Monday, October 26, 2015

BUDAYA “DALIHAN NA TOLU"

A. Pendahuluan Pada dasarnya, masalah adat/budaya tidak bisa lepas dari kehidupan manusia di dunia ini. Begitu juga dengan bangsa Indonesia, masyarakatnya sangat dikenal dengan adat dan budayanya. Jika kita perhatikan adat dan budaya yang berlaku pada masyarakat Indonesia, kita akan mengetahui bahwa jenisnya sangat beragam. Akan tetapi, tidak semua budaya tersebut dikenal oleh masyarakat Indonesia, hanya beberapa budaya saja yang populer di kalangan mayoritas penduduk Indonesia. Di antaranya, adat Jawa, Betawi, Sunda, Minang dan Batak. Yang akan menjadi concern penulis budaya Batak di Tapanuli Selatan Kecamatan Padang Bolak, atau yang lebih dikenal dengan Adat “Dalihan Na Tolu”. Adat Dalihan Na Tolu di Padang Bolak sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, dan masih terus dilestarikan hingga sekarang. Semua tata cara kehidupan masyarakat Batak Kecamatan Padang Bolak tercermin dalam budaya ini; mulai dari masalah kelahiran, pembukaan daerah baru, hukum, pernikahan dan kematian (siriaon dan siluluton), serta masalah tatakrama kehidupan sehari-hari dan sopan santun dalam bertutur sapa. Perkawinan adalah masalah yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Batak di Kecamatan Padang Bolak. Karena dengan perkawinan ini satu generasi akan terbentuk. Proses terbentuknya suatu rumah tangga orang Batak berkaitan dengan cara kehadiran seorang wanita (boru) di rumah calon suaminya. Ada tiga cara yang paling umum dilaksanakan oleh masyarakat Batak Tapanuli Selatan dalam hal perkawinan (haroan boru) yaitu: (1) Boru na dipabuat artinya: pemberangkatan seorang boru (pengantin wanita) ke rumah calon suaminya, yang dilaksanakan secara adat. Artinya, seluruh kerabat, Harajaon, Hatobangon, dan dongan sahuta mengetahui dan mengambil peran/bagian dalam upacara adat itu. (2) Boru tangko binoto, yaitu kepergian boru ke rumah calon suminya hanya diketahui oleh orang tuanya dan beberapa kerabat yang paling dekat. (3) Boru hiapan artinya boru namarlojong atau kawin lari. Biasanya ini terjadi karena orang tua tidak menyetujui hubungan tersebut atau karena ketiadaan biaya dari salah satu pihak, atau pun kedua belah pihak. Adapun perjodohan paling ideal menurut adat Batak, khususnya di Kecamatan Padang Bolak adalah perjodohan antara anak laki-laki dengan boru ni tulang (pariban), yang lebih populer disebut dengan perjodohan pabolak pinggan panganan atau pabolak parkouman. Atau dengan kata lain, tujuan perkawinan dengan pariban adalah agar lebih mempererat lagi persaudaraan yang telah terjalin hingga semakin erat. Mayoritas masyarakat Tapanuli Selatan beragama Islam. Selain menjunjung tinggi nilai budaya mereka juga sangat menjunjung tinggi nilai agama. Pendidikan agama Islam telah diperkenalkan kepada anak-anak secara teratur sejak usia kanak-kanak. Mereka dibesarkan di dalam suasana keagaamaan yang baik, antara lain belajar membaca Alquran di rumah guru mengaji pada malam hari, mandi di surau atau mesjid, libur sekolah pada bulan Ramadhan, shalat Jumat, perayaan hari besar Islam dan acara-acara penting dalam tahap kehidupan manusia dari kelahiran, pernikahan dan kematian yang semuanya diselenggarakan dalam suasana keislaman. Selain itu, di setiap desa ada Madrasah. Ungkapan tradisional yang disampaikan dalam berbagai upacara, seperti upacara kelahiran, pernikahan, memasuki rumah baru, memberangkatkan kerabat yang hendak pergi merantau, memberangkatkan kerabat yang hendak naik haji ke tanah suci dan upacara kematian senantiasa memakai kata-kata kunci religi purba yang sudah diislamisasikan, antara lain tondi, horas dan pasu-pasu. Ayat-ayat suci Alquran dan sunnah mendominasi kata-kata mereka. Mereka mengawali dan megakhiri kata-kata dengan salam. Adalah suatu kewajiban bagi orang tua si