Sunday, March 15, 2015

Wahyu dan Pengetahuan

WAHYU  DAN  PENGETAHUAN
Oleh: Datuk Imam Marzuki

A. Pendahuluan
Wahyu dalam pengertian yang pertama proses kedatangannya bersifat transendental-immaterial. Proses ini cukup sulit bisa diterima akal secara umum, karena mustahil Tuhan yang bersifat immaterial bisa herkomunikasi dengan manusia yang bersifat material. Namun demikian, menurut kajian para ahli komunikasi itu sangat mungkin terjadi melalui kode-kode tertentu. Menurut Nasr Hamid, komunikasi wahyu, yang nota bene bukan komunikasi verbal, tidak terlalu sulit diterima oleh umat Islam jika dipahami melalui pendekatan kultural. Budaya Arab pra Islam sesungguhnya sudah mengenal alam lain (gaib) di luar alam nyata ini yang dihuni oleh jin dan setan. Bahkan bukan hanya sekedar mengetahui, tetapi mereka juga meyakini bahwa antara manusia dan jin bisa terjadi komunikasi melalui bahasa-bahasa tertentu[1].
Dengan adanya fenomena seperti di atas, maka komunikasi wahyu yang bersifat transendental-immaterial dapat diterima oleh masyarakat Arab. Karena itulah, mereka tidak mengingkari fenomena wahyu melainkan mereka tidak bisa menerima muatan-muatan dan wahyu yang sebabagian besar bertentangan dengan keyakinan dan aturan hidup mereka sehari-hari. Sedangkan wahyu dalam pengertian yang kedua adalah seperti yang dinyatakan oleh Ziaul Haq bahwa perubaban atau revolusi yang terjadi dalam masyarakat tidak lain sebuah peran wahyu. Karena itulah para nabi banyak melakukan gerakan revolusi sosial terhadap masyarakatnya yang sudah rusak (korup, tirani, diskriminatif dan eksploitatif) dan membawanya kepada kondisi yang baik dan lebih baik (bermoral, berkeadilan dan berprikemanusiaan).[2]
Dengan demikian, fenomena wahyu sesungguhnya tidak terpisah dari realitas, meskipun fenomena itu merupakan bagian dan konsep budaya. Hal ini memberikan isyarat bahwa sesungguhnya wahyu itu bukanlah sesuatu yang abstrak melainkan sebuah konsep yang berjalan seiring dengan realitas. Persoalan inilah yang seharusnya dikedepankan oleh Islam, sehingga ia tidak dianggap sebagai sebuah agama yang melangit (hanya bisa dipahami oleh Tuhan) akan tetapi membumi. Untuk itulah perlu dipahami secara lebih cermat apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan wahyu dalam konsep Islam, bagaimana latar belakang munculnya serta bagaimana pula fungsinya terhadap proses perubahan masyarakat.

B. Konsep Wahyu
Wahyu dalam ungkapan Al-Qur'an, yang terulang sebanyak 104 kali[3] bisa diartikan bermacam-macam seperti isyarat/tanda (QS. Maryam/19: 11), ilham/petunjuk (QS. Al-Qashash/28: 7, Al-Maidah/ 5: 111), ilham garizah/naluri (QS. An-Nahl/16: 68), bisikan (QS. AIAn'am/ 6:112).[4] Pemaknaan wahyu, dalam konteks ilham atau petunjuk, patut disimak penjelasan dari Sachedina tentang persoalan wahyu ini. Menurutnya wahyu dapat dibagi menjadi dua yaitu wahyu dalam pengertian petunjuk yang datang kepada manusia melalui tindakan penciptaan Ilahi.  Dalam istilah Iain dia menyebutnya dengan petunjuk universal melalui fitrah. Kedua wahyu dalam pengertian petunjuk yang diberikan kepada para nabi berupa risalah Ilahi atau lebih akrab dikenal dengan istilah kitab suci.[5]
Antara wahyu dalam pengertian petunjuk universal dengan wahyu dalam pengertian kitab suci terdapat korelasi yang signifikan, karena keduanya itu berasal dari sumber yang sama yaitu Tuhan. Di samping dua bentuk wahyu tersebut, manusia juga diberi oleh Tuhan petunjuk natural (pra wahyu) yang berfungsi untuk menilai dan memilih mana yang baik (yang harus dikerjakan) dan mana yang tidak baik (yang harus ditinggalkan).
Beberapa Nabi mendapatkan mu'jizat yang spesial. Tapi dari semua mu'jizat yang turun ke bumi, hanya mu'jizat Nabi Muhammad SAW yang paling spesial.  Hikmah Allah yang azali telah berjalan untuk menguatkan para Nabi dan Rasul-Nya yaitu dengan beberapa mu'zijat yang nampak, dalil-dalil tanda-tanda yang nyata, serta hujjah dan alasan rasional, yang menyatakan bahwa mereka adalah benar dan mereka adalah para Nabi dan Rasul Allah SWT.
Allah SWT mengistimewakan Nabi kita Muhammad SAW dengan bekal mu'jizat yang luar biasa yaitu Al-Qur'anul Karim, ia adalah nur ilahi dan wahyu samawy yang diletakkan ke dalam lubuk hati Nabi-Nya sebagai Qurânan 'Arabiyyan (bacaan berbahasa Arab) yang mulus dan lempang, ia membacanya sepanjang malam dan siang. Dengannya ia dapat menghidupkan semangat generasi dari bahaya kemusnahan, dari generasi yang sudah punah menjadi generasi yang hidup kembali dengan pancaran sinar Al-Qur'an dan menunjukinya dengan jalan yang teramat lurus serta membangkitkannya kembali, dari lembah kenistaan menjadi ummat yang terbaik yang ditampilkan untuk ikatan seluruh manusia. Allah menegaskan dengan firmannya:

Dan apakah orang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap-gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-An'âm: 122)

Al-Qur'an telah membangkitkan ummat memperbaharui masyarakat, dan menyusun generasi yang belum pernah tampil dalam sejarah, ia menampilkan orang Arab dari kehidupan sebagai penggembala unta dan kambing menjadi pemimpin bangsa-bangsa, yang dapat menguasai dunia bahkan sampai kepada negeri-negeri yang begitu jauh mengenalnya. Kesemuanya itu berkat Al-Qur'an sebagai mu'jizat (Muhammad) penutup para Nabi dan Rasul.


C. Definisi Mu’jizat.
Mu'jizat adalah sesuatu yang sangatlah spesial. Hanya Allah SWT yang dapat melakukannya melalui kebesaran yang dimilikinya.   I'jaz (kemu'jizatan) dalam bahasa Arab adalah menisbatkan lemah kepada orang lain. Allah berfirman:
y]yèt7sù ª!$# $\/#{äî ß]ysö7tƒ Îû ÇÚöF{$# ¼çmtƒÎŽãÏ9 y#øx. ͺuqムnouäöqy ÏmÅzr& 4 tA$s% #ÓtLn=÷ƒuq»tƒ ßN÷yftãr& ÷br& tbqä.r& Ÿ@÷WÏB #x»yd É>#{äóø9$# yͺuré'sù nouäöqy ÓŁr& (

"Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, kalau aku dapa menguburkan mayat saudaraku ini". (Al-Mâidah: 31).

Mu'jizat dinamakan mu'jizat (melemahkan) karena manusia lemah untuk mendatangkan sesamanya, sebab mu'jizat berupa hal yang bertentangan dengan adat, keluar dari batas-batas faktor yang telah diketahui. I'jazul Qur'an (kemu'jizatan Al-Qur'an) artinya: "Menetapkan kelemahan manusia baik secara berpisah-pisah maupun berkelompok, untuk bisa mendatangkan sesamanya". Dan yang dimaksud dengan kemu'jizatan Al-Qur'an bukan berarti melemahkan manusia dengan pengertian melemahkan yang sebenarnya, artinya memberi pengertian kepada mereka dengan kelemahannya untuk mendatangkan sesama Al-Qur'an, karena hal itu telah dimaklumi oleh setiap orang yang berakal, tetapi maksudnya adalah untuk menjelaskan bahwa kitab ini hak, dan Rasul yang membawanya adalah rasul yang benar. Begitulah semua mu'jizat nabi-nabi dimana manusia lemah untuk menandinginya.
Tujuannya hanya untuk melahirkan kebenaran mereka, menetapkan bahwa yang mereka bawa adalah semata-mata wahyu dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan diturunkan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka hanyalah menyampaikan risalah Allah dan tiada lain tugasnya hanya memberitahukan dan menyampaikan. Oleh karena itu mu'jizat adalah dalil-dalil dari Allah SWT. kepada hamba-Nya untuk membenarkan rasul-rasul dan nabi-nabi. Dengan perantaraan mu'izat ini, seolah-olah Allah bersabda: "Benar hamba-Ku dalam hal yang ia sampaikan dari Aku, dan Aku mengutusnya agar ia menyampaikan sesuatu kepadamu".
Sedangkan dalil atas kebenarannya adalah dengan cara menjalankan hal-hal yang bertentangan dengan adat pada tangan Rasul, dimana tak ada seorangpun diantara kamu yang bisa mendatangkan sesamanya, dan sesuatu hal yang di luar kemampuan manusia untuk bisa menjalankannya dalam hal seaneh ini. Itulah arti melemahkan dan itu pula pengertian mu'jizat. Kata mu’jizat berasal dari bahasa Arab, ajaza yang merupakan kata dasarnya berarti lemah, tidak mampu atau tidak kuasa.[6] Kata ini merupakan kata kerja intransitif (lazim), kemudian dijadikan transitif (muta’addiy) dengan menambahkan huruf hamzah diawalnya atau dengan menambahkan tadi’efh, hingga menjadi a’jaza atau ajjaza yang berarti membuatnya lemah atau menjadikan tidak kuasa.[7] Kata a’jaza inilah yang kemudian dengan sighat ism fai’l berubah menjadi mu’jiz atau mu’jizatun, yang menurut etimologi berarti yang melemahkan. Mukjizat didefinisikan oleh kebanyakan pakar agama Islam sebagai “suatu hal atau peristiwa luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku Nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau membuat hal serupa, namun mereka tidak mampu untuk membuatnya.” Sebagaimana diungkapkan oleh Al-Suyuthi dalam Al- Itqan . [8]

