Saturday, May 7, 2011

KAIDAH-KAIDAH TAFSIR (QAWAID AL-TAFSIR)

A. Pendahuluan

Alquran merupakan kitab suci dan sumber ajaran Islam yang pertama dan utama. Apabila dilakukan telaah seksama, maka akan ditemukan bahwa alquran mengandung keunikan-keunikan makna yang tiada akan pernah habis untuk dikaji dan memberi isyarat makna yang tak terbatas. Kedudukan alquran sebagai rujukan utama umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan mereka dan terbukanya untuk interpretasi baru, merupakan motivasi tersendiri terhadap lahirnya usaha-usaha untuk menafsirkan dan menggali kandungan maknanya. Sejarah telah membuktikan bahwa upaya-upaya untuk menafsirkan alquran telah berlangsung sejak generasi-generasi Islam angkatan pertama hingga hari ini.
Kitab suci alquran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab, untuk memahami bahasa tersebut seseorang dituntut untuk mendalami bahasa di mana kitab suci diturunkan, dalam segala as-peknya, baik perkembangan dan tata aturan permainan yang diguna-kannya. Hal semacam ini tidak terlepas dari usaha memahami alquran secara utuh dan menyeluruh. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya penelusuran sejarah tentang berbagai upaya ulama dalam mengembangkan kaidah-kaidah penafsiran. Tujuannya adalah untuk mengetahui prosedur kerja para ulama tafsir dalam menafsirkan alquran sehingga penafsiran tersebut dapat digunakan secara fungsional oleh masyarakat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Kaidah-kaidah ini kemudian dapat digunakan sebagai referensi bagi pemikir Islam kontemporer untuk mengembangkan kaidah penafsiran yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Namun kaidah-kaidah penafsiran di sini tidak berperan sebagai alat justifikasi benar-salah terhadap suatu penafsiran alquran. Kaidah-kaidah ini lebih berfungsi sebagai pengawal metodologis agar tafsir yang dihasilkan bersifat obyektif dan ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan. Sebab produk tafsir pada dasarnya adalah produk pemikiran manusia yang dibatasi oleh ruang dan waktu.

B. Pengertian Qawa’id al-Tafsir
Menurut bahasa Qawa’id artinya kaidah-kaidah atau prinsip-prinsip dasar tafsir. Sedangkan yang dimaksud Qawaid Tafsir dalam hal ini ialah kaidah-kaidah yang diperlukan oleh para mufasir dalam memahami ayat-ayat Alquran. Kaidah-kaidah yang diperlukan para mufasir dalam memahami Alquran meliputi penghayatan uslub-uslubnya, pemahaman asal-asalnya, penguasaan rahasia-rahasianya dan kaidah-kaidah kebahasaan.
Istilah “tafsir“ adalah kata serapan dari bahasa Arab yang merujuk kepada derivasi kata “فسّر - يفسّر - تفسير “ yang secara etimologi berarti الشرح والبيان ( menerangkan dan menjelaskan) dan كشف المراد عن اللفظ المشكل ( menyingkap maksud dari lafaz yang sulit ).
Istilah tafsir dalam pengertian terminologi ditemukan berbagai defenisi. Al-Zarkasyi umpamanya mendefenisikannya sebagai ilmu yang dipergunakan untuk memahami alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan menjelaskan makna-maknannya serta mengeluarkan hukum-hukum dan hikmah-hikmahnya. Pengertian yang diketengahkan al-Zarkasy³ di atas, lebih cenderung memandang tafsir sebagai suatu ilmu.
Adapun Quraish Shihab mendefenisikan tafsir sebagai upaya pemahaman maksud dari firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Pengertian tersebut lebih menekankan proses pemahaman terhadap ayat-ayat Alquran. Sedangkan Ibrahim Ans et. al. mendefenisikannya sebagai kegiatan menjelaskan makna-makna Alquran dan menggali kandungannya, yang mencakup aspek aqidah, rahasia-rahasia, hikmah-hikmah dan hukum-hukum.
Dari keragaman defenisi tersebut, Abd. Muin Salim menyimpulkan bahwa istilah tafsir mencakup 4 (empat) konsep yaitu: 1) tafsir sebagai kegiatan ilmiah untuk memahami Alquran, 2) kegiatan ilmiah untuk menjelaskan kandungan Alquran 3) pengetahuan yang diperlukan untuk memahami Alquran dan 4) pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan memahami Alquran.
Kaidah-kaidah tafsir, dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah qawa’id al tafsir. Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah yang berarti undang-undang, peraturan dan asas. Secara istilah didefinisikan dengan undang-undang, sumber, dasar yang digunakan secara umum yang mencakup semua yang partikular. Secara istilah tafsir dapat diartikan sebagai alat atau ilmu pengetahuan dalam memahami petunjuk-petunjuk Alquran. Berdasarkan penjelasan tersebut, kaidah-kaidah tafsir dapat diartikan sebagai pedoman dasar yang digunakan secara umum guna mendapatkan pemahaman atas petunjuk-petunjuk Alquran.

