Sunday, March 15, 2015

PONDOK PESANTREN SALAFIYAH

PONDOK PESANTREN SALAFIYAH

A.    Pendahuluan
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai sejarah panjang dan unik. Secara historis, pesantren termasuk pendidikan Islam yang paling awal dan masih bertahan sampai sekarang. Berbeda dengan lembaga – lembaga pendidikan yang muncul kemudian, pesantren telah sangat berjasa dalam mencetak kader – kader ulama, dan kemudian berperan aktif dalam penyebaran agama Islam dan transfer ilmu pengetahuan. Namun, dalam perkembangan pesantren telah mengalami transformasi yang memungkinkannya kehilangan identitas jika nilai – nilai tradisonalnya tidak dilestarikan. Berdirinya pondok pesantren di Indonesia, umumnya memiliki latar belakang yang sama, dimulai dari usaha seseorang atau lebih yang berkeinginan mengajarkan ilmu pengetahuan agama kepada masyarakat luas, dengan membuka kesempatan pengajian secara sederhana kepada penduduk setempat, baik berupa membaca Alqur’an, Hadis dan ilmu-ilmu agama lainnya sehingga masyarakat dapat meningkatkan perbaikan ubudiyah dan menambah wawasan ilmu agama.[1]
Ada dua versi menurut sejarah akar mula berdirinya pondok pesantren di Indonesia. pertama, pendapat yang menyebutkan bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam sendiri, yaitu tradisi tarekat. Pondok pesantren mempunyai hubungan yang erat dengan tempat pendidikan khusus bagi kaum sufi. Pendapat ini berdasarkan fakta bahwa penyiaran Islam di Indonesia pada mulanya banyak didominasi bentuk kegiatan tarekat. Pimpinan tarekat disebut kyai yang mewajibkan pengikutnya melaksanakan suluk selama 40 hari dalam satu tahun, dengan amalan-amalan tertentu yang tinggal bersama anggota tarekat lainnya di dalam masjid di bawah bimbingan seorang kyai. Untuk keperluan suluk ini, para kyai menyediakan ruangan khusus untuk penginapan dan tempat memasak yang terdapat di kiri-kanan masjid. Di samping mengajarkan amalan tarekat kepada para pengikut juga diajarkan kitab agama dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Dalam perkembangan selanjutnya lembaga pengajian ini tumbuh dan berkembang sedemikian rupa menjadi sebuah pondok pesantren. Kedua, pondok pesantren yang dikenal sekarang pada mulanya mengambil system dari pondok pesantren yang diadakan penganut agama Hindu di Nusantara.
Hal ini didasarkan kepada fakta bahwa jauh sebelum datangnya Islam ke Indonesia, lembaga pondok pesantren sudah ada di negeri ini. Pendirian pondok pesantren pada masa itu dimaksudkan sebagai tempat mengajarkan ajaran agama Hindu. Fakta lain menunjukkan bahwa pondok pesantren tidak ditemukan di negara-negara Islam lainnya. Pondok pesantren di Indonesia baru diketahui keberadaan dan perkembangannya setelah abad ke-16. Karya-karya Jawa Klasik seperti Serat Cabolek dan Serat Centini mengungkapkan bahwa sejak permulaan abad ke-16 di Indonesia telah banyak dijumpai lembaga-lembaga yang mengajarkan berbagai kitab Islam klasik baik dalam bidang firkih, aqidah, tasawuf, dan menjadi pusat penyiaran Islam, yaitu pondok pesantren.[2]