D. Sisi Kemu’jizatan Al-Qur’an.
            Sisi kemu’jizatan Alquran ini adalah salah satu hal yang sangat variatif, banyak terdapat perbedaan pendapat tentang apa saja yang menjadi mu’jizat Alquran itu, sebagian mengatakan bahasanya dan kandungannya, sebagian lagi mengatakan bahkan satu hurufnya saja merupakan mu’jizat, kandungannya terhadap teori-teori ilmiah. Dalam buku “Membumikan Alquran”, Quraish Shihab menjelaskan paling tidak ada tiga aspek dalam Alquran yang dapat menjadi bukti kebenaran Nabi Muhammad saw., sekaligus menjadi bukti bahwa informasi atau petunjuk yang disampaikannya adalah benar-benar bersumber dari Allah swt. Ketiga aspek tersebut akan lebih meyakinkan lagi, bila diketahui bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang yang pandai membaca dan menulis, ia juga tidak hidup dan bermukim di tengah-tengah masyarakat yang relatif mengenal peradaban, seperti Mesir, Romawi atau Persia. Ketiga aspek tersebut adalah  pertama, aspek keindahan dan ketelitian redaksi-redaksinya. Kedua, pemberitaan-pemberitaan gaibnya, dan yang ketiga isyarat-isyarat ilmiahnya.[9]
             Bila diteliti lebih lanjut pendapat para mufassirin tentang i’jaz Al-Quran, maka akan didapati pendapat mereka yang sangat variatif. Sebagian mufassirin, diantaranya Imam Fakruddin, az-Zamlukany, Ibn Hazam, al-Khutabi berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Quran karena fashahat dan balaghat–nya secara keseluruhan. Sedangkan yang lain seperti al-Marakasy berpendapat bahwa I’jaz tersebut disebabkan ia memiliki unsur-unsur keteraturan, kesinambungan dan penyusunan yang berbeda dengan kaedah-kaedah bahasa konvensional kalam Arab. Dalam hal ini, sulit bagi mereka (orang Arab) untuk mengetahui rahasia-rahasia i’jaz Al-Quran, baik mereka lihat dari sisi syairnya, balaghatnya, khitabnya dan lain sebagainya, sekalipun diantara mereka adalah orang-orang yang ahli dalam sastra dan bahasa.[10]
            Ada juga sebagian mufassir yang lain melihat I’jaz Alquran tersebut dari sisi prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya, khususnya yang berhubungan dengan persoalan-persoalan sosial (al-ijtima’iyyat), politik (al-siyasat) dan norma-norma (al-akhlaqiyat). Aspek-aspek tersebut bagi masyarakat Arab saat itu adalah sesuatu yang belum pernah terpikirkan mereka sebelumnya. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Alquran membawa informasi-informasi baru yang di luar perkiraan manusia. Dari sini jelas bahwa Alquran mengandung dasar-dasar dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, yang pada dasarnya tidak mungkin dihasilkan oleh seorang Muhammad yang “ummi” (menurut sebagian besar ulama)[11]
Al-Rumani, dalam buku Salasu Rasail Fi I’jaz al-Quran melihat kemukjizatan Alquran dari tujuh macam segi, yaitu: [12]
  1. Tidak adanya yang mampu menyaingi (  ترك المعارضة ).
  2. Tantangan Alquran yang global (semua manusia dan jin) ( التحدى للكافة).
  3. Adanya pemalingan ( الصرفة) .
  4. Balaghah Alquran  البلاغة )).
  5. Berita-berita gaib yang akan datang  (الأخبار الصادقة عن الأمور المستقبلة ).
  6. Pembatalan kebiasaan-kebiasaan ( نقض العادة).
Kemu’jizatan Alquran ini kemudian dirangkum oleh Manna Qaththan, menurutnya mu’jizat Alquran terletak pada kata-katanya, hurufnya, susunannya, bayannya dalam memberikan informasi, nazhmnya, kandungannya tentang ilmu, hukum dan kekuatannya dalam menjaga hak asasi manusia. Banyak orang salah yang menganggap bahwa Alquran juga mengandung seluruh teori ilmiah, padahal teori ilmiah itu bersifat dinamis, sedangkan yang merupakan mu’jizatnya dalam hal ini adalah kekuatannya dalam mengajak manusia untuk berfikir dan mencari ilmu.[13]
Menurut kami bahwa salah satu bentuk kemu’jizatan ini adalah keabadiannya, keeksisannya hingga zaman sekarang, begitu juga kekuatannya untuk menjadi beberapa sumber ilmu, seprti Fikih, Ushul Fikih, Nahwu, Sharf, Bayan, Ma’ani dan Badi’. Denga kata lain tidak ada suatu tulisanpun yang paling diminati orang di muka bumi ini menyaingi Alquran hingga menghasilkan beberapa disiplin Ilmu. Juga kemampuannya menjelaskan sesuatu  dan melukiskannya dengan sarana terbaik, menerangkan sesuatu dengan makna yang mudah difikirkan, atau menjelaskan suasana psikologik dengan imajinatif dengan sesuatu yang dapat diraba dan dirasakan dengan konkret.[14]
Lalu apakah semua kandungan Alquran dimaksudkan dalam tantangan untuk membuat tandingan Alquran ketika turunnya?” tentu saja tidak karena bangsa Arab kala itu tidaklah mengenal kandungan-kandungan Alquran, seperti hukum, ilmu dan lain sebagainya.Mu’jizat bahasa adalah hal yang paling utama dalam tantangan ini,[15] karena unsur itulah yang menjadi perhatian kaum Quraysy saat itu. Keindahan eksternal maupun internalnya merupakan hal yang dipuji sekaligus diingkari oleh kaum Quraysy.
Selain itu menurut Manna Qaththan bahwa informasi tentang ummat-ummat terdahulu juga merupakan unsur dalam tantangan Allah.[16] Dan menurut sebagian besar ulama keummiyan rasul juga terkandung didalamnya.[17]
Dari beberapa perbedaan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kemukjizatan Alquran tidak hanya terbatas pada kadar tertentu saja, akan tetapi kemukjizatannya terletak pada totalitasnya sebagai Alquran, baik bahasa, pemilihan huruf, pemilihan kata, pemilihan kalimat, ritme, kandungannya, cara turunnya, kekekalannya dan kemampuannya membangkitkan minat pengkaji untuk mengkajinya.

