Sunday, April 3, 2011

Komunikasi Lintas Budaya

KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

A. Pendahuluan
Pada intinya kemunculan studi komunikasi lintas budaya didasari oleh ketidakmampuan individu-individu untuk saling memahami pihak lain dalam dinamika pergaulan kehidupannya sehari-hari. Seiring dengan tatanan dunia yang semakin mengglobal, membawa implikasi kepada interaksi antar manusia yang semakin intensif. Manusia semakin memiliki banyak kesempatan untuk melakukan hubungan-hubungan dalam kehidupannya sehari-hari. Fenomena ini bermuara pada perlunya saling mengerti, saling mengetahui dan saling memahami antar manusia untuk menghindari terjadinya konflik (chaos) atau kesalahpahaman antar pribadi, antar kelompok, antar masyarakat, maupun antar bangsa.
Seringkali, prilaku komunikasi antar individu tampak asing, bahkan gagal untuk memenuhi tujuan komunikasi tertentu, sebab mereka tidak memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai latar belakang budaya pihak lain. Akibat kegagalan tersebut memaksa ilmuan mengawinkan “budaya” dan “komunikasi” serta menjadikan komunikasi lintas budaya sebagai suatu bidang studi. Inheren dalam perpaduan ini adalah gagasan bahwa komunikasi lintas budaya memerlukan penelitian tentang budaya dan kesulitan-kesulitan komunikasi dengan pihak-pihak yang berbeda budaya.
Meskipun kesamaan bahasa merupakan komponen penting untuk menjalin komunikasi yang baik, namun hal itu tidak menjamin komunikasi berjalan lancar. Melalui pemahaman lintas budaya, serat-serat perbedaan maupun persamaan budaya masyarakat dapat dilihat, dapat pula diidentifikasi unsur-unsur yang melanggengkan komunikasi. Untuk dapat memahami budaya orang lain, pelaku komunikasi harus memahami budayanya sendiri. Tidak ada budaya yang lebih tinggi dari budaya lainnya. Semua budaya memiliki fungsi dan peran bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilainya berbeda. Dengan kesadaran pemahaman seperti ini, akan muncuk sikap saling menghargai mengenai kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia.
Perbedaan kebudayaan dipengaruhi oleh banyak hal termasuk perbedaan agama. Tidak dapat dipungkiri bahwa agama terbukti mempengaruhi budaya, pola hidup dan tingkah laku seseorang. Agama merupakan salah satu faktor besar yang mempengaruhi kebudayaan masyarakat. Dengan demikian, permasalahan perbedaan agama dalam komunikasi merupakan perbedaan kebudayaan yang tercakup dalam komunikasi lintas budaya . Komunikasi dalam semua konteks merupakan persamaan dalam hal unsur-unsur dasar dan proses-proses komunikasi manusia (transmitting, receiving, processing), tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi, pemikiran, penggunaan pesan-pesan verbal/nonverbal serta hubungan-hubungan dasarnya. Maka variasi kontekstual, merupakan dimensi tambahan yang mempengaruhi proses komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya terjadi bila pemberi pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya. Dengan demikian, penyampaian pesan dari sumber komunikasi harus diberi sandi sehingga penerima pesan sebagai anggota budaya yang berbeda tersebut dapat menyandi ulang informasi/pesan yang diterimanya.

B. Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya merupakan salah satu bidang kajian Ilmu Komunikasi yang lebih menekankan pada perbandingan pola-pola komunikasi antar pribadi diantara peserta komunikasi yang berbeda kebudayaan. Pada awalnya, studi lintas budaya berasal dari perspektif antropologi sosial dan budaya sehingga kajiannya lebih bersifat depth description, yakni penggambaran yang mendalam tentang perilaku komunikasi berdasarkan budaya tertentu. Maletzke, mendefenisikan komunikasi lintas budaya sebagai proses perubahan mencari dan menemukan makna antarmanusia yang berbeda budaya.
Komunikasi lintas budaya adalah terjadinya pengiriman pesan dari seseorang yang berasal dari satu budaya yang berbeda dengan pihak penerima pesan. Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini memberi penekanan pada aspek perbedayaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan bagi keberlangsungan proses komunikasi. Kendatipun studi komunikasi lintas budaya ini membicarakan tentang perasamaan-persamaan maupun perbedaan karakteristik kebudayaan antara pelaku-pelaku komunikasi, namun titik perhatian utamanya adalah proses komunikasi antara individu-individu atau kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaan, yang mencoba untuk saling berinteraksi. Maka konsep terpenting dalam studi ini adalah menyangkut adanya “kontak” dan “komunikasi” antar pelaku-pelaku komunikasi.
Banyak pembahasan komunikasi lintas budaya yang berkisar pada perbandingan perilaku komunikasi antarbudaya dengan menunjukkan perbedaan dan persamaan sebagai berikut:
a. Persepsi, yaitu sifat dasar persepsi dan pengalaman persepsi, peranan lingkungan sosial dan fisik terhadap pembentukan persepsi
b. Kognisi, yang terdiri dari unsur-unsur khusus kebudayaan, proses berpikir, bahasa dan cara berpikir.
c. Sosialisasi, berhubungan dengan masalah sosialisasi universal dan relativitas, tujuan-tujuan institusionalisasi.
d. Kepribadian, misalnya tipe-tipe budaya pribadi yang mempengaruhi etos, dan tipologi karakter atau watak bangsa.