B.     Seputar Pondok Pesantren Salafiyah
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik, tidak saja karena keberadaannya yang sudah sangat lama, tetapi karena kultur, metode dan jaringan yang diterapkan. Karena keunikannya, C. Geertz menyebutnya sebagai sub kultur masyarakat Indonesia (khususnya Jawa).[3] Pendidikan pesantren memiliki kultur khas yang berbeda dengan budaya di sekitarnya, sehingga disebut sebagai sebuah sub-kultur yang bersifat idiosyncratic. Akar historis-kultural pesantren tidak terlepas dari masuk dan perkembangan Islam di Indonesia yang bercorak sufistik dan mistik. Pesantren banyak menyerap budaya masyarakat Jawa pedesaan yang pada saat itu cendrung statis dan sinkretis. Di samping karena basis pesantren adalah masyarakat pinggiran yang berada di desa, pesantren sering disebut sebagai masyarakat atau Islam tradisional.[4]
Menurut Karel A. Steenbrink, istilah pesantren sendiri seperti halnya mengaji, bukan berasal dari istilah Arab, melainkan dari India. Demikian juga istilah pondok, langgar di Jawa, surau di Minangkabau, rangkang (dayah) di Aceh, bukan merupakan istilah Arab, tetapi dari istilah yang terdapat di India.[5] Sedangkan pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang dibuat dari bambu.[6] Berbeda dengan Zamakhsari Dofier yang menyatakan bahwa pesantren berasal dari kata santri, dengan awalan pe di depan dan akhiran an, berarti tempat tinggal para santri. Zamakhsari Dhofier memprediksikan istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, atau barangkali dari kata Arab, funduq yang berarti hotel atau asrama.[7]
Terminologi pesantren dapat disimpulkan dari formulasi di atas, yaitu lembaga pendidikan Islam tertua yang telah berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat Islam, pusat dakwah dan pembangunan masyarakat muslim di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa pesantren merupakan sekolah berasrama untuk mempelajari agama Islam. Mastuhu mendefinisikan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.[8]
Pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam, umumnya dengan cara non klasikal dimana seorang kyai atau ustadz mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok dan asrama dalam pesantren.[9]
Istilah salaf dipakaikan juga kepada pesantren, meskipun berbeda pengertiannya. Istilah salaf menurut Azyumardi Azra mengacu kepada pengertian pesantren tradisional bagi kalangan pesantren.[10] Menurut Ziauddin Sardar, pesantren tradisional relatif berkurang dalam kualitas dan kuantitas buku-buku, pengajaran, dan kondisi belajar pada umumnya, fasilitas ruang belajar dan guru. Metode pengajaran biasanya kuno, demikian juga gaya mengajarnya, dan kemajuan siswa secara keseluruhan lambat. Silabusnya tidak mencakup pelajaran-pelajaran seperti sains atau bahasa Barat modern.[11]
Pondok pesantren salafiyah adalah pondok pesantren yang masih mempertahankan sistem pendidikan khas pondok pesantren, baik kurikulum maupun metode pendidikannya. Bahan ajar meliputi ilmu-ilmu agama Islam, dengan mempergunakan kitab-kitab klasik berbahasa Arab, sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing santri.[12] Kitab klasik Islam disebut dengan kitab kuning atau al-kutub al-qâdimah (bahasa Arab). Nama yang populer bagi kalangan pesantren adalah kitab gundul. Azyumardi Azra menyebutkan bahwa pemahaman istilah di atas adalah sebagai kitab keagamaan berbahasa Arab yang dihasilkan para ulama dan pemikir muslim di masa lampau khususnya dari Timur Tengah.[13]
Tradisi mempelajari kitab klasik sampai kini masih terus diajarkan kepada santri. Hal ini merupakan suatu ciri khusus pesantren pada umumnya, tetapi bagi pesantren salafiyah, tradisi ini merupakan suatu hal yang harus ada, bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan pesantren salafiyah. Tradisi ini mempunyai peran besar tidak hanya dalam transmisi ilmu pengetahuan Islam, dan komunitas santri, tetapi juga berperan di tengah masyarakat muslim Indonesia secara keseluruhan.[14]
Tradisi pengajaran kitab klasik Islam pada pesantren salafiyah suatu hal yang perlu dipertahankan dan dijaga. Namun demikian, tidak berhenti sampai di situ saja, masih ada hal yang perlu dikembangkan. Mastuhu menjelaskan bahwa ada jalan strategis ke arah itu yakni memantapkan kehadirannya sebagai subsistem pendidikan nasional sehingga jelas porsinya dalam pembangunan nasional, dengan tetap berpegang pada identitasnya. Identitas pesantren salaf sebagai subsistem pendidikan nasional akan mantap jika pesantren mampu mengembangkan corak pemikiran rasional dengan memandang ilmu sebagai bagian dari sunnatullah, dan bukan sebagai bagian dari hukum alam yang terlepas dengan ciptaan Tuhan. Misalnya teori evolusi Darwin yang hanya mendasarkan diri pada hukum alam semesta dapat menimbulkan pandangan yang ateis.[15]
Pesantren salafiyah bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhitmat kepada masyarkat dengan jalan mengikuti Sunnah Nabi saw.[16] Manifestasi dari hakekat dan tujuan ini, memunculkan analisa lain, yaitu bahwa pesantren salafiyah memiliki ciri khas keikhlasan, kesederhanaan, persaudaraan, suka menolong dan egalitarian. Ciri ini mengandung misi yang sangat mendalam, bahkan tidak terlepas dalam rangka pembagian tugas seorang mukmin untuk ‘iqâmat al-din. (Q.S. 9: 122).
Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang telah tua sekali usianya, telah tumbuh sejak ratusan tahun yang lalu, yang setidaknya memilikii lima unsur pokok, yaitu kiyai, santri, pondok, mesjid dan pengajaran ilmu-ilmu agama. [17]
Dalam menentukan kapan pertama kalinya pesantren berdiri di Indonesia, terlebih dahulu perlu melacak kapan pertama kalinya Islam masuk ke semenanjung nusantara. Terdapat berbagai pendapat mengenai kapan masuknya Islam di Indonesia, ada yang berpendapat semenjak abad ketujuh, namun ada juga yang berpendapat semenjak abad kesebelas. Terlepas dari perdebatan seputar kapan masuknya Islam di Indonesia, namun terjadinya kontak yang lebih intens antara budaya Hindu-Budha dan Islam dimulai sekitar abad ketiga belas ketika terjadi kontak perdagangan antara kerajaan Hindu jawa dengan Kerajaan Islam di Timur Tengah dan India.[18]  Dan penyebaran Islam di Indonesia khususnya di Jawa tidak terlepas dari peran wali songo yang dengan gigih memperjuangkan dan menyebarkan nilai-nilai Islam.
Berdirinya Pesantren pada mulanya juga diprakarsai oleh Wali Songo yang diprakarsai oleh Sheikh Maulana Malik Ibrahim yang berasal dari Gujarat India. Para Wali Songo tidak begitu kesulitan untuk mendirikan Pesantren karena sudah ada sebelumnya Instiusi Pendidikan Hindu-Budha dengan sistem biara dan Asrama sebagai tempat belajar mengajar bagi para bikshu dan pendeta di Indonesia[19]. Pada masa Islam perkembangan Islam, biara dan asrama tersebut tidak berubah bentuk akan tetapi isinya berubah dari ajaran Hindu dan Budha diganti dengan ajaran Islam, yang kemudian dijadikan dasar peletak berdirinya pesantren.
Selanjutnya pesantren oleh beberapa anggota dari Wali Songo yang menggunakan pesantren sebagai tempat mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat Jawa. Sunan Bonang mendirikan pesantren di Tuban, Sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Surabaya dan Sunan Giri mendirikan pesantren di Sidomukti yang kemudian tempat ini lebih dikenal dengan sebutan Giri Kedaton.[20]
Keberadaan Wali Songo yang juga pelopor berdirinya pesantren dalam perkembangan Islam di Jawa sangatlah penting sehubungan dengan perannya yang sangat dominan. Wali Songo melakukan satu proses yang tak berujung, gradual dan berhasil menciptakan satu tatanan masyarakat santri yang saling damai dan berdampingan. Satu pendekatan yang sangat berkesesuaian dengan filsafat hidup masyarakat Jawa yang menekankan stabilitas, keamanan dan harmoni.
Pendekaan Wali Songo, yang kemudian melahirkan pesantren dengan segala tradisinya, perilaku dan pola hidup saleh dengan mencontoh dan mengikuti para pendahulu yang terbaik, mengarifi budaya dan tradisi lokal  merupakan ciri utama masyarakat pesantren. Watak inilah yang dinyatakan sebagai factor dominan bagi penyebaran Islam di Indonesia.[21] Selain itu ciri yang paling menonjol pada pesantren tahap awal adalah pendidikan dan penanaman nilai-nilai agama kepada para santri lewat-lewat kitab-kitab klasik.[22]
Persoalan asal usul pesantren secara historis lebih tepat jika dipandang sebagai akibat akulturasi dua tradisi besar Islam dan Hindu-Budha yang saling berinteraksi dan saling memperngaruhi satu sama lain dari pada menerima warisan tradisi yang memposisikan tradisi Islam sebagai tradisi yang pasif. Artinya, pandangan hidup dan pemikiran keagamaan kalangan pesantren tidak begitu saja mewarisi taken for granted kebudayaan Hindu-Budha.