E. Pengertian Pengetahuan

Bahasa Indonesia sering menyamakan saja arti antara pengetahuan dan ilmu, bahkan dari dua kata itu muncul kata majemuk ‘ilmu pengetahuan’. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ilmu disamakan saja artinya dengan pengetahuan. Ilmu adalah pengetahuan.[18] Tidak demikian halnya pada tulisan ini, keduanya dibedakan secara jelas. Membantu untuk membedakannya diperlukan informasi lain dari segi bahasa. Pada Kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hassan Shadily, knowledge diartikan pengetahuan. Contoh, his knowledge astounds me (pengetahuannya mengagumkan saya). Sedangkan science diartikan ilmu (pengetahuan). Contoh science of language (ilmu pengetahuan bahasa).[19]

            Perbedaan itu juga jelas dalam bahasa Arab. Pada kamus A Dictionary of Modern Written Arabic karangan Hans Wehr (edited by J Milton Cowan) kata ‘arf diberi makna fragrance, parfume, scent, aroma,  (semua punya arti bau wangi atau harum).  Sedangkan ‘ulum jamak dari ‘ilmun diberi makna science.[20]  Begitu pula kalau dirujuk kepada bahasa Alquran, di dalamnya ada pembedaan yang mengindikasikan adanya perbedaan antara dua kata itu.
Artinya, Di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas a’raaf (tempat tertinggi antara surga dan neraka (menurut terjemahan Depag) itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka dan mereka menyeru penduduk surga, ‘salamun alaikum’. Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya) (QS, al-A’raf/7: 46)

Artinya. Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri, sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui (QS, al-Baqarah/2: 146)