C. Tujuan Komunikasi Lintas Budaya
Kebutuhan untuk mempelajari komunikasi lintas budaya ini semakin terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda, disamping kondisi bangsa Indonesia yang sangat majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa, agama, latar belakang daerah (desa/kota),latar belakang pendidikan, dan sebagainya. Untuk memerinci alasan dan tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya Litvin (1977) menyebutkan beberapa alasan diantaranya sebagai berikut:
a. Dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan.
b. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda.
c. Nilai-nilai setiap masyarakat se”baik” nilai-nilai masyarakat lainnya.
d. Setiap individu dan/atau budaya berhak menggunakan nilai-nilainya sendiri.
e. Perbedaan-perbedaan individu itu penting, namun ada asumsi-asumsi dan pola-pola budaya mendasar yang berlaku.
f. Pemahaman atas nilai-nilai budaya sendiri merupakan prasyarat untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai budaya lain.
g. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain kita memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia.
h. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin mengancam pandangan dunia orang itu bagi pandangan dunia kita, semakin banyak yang harus kita pelajari dari dia, tetapi semakin berbahaya untuk memahaminya.
i. Pengalaman-pengalaman antar budaya dapat menyenangkan dan menumbuhkan kepribadian.
j. Keterampilan-keterampilan komunikasi yang diperoleh memudahkan perpindahan seseorang dari pandangan yang monokultural terhadap interaksi manusia ke pandangan multikultural.
k. Perbedaan-perbedaan budaya menandakan kebutuhan akan penerimaan dalam komunikasi, namun perbedaan-perbedaan tersebut secara arbitrer tidaklah menyusahkan atau memudahkan.
l. Situasi-situasi komunikasi antar budaya tidaklah statik dan bukan pula stereotip. Karena itu seorang komunikator tidak dapat dilatih untuk mengatasi situasi. Dalam konteks ini kepekaan, pengetahuan dan keterampilannya bisa membuatnya siap untuk berperan serta dalam menciptakan lingkungan komunikasi yang efektif dan saling memuaskan.

Sedangkan mengenai tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya, Litvin (1977) menguraikan bahwa tujuan itu bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk:
a. Menyadari bias budaya sendiri
b. Lebih peka secara budaya
c. Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut.
d. Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri
e. Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
f. Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
g. Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya
h. Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri:asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
i. Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya.
j. Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan, dan dipahami.