C. Sejarah Lahirnya Qawa’id al-Tafsir
Perlu diketahui bahwa perkembangan studu Alquran ini telah melalui beberapa fase/masa perkembangan yang sejalan dengan perkembangan agama Islam. Di awali pada masa nabi Muhammad SAW. Dan kemudian diikuti oleh para sahabat terdekat (Khulafaurrasyidin) serta diperluas oleh tabi’i dan tabi’u at-tabi’in serta diteruskan oleh para ulama yang terbagi dalam beberapa fase yaitu :
a. Fase pertama (masa hidupnya Nabi SAW hingga abad 11 Hijrah)
Pada masa ini perkembangan studi Alquran sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya. Bahwa keadaan studi Alquran pada saat itu masih dalam perumusan yang dipelopori oleh para sahabat Nabi SAW. Diantara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan alquran adalah empat khulafaur rasyidin, Ibnu Ma’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Zubair, Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabri bin Abdullah, Abdullah bin Amr bin Ash dan ‘Aiysah ummul mukminin.

b. Fase kedua (abad III dan X Hijrah)
Setelah penaklukan Islam semakin meluas keluar dari Jazirah Arab, Pada era Khalifah Usman sahabat-sahabat besar diijinkan keluar dari kota Madinah untuk mengajarkan agama di daerah-daerah taklukan, maka para sahabat menyebar ke berbagai daerah dan mengembangkan madrasah di tempatnya masing-masing :
1) Di Mekkah berdiri perguruan Ibnu Abbas, diantara para tabi’in yang menjadi muridnya adalah : Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Tawus bin Kaisan Al-Yamani dan ‘Ata bin Abi Rabah.
2) Di Madinah Ubay bin Ka’ab lebih menonjol dibidang tafsir dari sahabat Nabi yang lain, diantara muridnya dikalangan tabi’in adalah : Zaid bin Aslam, Abu ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’ab al-Qurazi.
3) Di Kufah (Iraq) berdiri perguruan Ibnu Mas’ud, yang dipandang oleh para ulama sebagai cikal bakal mazhab ahli ra’y (akal). Tabi’in yang menjadi muridnya antara lain : ‘Alqamah bin Qais, Masruq, Al-Aswad bin Yazid, Murrah Al-Hamazani, ‘Amir Asy-Sya’bi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.
Pembukuan tafsir dimulai pada akhir pemerintahan Bani Umayyah dan awal pemerintahan Bani Abbasyah. Tokoh-tokoh yang terkemuka diantara mereka adalah : Yazid bin Harun as-Sulami (wafat 117 H), Syu’bah bin al-Hajjaj (wafat 160 H), Waki’ bin Jarrah (wafat 197 H), Sufyan bin Uyainah (wafat 198 H0, Rauh bin ‘Ubadah al-Basri (wafat 205 H), Aburrazaq bin Hammam (wafat 211 H), Adam bin Abu Iyas (wafat 220 H) dan ‘Abd bin Humaid (wafat 249 H). Kitab tafsir pembukuan pertama ini tidak ada yang sampai kepada kita. Yang kita terima hanyalah nukilan-nukilan pada kitab-kitab tafsir bil ma’sur periode sesudahnya.
Generasi berikutnya setelah periode pertama diatas menulis tafsir secara independen serta menjadikan ilmu tafsir yang berdiri sendiri dan terpisah dari hadits. Diantara mereka adalah : Ibn Majah (safat 273 H), Ibn Jarir at-Tabari (wafat 310 H), Abu Bakar bin Munzir an-Naisaburi (safat 318 H), Ibn Abi Hatim (wafat 327 H), Abusy Syaikh bin Hibban (safat 369 H0, Al-Hakim (safat 405 H) dan Abu Bakar bin Mardawaih (safat 410 H).
Pada masa ini, kajian studi quran sudah mulai berkembang yang ditandai dengan banyaknya ulama yang mengkhususkan kajian studi alquran pada satu pokok pembahasan, seperti pembahasan tentang asbabun nuzul, nasikh dan mansukh, gharibil quran dan ilmu-ilmu lainnya yang menyangkut tentang alquran. Tidak ketinggalan pembahasan terhadap tafsir alquran pada masa ini juga telah menjamur. Dengan meluasnya pengkajian terhadap studi alquran maka para ulama alquran pada saat itu bersepakat untuk menggabungkan seluruh kajian-kajian mereka dalam satu bentuk pembahasan yang dinamakan dengan Ulumul Quran.
c. Fase ketiga (abad XVI Hijrah / abad modern)
Setelah wafatnya Imam As-Syuyuthi (911 H), perkembangan studi Alquran mengalami kemundurun, yaitu dengan terhentinya gerakan penulisan Ulumul Quran. Baru setelah abad XVI Hijrah atau abad modern gerakan penulisan dan pengkajian tersebut muncul dan berkembang kembali. Hal ini ditandai dengan banyak bermunculan ulama yang mengarang Ulumul alquran dan menulis kitab-kitabnya, baik tafsir maupun macam-macam kitab Ulumul Quran lainnya.
Diantara para ulama yang menulis Tafsir / Ulumul Quran pada abad modern ini adalah sebagai berikut :
1) Ad-Dahlawi ; al- Fauzul Kabir fi Ushulit Tafsir
2) Thahir al-Jazari ; at-Thibyan Fi Ulumul Quran
3) Abu Daqiqah ; Ulumul Quran
4) M. Ali Slamah ; Minhaajul Furqan Fi Ulumul Quran
5) Muhammad Bahist ; Nuzulul Quran ‘ala Sab’ati Ahrufin.

