Friday, April 1, 2011

Naquib Al-Attas

BAB II
RIWAYAT HIDUP NAQUIB AL-ATTAS


A. Kondisi Sosial dan Politik sebelum dan sesudah kelahiran al-Attas
Kondisi sosial dan politik sebelum dan sesudah kelahiran al-Attas tidak bisa dilepaskan dari dua kawasan di mana al-Attas lahir, besar dan berkembang menjadi seorang sosok yang mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang paling tidak mempunyai pengaruh besar terhadap dua kawasan, yaitu di Bogor (Jawa Barat) dan semenanjung Malaysia. Al-Attas yang lahir dan menempuh masa kecil di Bogor telah ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat dari keluarganya yang masih termasuk golongan bangsawan Sunda. Sementara masa remajanya ia habiskan bersama keluarganya di Johor dan ia mendapatkan pendidikan dalam bidang bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu hingga akhirnya menetap di sana. Ia lahir pada tahun 1931 di Bogor di mana pada saat itu, baik di Pulau Jawa maupun di semenanjung Malaysia masih berada dalam kekuasaan kolonial Belanda dan Inggris. Oleh sebab itu, untuk dapat mengetahui sosok al-Attas secara utuh harus dilihat situasi dan kondisi pra dan pasca kelahiran al-Attas serta hal-hal yang mempengaruhi perkembangan jiwa dan pemikirannya di kemudian hari.
Pada pertengahan abad ke-19, Belanda dan Inggris telah mengukuhkan kekuasaan mereka di wilayah Indonesia dan semenanjung Melayu. Umat Islam di wilayah ini belum merupakan bagian dari kesatuan imperium dan budaya, melainkan mereka terbagi dalam banyak etnik dan bahasa. Baru pada akhir abad ke-19 dominasi Belanda dan Inggris goyah akibat munculnya kesadaran dari anak negeri untuk menentang imperialisme. Munculnya perlawanan dari kelompok ulama, guru-guru sufi, elit politik dan intelektual-intelektual muda secara radikal bangkit untuk menuntut masa depan masyarakat Indonesia-Malaysia.
Di kawasan semenanjung Melayu, setelah kekuasaan Portugis berangsur-angsur hilang di wilayah selat Malaka, Inggris mulai masuk dan ikut ambil pengaruh pada akhir abad ke-18. Campur tangan Inggris di tanah melayu bermula dengan pengambilan pulau Pinang (1786), Singapura (1819) dan Malaka (1824). Sebenarnya kepentingan utama Inggris di semenanjung Melayu adalah untuk memperoleh otoritas dalam memonopoli perdagangan timah, emas dan rempah-rempah serta untuk menguasai lalu lintas jalur perdagangan timur dan barat. Dengan perjanjian London 1824, Inggris dan Belanda bersepakat membagi wilayah Kesultanan Johor dan Riau serta negeri-negeri selat menjadi dua. Kawasan utara Selat Malaka akan dijadikan daerah tanah jajahan Inggris (British Crown Colony), sementara kawasan selatan Selat Malaka akan diambil alih oleh Belanda.
Pada tahun 1826, Inggris membentuk pemukiman Selat (Straits Settlements) dan kawasan tanah jajahan (British Crown Colony) dan sedikit demi sedikit menyebarkan pengaruhnya di seluruh semenanjung melayu. Pada 1867, Inggris menjadi semakin agresif dan mulai merebut negeri-negeri Melayu lainnya. Akibat perang saudara dan berbagai masalah intern yang menimpa kerajaan-kerajaan di semenanjung Melayu, akhirnya mereka terpaksa memilih Inggris untuk menyelesaikan masalah-masalah penduduk Negeri Selat yang ketika itu telah didiami oleh etnis China dan India. Akhirnya, Perjanjian Pangkor ditandatangani yang mengakibatkan perluasan kekuasaan Inggris ke negeri-negeri Melayu yaitu Perak, Pahang, Selangor dan Negeri Sembilan yang juga dikenal sebagai Negeri-negeri Bersekutu.
Di bawah kolonial Inggris, kehidupan masyarakat melayu yang terdiri dari kesultanan-kesultanan terus berlanjut, tetapi pemerintah Inggris berupaya untuk mengatur dan setidaknya membatasi beberapa aspek penting dalam administrasi dan praktik hukum Islam. Penguasa kolonial secara bertahap telah mengikis peran para penduduk asli dalam bidang politik dan ekonomi. Pengenalan pada administrasi modern dan sistem hukum kolonial yang dalam beberapa hal bertujuan untuk melindungi kepentingan kaum kolonial, telah merugikan pihak pribumi. Sekularisasi dalam bidang administrasi yang memisahkan agama dan bahkan kebudayaan dari politik telah merusak tatanan politik tradisional yang sama sekali tidak mengenal pemisahan yang demikian.