Untuk mencapai interaksi budaya yang efektif, maka perlu melihat konteks keseluruhan tempat berlangsungnya komunikasi tersebut. Saral, mengemukakan bahwa lingkungan kontekstual (contextual environment) secara terus menerus berubah, yang disebut kenyataan bukanlah suatu yang tunggal, pasti atau mutlak dan tidak ada cara melihat, menyadari, berpikir dan berkomunikasi yang berlaku secara universal. Oleh karenanya menurut Saral, kita harus mengakui kemungkinan dianutnya serta disebarluaskannya kenyataan-kenyataan komunikasi yang berbeda oleh lingkungan komunikasi yang berlainan.
Disadari sepenuhnya bahwa komunikasi yang dilakukan oleh manusia selalu mengandung potensi perbedaan. Sekecil apapun perbedaan itu, sangat membutuhkan upaya-upaya untuk memberhasilkan proses komunikasi secara efektif; yakni dengan menggunakan informasi budaya mengenai pelaku-pelaku komunikasi yang bersangkutan. Komunikasi lintas budaya menjadi kebutuhan bagi semua kalangan untuk dapat menjalin hubungan yang lebih baik dan memuaskan, terutama bagi mereka yang berbeda budaya.
Komunikasi dalam semua konteks merupakan persamaan dalam hal unsur-unsur dasar dan proses-proses komunikasi manusia (transmitting, receiving, processing), tetapi adanya pengaruh kebudayaan yang tercakup dalam latar belakang pengalaman individu membentuk pola-pola persepsi, pemikiran, penggunaan pesan-pesan verbal/nonverbal serta hubungan-hubungan dasarnya. Maka variasi kontekstual, merupakan dimensi tambahan yang mempengaruhi proses komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya terjadi bila pemberi pesan adalah anggota suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota suatu budaya lainnya. Dengan demikian, penyampaian pesan dari sumber komunikasi harus diberi sandi sehingga penerima pesan sebagai anggota budaya yang berbeda tersebut dapat menyandi ulang informasi/pesan yang diterimanya.
Untuk mencapai interaksi budaya yang efektif, maka perlu melihat konteks keseluruhan tempat berlangsungnya komunikasi tersebut. Saral, mengemukakan bahwa lingkungan kontekstual (contextual environment) secara terus menerus berubah, yang disebut kenyataan bukanlah suatu yang tunggal, pasti atau mutlak dan tidak ada cara melihat, menyadari, berpikir dan berkomunikasi yang berlaku secara universal. Oleh karenanya menurut Saral, kita harus mengakui kemungkinan dianutnya serta disebarluaskannya kenyataan-kenyataan komunikasi yang berbeda oleh lingkungan komunikasi yang berlainan.
Selain itu studi komunikasi lintas budaya ini juga harus dapat melihat kemungkinan atau tidaknya tercipta suatu wilayah pertemuan dari unsur-unsur kebudayaan yang berbeda tersebut. Dalam kerangka ini, maka setiap kebudayaan harus dilihat dari pemahaman terhadap lingkungannya. Dengan pendekatan demikian maka diharapkan dapat dikembangkan prosedur penilaian yang secara relatif bebas dari paksaan pola-pola atau bias kebudayaan tertentu.
Proses komunikasi melibatkan unsur-unsur sumber (komunikator), Pesan, media, penerima dan efek. Disamping itu proses komunikasi juga merupakan sebuah proses yang sifatnya dinamik, terus berlangsung dan selalu berubah, dan interaktif, yaitu terjadi antara sumber dan penerima.Proses komunikasi juga terjadi dalam konteks fisik dan konteks sosial, karena komunikasi bersifat interaktif sehingga tidak mungkin proses komunikasi terjadi dalam kondisi terisolasi. Konteks fisik dan konteks sosial inilah yang kemudian merefleksikan bagaimana seseorang hidup dan berinteraksi dengan orang lainnya sehingga terciptalah pola-pola interaksi dalam masyarakat yang kemudian berkembang menjadi suatu budaya.
Adapun budaya itu sendiri berkenaan dengan cara hidup manusia. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktek komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan-kegiatan ekonomi dan politik dan teknologi semuanya didasarkan pada pola-pola budaya yang ada di masyarakat.
Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu dan kelompok.(Mulyana, 1996:18) Budaya dan komunikasi tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siap, tentang apa dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi sehingga bila budaya beraneka ragam maka beraneka ragam pula praktek-praktek komunikasi yang berkembang.
D. Mengidentifikasi Komunikasi Budaya.
Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh sebagian orang dan tidak dimiliki oleh sebagian orang yang lainnya – budaya dimiliki oleh seluruh manusia dan dengan demikian seharusnya budaya menjadi salah satu faktor pemersatu. Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Individu-individu sangat cenderung menerima dan mempercayai apa yang dikatakan budaya mereka.
Mereka dipengaruhi oleh adat dan pengetahuan masyarakat dimana mereka tinggal dan dibesarkan, terlepas dari bagaimana validitas objektif masukan dan penanaman budaya ini pada dirinya. Individu-individu itu cenderung mengabaikan atau menolak apa yang bertentangan dengan “kebenaran” kultural atau bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaannya. Inilah yang seringkali merupakan landasan bagi prasangka yang tumbuh diantara anggota-anggota kelompok lain, bagi penolakan untuk berubah ketika gagasan-gagasan yang sudah mapan menghadapi tantangan.
Setiap budaya memberi identitas kepada sekolompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam msaing-masing budaya tersebut paling tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya tersebut yang antara lain terlihat pada :
1. Komunikasi dan Bahasa
Sistem komunikasi, verbal maupun nonverbal, membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya. Terdapat banyak sekali bahasa verbal diseluruh dunia ini demikian pula bahasa nonverbal, meskipun bahasa tubuh (nonverbal) sering dianggap bersifat universal namun perwujudannya sering berbeda secara lokal.
2. Pakaian dan Penampilan
Pakaian dan penampilan ini meliputi pakaian dan dandanan luar juga dekorasi tubuh yang cenderung berbeda secara kultural.
3. Makanan dan Kebiasaan Makan
Cara memilih, menyiapkan, menyajikan dan memakan makanan sering berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Subkultur-subkultur juga dapat dianalisis dari perspektif ini, seperti ruang makan eksekutif, asrama tentara, ruang minum teh wanita, dan restoran vegetarian.
4. Waktu dan Kesadaran akan waktu
Kesadaran akan waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya lainnya. Sebagian orang tepat waktu dan sebagian lainnya merelatifkan waktu.
5. Penghargaan dan Pengakuan
Suatu cara untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
6. Hubungan-Hubungan
Budaya juga mengatur hubungan-hubungan manusia dan hubungan-hubungan organisasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status, kekeluargaan, kekayaan, kekuasaan, dan kebijaksanaan.
7. Nilai dan Norma
Berdasarkan sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau kebolehan bagi anak-anak; dari penyerahan istri secara kaku kepada suaminya hingga kebebasan wanita secara total.
8. Rasa Diri dan Ruang
Kenyamanan yang dimiliki seseorang atas dirinya bisa diekspresikan secara berbeda oleh masing-masing budaya. Beberapa budaya sangat terstruktur dan formal, sementara budaya linnya lebih lentur dan informal. Beberapa budaya sangat tertutup dan menentukan tempat seseorang secara persis, sementara budaya-budaya lain lebih terbuka dan berubah.
9. Proses mental dan belajar
Beberapa budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang berpikir dan belajar.
10. Kepercayaan dan sikap
Semua budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama dan praktek keagamaan atau kepercayaan mereka.

