Saturday, May 7, 2011

STUDI ISLAM SUDUT PANDANG TEOLOGI

A. Pendahuluan
Agama sering dipahami sebagai sumber gambaran-gambaran yang sesungguhnya tentang dunia ini, sebab ia diyakini berasal dari wahyu yang diturunkan untuk semua manusia. Namun, dewasa ini, agama kerap kali dikritik karena tidak dapat mengakomodir segala kebutuhan manusia, bahkan agama dianggap sebagai sesuatu yang “menakutkan”, karena berangkat dari sanalah tumbuh berbagai macam konflik, pertentangan yang terus meminta korban. Kemudian sebagai tanggapan atas kritik itu, orang mulai mempertanyakan kembali dan mencari hubungan yang paling otentik antara agama dengan masalah-masalah kehidupan social budaya kemasyarakatan yang berlaku dewasa ini.
Melihat kenyataan semacam ini, maka diperlukan rekonstruksi pemikiran keagamaan, khususnya yang berkaitan dengan pendekatan-pendekatan teologis yang selama ini cenderung normative, tekstual dan “melangit”, sehingga tidak bisa terjamah oleh manusia. Oleh karena itu diperlukan pendekatan-pendekatan teologis yang kontekstual “membumi”, sehingga dapat dinikmati oleh manusia dan tidak bertentangan dengan kehidupan social budaya masyarakat yang ada. Berangkat dari hal tersebut, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai, (1) bagaimana sejarah perkembangan pemikiran teologi Islam, (2) pendekatan-pendekatan teologis apa yang digunakan untuk mengkaji Islam agar supaya tepat guna dan tidak bertentangan dengan kebutuhan social budaya manusia, sehingga menjadikan Islam sebagai suatu agama yang sesungguhnya.
Teologi, sebagai mana diketahui membahas ajaran-ajaran dasar dari suatu agama. Setiap orang yang ingin menyelami seluk beluk agamanya secara mendalam, perlu mempelajari teologi yang terdapat dalam agama yang dianutnya. Mempelajari teologi akan memberi seseorang keyakinan-keyakinan berdasarkan pada landasan yang kuat, yang tidak mudah diumbang-ambing oleh peredaran zaman. Istilah “Theology Islam” sudah lama dikenal oleh penulis-penulis Barat. Teologi dari segi etimologi mempunyai pengertian “Theos” artinya Tuhan dan “Logos” artinya ilmu (science, studi, discourse). Jadi teologi berarti ilmu tentang Tuhan atau ilmu “Ketuhanan”.1 Selanjutnya teologi Islam disebut juga ‘ilm al kalam, teolog dalam Islam diberi nama mutakallimin yaitu ahli debat yang pintar memakai kata-kata.2
Secara terminologi teologi Islam atau yang disebut juga Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas ushul sebagai suatu aqidah tentang keEsaan Allah swt, wujud dan sifat-sifat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan sebagainya yang diperkuat dengan dalil-dalil aqal dan meyakinkan.3 Sebutan Ilmu Kalam yang berdiri sendiri sebagai suatu ilmu sebagaimana yang kita kenal sekarang untuk pertama kalinya lahir pada masa khalifah Ma’mun (218 H). Dengan demikian Ilmu Kalam (Teologi) lahir melalui masa yang panjang. Kehadirannya didorong oleh berbagai faktor yang mendahului baik yang terjadi dalam tubuh kaum muslimin sendiri, maupun faktor yang datang dari luar. Untuk penentuan lapangan dan corak pembahasan, perkataan “Teologi” dibubuhi dengan keterangan kualifikasi, seperti “teologi filsafat”, “teologi masa kini” (contemporary theology), “teologi kristen”, “teologi katholik” bahkan dibubuhi dengan kualifikasi lebih terbatas, seperti “teologi wahyu” (revealed theology), “teologi polemik”, “teologi pikiran” (teologi yang berdasarkan pikiran=rational theology) “teologi sistematika” dan seterusnya. Ringkasnya, teologi adalah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan pertaliannya dengan manusia, baik berdasarkan kebenaran wahyu ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni.6
B. Sejarah Teologi
Para filosof lslam terdahulu menjadikan Tuhan, alam dan Manusia (Theo, cosmes dan antrophos) sebagai alat untuk menganalisa dirinya sendiri yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya. Sebab dengan metode ini para ahli teologi tidak hanya membicarakan bagaimana sesungguhnya manusia berbicara tentang Tuhan; teologi juga berbicara lebih jauh tentang bentuk-bentuk ekpresi yang lebih baik dan ekpresi yang lebih buruk serta mencari defenisi yang berimbang mengenai pembicaraan khusus tentang Tuhan.
Jan Hendrik Rapar mengungkapkan bahwa teologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mempelajari dan mencari tahu tentang hakekat, makna dan eksistensi Tuhannya dalam kehidupan keseharian, oleh sebab itu pembicaraan tentang Tuhan menjadi tetap aktual setiap waktu yang tidak pernah lesu. Adapun periodesasi perkembangan Ilmu Teologi sebagaimana diungkapkan Juhaya S. Praja dalam bukunya terbagi menjadi tiga yaitu:
“Dalam sejarahnya teologi mengalami tiga orde. Orde pertama, ahli teologi bertugas untuk mengambarkan Tuhan, manusia dan dunia sebagaimana apa adanya. Ketika muncul kesadaran konsep-konsep teologis secara fundamental adalah bangunan imaginatif, bukan abtraksi atau generalisasi, atau deduksi dari persepsi-persepsi, kita memasuki teologi orde kedua. Pada orde ini teologi berupaya memberi jawaban atas orientasi dalam kehidupan, bagaimana manusia menghadapi kebutuhan-kebutuhannya dalam menghadapi kehidupan. Orde kedua ini meninggalkan suatu konflik sehingga datang orde ketiga. Orde ini mendirikan bangunan yang dibuat dengan hati-hati dalam upaya melayani kebutuhan manusia kontemporer.”
Berdasarkan tiga orde periodesasi sejarah perkembangan Ilmu Teologi ini meliputi tiga unsur pokok; Tuhan, manusia dan alam. Dimana ketiga komponen ini saling keterkaitan tidak bisa dipisahkan walaupun memiliki unsur-unsur yang sangat berbeda.
1. Teologi Generasi Pertama
Para ahli teologi pada periode pertama ini hanya mengambarkan tentang hakekat ketiga unsur diatas (Tuhan, manusia dan alam) apa adanya. Para Filosof terdahulu menganggap tuhan sesuatu yang ada tidak ada tapi ada dan yang ada tersebut tidak dapat didefenisikan hanya dapat dirasakan, seperti teori Aristoteles yang menyebutkan Tuhan adalah sesuatu penggerak yang tidak bergerak, yaitu yang menjadi sebab pertama bagi gerak seluruh alam, sehingga sampai pada titik kesimpulannya bahwa tuhan pasti ada sebab metafisiknya adalah eksistensi.
2. Teologi Generasi Kedua
Setelah manusia mantap dalam keyakinannya masing-masing, maka muncul tahap kedua yaitu bagaimana peran keyakinan tersebut dapat menjawab dan memenuhi orientasi kebutuhan hidupnya. Pada fase ini dikenal dengan modernisme tradisional dengan ciri utamanya ditandai dengan rasionalisme yang menebarkan dokrin mazhabnya sebagaimana yang diwakili oleh Mu`tazilah, Murji`ah, Syi`ah. Dalam Sejarah Islam fase kedua ini teologi memiliki peran sebagai mazhab sangat penting sehingga jika berbeda mazhab saja maka yang lain dianggap kafir, keluar dari kelompoknya dan lain sebagainya.
3. Teologi Generasi ketiga
Fase neomodernism dengan menjangkau persoalan keduniaan dalam kehidupan berupa ekonomi, pendidikan, politik dan sosial. Orde ini ditandai dengan datangnya sikap kedewasaan untuk saling menghargai perbedaan keyakinan. Usaha yang dilakukan dengan membangun pranata sosial dengan hati-hati pada masyarakat yang kontemporer agar terwujudkan kedamain dan sikap toleransi antar keyakinan keberagamaan.