laki-laki untuk mengadati anaknya dalam perkawinan, karena mengadati anaknya adalah salah satu bentuk pernyataan rasa holong (sayang) yang besar kepada anak dan menantunya. Terlebih lagi jika perkawinan ini manyunduti (pariban), sehingga pesta (horja) yang akan diselenggarakan pun lebih besar dari biasanya. Dengan kata lain, kalau anaknya menikah dengan pariban nya (manyunduti), maka horja gondang pun harus diadakan. Kalau seorang anak manyunduti tapi pestanya tidak margondang, biasanya seluruh keluarga terutama Kahanggi dan Anak Boru nya akan merasa malu, sehingga mereka akan berjuang dengan cara apa pun, agar pesta tersebut tetap margondang. Pesta diselenggarakan di rumah pihak laki-laki, di mulai sejak masuknya pengantin wanita ke rumah mertuanya. Ketika menaiki tangga pertama, dia harus melangkahkan kaki kanan dan menginjak bunga dingin-dingin yang dilapisi pelepah pisang. Setelah masuk ke dalam rumah, acara manyantan pun dimulai, dan dilanjutkan dengan makan nasi dan lauk pauk yang panas (mangan nalas), manyurduhon burangir (memberikan sirih), dan diakhiri dengan mangupa tondi (pasu-pasu). Religi masyarakat Tapanuli Selatan adalah religi Islam. Pengaruh Islam dalam kehidupan sehari-hari sangat kuat. Agama tradisional, agama sebelum kedatangan Islam telah tersisih, yang tinggal adalah sebagian ajaran agama purba yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, antara lain dengan Islamisasi istilah-istilah dan pemberian makna Islam pada istilah-istilah itu. Pengaruh Islam yang masih tampak kuat dan jelas adalah pada upacara pernikahan. Dalam hal pemilihan jodoh, ada perbedaan yang tegas antara aturan adat dan aturan yang terdapat dalam ajaran Islam. Ajaran adat melarang keras perkawinan semarga karena perkawinan seperti itu dipandang sebagai inces. Sebaliknya Islam tidak melarang perkawinan semarga. Pada kenyaataannya dalam kehidupan sehari-hari telah banyak orang yang melakukan perkawinan semarga. Perkawinan semarga tidak lagi dipandang sebagai perkawinan yang terkutuk. Karena di dalam Alquran surat An Nisaa’ ayat 22-25 telah ditetapkan siapa-siapa yang boleh dinikahi dan siapa-siapa yang tidak boleh dinikahi. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan barangsiapa di antara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini wanita merdeka lagi beriman, ia boleh mengawini wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu; sebahagian kamu adalah dari sebahagian yang lain, karena itu kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (Kebolehan mengawini budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S: An Nisaa’: 22-25). Upacara kematian yang dahulu didominasi oleh ajaran agama tradisional, kini sudah jarang terjadi. Ungkapan tradisional tentang kematian telah diwarnai oleh ajaran agama Islam seperti ungkapan ketika mendengar berita orang meninggal, yaitu Innaa Lillah Wa Innaa Ilaihi Raaji’uun (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya) dan Kullu Nafsin Dzaiqatul Maut (Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian). Ungkapan di bawah ini menggambarkan hal tersebut: Bismillah laho tuginjang Alhamdulillah laho tutoru Nada on be natarpaginjang Madung tarsurat do di nadung lalu Marobur angin sipur-puron Maninggal tano hasiangan Najolo do on ditontuon Sude marnyawa mulak tu tuhan Kata-kata kunci nilai agama tradisional, sebagian besar masih bertahan dalam nuansa kata-kata ungkapan tradisonal sekalipun pengaruh Islam cukup kuat dalam kehidupan keagamaan masyarakat Tapanuli Selatan, tetapi di dalam kenyataan hidup sehari-hari senantiasa dijelaskan oleh yang mengucapkannya bahwa yang dimaksud dengan ungkapan itu bukanlah agama purba. Beberapa contoh ungkapan di bawah ini menunjukkan hal tersebut. Bulung ni hayu pora Di topi ni Aek Roburan Ulang hita apuan marmora Tapainte haroro