E. PRINSIP DAN STRATEGI PELAKSANAAN
Dalam menyusun perencanaan komunikasi lintas budaya ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yakni:
1. Prinsip keselarasan (compatible)
2. Prinsip kesesuaian dengan kebutuhan (need) sasaran, terutama menjawab masalah need berdasarkan tahap-tahap kebutuhan dari Maslow (kebutuhan biologis, sosiologis dan psikologis).
3. Prinsip pelaksanaan suatu proses belajar mengajar yang efektivitasnya dipengaruhi oleh sifat atau ciri sasaran masyarakat di desa, tenaga pengajar, fasilitas, materi dan kondisi lingkungan. Prinsip pelaksanaan yang bertujuan mengembangkan sikap, pengetahuan,keteranpilan dan sikap serta kemampuan masyarakat di desa sasaran.
Selanjutnya perencanaan komunikasi tersebut dilakukan dengan strategi sebagai berikut:
1. Konsolidasi, yaitu memantapkan dan mengembangkan ketenagaan dan kelembagaan yang tangguh dan mendukung kerja “proses komunikasi”.
2. Integrasi, yaitu menggalang keterpaduan kerja dengan lembaga atau pihak lain yang potensial untuk meningkatkan, daya guna dan hasil guna perencanaan proses komunikasi
3. Implementasi, yaitu menerapkan metode dan teknik perencanaan proses komunikasi termasuk penyediaan sarana dan prasarana serta materi perencanaan.

Sesuai dengan aspek-aspek yang terlibat dalam suatu proses komunikasi maka kita harus menentukan:
1. Sasaran/komunikan. Seorang perencana komunikasi lintas budaya harus bisa mengidentifikasi masalah sasaran dengan cermat. Untuk memudahkan pendekatan terhadap sasaran yang jumlahnya banyak, beragam dan sukar dijangkau, maka perencana komunikasi harus mensegmentasikan sasaran ke dalam kelompok-kelompok yang lebih homogen.