Sebagian besar masyarakat pribumi berusaha menjauhi hal-hal yang menurut ajaran agama merupakan perbuatan rendah. Hal ini membantu mereka tetap memiliki kebanggaan dan rasa percaya diri sebagai muslim dan mempertebal kepercayaan mereka meskipun mereka tidak lagi merdeka dalam bidang ekonomi dan politik, namun di bidang spiritual mereka masih merdeka; namun kemudian ada juga efek negatifnya. Isi ajaran yang mereka terima cenderung statis dan menekankan aspek ritual. Pemisahan agama dari politik yang mengakibatkan berkurangnya kegiatan-kegiatan politik mengkin menjadi penyebab keadaan ini.
Dalam bidang pendidikan, Pihak Inggris tidak mau menghamburkan uangnya untuk tujuan perkembangan pendidikan, baik di semenanjung maupun di Negeri Sabah dan Serawak. Sekolah-sekolah yang berkualitas dibangun hanya untuk anak-anak bangsawan melayu, Cina dan India saja. Inggris pada awalnya sama sekali tidak berhasrat memajukan pendidikan semasa memerintah tanah Melayu. Mereka berpendapat bahwa pendidikan, khususnya untuk orang Melayu sama sekali tidak membawa manfaat, tetapi sebaliknya akan menimbulkan kesadaran pada golongan terdidik untuk menentang kolonial Inggris. Tetapi atas desakan pembesar-pembesar Melayu khususnya dari kalangan sultan yang berkuasa, pihak Inggris akhirnya mau mendirikan pendidikan rendah untuk orang Melayu. Dengan demikian, sekolah-sekolah rendah Melayu didirikan pada pertengahan abad ke-19 sampai menjelang Perang Dunia kedua.
Penjajahan Jepang ke wilayah Indonesia dan semenanjung Melayu pada Perang Dunia II dan kebangkitan komunis, membuat dukungan untuk kemerdekaan semakin kuat khususnya dari masyarakat Melayu Muslim. Pada saat Inggris menginginkan pembentukan Uni-Malaya setelah berakhirnya perang, masyarakat Melayu bangun menentang dan menginginkan sistem yang pro-Melayu, menolak masuknya Singapura dan meminta sistem kewarganegaraan tunggal (berbanding dwi-warganegara yang mengizinkan kaum pendatang mendapat status warganegara Malaya dan negara asal mereka). Kemerdekaan untuk semenanjung diperoleh pada 1957 di bawah nama Persekutuan Malaya, tanpa Singapura.
Sementara di Indonesia, reaksi paling awal terhadap konsolidasi pemerintah Belanda berasal dari kalangan Muslim. Di pulau Jawa khususnya, aristokrasi telah terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama berasal dari golongan priyayi yang memerintah dan terkondisikan oleh nilai-nilai Jawa. Sedangkan yang kedua berasal dari para kiyai yang mewakili komunitas yang setia terhadap keyakinan agama Islam. Dengan masuknya kelompok priyayi ke dalam pemerintahan kolonial Belanda, kiyai menjadi satu-satunya perwakilan masyarakat yang independen. Lebih jauh, pelaksanaan haji ke Mekkah dan pengembaraan studi agama yang luas di tanah Arab telah mengantarkan kontak Muslim Indonesia dan Melayu dengan ajaran-ajaran reformis, meningkatkan kesadaran mereka terhadap identitas Muslim, dan menjadikan mereka mengenal perlawanan dunia Muslim terhadap kolonialisme Eropa.
Pemukiman orang Arab dipandang penting pada masa ini. Ditambah lagi bahwa Al-Attas merupakan keturunan Sayy³d yang bersambung sampai kepada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad saw. Orang-orang Arab yang tinggal di Indonesia hampir semuanya berasal dari Hadramaut dan hanya sebagian kecil yang berasal dari daerah lain. Mereka memiliki prestise yang cukup tinggi dan mereka sangat dihormati lantaran ketulusan dalam menjalankan ajaran agama. Dalam bidang keagamaan, kelompok ini membangun masjid, mengorganisir sejumlah perayaan, dan berusaha mempertahankan bahasa Arab dan sofistikasi kebudayaan Muslim.
Kedudukan masyarakat Arab di Indonesia tidak dapat disamakan dengan kedudukan orang-orang asing lain, seperti orang-orang Cina dan orang-orang Eropa yang pada umumnya memang tetap merupakan orang-orang asing bagi kalangan Indonesia. Orang-orang Arab ini bukan saja beragama Islam yang menyebabkan mereka dekat dengan orang-orang Indonesia, tetapi umumnya mereka juga adalah orang-orang yang berasal dari ibu-ibu Indonesia, berbicara dengan bahasa ibu-ibu mereka, kadang-kadang tanpa mengetahui bahasa Arab. Mereka juga mempunyai kebiasaan-kebiasaan Indonesia, terutama mereka yang bukan golongan Sayy³d.