Pada dua ayat di atas katadibedakan dengan. Berdasarkan beberapa analisa bahasa tersebut jelaslah kiranya bahwa kedua kata itu (pengetahuan dan ilmu) memang berbeda. Dua kata itu sangat penting dibedakan agar lebih jelas dimengerti bagaimana tahap perkembangan manusia kaitannya dengan pengetahuan dan ilmunya. Pengetahuan (knowledge, ‘arf) adalah sesuatu yang diketahui, yang diketahui bisa apa saja tanpa syarat tertentu. Bisa sesuatu yang didapat dengan atau tanpa metode ilmiah. Ilmu bisa dimasukkan salah satu pengetahuan, tetapi pengetahuan belum tentu ilmu.[21] Munculnya istilah ilmu pengetahuan di dalam bahasa Indonesia lebih jelas dipahami lewat skema di atas. Seseorang yang sudah mempelajari bidang tertentu secara sistematis atau mengikuti standar prosedur ilmu pada bidang itu dikatakanlah ia telah mempunyai ilmu tentang bidang itu. Kompetensinya pada ilmu itu selanjutnya menjadi bagian dari pengetahuannya, tetapi pengetahuan yang lebih tinggi.
Mempelajari beberapa pengertian terdahulu tentang pengetahuan dan ilmu, ada poin-poin penting yang perlu digarisbawahi. Pertama bahwa pengetahuan itu adalah suatu kegiatan yang sifatnya mengembangkan atau menambah kesempurnaan (perspective activity). Pengetahuan mengantar subjek—manusia dalam kajian ini—yang tadinya tidak mengetahui menjadi mengetahui. Objek yang tadinya tidak diketahui menjadi diketahui. Pengetahuan itulah yang menjadi pendorong evolusi, di dalam diri subjek atau objek.
Evolusi pengetahuanlah pendorong perubahan. Karena itu, ketika pengetahuan dimapankan, dibiarkan ia memfosil atau apa yang dulu diciptakan dinilai benar seterusnya, tidak boleh dipertanyakan, maka perubahan pun akan mandek. Selanjutnya yang terjadi adalah keterbelakangan sebab apa yang dulu diciptakan mengikuti tantangan pada zamannya, sedangkan zaman dan tantangannya sudah berubah. Berangkat dari pendapat inilah sehingga muncul ide seperti ‘rekonstruksi’. Muhammad Iqbal misalnya menulis buku The Reconstruction of Religious Thought in Islam.  Begitu juga dengan metode ‘dekonstruksi’ yang pernah digagas Jacques Derrida (ia memakai istilah La deconstruction). Syarat utama untuk mencapai keterbukaan pemikiran misalnya—jika dikaitkan dengan Islam—yaitu dekonstruksi epistema dogmatisme dan ortodoksisme dalam tubuh umat Islam.[22]
Anggaplah penggunaan siwak (pembersih gigi dari kayu khusus, digunakan menjelang shalat) sebagai contoh tentang suatu pengetahuan kebersihan gigi dan itu berdasarkan sunnah Nabi. Namun orang-orang sekarang perlu mempertanyakan substansi hadis yang menganjurkan amalan itu. Sebab,  di zaman sekarang ada alat yang lebih bagus dari itu seperti gosok gigi. Kalau orang tidak berani mempertanyakan kembali pengetahuannya itu, maka ia akan bertahan pada pengetahuan lamanya, yang mungkin tidak tepat lagi di zaman sekarang.  Padahal boleh jadi—andaikata pada masa Nabi dulunya sudah ditemukan gosok gigi—Nabi punya anjuran yang berbeda.
Kedua, pengetahuan manusia itu sifatnya terbatas, tidak sempurna, dan karena itu tumbuh dan berkembang. Manusia tidak mengetahui secara total segala sesuatu. Manusia mengetahui setapak demi setapak. Pengetahuan manusia sifatnya discursive (tidak saling bersambungan satu sama lain), tetapi juga relational (saling berhubungan), berjalan melalui pola analisa-sintesa, membedakan-menyatukan, pada pengetahuan sederhana atau yang kompleks.
Ketika tiba-tiba banyak ternak unggas bermatian, pada ahli mengatakan itu penyakit flu burung. Di tempat lain, ternak babi juga banyak yang mati dengan gejala yang setelah dipelajari punya kemiripan dengan apa yang dialami ayam. Semula, itu dua pengetahuan yang terpisah (discursive), tetapi kemudian tersambung (relational).
Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa mempunyai peran yang luar biasa dalam memajukan pengetahuan manusia. Orang yang mempunyai kemampuan bahasa lebih unggul dari yang tidak memilikinya.  Atas dasar itulah sehingga para ahli juga merekomendasikan agar anak-anak cepat diajari berbahasa sehingga ia bisa cepat berpikir. Menurut Ferdinand de Saussure (1857-1913), seorang Swiss, yang dianggap sebagai peletak dasar ilmu bahasa modern, kita dapat menerima ilmu melalui tanda-tanda. [23] Bahasa adalah batas dunia seseorang. Bahasa memungkinkan manusia untuk  berpikir secara abstrak di mana objek-objek yang faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak sehingga memungkinkan manusia memikirkan sesuatu secara berkelanjutan. Tanda-tanda bahasa tidak menyatu dengan benda atau nama melainkan dengan konsep atau lambang bunyi. [24]

