan Perlak Perlak dikenal dengan kekayaan hasil alamnya yang didukung dengan letaknya yang sangat strategis. Apalagi, Perlak dikenal sebagai penghasil kayu perlak, yaitu jenis kayu yang sangat bagus untuk membuat kapal. Kondisi semacam inilah yang membuat para pedagang dari Gujarat, Arab dan Persia tertarik untuk datang ke daerah ini. Masuknya para pedagang tersebut juga sekaligus menyebarkan agama Islam di kawasan ini. Selain itu, masyarakat Perlak juga lambat laun belajar berdagang. Pada awal abad ke-8, Perlak dikenal sebagai pelabuhan niaga yang sangat maju. Perlak merupakan kerajaan yang sudah maju. Hal ini terlihat dari adanya mata uang sendiri. Mata uang Perlak yang ditemukan terbuat dari emas (dirham), dari perak (kupang), dan dari tembaga atau kuningan. Masuknya para pedagang tersebut juga sekaligus menyebarkan ajaran Islam di kawasan ini. Kedatangan mereka berpengaruh terhadap kehidupan sosio-budaya masyarakat Perlak pada saat itu. Sebab, ketika itu masyarakat Perlak mulai diperkenalkan tentang bagaimana caranya berdagang. Pada awal abad ke-8, Perlak dikenal sebagai pelabuhan niaga yang sangat maju. Model pernikahan percampuran mulai terjadi di daerah ini sebagai konsekuensi dari membaurnya antara masyarakat pribumi dengan masyarakat pendatang. Kelompok pendatang bermaksud menyebarluaskan misi Islamisasi dengan cara menikahi wanita-wanita setempat. Sebenarnya tidak hanya itu saja, pernikahan campuran juga dimaksudkan untuk mengembangkan sayap perdagangan dari pihak pendatang di daerah ini. Paling tidak bukti-bukti peninggalan sejarah yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendukung dan membukti mengenai keberadaan Kerajaan perlak ada tiga yakni ; mata uang perlak, stempel kerajaan dan makam raja-raja Benoa. Mata Uang Perlak Mata uang Perlak ini diyakini merupakan mata uang tertua yang diketemukan di Nusantara. Ada tiga jenis mata uang yang ditemukan, yakni yang pertama terbuat dari emas (dirham) yang kedua dari Perak (kupang) sedang yang ketiga dari tembaga atau kuningan. a) Mata uang dari emas (dirham) Pada sebuah sisi uang tersebut tertulis ”al A’la” sedang pada sisi yang lain tertulis ”Sulthan”. Dimungkinkan yang dimaksud dalam tulisan dari kedua sisi mata uang itu adalah Putri Nurul A’la yang menjadi Perdana Menteri pada masa Sulthan Makhdum Alaidin Ahmad Syah Jauhan Berdaulat yang memerintah Perlak tahun 501-527 H (1108 – 1134 M). b) Mata uang perak (kupang) Pada satu sisi mata uang Perak ini tertulis ”Dhuribat Mursyidam”, dan pada sisi yang tertuliskan ”Syah Alam Barinsyah”. Kemungkinan yang dimaksud dalam tulisan kedua sisi mata uang itu adalah Puteri Mahkota Sultan Makhdum Alaidin Abdul Jalil Syah Jouhan Berdaulat, yang memerintah tahun 592 – 622 H (199 – 1225 M). Puteri mahkota ini memerintah Perlak karena ayahnya sakit. Ia memerintah dibantu adiknya yang bernama Abdul Aziz Syah. c) Mata uang tembaga (kuningan) Bertuliskan huruf Arab tetapi belum dapat dibaca. Adanya mata uang yang ditemukan ini menunjukkan bahwa Kerajaan Perlak merupakan sebuah kerajaan yang telah maju. 4. Konsepsi Ekonomi Islam Sistem Ekonomi Islam tidak terlepas dari seluruh sistem ajaran Islam secara integral dan komphensif. Sehingga prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam mengacu pada saripati ajaran Islam. Kesesuaian Sistem tersebut dengan Fitrah manusia tidak ditinggalkan, keselarasan inilah sehingga tidak terjadi benturan-benturan dalam Implementasinya, kebebasan berekonomi terkendali menjadi ciri dan Prinsip Sistem Ekonomi