Orang-orang Arab yang datang ke Indonesia pada umumya berasal dari Hadramaut untuk mencari nafkah hidup. Umumnya mereka tidak membawa istri mereka bersama-sama, ataupun mereka terdiri dari anak-anak muda yang masih bujangan dan oleh sebab itu mudah menikah dengan wanita Indonesia. Walaupun umumnya mereka senang berada di Indonesia, banyak di antara mereka yang mengirimkan anak-anak mereka kembali ke negeri asal mereka untuk memperoleh pendidikan. Anak-anak ini kemudian kembali pula ke Indonesia seperti yang telah dilakukan oleh ayah-ayah mereka dan lagi-lagi dengan memperistri wanita-wanita Indonesia.
Sebagai orang-orang Arab, mereka masih mempunyai minat terhadap perkembangan negeri-negeri Arab, sekurang-kurangnya mereka ingin mengetahui apa yang terjadi di negeri-negeri tersebut. Untuk keperluan ini mereka berlangganan bermacam-macam harian dan majalah yang diterbitkan di berbagai kota di Timur Tengah seperti Kairo dan Beirut, ataupun mereka menerima majalah-majalah ini dari teman-teman mereka di Singapura atau di negeri-negeri Arab sendiri yang dikirimkan melalui pos atau sesekali dibawa langsung ke Indonesia dalam kunjungan-kunjungan singkat. Yang terpenting di antara penerbitan ini ialah al-urwat al-wusqa yang diterbitkan di Paris pada tahun 1884 oleh kedua pembaharu, Jamal al-Din al-Afghani dan Muhammad Abduh.
Masyarakat Arab di Indonesia ketika itu mencerminkan ciri-ciri yang sama dengan masyarakat Hadramaut. Bergantung pada darah keturunan, mereka terbagi menjadi golongan Sayy³d dan bukan Sayy³d. Di samping itu, mereka terbagi pula menjadi golongan bergantung kepada apakah mereka termasuk golongan yang berkuasa atau tidak. Golongan Sayy³d menikmati kedudukan yang tinggi dalam masyarakat dan terutama berhadapan dengan orang-orang Indonesia, mereka menuntut kedudukan yang lebih tinggi dalam kacamata agama sungguhpun ibu-ibu mereka bukan Sayy³d, malahan bukan orang Arab.
Orang Arab, peranakan Jawa dan orang Melayu juga mensponsori penyebaran reformisme Islam dan tarekat Naqsabandiyah dan Qadiriyah yang berasal dari Mekkah dan Kairo. Mereka berjasa dalam pengembangan sebuah kesadaran keagamaan Muslim kosmopolitan yang tidak lagi terikat pada lokalitas yang bersifat partikular melainkan terikat pada sebuah komunitas dunia Muslim dan unsur regional yang lebih besar. Di beberapa kota pelabuhan, Islam bukanlah agama komunitas bagi perkampungan melainkan agama bagi para individu yang terus bergerak dan menyatu dalam jaringan asosiasi internasional.
Pendudukan Jepang (1942-1945) memberikan dukungan yang sangat besar kepada kelompok Muslim Indonesia. Jepang menghancurkan kelompok aristokrasi lama, dan secara cepat membawa pergerakan Muslim ke dalam penguasaan mereka. Pada tahun 1943 jepang mendirikan masyumi untuk menyatukan dan mengkoordinir seluruh pergerakan Muslim. Sebuah koalisi Muslim yang terdiri dari kelas pedagang menengah, petani yang kaya raya, dan ulama-ulama yang dimaksudkan untuk memobilisir kerjasama dengan pihak Jepang.
Naquib Al-Attas, walaupun tidak merasakan secara langsung penindasan-penindasan yang dilakukan oleh kolonialisme, namun ikut merasakan semangat yang kuat dalam memerdekakan bangsanya dari segala bentuk penjajahan. Ketika di bogor, ia mendapat pendidikan yang kuat dalam bidang keislaman yang sedikit-banyaknya mempengaruhi dirinya dalam menyikapi segala bentuk penjajahan atas negerinya. Pada usia muda, ia memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan (Resimen Melayu) dalam upaya mengusir penjajahan Jepang. Namun ia tidak lama berada di sini. Dengan bakat dan kemampuannya dalam bidang intelektual ia akhirnya keluar secara sukarela dari kemiliteran dan melanjutkan pendidikannya di Universitas Malaya pada tahun 1957.

B. Latar Belakang Kehidupan dan Pendidikan
Naquib al-Attas, mempunyai nama panjang Syed Muhammad al Naquib ibn Ali ibn Abdullah ibn Muhsin al-Attas dilahirkan di Bogor, Jawa Barat pada 5 September 1931. Bila dilihat garis keturunannya, al-Attas termasuk orang yang beruntung secara interen. Sebab dari kedua belah pihak, baik ayah maupun ibu merupakan orang yang berdarah bangsawan dan berasal dalam lingkup keluarga yang memiliki keagamaan yang kuat. Gelar “Syed” yang berasal dari kata “Sayy³d” yang diletakkan pada namanya, di dalam tradisi Islam merupakan gelar yang menunjukkan garis keturunan langsung sampai kepada Imam Hussein, cucu dari Nabi Muhammad saw.