sian Tuhan Marumpak harimaja Tu toru ni simartulan Horas ma di raja-raja Dipasu-pasu Tuhan Habang ma langkupa Na songgop tu hapadan Niungkap ma pangupa Pangupa ni tondi dohot badan Ungkapan pertama menunjukkan posisi Mora yang di dalam agama tradisional diperlakukan sebagai wakil Tuhan atau Debata Na Tarida. Akan tetapi hal itu tidak berlaku lagi, karena segala sesuatu Tuhanlah yang menentukan. Ungkapan kedua, menggambarkan bahwa raja yang di dalam hal ini adalah juga dalam kedudukan Mora yang diberkati oleh Tuhan. Jadi, raja bukan lagi seorang yang memberkati, karena dia sendiri juga diberkati oleh Tuhan. Ungkapan ketiga menggambarkan persembahan yang disediakan untuk memberkati semangat dan kesehatan jasmani. b. Sosial Dan Budaya Kebudayaan terikat pada ruang dan waktu, oleh karena itu kebudayaan senantiasa mengalami perubahan dan evolusionistis. Perubahan budaya itu merupakan proses adaptasi genetika biologis sesuai dengan keadaan lingkungan hidup manusia. Adaptasi yang dilakukan oleh kebudayaan dipengaruhi oleh kontaknya dengan kebudayaan lain pada masa lampau dan masa kini, sejarah tradisi, cara hidup dan cara-cara mengantisipasi alam semesta. Dalam hal itu manusia menentukan sikap, cita-cita, dan nilai-nilai sesuai dengan kebutuhannya dalam lingkungan tertentu dan pada waktu tertentu pula. Dalam proses adaptasi itu terciptalah nilai budaya, yaitu konsep-konsep mengenai apa yang dianggap bernilai, berharga, luhur dan mulia, sehingga dapat berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi pada kehidupan para warga masyarakat. Melalui proses sosialisasi, setiap individu anggota masyarakat telah ditanami dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat, sehingga konsep-konsep itu berakar secara mendalam di dalam jiwanya. Menurut Kluckhohn tiap sistem nilai budaya dalam setiap kebudayaan pada hakikatnya dapat dilihat dalam lima variasi yang menyangkut masalah-masalah dasar dalam kehidupan manusia, hakikat kedudukan manusia dengan alam dan hakikat hubungan manusia dengan sesamanya. Masyarakat Dalihan Na Tolu Tapanuli Selatan mempunyai kebudayaan sendiri yang khas. Tetapi sejalan dengan itu masyarakat ini mempunyai sejumlah kesamaan dengan masyarakat lainnya. Keragaman budaya di mana pun dan kapan pun tetap ada. Misalnya, di kalangan masyarakat Batak di Bonabulu tampak jelas variasi yang pada hakikatnya merupakan perbedaan antara tradisi luhat. Akan tetapi perbedaan dan variasi itu merupakan keragaman perubahan yang disebabkan oleh keragaman kontak dengan kebudayaan lain dan juga perbedaan ekologi masing-masing luhat ditambah dengan perbedaan sejarah tradisi yang menghasilkan tanggapan yang berbeda-beda pula. Sosialisasi nilai-nilai budaya yang diajarkan secara turun temurun pada masyarakat Tapanuli Selatan berlangsung seumur hidup, karena itu merupakan proses pembentukan jati diri yang khas bagi orang Batak. Pada dasarnya sejak kecil masyarakat Tapanuli Selatan sudah dididik untuk senantiasa merasa memiliki, menikmati dan memelihara kemesraan serta kehangatan hubungan dengan orang tua, saudara dan kerabat dekat. Norma-norma adat, ajaran agama, partuturon, Dalihan Na Tolu, dan nilai-nilai yang melahirkan suasana keharmonisan serta kepekaan terhadap perubahan lingkungan hidupnya merupakan nilai-nilai yang disosialisasikan. Orang Batak tidak biasa memanjakan anak-anaknya. Mereka menanamkan sikap dan perilaku mandiri dalam pola pengasuhan dan pengembangan anak. Sejalan dengan itu, orang Batak menanamkan rasa holong yang prosesnya mulai dari sejak menyusui selama dua tahun, tidur siang sambil dininabobokkan dengan ende-ende, sampai usia dewasa dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan kekerabatan, termasuk mengambil bagian dalam martahi. Segala tabu, baik dalam ucapan maupun perilaku diberitahukan, agar