2. Komunikator. Komunikator yang handal adalah komunikator yang memiliki kredibilitas tertentu. Ada tiga jenis kredibilitas yaitu ethos, pathos dan logos.
3. Pesan. Dalam konteks komunikasi lintas budaya, pesan merupakan tema-tema yang dibicarakan bersama oleh peserta komunikasi. Dalam hal ini seorang komunikator membutuhkan:
a. Pengetahuan tentang bentuk-bentuk pesan verbal masyarakat sasaran.
b. Pengetahuan terhadap isi pesan.
4. Media. Merupakan alat bantu demi tercapainya efektivitas komunikasi. Beberapa bentuk media yang sifatnya hardware dan software, yaitu:
a. Sarana komunikasi, seperti radio komunikasi, radio kaset, slide, tv, dan lain-lain.
b. Sarana transportasi
c. Alat bantu komunikasi yang biasa dipakai dalam penyuluhan, misalnya media unit-unit percontohan, produk hasil teknologi, dan lain-lain.
d. Gedung, balai pertemuan atau tempat terbuka untuk pertemuan.
5. Metode dan teknik. Ada beberapa metode yang bisa dipilih, yaitu:
a. Metode penyampaian atau memperoleh pesan yang bersifat informatif
b. Membujuk
c. Instruktif.
6. Konteks. Yaitu situasi dan kondisi yang bersifat lahir dan batin yang dialami para peserta komunikasi sehingga diharapkan bisa mempengaruhi setiap proses komunikasi.



F. Kesimpulan

Budaya-budaya yang berbeda memiliki ocial-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi komunikasi lintas budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu.
Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak ocial, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antar etnis. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman-kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya dan mempraktekkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Teori-teori Komunikasi Lintas Budaya merupakan teori-teori yang secara khusus menggeneralisasi konsep komunikasi diantara komunikator dengan komunikan yang berbeda kebudayaan, dan yang membahas pengaruh kebudayaan terhadap kegiatan komunikasi. Alo Liliweri mengatakan bahwa paling tidak ada tiga sumber yang oci digunakan untuk menggeneralisasi teori komunikasi lintas budaya, yakni:
1. Teori-teori komunikasi antar budaya yang dibangun akibat perluasan teori komunikasi yang secara khusus dirancang untuk menjelaskan komunikasi intra/antar budaya.
2. Teori-teori baru yang dibentuk dari hasil-hasil penelitian khusus dalam bidang komunikasi antar budaya.
3. Teori-teori komunikasi antar budaya yang diperoleh dari hasil generalisasi teori ilmu lain, termasuk proses ocial yang bersifat isomorfis.

Daftar Pustaka

Hanafi Abdillah, Memahami Komunikasi Antar Manusia (Surabaya: Usaha Nasional, 1984).

Kitley Philip, Konstruksi Budaya Bangsa di Layar Kaca (Jakarta: Institutv Studi Arus Informasi).

Liliweri Alo,. Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).

Larry A. Samovar, dkk., Understanding Intercultural Communication (Belmont, California: Wadsworth Publishing Company, 1981).

Leach Edmund. Culture and Communication, The Logic by which symbols are connected. (Cambridge, University Press).

Maletzke Gerhard, “Intercultural and Internation Communication”, dalam Heinz-Dietrich Fischer dab John C. Merril (eds), Intercultural and International Communication (New York: Hastings House Publisher, 1978).

Porter dan Larry A Richard E.. Samovar, “Suatu Pendekatan terhadap Komunikasi Lintas Budaya”, dalam Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat (eds.), Komunikasi Lintas Budaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Rosdakarya, 2003).

Sunarwinadi Ilya, Komunikasi Antar Budaya (Jakarta: Pusat Antar Universitas Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, tt.).

Tulsi B. Saral, “Intercultural Communication Theory and Research: An Overview of Challengnes and Opportunities”, dalam Dan Nimmo (ed.), Communication Yearbook 3 (New Brunswick, New Jersey: Transaction Book, 1979).

Tulsi B. Saral, “Intercultural Communication Theory and Research: An Overview of Challengnes and Opportunities”, dalam Dan Nimmo (ed.), Communication Yearbook 3 (New Brunswick, New Jersey: Transaction Book, 1979).



1 comment:

  1. Luar biasa..ini yang saya cari untuk bahan tugas perkuliahan saya !

    Salam kenal dan terima kasih postingan nya :)

    Julvian
    110240120
    Manajemen komunikasi

    Semoga makin istimewa postingan nya !

    ReplyDelete