Dari pihak ayah, kakek Naquib al-Attas yang bernama Syed Abdullah ibn Muhsin ibn Muhammad al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Arab. Neneknya, Ruqayah Hanum, adalah wanita Turki keturunan bangsawan yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik Sultan Johor. Setelah Ungku Abdul Majid meninggal dunia, Ruqayah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Syed Abdullah al-Attas dan dikaruniai seorang anak, Syed Ali al-Attas, yaitu bapak Naquib al-Attas.
Ibunya yang bernama Syarifah Raquan Al’Aydarus berasal dari Bogor dan masih keturunan keluarga raja Sunda di Sukapura, Jawa Barat. Di antara leluhur ibunya ada yang menjadi wali dan ulama. Salah seorang di antara mereka adalah Syed Muhammad Al-‘Aydarus, guru dan pembimbing ruhani Syed Abu Hafs ‘Umar ba Syaiban dari Hadramaut, yang mengantarkan Nur Al-Din Al-Raniri, salah seorang alim ulama terkemuka di dunia Melayu, ke tarekat Rifa’iyyah.
Naquib al-Attas adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Yang sulung bernama Syed Hussein al-Attas, seorang ahli sosiologi dan mantan wakil rektor Universitas Malaya, sedangkan yang bungsu bernama Syed Ali al-Attas merupakan seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut Teknologi MARA Malaysia.
Melihat garis keturunan di atas, bisa dikatakan bahwa al-Attas merupakan “bibit unggul” dalam percaturan perkembangan intelektual Islam di Indonesia dan Malaysia. Faktor intern keluarga al-Attas inilah yang selanjutnya membentuk karakter dasar dalam dirinya. Bimbingan orang tua dalam lima tahun pertama merupakan penanaman sifat dasar bagi kelanjutan hidupnya. Orang tuanya yang sangat religius memberikan pendidikan dasar yang sangat kuat. Dari keluarganya yang terdapat di Bogor, dia memperoleh pendidikan dalam ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di Johor, dia memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu.
Ketika berusia lima tahun, al-Attas dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Heng Primary School sampai ia berusia 10 tahun. Disana, dia tinggal dengan pamannya, Ahmad, kemudian dengan bibinya, Azizah, keduanya adalah anak Ruqayah Hanum dari suaminya yang pertama. Dato’ Jaafar ibn Haji Muhammad (w. 1919), Kepala Menteri Johor Modern yang pertama. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan yakni ketika Jepang menguasai Malaysia, maka al-Attas kembali lagi ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Urwah al-wusqa, Sukabumi (1941-1945), sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Setelah Perang Dunia II pada 1946, al-Attas kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zahrah School kemudian di English College (1946-1951). Pada masa ini, dia tinggal dengan salah seorang pamannya yang bernama Ungku Abul Aziz, keponakan Sultan yang kelak menjadi Kepala Menteri Johor. Ungku Abdul Aziz memiliki perpustakaan manuskrip Melayu yang bagus, terutama manuskrip sastra dan sejarah Melayu.
Sewaktu tinggal di rumah pamannya al-Attas banyak menghabiskan masa mudanya dengan membaca dan mendalami manuskrip-manuskrip sejarah, sastra, dan agama, serta buku-buku klasik Barat dalam bahasa Inggris yang tersedia di perpustakaan keluarganya yang lain. Lingkungan keluarga berpendidikan dan bahan-bahan bacaan seperti inilah yang menjadi faktor pendukung yang memungkinkan al-Attas mengembangkan gaya bahasa yang baik, yang kelak mempengaruhi gaya tulisan dan tutur bahasanya.
Keterlibatan al-Attas dengan sejumlah manuskrip pada masa remaja memiliki kesan yang sangat mendalam dalam hidupnya. Sampai sekarang, dia masih memiliki koleksi manuskrip pribadi dalam bahasa Melayu dan Arab yang tidak tertera dalam katalog-katalog manuskrip Melayu yang ada. Di antara manuskrip yang dimilikinya adalah Ris±lah al-A¥±diyyah, juga dikenal dengan judul Risalah al-Ajwibah, yang sering disebut sebagai karya tulis Ibn ‘Arabî atau muridnya yang bernama ‘Abdull±h al-Baly±n³; al-Tu¥fat al-Mursalah ila al-Nab³, karya Fa«l Allah al-Burh±np­r³; dan sejumlah karya lainnya yang ditulis oleh Wali Raslan al-Dimasyq³. Manuskrip karya al-Burh±np­r³ yang ditulis dalam bahasa Melayu itu dianggap telah hilang dan satu-satunya duplikat yang ada mengenai karya ini adalah terjemahan bahasa Jawa.