1.      Pesantren Pada Masa Penjajahan
Pada zaman penjajahan Belanda, dengan berbagai cara Penjajah berusaha untuk mendiskreditkan pendidikan Islam yang dikelola oleh pribumi termasuk didalamnya Pesantren. Sebab pemerintah colonial mendirikan lembaga pendidikan dengan sistem yang berlaku di barat pada waktu itu, namun hal ini hanya diperuntukkan bagi golongan elit dari masyarakat Indonesia. Jadi ketika itu ada dua alternatif pendidikan bagi bangsa Indonesia.
Sebagian besar sekolah colonial diarahkan pada pembentukan masyarakat elit yang akan digunakan untuk mempertahankan supremasii politik dan ekonomi bagi Pemerintah Belanda. Dengan didirikannya lembaga pendidikan atau sekolah yang diperuntukkan bagi sebagian Banga Indonesia tersebut terutama bagi golongan priyayi dan pejabat oleh pemerintah kolonial, maka semenjak itulah terjadi persaingan antara lembaga pendidikan pesantren dengan lembaga pendidikan pemerintah.[23]
Meskipun harus bersaing dengan sekolah-sekolah yang diselenggarakan pemerintah Belanda, pesantren terus berkembang jumlahnya. Persaingan yang terjadi bukan hanya dari segi ideologis dan cita-cita pendidikan saja, melainkan juga muncul dalam bentuk perlawanan politis dan bahkan secara fisik. Hampir semua perlawanan fisik (peperangan) melawan pemerintah colonial pada abad ke-19 bersumber atau paling tidak mendapatkan dukungan sepenuhnya dari pesantren, seperti perang paderi, Diponegoro dan Perang Banjar.
Menghadapi kenyataan demikian menyebabkan pemerintah Belanda diakhir abad ke-19 mencurigai eksistensi pesantren, yang mereka anggap sebagai sumber perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Pada tahun 1882 Belanda mendirikan Priesterreden (pengadilan agama) yang salah satu tugasnya mengawasi pendidikan di pesantren. Kemudian dikeluarkan Ordonansi (undang-undang) tahun 1905 mengenai pengawasan terhadap peguruan yang hanya mengajarkan agama (pesantren), dan guru-guu yang mengajar harus mendapatkan izin pemerintah setempat.[24]
Seiring dengan perkembangan sekolah-sekolah Barat modern yang mulai menjamah sebagian masyarakat Indonesia, pesantren pun tampaknya mengalami perkembangan yang bersifat kualitatif, meskipun ruangeraknya senantiasa diawasi dan dibatasi. Ide-ide pembaharuan dalam Islam, termasuk pembaharuan dalam pendidikan mulai masuk ke Indonesia, dan mulai merasuk ke dunia pesantren serta dunia pendidikan Islam lainnya.
Pembaharuan ini menyebabkan sistem modern klasikal mulai masuk ke pesantren, yang sebelumnya masih belum dikenal. Metode halaqah berubah menjadi sistem klasikal, dengan mulai menggunakan kursi, meja dan mengajarkan pelajaran umum. Sementara itu beberapa pesantren mulai memperkenalkan sistem madrasah sebagaimana yang diterapkan pada sekolah umum.