mereka terhindar dari perbuatan memalukan dan mencelakakan. Acara malam berikutnya adalah menindak lanjuti acara pesta dengan martahi (musyawarah) dengan seluruh pihak keluarga, Harajaon dan Hatobangon. Biasanya, musyawarah dilakukan dua kali. Adapun yang dibahas pada musyawarah itu adalah seluruh rangkaian acara mulai dari mendirikan gelanggang, menaikkan bendera, manaikkan gondang, menentukan mata horja nya (hari inti), dan persiapan pangupa (pasu-pasu). Biasanya, acara margondang ini berlangsung selama tiga hari dua malam. Semua rangkaian acara ini diatur dan ditata dengan tertib, sehingga memberikan makna yang sangat dalam. Bentuk komunikasi yang ditampilkan dalam acara ini tidak monoton. Justru, ia sangat variatif antara verbal dan non-verbal. Karena di dalamnya sarat dengan lambang-lambang yang tidak bisa diartikan hanya dengan melihatnya, tapi butuh pemahaman yang lebih dalam dan ketelitian dalam memahaminya. Untuk itu perlu diadakan penelitian lebih lanjut tentang seluk-beluk adat ini agar tidak terjadi kesalahpahaman di masa mendatang, atau adat itu akan hilang karena tidak dimengerti oleh generasinya. Pembinaan dan pelestarian adat sangat penting, karena adat merupakan suatu alat pemersatu untuk menjaga kesatuan dan persatuan antara hubungan kekeluargaan serta kerabat lainnya. Pembinaan dan pelestarian artinya menggali lebih dalam lagi, baik itu tata caranya ataupun isi/pesan yang ingin ditampilkan. Isi atau pesan dapat digali apabila kita mempelajari dan mengkomunikasikan apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pesan tersebut. Karena bentuk komunikasi yang ada dalam adat di Kecamatan Padang Bolak sangat beragam, sebagai contoh seperti yang sudah tersebut di atas, ketika pengantin wanita sampai ke rumah laki-laki, maka kaki yang harus melangkah terlebih dahulu adalah kaki kanan dengan menginjak bunga dingin-dingin yang dilapisi batang pisang, ini bukan tanpa arti, tapi yang jadi prioritas kita disini adalah bentuk yang ia tampilkan adalah bentuk lambang, bukan bahasa. Juga bentuk komunikasi yang terdapat dalam pepatah Salaklak sa singkoru sa sanggar sa ria-ria, sa anak sa boru, suang marsada ina. Bentuk komunikasi yang ia tampilkan di sini adalah bentuk tulisan. Masih banyak lagi ragam bentuk yang ditampilkan dalam setiap acara pada upacara perkawinan. Bila ditinjau dari sudut adat maupun bahasa, Tapanuli Selatan dapat dibagi atas empat daerah kebudayaan. Keempat daerah kebudayaan itu adalah Angkola/Sipirok, Padang Lawas, Mandailing, dan Pesisir. Angkola/Sipirok dan Padang Lawas misalnya banyak dipengaruhi oleh kebudayaan dari Utara dan Tengah, sedangkan Mandailing dan Pesisir banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Minangkabau. Keempat daerah tersebut disebut juga dengan Luhat, yaitu: Luhat Angkola, Sipirok, Padang Bolak, Barumun dan lain-lain. Mereka yang berasal dari berbagai Luhat itu disebut juga dengan sebutan halak, halak Angkola, halak Sipirok, halak Padang Bolak, halak Barumun, halak Mandailing, halak Natal dan lain-lain. Ini merupakan bukti betapa erat hubungan masyarakat Tapanuli Selatan dengan kampung halamannya. Kecuali orang Muarasipongi dan orang asli pesisir, semua puak itu dalam ilmu bangsa-bangsa orang Angkola-Mandailing yang merupakan salah satu puak suku bangsa Batak. Ada lima puak suku bangsa Batak, yaitu: Angkola–Mandailing, Dairi Pakpak, Karo, Simalungun dan Toba. Kekeluargaan masyarakat Tapanuli Selatan yang terangkum dalam budaya Angkola–Mandailing ditata berdasarkan garis keturunan bapak yang disebut dengan patriarkat. Masyarakat adat dibagi atas tiga kelompok, yaitu Kahanggi, Anak Boru dan Mora. Kahanggi adalah kerabat semarga, yang disebut juga dengan Dongan Sabutuha. Anak Boru adalah kelompok kerabat yang mengambil isteri dari kerabat marga lain. Sedangkan Mora adalah