Setelah pamannya pensiun, al-Attas tinggal dengan pamannya yang lain. Dato’ Onn ibn Dato’ Jaafar (Kepala Menter Johor Modern Ketujuh), sampai menyelesaikan pendidikan tingkat menengah. Dato’ Onn adalah salah seorang tokoh nasionalis, pendiri sekaligus Presiden Pertama UMNO (United Malay National Organization), yaitu partai politik yang menjadi tulang punggung kerajaan Malaysia sejak Malaysia dimerdekakan oleh Inggris.
Setelah menamatkan sekolah menengah pada tahun 1951, Al-Attas memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan (Resimen Melayu) dalam upaya mengusir penjajahan Jepang. Dalam bidang militer ini, Al-Attas menunjukkan kecermelangannya sehingga ia dipilih oleh Jenderal Sir Gerald Templer, ketika itu menjabat sebagai British High Commissioner di Malaya, untuk mengikuti pendidikan militer, pertama di Eton Hall, Chester, Wales, kemudian di Royal Military Academy, Sandhurst, Inggris (1952-1955). Pangkat terakhir yang diraihnya di dunia militer adalah letnan.
Selain mengikuti pendidikan militer, al-Attas juga sering pergi ke negara-negara Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Di Afrika Utara pulalah dia berjumpa dengan sejumlah pemimpin Maroko yang sedang berjuang merebut kembali kemerdekaan mereka dari tangan Perancis dan Spanyol, seperti Alal al-Fasi, Al-Mahdi Bennouna, dan Sidi Abdallah Gannoun Al-Hasani. Di Sandhurst pula al-Attas berkenalan untuk yang pertama kalinya dengan pandangan metafisika tasawuf, terutama dari karya-karya Jami’ yang tersedia di perpustakaan kampus. Tidak pelak lagi bahwa pengalaman yang seperti ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri Al-Attas.
Setamatnya dari Sandrust, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor di resimen tentara kerajaan Malaya, Federasi Malaya, yang ketika itu sibuk menghadapi serangan komunis yang bersarang di hutan. Namun, dia tidak lama disini. Minatnya yang kuat untuk mengembangkan potensi dasarnya dalam bidang intelektual dan menggeluti dunia ilmu pengetahuan mendorongnya untuk berhenti secara sukarela dari kepegawaiannya kemudian membawanya ke Universitas Malaya, ketika itu di Singapura pada 1957-1959 selama dua tahun.
Berkat kecerdasan dan ketekunannya, ketika masih mengambil program S1 di Universitas Malaya, Al-Attas sempat menulis dua buah buku. Buku yang pertama adalah Rangkaian Ruba’iyat dan buku kedua yang sekarang menjadi karya klasik yaitu Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays. Selama menulis buku yang terakhir ini dan demi memperoleh bahan-bahan yang diperlukan, Al-Attas pergi menjelajah ke seluruh negeri Malaysia dan menjumpai tokoh-tokoh penting sufi agar bisa mengetahui ajaran dan praktik tasawuf mereka.
Sedemikian berharganya buku yang kedua ini sehingga pada 1959 pemerintahan Kanada, melalui Canada Council Fellowship, memberinya beasiswa selama tiga tahun, untuk belajar di Institue of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, yang didirikan Wilfred Cantwell Smith. Di sinilah dia berkenalan dengan beberapa orang sarjana yang terkenal, seperti Sir Hamilton Gibb (Inggris), Fazlur Rahman (Pakistan), Toshihiko Izutsu (Jepang), dan Seyyed Hossein Nasr (Iran). Dalam waktu yang relatif singkat, yakni 1959-1962, al-Attas berhasil meraih gelar M.A. setelah tesisnya yang berjudul Rânîrî and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, lulus dengan nilai yang memuaskan. Dia sangat tertarik dengan praktek sufi yang berkembang di Indonesia dan Malaysia, sehingga cukup wajar bila tesis yang diangkat adalah Wujudiyyah al-Rânîrî. Salah satu alasannya adalah dia ingin membuktikan bahwa islamisasi yang berkembang di kawasan tersebut bukan dilaksanakan oleh kolonial Belanda, melainkan murni dari upaya umat Islam itu sendiri.
Belum puas dengan pengembaraan intelektualnya, al-Attas kemudian melanjutkan studi ke School of Oriental and Africans Studies di Universitas London. Di sini, dia bertemu dengan Martin Lings, seorang Profesor asal Inggris yang mempunyai pengaruh besar dalam diri al-Attas, walaupun itu terbatas pada tataran metodologis. Selama lebih kurang dua tahun (1963-1965), dengan bimbingan Lings, al-Attas menyelesaikan perkuliahan dan mempertahankan disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri. Disertasi ini termasuk salah satu karya akademik yang penting dan komprehensif mengenai Hamzah Fansuri, sufi terbesar atau bahkan mungkin yang sangat kontroversial di dunia Melayu.
