Friday, April 1, 2011

komunikasi islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Eksistensi kajian terhadap ilmu-ilmu keislaman dalam pandangan tertentu masih dianggap berjalan lambat. Beberapa ilmu keislaman bahkan dipandang sebagai disiplin yang belum cukup mapan dan mampu berdiri sendiri. John Meuleman sebagaimana dikutip U. Maman, dkk, menyebutkan kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain: pertama, keteraturan logosentrime sangat menonjol di kalangan umat Islam; kedua, faktor pertama ini kemudian mengakibatkan penelitian terpusat pada teks-teks dengan mengabaikan unsur yang tidak tertulis dari agama dan kebudayaan Islam; ketiga, interpretasi yang tertutup dan terbatas sebagai suatu teks yang membicarakan fakta dan peraturan; keempat, anggapan teks-teks klasik mewakili agama dan bahkan anggapan sebagai agama itu sendiri; kelima, sikap apologetis terhadap aliran lain; dan, keenam, sikap tradisional.
Selain argumentasi di atas, Fazlurrahman dalam buku Islam and Modernity membangun sebuah pandangan historis yang relatif sama, bahwa ilmu-ilmu keislaman sepanjang sejarah masih berjalan statis. Pandangan ini ditunjukkan dengan identifikasi dan karakteristik yang dilakukannya terhadap ilmu-ilmu keislaman, sehingga kemudian ia menyimpulkan bahwa ilmu-ilmu keislaman sebagai disiplin ilmu bersifat repetitif, berulang-ulang, nuansa literatur yang bersifat komentar, penjelasan karya yang ada, dan sedikit membuahkan pikiran-pikiran baru. Dalam pandangannya, intelektual Islam―pada waktu-waktu sebelumnya―tidak diarahkan untuk mencapai gagasan yang baru, sebaliknya hanya dimanfaatkan untuk mempertahankan pengetahuan yang telah ada.
Dimensi ilmu-ilmu keislaman jika dilihat berdasarkan klasifikasi beberapa pihak juga menunjukkan terjadinya problem serius dalam pengklasifikasiannya. Harun Nasution misalnya, membagi ilmu-ilmu keislaman pada beberapa kelompok, yaitu:
Pertama, kelompok dasar, yang terdiri dari tafsir, hadis, akidah/ilmu kalam (teologi), filsafat Islam, tasawuf, tarekat, perbandingan agama, serta perkembangan modern dalam ilmu-ilmu tafsir, hadis, ilmu kalam, dan filsafat. Kedua, kelompok cabang, teridiri dari: ajaran yang mengatur masyarakat: ushul fikih, fikih muamalah, fikih ibadah, peradilan dan perkembangan modern; Peradaban Islam: sejarah Islam, sejarah pemikiran Islam, sains Islam, budaya Islam, dan studi kewilayahan Islam. Ketiga, bahasa dan sastra Islam. Keempat, pelajaran Islam kepada anak didik, mencakup: ilmu pendidiikan Islam, falsafah pendidikan Islam, sejarah pendidikan Islam, lembaga pendidikan Islam, dan perkembangan modern dalam pendidikan Islam. Kelima, penyiaran Islam, mencakup: sejarah dakwah, metode dakwah, dan sebagainya.
Problem menarik yang dapat diamati berdasarkan klasifikasi ilmu keislaman yang dirumuskan Harun Nasution adalah pengklasifikasian yang sedikit berbeda dengan klasifikasi ilmu-ilmu keislaman berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Tahun 1985. Sebagaimana dikutip Abuddin Nata, beberapa bidang yang termasuk disiplin ilmu keislaman adalah: al-Qurân/Tafsir, Hadis/Ilmu Hadis, Ilmu Kalam, Filsafat, Tasawuf, Hukum Islam (Fikih), Sejarah dan Kebudayaan Islam, serta Pendidikan Islam. Merujuk peraturan ini, tampak bahwa bidang penyiaran Islam yang mencakup sejarah dakwah, metode dakwah, dan sebagainya, tidak termasuk ke dalam bagian dari disiplin ilmu-ilmu keislaman sebagaimana tertuang pada peraturan dimaksud.
Hampir sejalan dengan klasifikasi di atas, Murtadha Muthahhari juga tidak memasukkan bidang penyiaran Islam sebagai bagian dari disiplin ilmu-ilmu keislaman. Dalam kerangka yang dibangunnya, Murtadha Muthahhari hanya memasukkan bidang-bidang, seperti: Ushul Fikih, Hikmah Amaliah, Fikih, Logika, Kalam, dan Filsafat, sebagai bagian dari ilmu-ilmu keislaman.