2.      Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Masa Kemerdekaan
Dalam sejarahnya mengenai peran pesantren, dimana sejak masa kebangkitan Nasional sampai dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI, pe senantiasa tampil dan telah mampu berpartisipasi secara aktif. Oleh karena itulah setelah kemerdekaan pesantren masih mendapatkan tempat dihati masyarakat. Ki Hajar Dewantara saja selaku tokoh pendidikan Nasional dan menteri Pendididkan Pengajaran Indonesia yang pertama menyatakan bahwa pondok pesantren merupakan dasar pendidikan nasional, karena sesuai dan selaras dengan jiwa dan kepribadian Bangsa Indonesia.[25]
Begitupula halnya dengan Pemerintah RI, mengakui bahwa pesantren dan madrasah merupakan dasaar pendidikan dan sumber pendidikan nasional, dan oleh karena ituharus dikembangkan, diberi bimbingan dan bantuan. Sejak awal kehadiran pesantren dengan sifatnya yang lentur (flexible) ternyata mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat sera memenuhi tuntutan masyarakat. Begitu juga pada era kemerdekaan dan pembangunan sekarang, pesantren telah mampu menampilkan dirinya aktif mengisi kemerdekaan dan pembangunan, terutama dalam rangka pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas.
Berbagai inovasi telah dilakukan untuk pengembangan pesantren baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Masuknya pengetahuan umum dan keterampilan ke dalam dunia pesantren dalah sebagai upaya mmberikan bekal tambhan agar para santri bila telah menyelesaikan pendidikannya dapat hidup layak dalam masyarakat.
Dewasa ini pondok pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan baru udalam rangka renovasi terhadap sistem yang selama ini dipergunakan, diantaranya adalah mulai akrab dengan metodologi ilmiah modern, den semakin berorientasi pada pendidikan dan fungsional, artinya terbuka atas perkembangan di luar dirinya. Juga diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan ketergantungannya pun absolute dengan kiai, dan sekaligus dapat membekali para santri dengan berbagai pengetahuan di luar mata pelajaran agama maupun keterampilan yang diperlukan di lapangan kerja dan juga dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.[26]
Dalam rangka menjaga kelangsungan hidup pesantren, pemerintah berusaha untuk membantu mengembangkan pesantren dengan potensi yang dimilinya. Arah perkembangan itu dititik beratkan pada, pertama, peningkatan tujuan institusional pondok pesantren dalam kerangka pendidikan nasional dan pengembangan potensinya sebagai lembaga social pedesaan. Kedua, peningkatan kurikulum dengan metode pendidikan agar efisiensi dan efektifitas pesantren terarah.
Ketiga, menggalakkan pendidikan keterampilan di lingkungan pesantren untuk mengembangkan potensi pesantren dalam bidang prasarana social dan taraf hidup masyarakat, dan yang terakhir, menyempurnakan bentuk pesantren dengan madrasah menurut keputusan tiga menteri tahun 1975 tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah.
Akhir-akhir ini pesantren mempunyai kecenderungan-kecenderungan yang tampaknya ditujukan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan yang ada, sebagaimana telah dikemukaakan terdahulu. Pertumbuhan dan perkembangan pesantren di Indonesia sepertinya cukup mewarnai perjalanan sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Kendatipun demikian pesantren dengan berbagai kelebihannya, juga tentunya tidak akan dapat menghindar dari segala kritik dan kekurangannya.
A.    Dinamika Pesantren
1.      Dinamika Keilmuan dan pendidikan
Pada awalnya berdirinya, pesantren merupakan media pembelajaran yang sangat simple. Tidak ada klasifikasi kelas, tidak ada kurikulum, juga tidak ada aturan yang baku di dalamnya. Sebagai media pembelajaran keagamaan, tidak pernah ada kontrak atau permintaan santri kepada kiai untuk mengkajikan sebuah kitab, apalagi mengatur secara terperinci materi-materi yang hendak diajarkan. Semuanya bergantung pada kiai sebagai poros sistem pembelajaran pesantren. Mulai dari jadwal, metode, bahkan kitabyang hendak diajarkan, semua merupakan wewenang seorang kiai secara penuh.[27]
Tidak seperti lembaga pendidikan lain yang melakukanperekrutan siswa pada waktu-waktu tertentu, pesantren selalu membuka pintu lebar-lebar untuk paa calon santri kapan pun juga. Tak hanya itu, pondok pesantren juga tidak pernah menentukan batas usia untuk siswanya. Siapapun dan dalam waktu kapanpun yang berkeinginan unuk memasuki pesantren, maka kiai akan selalu welcome saja.
Dua model pembelajaran yang terkenal pada awal mula berdirinya pesantren adalah model sistem pembelajaran wetonan non klasikal dan sistem sorogan. Sistem wetonan/bandongan adalah pengajian yang dilakukan oleh seorang kiai yang diikuti oleh santrinya dengan tidak ada batas umur atau ukuran tingkat kecerdasan. Sistem pembelajaran model ini, kabarnya merupakan metode yang diambil dari pola pembelajaran ulama Arab. Sebuah kebiasaan pengajian yang dilakukan di lingkungan Masjid al-Haram. Dalam sistem ini, seorang kiai membacakan kitab, sementara para santri masing-masing memegang kitab sendiri dengan mendengarkan keterangan guru untuk mengesahi atau memaknai Kitab Kuning.
Lain dengan pengajian wetonan, pengajian sorogan dilakukan satu persatu, dimana seorang santri maju satu persatu membaca kitab dihadapan kiai untuk dikoreksi kebenarannya. Pada pembelajaran sorogan ini, seorang santri memungkinkan untuk berdialo dengan kiai mengenai masalah-masalah yang diajarkan. Sayangnya banyak menguras waktu dan tidak efesien sehingga diajarkan pada santri-santri senior saja.
Pada dasarnya , dalam pesantren tradisional, tinggi rendahnya ilmu yang diajarkan lbih banyak tergantung pada keilmuan kiai, daya terima santri dan jenis kitab yang digunakan. Kelemahan dari sistem ini adalah tidak adanya perjenjangan yang jelas dan tahapan yang harus diikui oleh santri. Juga tidak ada pemisahan antara santri pemula dan santri lama. Bahkan seorang kiai hanya mengulang satu kitab saja untuk diajarkan pada santrinya.[28]
Pada abad ke tujuh belasan, materi pembelajaran pesantren didominasi olehmateri-materi ketahuidan. Memang pada waktu itu ajaran ketauhidan dan ketasaufan menduduki urutan yang paling dominant. Belakangan, sejalan dengan banyaknya para ulama yang berguru ketanah suci, materi yang diajarkannya pun bervariasi.
Baru pada awal abad kedua puluhan ini, unsur baru berupa sistem pendidikan klasikal mulai memasuki pesantren. Walaupun beberapa pesantren telah menggunakan kurikulum Barat, namun banyak juga pesantren-pesantren yang menolak menggunakan sistem ini. Bagi mereka, sistem klasikal adalah pengaruh yang diambil dari sekolah-sekolah yang dibentuk oleh Pemerintah kolonial Belanda. Kelas dalam sistem pendidikan ini adalah sejumlah pelajaran yang diberikan pada ruang dan waktu yang sama, dengan mata pelajaran yang sama pula. Lembaga pendidikan ini mengenal adanya kelas yang berjenjang. Dan dipesantren dikenal dengan sistem madrasah.
Pada mulanya kiai merupakan fungsionaris tunggal dalam pesantren. Semenjak berdirinya madrasah dalam lungkkungan pesantren inilah, diperlukan sejumlah guru-guru untuk mengajarkan berbagai macam jenis pelajaran baru yang tidak semuanya dikuasai oleh kiai. Sehingga peran guru menjadi penting karena kemampuan yang dimilikinya dari pendidikan diluar pesantren. Dan sejak saat itu kiai tidak menjadi fungsionaris tunggal dalam pesantren.
Mengikuti perkembangan zaman, beberapa pesantren mulai memasukkan pelajaran keterampilan sbagai salah satu materi yang diajarkan. Ada keterampilan berternak, bercocok tanam, menjahit berdagang dan lain sebagainya. Disisi lain ada juga pesantren yang cenderung mengimbangi dengan pengetahuan umum. Seperti tercermin dalam madrasah yang disebut dengan “modern” dengan menghapuskan pola pembelajaran wtonan, sorogan dan pembacaan kitab-kitab tradisional. Dnngan mengadopsi kurikulum modern, pesantren yang terakhir ini lebih mengutamakan penguasaan aspek bahasa.