Salah satu pengaruh yang besar dari Martin Lings terhadap al-Attas adalah asumsi yang mengatakan bahwa terdapat integritas antara realitas metafisis, kosmologis dan psikologis. Asumsi dasar inilah yang pada perkembangan selanjutnya dikembangkan oleh Sayyed Hossein Nasr, Osman Bakar dan al-Attas sendiri.



C. Kegiatan dan Karier
Pada tahun 1965 al-Attas kembali ke Malaysia. Pada masa itu, dia mulai memasuki tahap pengabdian kepada Islam dan pengamalan atas ilmu yang telah diperolehnya di Barat. Ketika itu dia termasuk di antara sedikit orang Malaysia pertama yang memperoleh gelar Doctor of Philosophy yang mendapatkannya dari Universitas London. Al-Attas kemudian dilantik menjadi Ketua Jurusan Sastra di Fakultas Kajian Melayu Universitas Malaya dari 1968 hingga 1970, dia menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra di kampus yang sama.
Pada 1970, dalam kapasitasnya sebagai salah seorang Pendiri Senior UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia), al-Attas berusaha mengganti pemakaian bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di UKM dengan bahasa Melayu. Dia juga ikut mengonseptualisasikan dasar-dasar filsafat UKM dan memelopori pendirikan fakultas ilmu dan kajian Islam. Pada tahun yang sama dan dalam kapasitasnya sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Melayu, al-Attas mengajukan konsep dan metode baru kajian bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu yang bisa digunakan untuk mengkaji peranan dan pengaruh Islam serta hubungannya dengan bahasa dan kebudayaan lokal dan internasional dengan cara yang lebih baik. Untuk merealisasikan rencana ini, pada 1973 dia mendirikan dan mengepalai IBKKM (Institut Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan Melayu) di UKM.
Naquib Al-Attas adalah seorang pakar yang menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, filsafat, dan metafisika, sejarah, dan sastra. Dia juga seorang penulis yang produktif dan otoritatif, yang telah memberikan beberapa kontribusi baru dalam disiplin keislaman dan peradaban Melayu. Dia dikaruniai beberapa keahlian yang lain seperti dalam bidang kaligrafi. Dalam bidang ini, Al-Attas pernah mengadakan pameran kaligrafi di Museum Tropen, Amsterdam, pada 1954. dia juga telah memublikasikan tiga kaligrafi basmallah-nya yang ditulis dalam bentuk burung pekakak (1970), ayam jago (1972), ikan (1980) dalam beberapa buah bukunya.
Al-Attas sering mendapatkan penghargaan internasional, baik dari para orientalis maupun dari para pakar peradaban Islam dan Melayu. Misalnya, Al-Attas pernah dipercaya untuk memimpin diskusi panel mengenai Islam di Asia Tenggara pada Congres International des Orientalistes yang ke–29 di Paris pada 1973. pada 1975, atas kontribusinya dalam perbandingan filsafat, dia dilantik sebagai anggota Imperial Iranian Academy of Philosophy , sebuah lembaga yang anggotanya, antara lain terdiri dari beberapa orang profesor yang terkenal, seperti Henry Corbin, Seyyed Hossein Nasr, dan Toshihiko Izutsu. Dia pun pernah menjadi konsultan utama penyelenggaraan Festival Islam Internasional (World of Islam Festival) yang diadakan di London pada 1976, sekaligus menjadi pembicara dan urusan dalam Konferensi Islam Internasional (International Islamic Conference) yang diadakan secara bersamaan di tempat yang sama.
Al-Attas juga menjadi pembicara dan peserta yang aktif dalam Konferensi Dunia Pertama mengenai Pendidikan Islam (First World Conference on Islamic Education) yang dilangsungkan di Makkah pada 1977 dan dia ditunjuk untuk memimpin komite yang membahas tujuan dan definisi pendidikan Islam. Dari 1976-1977, dia menjadi Profesor Tamu (Visiting Professor) untuk studi Islam di Universitas Temple, Philadelphia. Pada 1978, dia diminta UNESCO untuk memimpin pertemuan para ahli sejarah Islam yang diselenggarakan di Aleppo, Suriah. Setahun kemudian, dia mendapat anugerah Medali Seratus Tahun Meninggalnya Sir Muhammad Iqbal (Iqbal Centenary Commemorative Medal) dari Presiden Pakistan, Jenderal Muhammad Ziaul Haq. Al-Attas telah menghadiri dan memimpin sesi-sesi penting dalam pelbagai kongres internasional, baik yang diselenggarakan oleh UNESCO maupun oleh badan-badan akademi yang lain.