Pengembangan kaidah-kaidah tafsir telah dilakukan oleh para ulama sejak awal munculnya ulum al-Qur’an. Di antaranya usaha yang dilakukan oleh Abd ar-Rahman ibn Nasir al-Sa’adi dalam kitabnya al-Qawaid al-Hisan li Tafsir al-Qur’an. Pembahasan tentang kaidah-kaidah tafsir juga dikaji secara mendalam dalam kitab-kitab ulum al-Qur’an yang lain , seperti oleh Manna al-Qattan dalam Mabahits Fi Ulum al-Qur’an. Namun dari berbagai kaidah yang disusun oleh para ulama ulum al-Qur’an tersebut tidak terdapat kesamaan konseptual antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang mengembangkan kaidah-kaidah secara umum melalui pendekatan pemahaman keagamaan secara umum seperti hukum dan tauhid, seperti yang dilakukan oleh Abd ar-Rahman ibn Nasir al-Sa’adi.
Namun demikian mereka berbeda-beda tingkat pemahamannya, sehingga apa yang tidak diketahui oleh seseorang diantara mereka boleh jadi diketahui oleh yang lain. Setelah masa Khulafaurrasyidin, maka muncullah ilmu-ilmu yang membahas tentang alquran yang dimunculkan oleh para tabi’in, pada sudut pandang (bahasan) yang beraneka ragam. Ada yang membahas tentang penafsiran ayat-ayat yang menghapus dan dihapus oleh ayat yang lain (ilm nasikh wal mansukh) dan lain sebagainya. Kemudian setelah itu datanglah masa pembukuan/penuliasan cabang-cabang ulumul quran. Adapun cabang ulumul quran yang pertama kali dibukukan adalah Tafsir Alquran. Sebab Tafsir Alquran ini dianggap sebagai induk dari ilmu-ilmu alquran lainnya.