kerabat semarga isteri, atau disebut juga dengan Hulahula. Kahanggi, Anak Boru dan Mora inilah yang disebut dengan Dalihan Na Tolu. Dalihan Na Tolu menjadi simbol tiga kelompok masyarakat adat yang saling bekerja sama dalam menyelesaikan semua urusan. Segala beban dipikul bersama, ini adalah simbol gotong royong, kebersamaan, hak dan kewajiban, tenggang rasa, kasih sayang dan holong, sehingga kekerabatan tetap terpelihara dengan baik. Dalihan Na Tolu ialah satu tungku yang terdiri dari tiga buah batu yang diletakkan pada posisi segitiga dengan jarak dan tinggi yang sama. Tiga batu itu diletakkan atau ditanam dengan jarak yang sama di tengah-tengah tataring sebagai tungku penyangga periuk ketika memasak. Jarak antara permukaan tataring di tengah-tengah tungku itu dengan dasar periuk atau kuali antara 15 s.d. 20 cm. Kayu bakar dimasukkan di bawah wadah, periuk, kuali, atau dandang, melalui sela-sela tiga batu yang menjadi tungku itu. Dengan demikian ada ruang dan ventilasi yang cukup untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan dari kayu bakar yang dibakar ketika memasak. Dalihan Na Tolu secara harfiah diartikan sebagai satu tungku yang penyangganya terdiri dari tiga, agar tungku tersebut dapat seimbang. Secara etimologi berarti merupakan suatu tumpuan yang komponennya terdiri dari tiga. Di dalam pelaksanaan upacara-upacara adat, ketiga unsur Dalihan Na Tolu harus tetap dalam Mardomu Ni Tahi (selalu mengadakan musyawarah dan mufakat). Musyawarah untuk mufakat akan tercapai jika unsur rasa kesatuan, rasa tanggungjawab dan rasa saling memiliki tersebut tetap terpelihara. Dengan kata lain berhasilnya suatu pekerjaan akan di tentukan oleh: 1. Adanya rasa persatuan dan kesatuan. Rasa persatuan dan kesatuan merupakan salah satu faktor yang harus dijunjung tinggi di dalam lembaga Dalihan Na Tolu. Seluruh proses pelaksanaan di dalam upacara-upacara adat yang memerlukan adanya musyawarah dan mufakat, dan hal itu dapat tercapai jika rasa kesatuan dan persatuan ini tetap tejalin. Setiap unsur dari Dalihan Na Tolu ini harus tetap menyadari hak dan kewajibannya. Memiliki rasa persatuan dan kesatuan dalam masyarakat adat ini merupakan falsafah dasar yang berasal dari adanya nilai-nilai holong dohot domu. Holong yang berarti cinta dan kasih sayang telah terpatrit dalam jiwa masyarakat hukum adat. Dikarenakan adanya holong dalam hati masing-masing akan menimbulkan persatuan dan kesatuan (domu) yang bermakna rukun dan damai yang didasarkan pada kasih sayang, sehingga holong dan domu tidak bisa dipisahkan. Berdasarkan holong dohot domu ini maka ketiga unsur, Kahanggi, Anak Boru dan Mora dapat dipersatukan di dalam suatu lembaga Dalihan Na Tolu. Rasa persatuan dan kesatuan ini digambarkan dengan perumpamaan, antara lain; Salaklak Sasingkoru, Sasanggar Sariaria, Saanak Saboru, Suang Songon Na Sa Ama Saina. 2. Adanya rasa memiliki. Dengan adanya rasa persatuan dan kesatuan dalam melaksanakan setiap pekerjaan, maka terlebih dahulu harus dimusyawarahkan bersama, dikerjakan bersama, maka hasilnya juga adalah hasil pekerjaan bersama. Dengan demikian jika hasilnya atas usaha bersama, maka akan timbul perasaan bahwa hasil tersebut merupakan milik bersama dan harus dinikmati bersama. Perasaan memiliki ini kemudian akan menimbulkan dorongan kepada masing-masing untuk memelihara miliknya tersebut. 