C. Perkembangan Kajian Teologis dalam Islam
Teologi Islam yang diajarkan di Indonesia pada umumnya adalah teologi dalam bentuk ilmu tauhid. Ilmu tauhid biasanya kurang mendalam dalam pembahasannya dan kurang bersifat filosofis. Selanjutnya, ilmu tauhid biasnya memberi pembahasan sepihak dan tidak mengemukakan pendapat dan paham dari aliran-aliran atau golongan-golongan lain yang ada dalam teologi Islam.
1. Kalam
Kalam ialah ilmu yang membicarakan tentang wujudnya Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada padaNya, sifat-sifat yang tidak ada padaNya dan sifat-sifat yang mungkin ada padaNya dan membicarakan tentang Rasul-rasul Tuhan, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yang tidak mungkin ada padanya dan sifat-sifat yang mungkin terdapat padanya. Ilmu ini dinamakan ilmu kalam (teologi) karena dasar ilmu kalam ialah dalil-dalil fikiran dan pengaruh dalil-dalil ini nampak jelas dalam pembicaraan-pembicaraan para mutakallimin.8 Mereka berbeda dengan golongan Hanabilah yang berpegangan teguh kepada kepercayaan orang-orang salaf. Berbeda juga dengan orang-orang tasawuf yang mendasarkan pengetahuannya (ilmunya; ma’rifah) kepada pengalaman batin dan renungan atau kasyf (terbuka dengan sendirinya). Mutakallimin juga berbeda dari golongan filosof yang mengambil alih pemikiran-pemikiran filsafat Yunani dan menganggap bahwa filsafat itu benar seluruhnya. Juga mereka berbeda dengan golongan Syi’ah Ta’limiyyah (doctrinaire) yang mengatakan bahwa dasar utama untuk ilmu, bukan yang didapati akal bukan pula yang didapati dari dalil-dalil naql (Qur’an dan Hadis), tetapi didapati dari iman-iman mereka yang suci (ma’sum).9