D. Beberapa Kaidah dalam Qawa’id al-Tafsir
Kaidah dasar berkaitan dengan penggunaan sumber pokok dalam menafsirkan Alquran yang meliputi Alquran, hadis, penjelasan sahabat dan perkataan tabiin. Dalam kaidah dasar ini seorang mufasir pertama-tama harus kembali kepada alquran dengan meneliti secara cermat dalam rangka mengumpulkan ayat-ayat alquran tentang suatu pokok persoalan. Kemudian menghubungkan dan memperbandingkan kandungan ayat-ayat yang mengandung arti mujmal yang diperinci oleh ayat lain. Atau jika pada suatu ayat masalahnya disebut secara singkat, maka diperluas oleh ayat lain.
Bila mendapatkan hadis shahih, ia harus menafsirkan ayat berdasarkan hadis tersebut. Ia tidak dibenarkan untuk menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, dengan meninggalkan hadis tersebut. Selanjutnya, apabila terdapat penjelasan sahabat nabi untuk menafsirkan ayat alquran, ia harus menggunakan penjelasan tersebut sebagai dasar tafsirnya. Hanya saja mengingat banyak riwayat yang tidak benar dari sahabat, diperlukan kehati-hatian dan seleksi yang teliti. Ada beberapa macam Qawaid Tafsir, seperti :
1. Mantuq dan Mafhum
a. Mantuq adalah makna yang ditunjukkan oleh lafaz dalam pembicaraan atau penuturan.
b. Mafhum adalah makna yang dipahami bukan dari pembicaraan.

2. ‘Am dan Khash
a. ‘Am adalah lafaz yang memberi pengertian umum yang mencakup segala sesuatu yang termasuk dalam lingkungannya tanpa ada batasan dalam jumlah maupun dalam bilangan.
b. Khash adalah lafaz yang menunjuk kepada pengertian tertentu.

3. Mutlaq dan Muqayyad
a. Mutlaq adalah nas yang menunjuk kepada satu pengertian saja dengan tiada kaitannya pada ayat lain.
b. Muqayyad adalah nas yang menunjuk kepada satu pengertian, akan tetapi pengertian tersebut harus dikaitkan kepada adanya pengertian yang diberikan oleh ayat nas yang lain.

4. Mujmal dan Mubayyan
a. Mujmal adalah ayat yang menunjukkan kepada sesuatu pengertian yang tidak terang dan tidak rinci, atau dapat juga dikatakan sebagai suatu lafaz yang memerlukan penafsiran yang lebih jelas.
b. Mubayyan adalah suatu ayat yang diperoleh pada ayat yang lain.

5. Muhkam dan Mutasyabih
a. Muhkam adalah nas yang tidak memberikan keraguan lagi tentang apa yang
dimaksudkannya (nas yang sudah memberikan pengertian yang pasti).
b. Mutasyabih adalah nas yang mengandung pengertian yang samar-samar dan mempunyai kemungkinan beberapa arti.

Kaidah khusus yang dimaksudkan di sini adalah seperangkat ilmu pengetahuan yang dibutuhkan oleh seorang mufasir dalam menafsirkan alquran. Ilmu-ilmu tersebut meliputi ilmu bahasa Arab, nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’), ushul fiqh, dan ilmu qiraat. Ilmu bahasa (linguistik) berfungsi untuk mengetahui kosa kata, konotasi dan konteks alquran. Melalui ilmu nahwu (tata bahasa), seorang mufasir akan mengetahui bahwa sebuah makna akan berubah seiring dengan perubahan i’rab. Dengan ilmu sharah (konyugasi), seorang mufasir dapat melihat bentuk, asal dan pola (shighat) sebuah kata. Sementara kaidah isytiqaq (derivasi kata, etimologi) digunakan untuk mengetahui akar atau kata dasar dari suatu kata. Sebab, jika diambil dari kata dasar yang berbeda, sebuah kata akan memiliki makna yang berbeda pula. Ilmu balaghah berperan dalam membimbing mufasir untuk mengetahui karakteristik susunan sebuah ungkapan yang dilihat dari makna yang dihasilkannya atau retorika (ma’ani), perbedaan-perbedaan maksudnya (bayan) dan sisi-sisi keindahan sebuah ungkapan (badi’). Adapun ilmu ushul fiqih dapat membantu mufasir dalam mempelajari cara pengambilan dan perumusan dalil-dalil hukum. Sedangkan ilmu qiraat digunakan oleh mufasir untuk mengetahui cara-cara melafalkan alquran.
Berikut ini adalah kaidah penafsiran berdasarkan ilmu ilmu tersebut:
1) Kaidah ism dan fi’il.
2) Kaidah ta’rif dan tankir.
3) Kaidah istifham dan macam-macamnya.
4) Ma’ani al-huruf seperti ‘asa, la’alla, in, idza.
5) Kaidah su’al dan jawab.
6) Kaidah pengulangan.
7) Kaidah perintah sesudah larangan.
8) Kaidah penyebutan nama dalam kisab.
9) Kaidah penggunaan kata dan uslub alquran, dan lain-lain.