 

F.  Metode Memperoleh Pengetahuan

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pengetahuan adalah proses dan hasil serapan manusia secara umum, menurut aturan dan tingkatan tertentu. Cara atau proses mendapatkan pengetahuan itu disebut metode. Secara luas metode adalah cara bertindak menurut sistem aturan tertentu. Uraian dan perbincangan mengenai metode-metode keilmuan ini disebut metodologi. Yaitu ilmu yang membahas tentang metode keilmuan. Dengan demikian gabungan berbagai proses dan langkah, atau jalan-jalan yang mengatur penelitian ilmiah itu disebut metode ilmiah.15
Lantas bagaimana orang memperoleh pengetahuan? Orang pada mulanya menyadari bahwa dirinya memiliki sejumlah pengetahuan, yang dianggapnya pasti dan tidak boleh diremehkan. Itulah apa yang disebut dengan common sense (anggapan umum). 16  Common sense sering juga diartikan sebagai akal sehat.
Begitulah bahwa pada mulanya manusia sudah mempunyai pengetahuan yang muncul dari anggapan-anggapan akal sehatnya. Namun pengetahuan itu belum semua teruji kebenarannya sehingga benar secara ilmiah.  Ini merupakan satu cara yang dilakukan manusia untuk memperoleh pengetahuan.  Manusia mempunyai anggapan tertentu tentang sesuatu dan itu penting baginya sebelum mulai menemukan pengetahuan yang sudah ia uji kebenarannya.
Cara lain yang bisa dilakukan manusia adalah dengan metode trial and error. Yaitu metode coba-coba. Manusia mencoba sesuatu, tentang banyak hal,  misalnya tentang mengolah makanan. Melalui coba-coba inilah manusia akhirnya mendapatkan pengalaman (axperience). Melalui pengalaman manusia yang didapatkan dari mencoba-coba tentang sesuatu akhirnya menjadi pengetahuan. Masih ada cara lain yaitu pengamatan atau observasi. Alat yang paling utamanya tentu saja indera manusia. Melalui pengamatannya, manusia dapat mengungkap hubungan antara benda dengan yang lainnya. Lama kelamaan metode ini menjadi metode eksperimentasi yang lebih tertata. Pada tahap ini percobaan-percobaan yang dilakukan lebih melibatkan upaya kesadaran dengan teknik-teknik tertentu secara terukur.17  

G. Perbedaan Pengetahuan, Ilmu, Dan Filsafat

Telah dikemukakan di bagian terdahulu makalah ini bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui oleh manusia. ilmu adalah apabila pengetahuan itu sudah disistematisasi. Karena itu dilihat dari segi kemunculannya, pengetahuan ada barulah disusul ilmu. Adapun perbedaan ilmu dengan filsafat menurut Endang Saifuddin Anshari adalah sebagai berikut: 18
1.      Objek formal ilmu: mencari keterangan yang dapat dibuktikan melalui penelitian, percobaan, dan pengalaman manusia. Sedangkan objek formal filsafat: mencari keterangan sedalam-dalamnya, hingga ke akar persoalan, sampai ke sebab-sebab dan ke ‘mengapa’ terakhir, sepanjang yang kemungkinan dapat dipikirkan.
2.      Objek materi filsafat ialah:
  1. Masalah Tuhan, sesuatu yang berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan empiris
  2. Masalah alam yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu-ilmu pengetahuan empiris
  3. Masalah manusia yang juga belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu-ilmu pengetahuan empiris.
Bisa disimpulkan bahwa pengetahuan belum bersifat sistematis, sedangkan ilmu sudah sistematis. Pengetahuan sifatnya sederhana, sedangkan ilmu sudah lebih rinci atau tidak sederhana. Adapun filsafat bersifat radikal artinya mempertanyakan sesuatu hingga ke akar masalahnya, mengkaji yang metafisik (di atas yang fisik), spekulatif (berani punya kesimpulan sementara), dan universal (menyeluruh). Terlihat bahwa filsafat lebih luas jangkauannya. 
            Menurut C.A. Van Peursen, ciri ilmu mempergunakan metode. Metode berarti bahwa penyelidikan berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Istilah ini mula-mula berarti ‘suatu jalan yang harus ditempuh’. Tidak hanya ilmu yang mempergunakan metode-metode, seni, pembentukan keputusan, karya pertukangan pun memakai metode. Ketika manusia bekerja tidak secara semaunya, tetapi dengan cermat menentukan jalan menuju tujuan, ia menggunakan metode. 19 Sedangkan ilmiah adalah hasil kerja yang dapat dibuktikan, bukan sekadar anggapan (asumsi) atau keyakinan.  Metode ilmiah yang digunakan tergantung dari objek formal ilmu yang bersangkutan. Sesuai dengan metode yang digunakan, objek formalnya pun selaras dengan metode itu.20
            Francis Bacon mengemukakan empat sendi kerja untuk menyusun ilmu pengetahuan. Pertama, pengamatan (observasi). Kedua, pengukuran (measuring) Ketiga, penjelasan (explaining). Keempat, pemeriksaan benar tidaknya (verifying).21
                Norman K. Denzin membagi paradigma kepada tiga elemen yaitu epistemologi, ontologi, dan metodologi. Epistemologi mempertanyakan tentang bagaimana manusia mengetahui sesuatu, dan apa hubungannya antara manusia dengan pengetahuan. Ontologi berkaitan dengan pertanyaan dasar hakikat realitas. Sedangkan metodologi memfokuskan pada bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan.22 Ada pembagian lain yaitu ada namanya aksiologi yang berusaha menjawab, apa kegunaan ilmu.  Zamroni mengungkapkan posisi paradigma sebagai alat bantu bagi ilmuan untuk merumuskan berbagai hal. Pertama, berkaitan dengan apa yang harus dipelajari. Kedua, persoalan-persoalan apa yang harus dijawab. Ketiga, bagaimana metode untuk menjawabnya. Keempat, aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh. 23
            Ilmu sebagai pengetahuan sistematik terdiri dari komponen-komponen yang saling berkaitan atau dikoordinasikan agar dapat menjadi dasar teoritis.  Kesalingterkaitan itu merupakan struktur dari pengetahuan ilmiah. 24