2. Ushul al-Din
Ushul al din ialah ilmu yang membahas padanya tentang prinsip-prinsip kepercayaan agama dengan dalil-dalil yang qath’i (al Qur’an dan Hadis mutawatir) dan dalil-dalil akal fikiran. Ilmu ushul al din dinamakan juga dengan ilmu kalam (teologi) sebab ilmu ini membahas tentang prinsip-prinsip agama Islam.10 Dalam istilah Arab ajaran-ajaran dasar itu disebut ushul al din dan oleh karena itu buku yang membahas soal-soal teologi dalam Islam selalu diberi nama kitab Ushul al Din oleh para pengarangnya. Ajaran dasar itu disebut juga ‘aqa’id, credos atau keyakinan-keyakinan dan buku-buku yang mengupas keyakinan-keyakinan itu diberi judul al ‘aqa’id seperti Al ‘Aqa’id al Nasafiah dan Al ‘Aqa’id Adudiah.11

3. Tawhid
Tawhid ialah ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan ‘aqidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil-dalil itu menggunakan dalil-dalil naqli, naqli ‘aqli ataupun dalil wijdani (perasaan halus). Dinamakan ilmu ini dengan tauhid adalah karena bahasan-bahasan yang paling menonjol ialah pembahasan tentang keesaan Allah yang menjadi sendi asasi agama Islam, bahkan sendi asasi bagi segala agama yang benar yang telah dibawakan oleh para Rasul yang diutus Allah. Ilmu tawhid dinamakan juga dengan ilmu kalam karena problema-problema yang diperselisihkan para ulama-ulama Islam dalam ilmu ini yang menyebabkan umat Islam terpecah dalam beberapa golongan ialah masalah Kalam Allah yang kita bacakan (al Qur’an) apakah ia makhluk (diciptakan) ataukah qadim (bukan diciptakan).7