2.      Pengaruh dan Eksistensi Pesantren
Pada abad ke-18, nama pesantren sebagai lembaga pendidikan rakyat menjadi begitu berbobot, terutama berkenaan dengan perannya dalam menyebarkan ajaran Islam. Pada masa itu berdirinya pesantren senantiasa ditandai dengan “perang nilai” antara pesantren yang akan berdiri dengan masyarakat sekitar, yang selalu dimenangkan oleh pihak pesantren, sehingga pesantren diterima untuk hidup dimasyarakat dan kemudian menjadi panutan.[29] Bahkan kehadiran pesantren dengan santri yang banyak dapat menghidupkan ekonomi masyarakat sehingga dapat memakmurkan masyarakat sekitar.
Selain itu pesantren juga memiliki hubungan erat dengan pejabat sekitar. Kiprah kiai dalam menumpas para perusuh mendapat perhatian besar dari pejabat setempat hingga raja. Tak jarang para Raja mengirim putra-putrinya untuk belajar pada kiai tertentu, dan sebagai bentuk penghormatan, pesantren dibebaskan dari pajak tanah. Pada waktu itu kiai terkenal dengan kesaktiannya, makanya seringkali para Raja mohon bantuan manakala kerajaan menghadapi kekacauan. Hal ini seperti yang dilakukan Pakubuwono yang meminta kiai Agung Muhammad Besari untuk membantunya dalam usaha menghalau musuh.
Terpengaruh dengan adat hindu dimana posisi biksu mendapatkan kasta yang pertama, maka begitu juga dalam kacamata masyarakat Jawa. Orang-orang ynag berada di pesantren –baik kiai maupun santri- mendapatkan tempat yang tinggi dalam stratifikasi masyarakat. Bahkan tak jarang para Raja menikahkan anak-anak mereka dengan para kiai tersohor, sehingga menggabungkan dua strata tertinggi dimasyarakat sekaligus. Hal ini seperti Kiai Kasan Besari yang menjadi menantu Pakubuwono II.
Walaupun kehidupan asketis yang luar biasa terjadi dalam dunia pesantren waktu itu, namun demikian tidak dapat dipungkiri peran yang luar biasa pada masa penjajahan. Dimana jarang sekali sebuah pesantren yang berkompromi dengan penjajahan. Pesantren selalu menjadi basis pejuangan mengusir penjajahan, dimana para pemuda yang ingin maju kemedan pertempuran slalu berkumpul didalamnya untuk melakukan “isian dan gemblengan”. Dalam hal ini kita tidak akan lupa dengan kasus Pangeran Diponegoro. Begitu mengakarnya peran ulama/kiai dalam masyarakat –khususnya Jawa, sehingga tak jarang yang menimbulkan mitos-mitos dibalik perjuangan pahlawan kemerdekaan. Seperti adanya sosok Kiai Seibi Angin dibalik perjuangan heroic Jaka Sembung.[30]
Akhir abad ke-19, lembaga pesantren semakin berkembang secara cepat dengan adanya sikap non-kooperatif ulama terhadap kebijakan “politik etis” pemerintah kolonial Belanda. Sikap non-kooperatif dan silent opposition para ulama itu kemudian ditunjukkan dengan mendirikan pesantren di daerah-daerah yang jauh dari kota untuk menghindari intervensi yang dilakukan pemerintah colonial serta memberi kesempatan kepada rakyat yang belum memperoleh pendidikan.
Sebagai lembaga pendidikan yang berumur sangat tua ini, pesantren dikenal sebagai media pendidikan yang menampung seluruh jenis strata masyarakat. Lebih jauh pesantren pada waktu itu sedah membuat lembaga pendidikan umum yang didalamnya tidak hanya mengajarkan agama saja. Bisa dikatakan bahwa pesantren pada waktu itu merupakan lembaga alternative kontra dari pendidikan colonial yang hanya diperuntukkan bagi kalangan ningrat saja.
Fakta sejarah membuktikan, betapa kalangan pesantren sangat intensif melakukan perlawanan terhadap segala perilaku budaya dan ideologi maupun politik yang dikhawatirkan akan merongrong ideology yang mereka yakini. Sebut saja seperti pendirian Nahdatul Ulama yang dimotori oleh orang-orang pesantren. Sikap ini juga ditunjukkan dengan pertentangan antara orang-orang pesantren vis a vis gerakan komunis. Alasan yang dikumandangkan orang-orang pesantren bahwa gerakan tersebut membahayakan keberagamaan masyarakat di Indonesia. Pada fase menjelang kemerdekaan juga bisa dilihat bagaimana para kiai dan santri untuk menolak habis-habisan budaya ‘saikere” yaitu membungkuk sembilan puluh derajat untuk menghormati matahari sebagai dewa bangsa Jepang. Akibatnya kiai ternama seperti Kh. Hasyim Asy’ari mendekam di penjara.[31]
Pesantren-ulama/kiai-santri biasanya memiliki hubungan yang cukup erat dengan masyarakat sekelilingnya. Bahkan tradisi yang berlaku didunia pesantren ini pun berlaku dalam dunia luar pesantren. Hal ini dapat terjadi denngan undangan dari masyarakat kepada kiai untuk menghadiri acara tertentu atau dari para alumni pesantren yang menyebar kedaerah-daerah untuk menyebarkan ilmu yang telah didapatkannya dipesantren. Seperti pada peringatan maulid Nabi, Nuzul al-Qur’an, walimah al-ursy, pengajian dan lain sebagainya.
Dari saling berkelindannya kiai-pesantren-santri ini tentunya memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Seorang santri yang baru ke pesantren satu tahun saja, ketika pulang, dikampungnya akan diperlakkukan layaknya seorang kiai oleh masyarakat dii tempat ia tinggal. Maka tak jarang masyarakat karena kecintaan mereka terhadap pesantren banyak memberikan shadaqah, infaq, waqaf dan amal jariyah lainnya dengan ikhlas untuk perkembangan pesantren.