D. Penutup.
Mu'jizat adalah sesuatu yang sangatlah spesial. Hanya Allah SWT yang dapat melakukannya melalui kebesaran yang dimilikinya.   I'jaz (kemu'jizatan) dalam bahasa Arab adalah menisbatkan lemah kepada orang lain.
Dinamakan mu'jizat (melemahkan) karena manusia lemah untuk mendatangkan tandingan Alquran.
Tujuan kemukjizatan Alquran adalah untuk membuktikan bahwasanya ia berasal dari Allah swt. Oleh karena itu mu'jizat adalah dalil-dalil dari Allah SWT. kepada hamba-Nya untuk membenarkan rasul-rasul dan nabi-nabi.



Daftar Pustaka


Baqilany, Muhammad Abu Bakar, I’jaz Al-Quran.Kairo: Daar al-Ma’arif, t.t..
Jabbar , Abu Bakar, Aysarut Tafasir, jil. I. Beirut : Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995. 
Munawwir, Ahmad Warson. Al-munawwir. Yogyakarta : Pustaka Progressif, 1984.
Salam, Muhammad Zaglul dan Muhammad Khalfullah Ahmad, Salasu Rasail Fi I’jaz Al-Quran: Li al- Rumani Wa al-Khuthabi Wa Abdul Qadir al-Jurjani. Mesir: Dar al-Ma’arif, t.t.
Shihab, Quraish, Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiyah dan Pemberitaan Gaib. Bandung: Mizan, 1997.
Sholih, Subhi, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus. Jakarta : pustaka Firdausi, 2000.
Suyuthi, Jalaluddin,  Al-Itqan Fi Ulum Al-Quran, Jil. IV. Kairo: Maktabah Dar Al-Turast, t.t.h.
Qatthan, Manna, Mabahits Fi Ulumil Qur’an. Mesir: Mansyuroti asril Hadist, tth.
Abu Zaid, Nasr Hamid, Terjemahan Al-Qur'an, Terj. Khoirun Nahdliyyin, Yogyakarta: LKiS, 2002

Haque, Ziaul, Wahyu dan Revolusi, Yogyakarta: LKiS, 2000


Sachedina, Abdul Azis, Kesetaraan Kaum Beriman, Terj. Satrio Wahono, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002




[1] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: P.T. Gramedia, 1994)
[1] Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, (ed. by J. Milton Cowan) Beirut: Librairie Du Liban, 1980
[1] Djohansjah Marzoeki, Budaya Ilmiah dan Filsafat Ilmu, (Jakarta: Grasindo, 2000),  hal. 9
[1] Luthfi Assyaukanie, Jurnal Ulumul Quran No. 1 Vol. V, Th. 1994, hal., 21
[1] Jurgen Trabaut, Dasar-dasar Semiotik, terj. Sally Pattinasary,  (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996) hal., 2
15 Nur A. Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, (Medan: IAIN Press Medan, 1995), hal. 23-24
16 Kennet T. Gallagher, Filsafat Pengetahuan, terj. Hardono Hardi, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1994), hal. 17-18
19 C.A.  Van Peursen, Susunan Ilmu Pengetahuan, Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, terj. J. Drost, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 16
20 Anton Bekker, Achmad Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 27
22 Norman K. Denzin dan Y. Vonna S. Lincoln, Handbook of Qualitative Research, (Thousands Oaks), SAGE Publication, 1994), hal. 99
23 Zamroni, Pengantar Teori Pengembangan Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), hal. 22










[1] Nasr Hamid Abu Zaid, Terjemahan Al-Qur'an, Terj. Khoirun Nahdliyyin, (Yogyakarta: LKiS, 2002), hlm. 30-40.
[2] Ziaul Haque, Wahyu dan Revolusi, , (Yogyakarta: LKiS, 2000), hlm. 33.