D. Islam sebagai Sumber Kepercayaan
Pada zaman Rasul saw sampai masa pemerintahan Usman bin Affan (644-656 M) problem teologis di kalangan umat Islam belum muncul. Problema itu baru timbul di zaman pemerintahan Ali bin Abi Thalib (656-661 M) dengan munculnya kelompok Khawarij, pendukung Ali yang memisahkan diri karena tidak setuju dengan sikap Ali yang menerima tahkim (arbitrase) dalam menyelesaikan konfliknya dengan Muawiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam pada waktu perang Shiffin.12
Harun Nasution mengikuti Asy Syahrastani dalam pengungkapannya bahwa persoalan politik merupakan alasan pertama munculnya persoalan teologi dalam Islam.13 Khawarij berpendapat, tahkim adalah penyelesaian masalah yang tidak didasarkan kepada al Qur’an, tapi ditentukan oleh manusia sendiri, dan orang yang tidak memutuskan hukum dengan al Qur’an adalah kafir. Dengan demikian orang yang melakukan tahkim dan menerimanya adalah kafir. Argumen mereka sebenarnya sangat sederhana, Ali, Mu’awiyah dan pendukung-pendukung mereka semuanya kafir karena mereka murtakib al Kabirah atau “pendosa besar”.14
Masuknya filsafat Yunani dan pemikiran rasional ke dunia Islam pada abad kedua Hijriah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran teologis di kalangan umat Islam. Mu’tazilah mengembangkan pemikirannya secara rasional dengan menempatkan akal di tempat yang tinggi sehingga banyak produk pemikirannya tidak sejalan dengan pendapat kaum tradisional. Pertentangan pendapat di antara dua kelompok inipun terjadi dan mencapai puncaknya ketika al Makmun (813-833 M), khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah menjadikan Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara dan memaksakan paham Mu’tazilah kepada kaum muslimin.
Paham serupa ini mendorong manusia menjadi kreatif dan dinamis, bertanggung jawab dan berani mengambil inisiatif. Sikap manusia yang demikian ini sejalan dengan pola hidup modern. Demikian pula paham Mu’tazilah tentang keadilan Tuhan adalah sangat mengandung pesan anthropo centris itu. Menurut paham ini Tuhan harus berbuat sesuai dengan kesanggupan yang ada pada manusia, dan tidak boleh berbuat di luar kesanggupan manusia itu. Manusia juga dianggap dapat menentukan baik dan buruk berdasarkan kreatifitasnya sendiri, tanpa menunggu komando wahyu dari Tuhan. Dengan demikian terbukalah gagasan inovatif dan kreatif sesuai dengan tuntutan masyarakat. Demikian pula keharusan menjauhi perbuatan yang buruk atau jahat sekalipun wahyu belum datang sudah harus dilakukan. Dengan demikian tidak akan terjadi perbuatan sekehendak hati melainkan ada aturan yang disepakati dan kemudian berkembang menjadi norma. Selain itu manusia juga dituntut untuk mengembangkan sikap berbuat baik dan menjauhi perbuatan munkar. Teologi Mu’tazilah nampaknya akan menjadi teologi yang sejalan dengan tuntutan zaman, dan akan diperhitungkan karena sifatnya yang banyak melahirkan kreatifitas manusia walaupun ini baru dalam dataran teoritis yang masih perlu dibuktikan.21