Di Malaysia posisi dan peranan Al-Attas sebagai seorang pakar yang andal tidak perlu diragunakan lagi. Dari 1970-1984, dia dipilih menjadi Ketua Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Melayu di Universitas Kebangsaan Malaysia. Dia juga pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Tun Abdul Razak untuk Studi Asia Tenggara (Tun Abdul Razak Chair of Southeast Asian Studies). Di Universitas Ohio, Amerika, untuk periode 1980-1982. Al-Attas adalah pendiri sekaligus Rektor ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), Malaysia sejak 1987.
Dia telah menyampaikan lebih dari 400 makalah ilmiah di negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan pelbagai negara Islam lainnya. Sebagai penghargaan atas pelbagai kontribusinya yang menyeluruh dalam pemikiran Islam Kontemporer, pada 1993, Dato’ Seri Anwar Ibrahim dalam kapasitasnya sebagai Presiden ISTAC dan Presiden Universitas Islam Malaysia Internasional (International Islamic University Malaysia) menunjuk Al-Attas sebagai Pemegang Pertama Kursi Kehormatan Abu Hamid Al-Ghazali dalam Studi Pemikiran Islam (Abu Hamid Al-Ghazali Chair of Islamic Thought) di ISTAC. Raja Hussein dari Yordania mengangkatnya sebagai anggota Royal Academy of Jordan pada 1994, sedangkan Universitas Khartoum menganugerahi gelar doktor kehormatan (D. Litt.) di bidang seni kepadanya pada Juni 1995.
Perjuangan dan aktivitas Al-Attas di berbagai institusi pendidikan tinggi yang terdapat di Malaysia – sebuah negara multi-agama, tetapi didominasi oleh umat Islam yang sekarang sedang mengalami perubahan sosial-ekonomi yang cepat – tidak hanya memberinya peluang untuk memahami dengan jelas isu-isu fundamental yang mendasari permasalahan-permasalahan kompleks yang sekarang sedang menghadang umat Islam, tetapi juga mencarikan solusi yang tepat bagi permasalahan-permasalahan tersebut.


D. Karya-karya dan sumbangan Al-Attas dalam khazanah keilmuan Islam

Al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, dan telah menyampaikan lebih dari 400 makalah ilmiah di negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan berbagai negara Islam lainnya baik dalam bahasa Inggris maupun Melayu yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Indonesia, Perancis, Jerman, Rusia, Bosnia, Jepang, India, Korea, dan Albania. Karya-karyanya tersebut, antara lain adalah:
a. Rangkaian Ruba’iyat, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, 1959.
b. Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays, Malaysian Sociological Research Institute, Singapura, 1963.
c. Rânîrî and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, Monograph of the Royal Asiatic Society, Cabang Malaysia, No. 111, Singapura, 1966.
d. The Origin of the Malay Sya’îr, DBP, Kuala Lumpur, 1968.
e. Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesian Archipelago, DBP, Kuala Lumpur, 1969.
f. The Mysticism of Hamzah Fanshuri, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970.
g. Concluding Postscript to the Origin of the Malay Sya’ir, DBP, Kuala Lumpur, 1971
h. The Correct Date of the Terengganu Inscription, Museums Department, Kuala Lumpur, 1972.
i. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Sebagaian isi buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Prancis. Buku ini juga telah hadir dalam versi bahasa Indonesia.
j. Risalah untuk Kaum Muslimin, monograf yang belum diterbitkan, 286 h., ditulis antara Februari-Maret 1973. (Buku ini kemudian diterbitkan di Kuala Lumpur oleh ISTAC pada 2001 – penerj.)
k. Comments on the Re-examinitaion of Al-Rânîrî’s Hujjat Al-Shiddiq A Refutation, Museums Department, Kuala Lumpur, 1975.
l. Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Kuala Lumpur, 1976. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, Jepang, dan Turki.
m. Islam: Paham Agama dan Asas Akhlak, ABIM, Kuala Lumpur, 1977. Versi bahasa Melayu buku no. 12 di atas.
n. Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur, 1978. Diterjemahkan ke dalam bahasa Malayalam, India, Persia, Urdu, Indonesia, Turki, Arab, dan Rusia.
o. (Ed.) Aims and Objectives of Islamic Education: Islamic Education Series, Hodder and Stoughton dan King Abdulaziz University London: 1979. Diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.
p. The Concept of Education in Islam, ABIM, Kuala Lumpur, 1980. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Persia dan Arab.
q. Islam, Secularism, and The Philosophy of the FutureI, Mansell, London dan New York, 1985.
r. A commentaryu on the Hujjat Al-Shiddiqof Nur Al-Din Al-Raniri, Kementerian Kebudayaan, Kuala Lumpur, 1986.
s. The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the ‘Aqa’îd of Al-Nasafî, Dept. Penerbitan Universitas Malaya, Kuala Lumpur, 1988.
t. Islam and the Philosophy of Science, ISTAC, Kuala Lumpur, 1989. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Bosnia, Persia, dan Turki.
u. The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
v. The Intuition of Existence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
w. On Quiddity and Essence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
x. The Meaning and Experience of Happiness in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1993. Diterjemahkan ke dalam bahasa Aran, Turki, dan Jerman.
y. The Degrees of Existance, ISTAC, Kuala Lumpur, 1994. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia.
z. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1995. Diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.