[3] Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mu'jam al-Mufahras U Alfaz Al-Qur'an, (Mesir: Dar al-Qutub, 1945), hlm, 752-754.
[4] Wahbah Zulailiy, Tofcr d-Munir, (Beirut: Dar al-Fiku 1992), Jfl. VI, hlm. 31.
[5] Abdul Azis Sachedina, Kesetaraan Kaum Beriman, Terj. Satrio Wahono, (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002), him. 151.
[6] Ahmad Warson, Al-Munawwir, hal. 898. lihat juga Louis Ma’luf, Al-Munjid, hal. 488.
[7] Ibid.
[8] Jalaluddin Al-Suyuthi, Al-Itqan Fi Ulum Al-Quran (Kairo: Maktabah Dar Al-Turast, t.t.), Jilid ke-4, h. 3.
[9] Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu Dalam Kehidupan Masyarakat, Cet. XXIII (Bandung: Mizan, 1992), h. 29-32.
[10] Lebih lanjut al- Suyuthi, Al-Itqan, h. 7-12. Lihat juga, Muhammada Abu Bakar Al-Baqilany, I’jaz Al-Quran (Kairo: Daar al-Ma’arif, t.t.), h. 15. Al-Baqilany sendiri melihat sisi kemukjizatan Al-Quran itu dari tiga sisi, yaitu: Pertama, sisi pemberitaannya yang gaib (akhbar an algaib). Kedua, karena ke-ummi-an Rasul. Ketiga, susunan dan keteraturan bahasanya yang luar biasa dan menakjubkan.
[11] Manna, Mabahits, hal. 260.
[12] Muhammad Zaglul Salam dan Muhammad Khalfullah Ahmad, Salasu Rasail Fi I’jaz Al-Quran: Li al- Rumani Wa al-Khuthabi Wa Abdul Qadir al-Jurjani, Cet.3. (Mesir: Dar al-Ma’arif, t.t.), h. 75.
[13] Manna, Mabahits, hal. 260.
[14] Subhi Sholih, Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, terj. Tim Pustaka Firdaus (jakarta : pustaka Firdausi, 2001) hal. 427.
[15] Subhi Sholih, Membahas, hal. 427.
[16] Manna Qatthan, Mabahits Fi Ulumil Qur’an (Mesir: Mansyuroti asril Hadist, tth) hal. 260.
[17] Lihat Abu Bakar Jabbar, Aysarut Tafasir (Beirut : Daar Kutub Al-Ilmiyah, 1995) jil. I, hal. 34.
[18] Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2002)
[19] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: P.T. Gramedia, 1994)
[20] Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, (ed. by J. Milton Cowan) Beirut: Librairie Du Liban, 1980
[21] Djohansjah Marzoeki, Budaya Ilmiah dan Filsafat Ilmu, (Jakarta: Grasindo, 2000),  hal. 9
[22] Luthfi Assyaukanie, Jurnal Ulumul Quran No. 1 Vol. V, Th. 1994, hal., 21
[23] Jurgen Trabaut, Dasar-dasar Semiotik, terj. Sally Pattinasary,  (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996) hal., 2
[24] ibid., hal., 25
15 Nur A. Fadhil Lubis, Pengantar Filsafat Umum, (Medan: IAIN Press Medan, 1995), hal. 23-24
16 Kennet T. Gallagher, Filsafat Pengetahuan, terj. Hardono Hardi, (Yogyakarta: Pustaka Filsafat, 1994), hal. 17-18
17 Nur A. Fadhil Lubis, op. cit., hal. 82-83
18 Endang Saifuddin Anshari, op. cit., hal. 92
19 C.A.  Van Peursen, Susunan Ilmu Pengetahuan, Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, terj. J. Drost, (Jakarta: Gramedia, 1985), hal. 16
20 Anton Bekker, Achmad Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), hal. 27
21 Endang Saifuddin Anshari, op. cit., hal. 61
22 Norman K. Denzin dan Y. Vonna S. Lincoln, Handbook of Qualitative Research, (Thousands Oaks), SAGE Publication, 1994), hal. 99
23 Zamroni, Pengantar Teori Pengembangan Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992), hal. 22
24 The Liang Gie, op. cit., hal. 139

No comments:

Post a Comment