E. Aliran Utama dan Pendekatannya
Dalam Islam persoalan yang pertama-tama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi, tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Persoalan orang berbuat dosa mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan teologi Islam. Persoalan ini menimbulkan lima aliran utama:28 Dengan memahami teologi dari pendekatan sejarah seseorang akan melihat sebab-sebab timbulnya aliran-aliran teologi dalam Islam yang berawal dari persoalan politik dan bukan persoalan agama. Selanjutnya pendekatan bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi), untuk memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan kajian teologi Islam. Seperti istilah Khawarij dan Mu’tazilah dengan pendekatan bahasa dan istilah kita akan mengetahui makna dari Khawarij dan Mu’tazilah tersebut dan istilah-istilah lainnya.
Kemudian pendekatan studi tokoh, tujuannya mempelajari kronologis tokoh-tokoh aliran teologi dalam Islam, hal-hal yang mempengaruhi pemikiran mereka dan pengaruhnya terhadap tokoh-tokoh setelahnya. Yang tidak kalah pentingnya ialah pendekatan komparatif, munculnya aliran-aliran tersebut salah satunya karena adanya konsep pemikiran yang berbeda antara satu aliran dengan aliran yang lain sehingga menimbulkan konsep pemikiran dan aliran baru. Contohnya konsep pemikiran Khawarij tentang pelaku dosa besar adalah kafir menimbulkan konsep pemikiran baru bahwa pelaku dosa besar bukan kafir tetapi tetap mukmin yang dianut oleh aliran Murji’ah.
Dengan demikian aliran-aliran teologi penting yang timbul dalam Islam ialah aliran Khawarij, Mu’tazilah, Asy’ariah dan Maturidiah. Aliran-aliran Khawarij, Murji’ah dan Mu’tazilah tak mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah. Yang masih ada sampai sekarang ialah aliran-aliran Asy’ariyah dan Maturidiah dan keduanya disebut ahl Sunnah wa al Jama’ah. Aliran Maturidiah banyak dianut oleh umat Islam yang bermazhab Hanafi, sedang aliran Asy’ariah pada umumnya dipakai oleh umat Islam Sunni lainnya.
Dengan masuknya kembali faham rasionalisme ke dunia Islam, yang kalau dahulu itu masuknya melalui kebudayaan Yunani Klasik akan tetapi sekarang melalui kebudayaan Barat modern, maka ajaran-ajaran Mu’tazilah mulai timbul kembali, terutama sekali di kalangan kaum intelegensia Islam yang mendapat pendidikan Barat. Kata neo-Mu’tazilah mulai dipakai dalam tulisan-tulisan Islam.34
Dalam hal memberikan penjelasan terhadap pendekatan tentang teologi Islam, penulis belum mendapatkan buku rujukan yang konkrit mengenai hal tersebut. Tetapi mendekatkan kita kepadanya mungkin penulis bisa menggambarkan maupun menerangkan pendekatan yang ada pada literatur lain. Untuk memahami maupun meneliti teologi Islam diperlukan beberapa pendekatan di antaranya: pendekatan historis; sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.35
Dengan memahami teologi dari pendekatan sejarah seseorang akan melihat sebab-sebab timbulnya aliran-aliran teologi dalam Islam yang berawal dari persoalan politik dan bukan persoalan agama. Selanjutnya pendekatan bahasa (etimologi) dan istilah (terminologi), untuk memahami istilah-istilah yang berkaitan dengan kajian teologi Islam. Seperti istilah Khawarij dan Mu’tazilah dengan pendekatan bahasa dan istilah kita akan mengetahui makna dari Khawarij dan Mu’tazilah tersebut dan istilah-istilah lainnya. Kemudian pendekatan studi tokoh, tujuannya mempelajari kronologis tokoh-tokoh aliran teologi dalam Islam, hal-hal yang mempengaruhi pemikiran mereka dan pengaruhnya terhadap tokoh-tokoh setelahnya. Yang tidak kalah pentingnya ialah pendekatan komparatif, munculnya aliran-aliran tersebut salah satunya karena adanya konsep pemikiran yang berbeda antara satu aliran dengan aliran yang lain sehingga menimbulkan konsep pemikiran dan aliran baru. Contohnya konsep pemikiran Khawarij tentang pelaku dosa besar adalah kafir menimbulkan konsep pemikiran baru bahwa pelaku dosa besar bukan kafir tetapi tetap mukmin yang dianut oleh aliran Murji’ah.

F. Tokoh dan Karya Utama
1. Aliran Khawarij
Aliran ini lahir bersamaan dengan lahirnya Syi’ah yakni pada masa Ali bin Abi Thalib r.a. Orang-orang Khawarij dulunya adalah pendukung Ali, meskipun demikian Syi’ah datang lebih dahulu dari pemikiran Khawarij.36 Timbulnya aliran ini adalah akibat dari peristiwa tahkim (arbitrase), Khawarij menghukum para peserta tahkim sebagai orang-orang yang telah menjadi kafir. Di antara tokoh-tokoh Khawarij yang terpenting adalah; Abdullah bin Wahab al Rasyidi, pimpinan rombongan sewaktu mereka berkumpul di Harura (pemimpin Khawarij pertama), Urwah bin Hudair, Mustarid bin Sa’ad, Hausarah al Asadi, Quraib bin Maruah, Nafi’ bin al Azraq (pemimpin al Azariqah), Abdullah bin Basyir, Zubair bin Ali, Qathari bin Fujaah, Abd al Rabih, Abd al Karim bin Ajrad, Ziad bin Asfar dan Abdullah bin Ibad. Tokoh-tokoh tersebut masing-masing memimpin sekte-sekte dalam aliran Khawarij. Sekte-sekte tersebut di antaranya ialah Muhakkimah, Azariqah, Najdat, Bahaisiyah, Ajaridah, Tsalabah, Ibadhiyah, dan sufriyah.37
Secara umum ajaran-ajaran pokok Khawarij adalah: orang Islam yang melakukan dosa besar adalah kafir; orang-orang yang terlibat pada perang Jamal (perang antara Aisyah, Thalhah dan Zubair dengan Ali bin Abi Thalib) dan para pelaku tahkim (termasuk yang menerima dan membenarkannya) dihukumkan kafir; dan khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat.