3.      Pesantren di Tengah Arus Globalisasi
Seiring dengan bergulirnya alur modernisasi, politik global mengalami rekonfigurasi disepanjang lintas-batas kultural. berbagai masyarakat dan Negara yang memiliki kemiripan kebudayaan akan saling bergandengan. Sementara mereka yang berada di wilayah kebudayaan yang berbeda akan memisah dengan sendirinya.
Berhadapan dengan globalisasi dan ancaman kuatnya benturan peradaban, maka tak mungkin pesantren masih bertahan dengan pola pembelajaran lama. Tuntutan masyarakat global adalah profesionalisme, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi serta etos kerja yang tinggi. Maka karena itulah watak profesionalitas dan penguasaan teknologi dan pengetahuan yang standar, diperlukan di pondok pesantren. Jika tidak tentunya pesantren harus siap-siap digilas oleh laju zaman, ditinggalkan orang karena telah usang dan tak layak pakai.
Karena itu diharapkan pesantren harus semakin adaptif terhadap perkembangan kamajuan zaman. Atas dasar itu peluang pesantrean sebagai lembaga Pendidikan Islam yang akan menciptakan manusia seutuhnya akan semakin terbuka.[32]
Jika kita mengorelasikan benturan peradaban sebagaimana yang diramalkan Huntington, maka sesungguhnya konflik yang paling mudah menyebar dan sangat penting sekaligus berbahaya bukanlah konflik antar kelas sosial, antar golongan kiai dengan golongan miskin atau antara kelompok kekuatan ekonomi lainnya, akan tetapi konflik antara orang-orang yang memiliki etnis budaya yang berbeda. Pertikaian antar suku dan konflik-konflik antar etnis –dalam peradaban- akan senantiasa terjadi.
Dalam hal semacam ini ada beberapa hal yang perlu dijadikan catatan dunia pesantren, yaitu: pertama, konflik yang rawan terjadi pada dunia pesantren sendiri adalah masalah persoalan aliran dan keagamaan. Maka, sebagai antisipasi terhadap terjadinya  konflik tersebut, pesantren hendaknya menyosialisasikan semangat inklusifitas.
Kedua, berhadapan dengan derasnya arus informasi yang terus mengalir dengan berbagai ragam, pola hidup dan budaya yang ditawarkan. Maka, mau tidak mau, pihak pesantren harus mempersiapkan mental, hingga tidak mudah larut dengan budaya besar. Sekalligus tidak serta merta menutup dengan budaya yang terus menerus hadir. Bersikap kritis dan kreatif merupakan sesuatu yang tidak bisa dinafikan.
Ketiga, boleh jadi ramalan Huntington tentang adanya konflik antar peradaban tersebut benar, namun juga tidak menutup kemungkinan bahwa kemungkinan konflik tersebut mampu dihindari. Salah satu caranya adalah dengan mengerahkan kreativitas masyarakat dalam menjembatani dan memfasilitasi hubungan antara berbagai macam masyarakat yang berbeda-beda. Dengan demikian akan mampu mengikat perasaan emosional antarmereka dan akhirnya mampu meminimalisir konflik tersebut dan peran ini harus mampu dilakukan oleh pesantren.