Islam, kebebasan memiliki unsur produksi dalam menjalankan roda perekonomian merupakan bagian penting dengan tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar, tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dengan segala potensi yang dimilikinya, kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas di kendalikan dengan adanya kewajiban setiap indivudu trhadap masyarakatnya, keseimbangan antara kepentingan individu dan kolektif inilah menjadi pendorong bagi bergeraknya roda perekonomian tanpa merusak Sistem Sosial yang ada. Manusia memiliki kecenderungan untuk berkompetisi dalam segala hal. Persaingan bebas menjadi ciri Islam dalam menggerakan perekonomian, pasar adalah cerminan dari berlakunya hukum penawaran dan permintaan yang di representasikan oleh harga, tetapi kebebasan ini haruslah ada aturan main sehingga kebebasan tersebut tidak cacat, pasar tidak terdistorsi oleh tangan-tangan yang sengaja mempermainkannya; larangan adanya bentuk monopoli, kecurangan, dan praktek riba adalah jaminan terhadap terciptanya suatu mekanisme pasar yang sehat dan persamaan peluang untuk berusaha tanpa adanya keistimewaan-keistimewaan pada pihak-pihak tertentu. Keseimbangan ekonomi menjadi tujuan di Implementasikan Sistem Ekonomi Islam, landasan upaya menyeimbangkan perekonomian tercermin dari mekanisme yang ditetapkan oleh Islam, sehingga tidak terjadi pembusukan-pembusukan pada sektor-sektor perekonomian tertentu dengan tidak adanya optimalisasi untuk menggerakan seluruh potensi dan elemen yang ada dalam skala makro. Secara sistematis perangkat penyeimbang perekonomian dalam Islam berupa : a) Diwajibkannya zakat terhadap harta yang tidak di investasikan, sehingga mendorong pemilik harta untuk menginves hartanya, disaat yang sama zakat tidak diwajibkan kecuali terhadap laba dari harta yang di investasikan, Islam tidak mengenal batasan minimal untuk laba, hal ini menyebabkan para pemlik harta berusaha menginvestasikan hartanya walaupun ada kemungkinan adanya kerugian hingga batasan wajib zakat yang akan dikeluarkan, maka kemungkinan kondisi resesi dalam Islam dapat dihindari. b) Sistem bagi hasil dalam berusaha (profit and loss sharing) mengggantikan pranata bunga membuka peluang yang sama antara pemodal dan pengusaha, keberpihakan sistem bunga kepada pemodal dapat dihilangkan dalam sistem bagi hasil. Sistem inipun dapat menyeimbangkan antara sektor moneter dan sektor riil. Adanya keterkaitan yang erat antara otoritas moneter dengan sektor belanja negara, sehingga pencetakan uang tidak mungkin dilakukan kecuali ada sebab-sebab ekonomi riil, hal ini dapat menekan timbulnya Inflasi. c) Keadilan dalam disribusi pendapatan dan harta. Fakir miskin dan pihak yang tidak mampu di tingkatkan pola konsumsinya dengan mekanisme zakat, daya beli kaum dhu'afa meningkat sehingga berdampak pada meningkatnya permintaan riil ditengah masyarakat dan tersedianya lapangan kerja. d) Intervensi negara dalam roda perekonomian. Negara memiliki wewenang untuk intervensi dalam roda perekonomian pada hal-hal tertentu yang tidak dapat diserahkan kepada sektor privat untuk menjalankannya seperti membangun fasilitas umum dan memenuhi kebutuhan dasar bagi masyarakat. Ada dua fungsi negara dalam roda perekonomian : a) Melakukan pengawasan terhadap jalannya roda perekonomian dari adanya penyelewengan atau distorsi seperti ; monopoli, upah minimum, harga pasar. b) Peran negara dalam distribusi kekayaan dan pendapatan serta kebijakan fiskal yang seimbang.

No comments:

Post a Comment