2. Aliran Murji’ah
Pemimpin utama mazhab Murji’ah ialah Hasan bin Bilal al Muzni, Abu Sallat al Samman, dan Dirar bin Umar. Untuk mendukung perjuangan Murji’ah dalam mengembangkan pendapatnya pada zaman bani Umayyah muncul sebuah syair terkenal tentang i’tikad dan keyakinan Murji’ah yang digubah oleh Tsabiti Quthnah.38 Tokoh Murji’ah yang moderat antara lain adalah Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Sedangkan yang ekstrem antara lain ialah Jaham bin Shafwan. Ajaran-ajaran pokok Murji’ah dapat disimpulkan sebagai berikut: iman hanya membenarkan (pengakuan) di dalam hati; orang Islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir, muslim tersebut tetap mukmin selama ia mengakui dua kalimah syahadat; dan hukum terhadap perbuatan manusia ditangguhkan hingga hari kiamat.

3. Aliran Mu’tazilah
Tokoh aliran Mu’tazilah banyak jumlahnya dan masing-masing mempunyai pikiran dan ajaran-ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya atau tokoh-tokoh pada masanya, sehingga masing-masing tokoh mempunyai aliran sendiri. Dari segi geografis, aliran Mu’tazilah dibagi menjadi dua yaitu aliran Mu’tazilah Basrah dan aliran Mu’tazilah Bagdad. Tokoh-tokoh aliran Basrah antara lain39 Wasil bin ‘Ata (80-131 H/699-748 M), al ‘Allaf (135-226 H/752-840 M), an Nazzham (wafat 231 H/845 M), dan al Jubbai (wafat 303 H/915 M). tokoh-tokoh aliran Bagdad antara lain Bisyr bin al Mu’tamir (wafat 226 H/840 M), al Khayyat (wafat 300 H/912 M). Kemudian pada masa berikutnya lagi ialah al Qadhi Abdul Jabbar (wafat 1024 M di Ray) dan az Zamachsyari (467-538 H/1075-1144 M). Ajaran-ajaran pokok Mu’tazilah berdiri atas lima prinsip utama yang diurutkan menurut kedudukan dan kepentingannya, yaitu: keesaan (at tauhid), keadilan (al ‘adlu), janji dan ancaman (al wa’du wal wa’idu), tempat di antara dua tempat (al manzilatu bainal al manzilataini), menyuruh kebaikan dan melarang keburukan (amar ma’ruf nahi munkar).40

4. Aliran Asy’ariah
Suatu unsur utama bagi kemajuan aliran Asy’ariah, ialah karena aliran ini mempunyai tokoh-tokoh kenamaan yang mengkonstruksikan ajarannya atas dasar filsafat metafisika. Tokoh-tokoh tersebut antara lain; al Baqillani (wafat 403 H), Ibnu Faurak (wafat 406 H), Ibnu Ishak al Isfaraini (wafat 418 H), Abdul Kahir al Bagdadi (wafat 429 H), Imam al Haramain al Juwaini (wafat 478 H), Abdul Mudzaffar al Isfaraini (wafat 478 H), al Ghazali (wafat 505 H), Ibnu Tumart (wafat 524 H), as Syihristani (wafat 548 H), ar Razi (1149-1209 M), al Iji (wafat 756 H/1359 M), dan as Sanusi (wafat 895 H).41 Al Asy’ari banyak meninggalkan karangan-karangan, kurang lebih 90 buah dalam berbagai lapangan ilmu keIslaman. Karangan-karangannya yang terkenal dan sampai kepada kita ada tiga yaitu; Mawalatul Islamiyyin: kitab ini ditulis al Asy’ari sebelum ia keluar dari Mu’tazilah, di dalamnya berisi paham berbagai golongan kaum muslimin dan berbagai masalah teologi, al Ibanah ‘an Usulid Diyanah: kitab ini berisi pokok-pokok pikiran akidah Ahlussunnah waljamaah, dan al Luma’ fi al Radd ‘ala Ahl al Ziyaq wa al Bida’: kitab ini juga berisi pandangan dan ajaran al Asy’ari mengenai ilmu kalam dan jawaban serta sorotan terhadap bantahan pihak lawan.42
Pokok-pokok pikiran al Asy’ari yang terpenting antara lain ialah: Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana disebutkan di dalam al Qur’an, al Qur’an adalah qadim bukan makhluk (diciptakan). Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat kelak. Perbuatan manusia diciptakan oleh Tuhan bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri. Antropomorphisme; Tuhan bertahta di ‘Arsy, mempunyai muka, tangan, mata dan sebagainya tetapi bentuknya tidak sama dengan makhluk. Keadilan Tuhan; Tuhan tidak wajib memasukkan orang baik ke surga dan memasukkan orang jahat ke neraka. Muslim yang melakukan dosa besar dan meninggal dunia sebelum sempat bertobat tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula berada di antara mukmin dan kafir sebagaimana pendapat Mu’tazilah.43