3. Adanya rasa tanggung jawab. Rasa tanggung jawab bersama ini yang terutama harus dilaksanakan oleh unsur lembaga Dalihan Na Tolu, dengan sendirinya muncul akibat adanya rasa persatuan dan kesatuan serta rasa memiliki sebagaimana disebutkan di atas. Rasa tanggung jawab tersebut ditimbulkan oleh rasa bahwa beban orang lain adalah beban bersama, kegagalan orang lain adalah kegagalan bersama, keberhasilan orang lain adalah keberhasilan bersama. Rasa tanggung jawab yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk moril tapi juga materil. Setiap pekerjaan adalah pekerjaan bersama dan hasilnya juga untuk kepentingan bersama. Tanggung jawab dalam melaksanakan setiap pekerjaan tertuang dalam patik-patik ni paradaton (patokan, ketentuan dan norma adat), yang selalu dipegang teguh oleh masyarakat adat itu sendiri. Dalam hidup bermasyarakat, supaya tercapai kebahagiaan dan ketenteraman, harus berpegang teguh pada prinsip Songon Siala Sampagul, Rap Tu Ginjang Rap Tu Toru, Muda Malamun Saulak Lalu. Sa Bara Sa Bustak, Sa Lumpat Sa Indege. Akan tetapi yang kita lihat di zaman sekarang ini, dalihan itu secara fisik telah berubah, itu semua sebagai pengaruh modernisasi yang sangat mengagungkan gaya hidup praktis, tanpa memperdulikan nilainya. Masyarakat sekarang lebih banyak mempergunakan kompor minyak tanah atau kompor gas, kalaupun sekarang ada yang memakai tungku, kebanyakan masyarakat lebih memilih tungku yang bulat yang disangga tiga kaki yang terbuat dari besi. Adapun tungku yang banyak dipakai untuk pesta pada zaman sekarang adalah tungku besar yang terbuat dari besi yang bagian atasnya berbentuk cincin dilas pada tiga atau empat kaki yang juga terbuat dari besi. Sekarang tungku ini sudah sangat banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Kepraktisan ini ternyata berdampak pada keberadaan Dalihan Na Tolu secara fisik. Dapat diperkirakan, bahwa dalam waktu yang panjang, simbol kekerabatan itu hanyalah tinggal sejarah. Fungsi Dalihan Na Tolu pada masyarakat Tapanuli Selatan akan terlihat pada waktu diadakan upacara adat. Masyarakat Tapanuli Selatan mengenal dua jenis upacara adat, yaitu Siluluton dan Siriaon. Upacara Siluluton adalah upacara adat yang dilaksanakan karena ada peristiwa duka cita, misalnya upacara pemakaman. Sedangkan upacara Siriaon adalah upacara adat yang diselenggarakan karena ada peristiwa kegembiraan, misalnya horja haroan boru, horja marbongkot bagas na imbaru manggoar dan lain-lain. Tiga kelompok masyarakat Dalihan Na Tolu itu mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda-beda di dalam setiap upacara adat itu. Tuan rumah suatu upacara adat disebut Suhut Sihabolonan, sedangkan Kahanggi nya dinamakan dengan Suhut. Kelompok inilah yang mempunyai hajat untuk menyelenggarakan suatu upacara adat. Sebelum suatu upacara adat diselenggarakan, kerabat yang mempunyai hajat itu mengundang kerabatnya dari tiga kelompok Dalihan Na Tolu itu yaitu; Kahanggi, Anak Boru dan Mora. Pihak Suhut Sihabolonan dan Suhut menjelaskan kepada Anak Boru dan Mora tentang niatnya menyelenggarakan suatu upacara adat. Pertemuan itu disebut juga dengan marpokat atau martahi yang artinya mufakat. Pihak Anak Boru dari Suhut Sihabolonan adalah penanggung jawab penyelenggaraan upacara adat. Pihak Mora memberi restu bagi penyelenggaraan upacara adat itu. Dalam suatu upacara adat, sukses atau tidaknya upacara itu tergantung pada Anak Boru. Dalam hal Kahanggi, Anak Boru dan Mora, setiap orang pasti pernah mengalaminya dalam setiap upacara adat yang berbeda-beda. Jika seseorang mempunyai hajat untuk menyelenggarakan suatu upacara, dia menjadi Suhut dengan Kahanggi nya. Pada saat lain kelompok ini menjadi Anak Boru dalam upacara adat di pihak Mora nya. Pada saat itu mereka menjadi penanggung jawab penyelenggaraan upacara adat itu. Anak Boru juga sering disebut dengan Sisuruon, yang disuruh-suruh oleh Mora. Selanjutnya pada kesempatan upacara adat yang lain, kelompok ini menjadi Mora, karena Anak Boru mereka menyelenggarakan upacara adat, pada saat ini kedudukannya sebagai Mora adalah pemberi restu atas segala yang telah disepakati. Tradisi yang melibatkan seluruh komponen Dalihan Na Tolu ini mendidik orang Tapanuli Selatan menjadi demokratis, bertanggung jawab dan menanamkan jiwa kesetaraan