D.    Penutup
Pesantren dipadang sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang didirikan oleh para ulama (Kiai  : Jawa). Pesantren didirikan dalam rangka mendidik masyarakat untuk memahami dan melaksanakan ajaran Islam, dengnan menekankan pentignya moral keagamaan sebagai pedoman hidup. Pengertian tertua, karena pesantren adalah lembaga yang telah lama hidup dan masih tetap eksis hingga saat ini walaupun telah banyak berubah dari bentuk awal mula berdirinya dari berbagai bidangnya. Bahkan pesantren telah menjadi bagian yang mendalam dari sistem kehidupan sebagian besar umat islam di Indonesia dan turut mewarnai dinamika bangsa Indonesia.
Demikianlah makalah ini kami tulis, semoga dapat bermanfaat dan menjadi masukan berarti bagi dunia pendidikan khususnya pesantren, terutama sebagai bahan diskusi pada mata kuliah Globalisasi dan Dinamika Budaya Melayu. Kepada Allah saya berserah diri sambil berharap selalu mendapat taufik dan hidayah darinya. Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Fahry dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru, Rekontruksi Pemikiran Indonesia Masa Orde Baru. Bandung : Mizan, 1990.

Daulay, Haidar Putra. Dinamika Pendidikan Islam. Bandung : Citapustaka, 2004.

________________, Pendidikan Islam, Dalam Sistem Pendidikan Nasional Jakarta : Prenada Media, 2004.

Dhofier, Zamakhsari, Tradisi Pesantren, Shtudi tentang Pandang Hidup Kiai. Jakarta : LP3ES, 1994.

Faiqah, Nyai, Agen Perubahan di Pesantren. Jakarta : Kucica, 2003.

Kafrawi, Pembaharuan Studi Pendidikan Pondok Pesantren Sebagai Usaha Pembentukan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa . Jakarta : Cemara Indah, 2004.

Haedani, Amin dkk, Panorama, Pesantren Dalam Cakrawala Modern. Jakarta: Diva Pustaka, 2004.

Hamzah, Amir, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, Mulia Offset, Jakarta, 1989.

Karim, Rusli, Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.

Prawiranegara, Alamsyah Ratu, Pembinaan Pendidikan Agama, Depag. RI, Jakarta.

Soemarjan, Selo, Perubahan Sosial di Yogyakarta, Gajahmada Pers, Yogyakarta: t.p.

Supriyadi, Kiai, Priyai di Masa Transisi. Surakarta: Pustaka Cakra, 2001.

Tim Penyusun, Ke-Nu-an, Ahlussunnah Wali Songo al-Jama’ah. Semarang : CV Wicaksana, 1990.