5. Aliran Maturidiah
Pengikut dan tokoh besar Maturidiah adalah Abu al Jasr Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim al Bazdawi (421-493 H). Tokoh ini banyak berjasa dalam perkembangan aliran al Maturidiah. Al Bazdawi sendiri mempunyai murid-murid dan salah seorang dari mereka ialah Najm al Din Muhammad al Nasafi (460-537 H), pengarang buku al ‘Aqa’id al Nasafiah. Literatur mengenai ajaran-ajaran Abu Mansur dan aliran Maturidiah tidak sebanyak literatur mengenai ajaran-ajaran Asy’ariah. Buku-buku yang banyak membahas soal sekte-sekte seperti buku-buku al Syahrastani, Ibn Hazm, al Bagdadi dan lain-lain tidak memuat keterangan-keterangan tentang al Maturidi atau pengikut-pengikutnya. Seterusnya ada pula karangan-karangan mengenai pendapat-pendapat al Maturidi yaitu Risalah Fi al ‘Aqa’id dan Syarh al Fiqh al Akbar. Keterangan-keterangan mengenai pendapat-pendapat al Maturidi dapat diperoleh lebih lanjut dari buku-buku yang dikarang oleh pengikut-pengikutnya seperti Isyarat al maram oleh al Bayadi dan Usul al Din oleh al Bazdawi.44

G. Perkembangan Mutakhir dalam Studi Teologi Islam
Masyarakat modern ternyata mulai menyadari adanya kejenuhan yang luar biasa hidup dalam era modern. Modernisme yang semula menjanjikan kemerdekaan, pembebasan dan tirani agama, ternyata juga telah melakukan distorsi terhadap nilai kemanusiaan yang fitri. Materialisme sebagai anak kandung modernisme ternyata juga menyeret manusia ke lubang nestapa yang amat dalam. Karena seluruh referensi kebenaran telah disatukan dalam ukuran yang materialistik. Manusia seolah-olah dianggap bisa bahagia hanya dengan roti saja, padahal hidup manusia sesungguhnya juga ingin digerakkan oleh unsur spiritual. Bertolak dari hal itu, sebagian masyarakat modern kini telah memasuki satu fase sejarah manusia dan peradabannya, yang secara tentatif disebut fase postmodern, yakni suatu fase dimana – secara sederhana dapat diakatakan – hendak menarik manusia dari posisi sentral (deantroposentrisme) melalui pembangkitan dimensi spiritual-etik. Karena itu, Whitehead dan David Bohm menganggap salah satu gejala era postmodern adalah era “kebangkitan spiritual dan etik.
Dari berbagai pendekatan-pendekatan teologis yang ada adalah pertama pendekatan teologis normative merupakan salah satu pendekatan teologis dalam upaya memahami agama secara harfiah. Pendekatan normative ini dapat diartikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empiric dari suatu keagamaan dianggap sebagai yang paling benar dibandingkan dengan yang lainnya . Hal tersebut memberikan dampak dan pengaruh yang besar terhadap perilaku para pengikut teologi normative ini. Pemikiran teologi yang keras akan mendorong pengikutnya menjadi agresif, sementara teologi yang “kalem” cenderung menggiring pengikutnya bersikap deterministic atau “pasrah”.
Tegasnya kajian teologi Islam yang menggunakan pendekatan normative masih bersifat teosentris, atau menurut Amin Abdullah masih didominasi oleh pemikiran yang bersifat transcendental-spekulatif yang kurang menyinggung masalah-masalah insaniyaat (humaniora) yang meliputi kehidupan social, politik dan lain sebagainya dan aspek tarikhiyat (sejarah).
Kedua, Pendekatan teologi antroposentris adalah pendekatan teologis yang berupaya memahami kondisi empiric manusia yang pluralistic. Pendekatan teologis antrophosentris tentu saja tidak bermaksud mengubah doktrin sentral tentang ketuhanan, tentang keesaaan Tuhan (Islam : Tauhid), melainkan suatu upaya untuk reorientasi pemahaman keagamaan, baik secara individual maupun kolektif dalam menyikapi kenyataan-kenyataan empiris menurut perspektif ketuhanan. Dengan kata lain teologi antrophosentris dimulai dengan melihat kehidupan manusia di dunia dan akhirat, dan tidak hanya mengakui satu konsep metafisika tentang berbagai hal mengenai pemikiran keagamaan.