Telah disepakati oleh semua pihak, bahwa untuk memahami isi kandungan Alquran dibutuhkan pengetahuan Bahasa Arab. Dan untuk memahami arti suatu kata dalam rangkaian redaksi satu ayat, seseorang terlebih dahulu harus meneliti apa saja pengertian yang dikandung oleh kata tersebut. Kemudian menetapkan arti yang paling tepat setelah memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan ayat tadi. Dengan kata lain, bahwa seseorang yang ingin meneliti tentang ilmu-ilmu Alquran harus mengetahui betul tentang kaedah-kaedah bahasa Alquran itu sendiri dalam hal ini adalah Bahasa Arab, sehingga ia mampu memahami isi yang terkandung dalam ayat tersebut.
Mengkaji alquran dengan mempergunakan disiplin ilmu kebahasaan adalah sangat mungkin dan bahkan sangat penting digunakan, sebab alquran sendiri dalam menyampaikan pesan-pesan ilahiyah, mempergunakan bahasa sebagai mediumnya. Mengingat kajian tafsir merupakan suatu aktivitas yang terkait dengan upaya penggalian kandungan makna alquran, maka segala aspek makna dalam bahasa bisa dipergunakan sebagai pisau bedah. Aspek-aspek makna (semantik) yang bisa dijadikan pendekatan mencakup semantik gramatikal fungsional (analisa struktur fungsi-fungsi Qawaid/Nahwu), retorikal (aspek makna artistik/Balagah), semantik morfologis (susunan leksikal/saraf). Ilmu-ilmu yang harus dimiliki Mufassir:
a. Lughat Arabiyah
b. Undang-undang Bahasa Arab
c. Ilmu Ma’ani, Bayan dan Badi’
d. Dapat menentukan yang mubham, dapat menjelaskan yang mujmal dan dapat mengetahui sebab nuzul dan nasakh.
e. Mengetahui Ijmal, tabyin, umum, khusus, itlaq, taqyid, petunjuk suruhan dan larangan.
f. Ilmu kalam
g. Ilmu qiraat.

Sehubungan dengan pendekatan kebahasaan, al-Zamakhsyariy menegaskan bahwa seseorang yang mencoba melakukan penafsiran terhadap alquran tetapi tidak memiliki pengetahuan komprehensif tentang ilmu-ilmu kebahasaan (khususnya Balagah), tidak dapat menangkap esensi makna alquran dan hanya akan menangkap kulit luarnya saja. Karya tafsir yang cenderung didominasi oleh pendekatan kebahasaan antara lain Tafsir al-Kasysyaf karya al-Zamakhsyariy, Bar al-Mu karya Abu ayyan dan lain-lain, al-Jallain.
Para ulama telah meringkaskan syarat-syarat yang harus dimiliki setiap mufassir, antara lain sebagai berikut:
1. Akidah yang benar,
2. Bersih dari hawa nafsu
3. Menafsirkan lebih dahulu alquran dengan alquran
4. Mencari penafsiran dari sunnah
5. Apabila tidak didapatkan penafsiran dalam sunnah, hendaklah melihat bagaimana pendapat para sahabat.
6. Apabila tidak ditemukan juga penafsiran dalam alquran, sunnah dan pandangan para sahabat, maka sebagian besar ulama, dalam hal ini, merujuk kepada pendapat tabi’in.
7. Pengetahuan bahasa Arab yang baik, karena alquran diturunkan dalam bahasa arab.
8. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip ilmu yang berkaitan dengan alquran, seperti ilmu qira’at, sebab dengan ilmu ini dapat diketahui bagaimana cara mengucapkan (lafazh-lafazh) alquran.
9. Pemahaman yang cermat sehingga mufassir dapat mengukuhkan sesuatu makna yang lain atau menyimpulkan makna yang sejalan dengan nash-nash syari’at.