Artikel
Daftar artikel berikut ini tidak termasuk rekaman ceramah-ceramah ilmiah yang telah disampaikannya di depan publik. Berjumlah lebih dari 400 dan disampaikan di Malaysia dan luar negeri antara pertengahan 1960-1970, di antaranya adalah:
1. “Note on the Opening of Relations between Malaka dan Cina, 1403-5”, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (JMBRAS), vol. 38, pt. 1, Singapura, 1965.
2. “Islamic Culture in Malaysia”, Malaysian Society of Orientalists, Kuala Lumpur, 1966.
3. “New Light on the Life of Hamzah Fanshuri”, JMBRAS, vol. 40, pt. 1, Singapura, 1967.
4. “Rampaian Sajak” Bahasa, Persatuan Bahasa Melayu Universiti Malaya no. 9, Kuala Lumpur, 1968.
5. “Hamzah Fanshuri”, The Penguin Companion to Literature, Classical and Byzantine, Oriental, and African, vol. 4, London, 1969.
6. Indonesia: 4 (a) History: The Islamic Period”, Encyclopedia of Islam, edisi baru, E.J. Brill, Leiden, 1971.
7. “Comparative Philosophy: A Southeast Asian Islamic Viewpoint”, Acts of the V International Congress of Medieval Philosophy, Madrid-Cordova-Granada, 5-12 September 1971.
8. “Konsep Baru mengenai Rencana serta Cara-gaya Penelitian Ilmiah Pengakajian Bahasa, Kesusastraan, dan Kebudayaan Melayu”, Buku Panduan Jabatan Bahasa dan Kesuastraan Melayu, Universiti kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur: 1972.
9. “The Art of Writing, Dept. Museum”, Kuala Lumpur, t.t.
10. “Perkembangan Tulisan Jawi Sepintas Lalu”, Pameran Khat, Kuala Lumpur, 14-21 Oktober 1973
11. “Nilai-Nilai Kebudayaan, Bahasa, dan Kesusastraan Melayu”, Asas Kebudayaan Kebangsaan, Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1973.
12. “Islam in Malaysia” (versi bahasa Jerman), Kleines Lexicon der Islamischen Welt, ed. K. Kreiser, W. Kohlhammer, Berlin (Barat), Jerman, 1974.
13. “Islam in Malaysia”, Malaysia Panorama, Edisi Spesial, Kementerian Luar Negeri Malaysia, Kuala Lumpur, 1974. Juga diterbitkan dalam edisi bahasa Arab dan Prancis.
14. “Islam dan Kebudayaan Malaysia”, Syarahan Tun Sri Lanang. Seri kedua, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1974.
15. “Pidato Penghargaan terhadap ZAABA, Zainal Abidin ibn Ahmad, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1976.
16. “A gneneral Theory of the Islamization of the Malay Archipelago”, Profiles of Malay Culture, Historiography, Religion, and Politics, editor Sartono Kartodirdjo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976.
17. “Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education”, First World Conference on Muslim Education, Makkah, 1977. Juga tersedia dalam edisi bahasa Arab dan Urdu.
18. “Some Reflections on the Philosophical Aspects of Iqbal’s Thought”, International Congress on the Centenary of Muhammad Iqbal, Lahore, 1977.
19. “The Concept of Education in Islam: Its Form, Method, and System of Implementation”, World Symposium of Al-Isra’, Amman, 1979. Juga tersedia dalam edisi bahasa Arab.
20. “ASEAN – Ke mana Haluan Gagasan Kebudayaan Mau Diarahkan?” Diskusi, jil. 4, no. 11 – 12, November – Desember, 1979.
21. “Hijrah: Apa Artinya?” Panji Masyarakat, Desember, 1979.
22. “Knowledge and Non-Knowledge”, Readings in Islam, no. 8, first quarter, Kuala Lumpur, 1980.
23. “Islam dan Alam Melayu”, Budiman, Edisi Spesial Memperingati Abad ke-15 Hijriah, Universitas Malaya, Desember 1979.
24. “The Concept of Education in Islam”, Second World Conference on Muslim Education, Islamabad, 1980.
25. “Preliminary Thoughts on an Islamic Philosophy of Science”, Zarrouq Festival, Misrata, Libia: 1980. Juga diterbitkan dalam edisi bahasa Arab.
26. “Religion and Secularity”, Congress of the World’s Religions, New York, 1985.
27. “The Corruption of Knowledge”, Congress of the World’s Religions, Istanbul, 1985.

No comments:

Post a Comment