dengan orang lain. Ada kelompok lain dalam kekerabatan masyarakat Angkola – Mandailing yang termasuk dalam keluarga besar Dalihan Na Tolu yaitu: Mora Ni Mora, Pisang Rahut, Pariban,, Hatobangon, Raja Pamusuk, Panusunan Bulung, dan Raja Torbang Balok. Semua unsur yang sudah disebut itu ikut ambil bagian dalam setiap upacara adat. Pisang Rahut adalah Anak Boru dari Anak Boru. Pisang Rahut juga disebut Sibuat Bere, artinya Pisang Rahut adalah laki-laki yang menikahi anak perempuan dari saudara perempuan seorang laki-laki. Pisang Rahut dapat masuk dua kelompok kekerabatan, yaitu kelompok Kahanggi dan Anak Boru. Jika kita mempunyai Pisang Rahut, akan lebih ringanlah penyelenggaraan berbagai upacara adat di dalam keluarga. Kebalikan dari Pisang Rahut adalah Mora Ni Mora, yaitu Mora dari Mora kita. Kerabat ini juga dapat masuk ke dalam kerabat Kahanggi dan Mora. Ada dua posisi anak perempuan dari Mora Ni Mora, di satu pihak dia adalah Boru Tulang, tapi di sisi lain dia adalah Iboto. Itu sebabnya ia juga disebut Boru Tulang Halalango. Halalango berasal dari kata lango, malango, artinya rasa langu, yang berarti bau tidak sedap, seperti sabun cuci, atau pun bau tembakau kering. Jadi Boru Tulang Halalango tidak dianjurkan untuk dinikahi laki-laki dari kelompok Pisang Rahut. Pariban termasuk di dalam kelompok Kahanggi, karena istrinya berasal dari keluarga istri Kahanggi. Pareban juga disebut Sapambuatan artinya sepengambilan. Kaum cerdik cendikia dalam masyarakat dapat hadir dan berperan pada upacara adat. Kelompok ini adalah Hatobangon, Ulama dan Harajaon. Mereka boleh dari luar kerabat, dan usianya tidak mesti tua, karena yang menjadi ukuran adalah kepintaran, kearifan dan ketokohan di dalam masyarakat. Mereka juga mungkin dari pejabat pemerintah setempat yang mengetahui segala seluk beluk masalah kemasyarakatan. Mereka adalah tempat bertanya dalam berbagai masalah kehidupan masyarakat setempat. Selanjutnya Harajaon itu juga dibagi atas tiga bagian yaitu: Raja Pamusuk; raja kampung yang terkait dengan sejarah keberadaan kampung. Jadi, kelompok ini termasuk dalam kekerabatan pendiri kampung. Panusunan Bulung; yang dahulu menjadi raja diraja di wilayah itu yang membawahi Raja Pamusuk. Raja Torbing Balok; raja-raja yang berasal dari tetangga desa. DAFTAR PUSTAKA Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia, ed. 3. Jakarta: Balai Pustaka, 2003. __________ Monografi Kebudayaan Angkola – Sipirok Di Kabupaten Tapanuli Selatan. Medan: P & K, 1982. Effendi, Onong Uchjana. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, cet. 1. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1993. __________ Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, cet. 18. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004. Harahap, Basyral Hamidy. Siala Sampagul, cet. 1. Bandung: Pustaka, 2002. Departemen Agama Republik Indonesia, Alquran dan Terjemahnya. Cet. 1. Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1995. Moleong. Lexi J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004. Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi (Suatu Pengantar), cet. 4. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002. ____________Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004. Managor, Sutan. Pastak-Pastak Ni Paradaton. Medan: Media, 1995. Nasution, Pandapotan. Adat Budaya Mandailing Dalam Tantangan Zaman. Medan: Forkala, 2005. Narbuko, Cholid. Abu Achmadi. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara, 2003. Nasution. S. Metodologi Research. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003. Parsadaan Marga Harahap Dohot Anak Boruna. Horja Adat Dalihan Na Tolu. Bandung: PT. Grafitri, 1993. Rajamarpodang, Dj. Gultom. Dalihan Na Tolu Nilai Budaya Suku Batak. Medan: CV. Armanda 1992.

No comments:

Post a Comment