E. Kesimpulan
Tafsir yang dinukil dari Rasulullah dan para sahabat tidak mencakup semua ayat alquran. Mereka hanya menafsirkan bagian-bagian yang sulit difahami bagi orang-orang yang semasa dengan mereka. Kemudian kesulitan ini semakin meningkat secara bertahap disaat manusia bertambah jauh dari masa Nabi dan sahabat. Maka para tabi’in yang menekuni bidang tafsir merasa perlu dalam menyempurnakan sebagian kekurangan ini. Karenanya merekapun menambahkan kedalam tafsir keterangan-keterangan yang dapat menghilangkan kekurangan tersebut. Estela itu muncullah generasi sesudah tabi’in. Generasi inipun berusaha menyempurnakan tafsir alquran secara terus-menerus dengan berdasarkan pada pengetahuan mereka atas bahasa arab dan cara bertutur kata, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya alquran yang mereka pandang valid dan pada alat-alat pemahaman serta sarana pengkajian.
Kaidah tafsir dapat diartikan sebagai pedoman dasar yang digunakan secara umum guna mendapatkan pemahaman atas petunjuk-petunjuk alquran. Oleh karena penafsiran merupakan suatu aktivitas yang senantiasa berkembang, sesuai dengan perkembangan sosial, ilmu pengetahuan dan bahasa, kaidah-kaidah penafsiran akan lebih tepat jika dilihat sebagai suatu prosedur kerja. Dengan pengertian ini, kaidah tersebut tidak mengikat kepada mufasir lain agar menggunakan prosedur kerja yang sama. Setiap mufasir berhak menggunakan prosedur yang berbeda asalkan memiliki kerangka metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan dan dalam komponen ini mencakup:
a. Ketentuan-ketentuan yang harus diperhatikan dalam menafsirkan alquran.
b. Sistematika yang hendaknya ditempuh dalam menguraikan penafsiran.
c. Patokan-patokan khusus yang membantu pemahaman ayat-ayat alquran, baik dari ilmu-ilmu bantu seperti bahasa dan ushul fiqh, maupun yang ditarik langsung dari penggunaan alquran.






Daftar Pustaka

Adnan, Taufik Amal dan Samsu Rizal Panggabean, Tafir Kontekstual Al-Qur’an: Sebuah Kerangka Konseptual (Cet. IV; Bandung: Mizan, 1994).
Ash-Shiddieqy, M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an (Jakarta: Bulan Bintang, 1992).
Ans Ibrahim et. al., Al-Mu’jam al-Was, jilid II (Cet.II; Istambul: Maktabah al-Islamiyah, 1972).
al-Qasim Mahm Jarullah Abi ­d bin Umar al-Zamakhsyary, al-Kasysyaf ‘An Haqaiq Ghawami« al-Tanzil wa ‘Uy­n al-Aqawil fi Wuj­h al-Ta’wil, juz I (Cet. I; al-Riyad: Maktabah al-‘Abikan, 1998).
Al-Zarkasyi, Badruddin, al-Burhan Fi‘Ul­m al-Qur’an, jilid II (Mir: Maktabah al-Bab al-Halab, 1975).
Amanah, St, Pengantar Ilmu a-Quran & Tafsir, (Semarang: Asy-Syifa’), 1993.
Dahlan, Abd. Rahman, Kaidah-kaidah Penafsiran Al-qur’an. (Bandung: Mizan), 1997.
Muin Abd. Salim, Metodologi Tafsir: Sebuah Rekonstruksi Epistemologi Memantapkan Keberadaan Tafsir Sebagai Disiplin Ilmu “Orasi pengukuhan Guru Besar Tafsir pada IAIN Alauddin Ujungpandang” tanggal 28 April 1999.
Jamaluddin Muhammad Ibnu Mansur ibn Mukrim al-An¡or³, Lisan al-i’rab , jilid V (Mir: Dar al-Kitab al-’Arab, 1967).
Shihab Quraish, Membumikan al-Qur'an (Cet. XVII ; Bandung : Mizan, 1998).

No comments:

Post a Comment