[1]Departemen Pendidikan Nasional, Ensiklopendi Islam (Jakarta: Ikhtiyar Baru Van Hoeve, 2003), Jilid 4, h. 100.
[2]Departemen Agama RI, Pola Pengembangan Pondok Pesantren (Jakarta: t.p., 2003), h. 10
[3]Pesantren menurut pengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri. Kata santri mempunyai arti luas dan sempit. Dalam arti luas, santri adalah bagian penduduk Jawa yang memeluk agama Islam secara benar, bersembahyang, pergi ke masjid dan berbagai aktivitas lainnya. Dalam arti sempit, santri adalah seorang murid atau sekolah agama yang disebut pondok atau pesantren. Perkataan pesantren diambil dari kata santri yang berarti tempat untuk para santri. Clifford Geertz, The Religion of Java Terj. Aswab Mahasia, Abangan Santri, Priyayi Dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1983), h. 268. Dalam pandangan Nurcholis Majid bahwa kata santri dapat dilihat dari dua pandangan, yaitu pertama, pendapat yang mengatakan bahwa santri berasal dari perkataan sastri, sebuah kata dari bahasa Sangsekerta yang artinya melek huruf. Pendapat ini menurut Nurcholis didasarkan atas kaum santri merupakan kelas literary, bagi orang Jawa yang berusaha mendalami ilmu agama melalui kitab-kitab bertuliskan dan berbahasa Arab; kedua, pendapat yang mengatakan bahwa perkataan santri berasal dari bahasa Jawa, yaitu cantrik yang berarti seorang yang selalu mengikuti guru ke mana guru pergi menetap. Nurcholis Majid, Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997) Cet. 1, h. 19-20.
[4]M. Fan Hasyim, Menggagas Pesantren Masa Depan (Yogyakarta: Qirtas, 2003), h. 77.
[5]Karel A. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, Pendidikan Islam dalam Kurun Modern (Jakarta: LP3S, 1994), h. 20. Menurut Manfred Ziemek sebagaimana yang dikuti Wahjoetomo, pengertian pesantren diturunkan dari bahasa India, shastri yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis. Maksudnya, pesantren adalah tempat bagi orang yang pandai membaca menulis. Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan (Jakarta: Gema Insani, 1997), h. 70.
[6]Hasballah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Lintas Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996) h. 138.
[7]Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, Study tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3S, 1994), Cet. 6, h. 18
[8]Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, Suatu Kajian Tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: Indonesia Netherlands Coorporation in Islamic Studies (INIS), 1994), h. 55
[9]Prasaja Sudjoko dkk, Profil Pesanteren (Jakarta: LP3S 1982), h. 10
[10]Kata salaf juga dipakai untuk menunjukkan suatu kaum, seperti kaum salaf (para sahabat Nabi Muhammad saw. dan tabi’in senior). Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), h. 107.
[11]Ziauddin Sardar, Sains, Teknologi dan Pembangunan di Dunia Islam (Bandung: Pustaka, 1989), h. 212-213.
[12]Pesantren salafiyah merupakan satu bagian dari model pesantren, justru selain dari model pesantren, ditemukan jenis dan model lain dari pesantren itu, yaitu pesantren khalafiyah (pesantren modern), lembaga pendidikan Islam (pesantren) yang memasukkan pelajaran umum dalam kurikulum madrasah yang dikembangkan, atau pesantren yang menyelenggarakan tipe sekolah umum seperti SMP, SMU dan bahkan perguruan tinggi dalam lingkungannya. Wahjoetomo, Perguruan…, h. 83-87.
[13]Azyumardi Azra, Pendidikan, h. 111
[14]Azyumardi Azra, Pendidikan, h. 116
[15]Mastuhu, Dinamika, h. 25
[16]Ibid., h. 55.
[17] Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA, Dinamika Pendidikan Islam (Bandung : Citapustaka, 2004), h. 113.
[18] Dra. Faiqah, M.Hum, Nyai, Agen Perubahan di Pesantren ( Jakarta : Kucica, 2003), h. 146-147.
[19] Kafrawi, Pembaharuan Studi Pendidikan Pondok Pesantren Sebagai Usaha Pembentukan Prestasi Kerja dan Pembinaan Kesatuan Bangsa (Jakarta : Cemara Indah, 2004), h. 17.
[20] Ibid, h. 17.
[21] Fahry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru, Rekontruksi Pemikiran Indonesia Masa Orde baru (Bandung : Mizan, 1990), h. 31.
[22] Prof. Dr. H. Haidar Putra Daulay, MA, Pendidikan Islam, Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Jakarta : Prenada Media, 2004), h.26.
[23] Selo Soemarjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta, Gajahmada Pers, Yogyakarta, H. 278.
[24] Amir Hamzah, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, Mulia Offset, Jakarta, 1989, h. 47.
[25] Alamsyah Ratu Prawiranegara, Pembinaan Pendidikan Agama, Depag. RI, Jakarta, h. 41.
[26] Rusli Karim, Pendidikan Islam di Indonesia dalam Transformasi Sosial ( Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991), h. 134.
[27] Drs. H. Amin Haedani, M.Pd dkk, Panorama, Pesantren Dalam Cakrawala Modern (Jakarta: Diva Pustaka, 2004), h. 80.
[28] Ibid, h. 82.
[29] Zamakhsari Dhofier, Tradisi Pesantren, Shtudi tentang Pandang Hidup Kiai (Jakarta : LP3ES, 1994) h.9.
[30] Supriyadi, Kiai, Priyai di Masa Transisi (Surakarta: Pustaka Cakra, 2001).
[31] Tim Penyusun, ke-Nu-an, Ahlussunnah Wali Songo al-jama’ah (Semarang : CV Wicaksana, 1990) h. 35.
[32] Haidar, Pendidikan Islam.., h. 36.

No comments:

Post a Comment