H. Kesimpulan
Teologi (Theos/Tuhan+Logos/Ilmu) merupakan rangkaian ilmu tentang Tuhan atau keTuhanan. Istilah teologi lebih sering dipakai oleh penulis-penulis barat, oleh penulis-penulis Islam sendiri teologi mempunyai kesamaan dengan ilmu Kalam. Beberapa istilah yang mempunyai keterkaitan dengan teologi/ilmu kalam di antaranya ialah istilah tawhid, kalam dan ushul al din. Awal mula lahirnya ilmu kalam menumbuhkan beberapa aliran teologi sebagai akibat dari persoalan politik yang muncul pada saat pengangkatan Ali bin Abi Thalib menggantikan Usman bin Affan sebagai khalifah. Pada perkembangannya aliran-aliran teologi tersebut hanya beberapa yang bertahan sampai sekarang seiring dengan perkembangan pemikirannya masing-masing.
Dari pemikiran teologi di atas, dapat diketahui bahwa pendekatan teologis semacam ini dalam pemahaman keagamaan adalah menekankan pada bentuk formal atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk formal atau symbol-simbol keagamaan teologi tersebut mengklaim dirinya yang paling benar, sedangkan yang lainnya salah. Aliran teologi yang begitu yakin dan fanatic bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan faham yang lain salah, sehingga memandang bahwa paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad dan lain sebagainya. Kondisi teologi yang seperti ini terus berlangsung dan berkembang sampai sekarang, bahkan telah menjadi ortodoks dan tidak bisa diganggu gugat.





Daftar Kepustakaan

A. Hanafi, Pengantar Theology Islam, Jakarta: Pustaka Al Husna, 1980
------------, Theology Islam (Ilmu Kalam), Jakarta: Bulan Bintang, 1977
Abdul Halim, Teologi Islam Rasional; Apresiasi terhadap wacana dan Praktis Harun Nasution, Jakarta: Ciputat Pers, 2001
Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998
Abu Zahrah, Tarikh al Madzahib al Islamiyah fi al Siyasah wa al Aqa’id, Sejarah Aliran-aliran dalam Islam; Bidang Politik dan Aqidah, alih bahasa: Drs. Shobahussurur. Gontor, Ponorogo: Pusat Studi Ilmu dan Amal, 1991
Al-Syahrastani, Al Milal wa al Nihal, Mesir: Musthafa al Baby al Halaby, 1967
Ahmad Amin, Dhuha al Islam, Mesir: al Nahdhah al Mishriyyah, 1936
Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia; Pengalaman Islam, Jakarta: Paramadina, 1999
Dawam Rahardjo, Umat Islam dan Pembaharuan Teologi; dalam Aspirasi Umat Islam Indonesia, Jakarta: LEPPENAS, 1985
Engineer Asghar Ali, Islam dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999.
Fazlur Rahman, Gelombang Perubahan dalam Islam; Studi tentang Fundamentalisme Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001
--------------------, Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1992
Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI-Press, 1983
-----------------, et.al., Ensiklopedi Islam Indonesia Jakarta: Djambatan, 1992
------------------- Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II,Jakarta: UI-Press, 1985
Laily Mansur, Pemikiran Kalam dalam Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994
Yusran Asmuni, Ilmu Tauhid, Jakarta: Rajawali Pers, 1993
Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Tauhid/Kalam, Jakarta: Bulan Bintang, 1992
Juhaya S. Praja. Filsafat Ilmu. Bandung. Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati. 2007
Muhammad Yusuf Musa, Islam; Suatu Kajian Komprehensif, Jakarta: Rajawali Pers, 1988
Salihun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996
Saiful Muzani, Islam Rasional; Sejarah dan Pemikiran Prof. DR. Harun Nasution, Bandung: Mizan, 1995
Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Modern Yogyakarta: LESFI, 2002
Toshihiko Izutsu, Konsep Kepercayaan dalam Teologi Islam: Analisis Semantik Iman dan Islam, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1994
Taufik Abdullah….(et.al)., Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002
---------------------, Sejarah dan Masyarakat, Jakarta: Pustaka firdaus, 1987

No comments:

Post a Comment