Jika ditelaah lebih jauh, tidak dimasukkannya penyiaran Islam yang mencakup unsur-unsur kegiatan dakwah ditinjau dari aspek akademis, dapat dimaklumi mengingat ilmu dakwah itu sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan para ahli. Perdebatan secara umum berkisar pada persoalan epistemologi ilmu dakwah yang belakangan melahirkan tiga pandangan dalam melihat ilmu dakwah ini, yaitu: Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa ilmu dakwah yang pembenarannya normatif doktrin mengambil arti ayat Al-Qur’ân dan Hadits sudah memadai sebagai ilmu walaupun bukan ilmu pengetahuan. Kedua, kelompok yang berpendapat bahwa ilmu dakwah yang ada saat ini belum bisa diterima sebagai suatu disiplin ilmu, masih merupakan pengetahuan non-sains, alasan yang dikemukakan adalah bahwa ia belum dibangun atas metode keilmuan (logico-hypotetico-verifikatif). Ketiga, kelompok yang berpendapat bahwa ilmu dakwah tidak lain adalah ilmu komunikasi, mengingat yang berbeda hanya mengenai materi messagenya.
Berdasarkan pandangan di atas, tampak bahwa eksistensi ilmu dakwah masih menuai berbagai problem. Pandangan yang pertama terkesan kurang berani mengklaim bahwa dakwah bukan merupakan ilmu pengetahuan, atau dengan kata lain, menegaskan secara halus eksistensi dakwah sebagai bukan ilmu pengetahuan. Pandangan kedua lebih tegas menyebutkan bahwa dakwah bukan merupakan ilmu pengetahuan (science) oleh karena belum ditemukan basis epistemologi yang jelas mengenai ilmu dakwah itu sendiri. Sementara itu, pandangan yang ketiga lebih unik kerana berupaya menyamakan antara ilmu dakwah dengan ilmu komunikasi, tapi jika pandangan ini dapat diterima, tentu dengan sendirinya akan menempatkan ilmu dakwah sebagai ilmu yang belum mampu berdiri sendiri.
Disamakannya ilmu dakwah dengan ilmu komunikasi jelas membuktikan bahwa ilmu dakwah masih menjadi problem dalam kontelasi ilmu pengetahuan. Problem ini pun dapat dimaklumi oleh karena pengkajian dakwah secara akademis masih tergolong baru dan hanya mempertimbangkan aspek praktisnya saja. Akan tetapi, penting pula dicatat bahwa, optimisme para ahli untuk menjadikan dakwah sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang bersifat mandiri semakin menunjukkan dakwah tengah menuju ke arah tersebut. Hal ini setidaknya ditandai dengan semakin banyaknya kajian-kajian yang dituangkan melalui buku dan berbagai karya ilmiah tentang sistem keilmuan dakwah. Secara historis, dapat disebutkan Toha Yahya Omar sebagai orang pertama menulis buku berbahasa Indonesia yang menegaskan dakwah sebagai sebuah disiplin ilmu. Sepuluh tahun berikutnya, terbit dua buku yang mendandakan lahirnya cabang baru disiplin ilmu dakwah, yaitu: Manajemen Dakwah yang ditulis Abd. Rosyad Saleh (1977), dan buku Psikologi Dakwah yang ditulis H.M Arifin (1977). Sistem keilmuan dakwah semaikin menemukan bentuknya ketika pada waktu-waktu berikutnya semakin banyak kajian-kajian dituangkan melalui buku-buku yang secara spesifik membahas konsep keilmuan dakwah. Beberapa buku dapat disebut, di antaranya: pertama, Abdullah (2001), Wawasan Dakwah: Kajian Epistemologi, Konsepsi, dan Aplikasi Dakwah, diterbitkan oleh IAIN Perss Medan; Kedua, Moh. Ali Aziz (2004), Ilmu Dakwah, diterbitkan oleh Prenada Media Jakarta; ketiga, Ahmad Anas (2006), Paradigma Dakwah Kontemporer: Aplikasi Teoretis dan Praktis sebagai Solusi Problematika Kekinian, diterbitkan oleh Rizki Putera Semarang; dan, keempat, Syamsul Munir Amin (2008), Rekonstruksi Pemikiran Dakwah Islam, diterbitkan oleh penerbit Amzah Jakarta.
Selain buku-buku yang disebutkan sebelumnya, salah satu penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Hasan Sazali (2002) berjudul Epistemologi Dakwah: Analisa Landasan Keilmuan Dakwah, sebagai tesis di Program Pascasarjana IAIN Sumatera Utara, agaknya semakin mempertegas eksistensi dakwah sebagai sebuah disiplin ilmu mandiri. Selain landasan keilmuan yang dikonstruknya melalui penelitian tersebut, beberapa indikator lain yang menunjukkan bahwa dakwah telah masuk sebagai sebuah disiplin ilmu dalam ilmu-ilmu keislaman ditandai dengan Seminar Epistemologi pada tahun 1977, dan Konsorsium Ilmu Dakwah pada tahun 1982.
Belum selesai ilmu dakwah diperdebatkan dalam kontelasi ilmu pengetahuan, dalam waktu-waktu berukutnya kembali muncul disiplin baru yang disebut “Komunikasi Islam”, yang secara khusus dikaji pada program studi Komunikasi Islam Pascasarnaja IAIN. Dilihat dari aspek hirarkinya, program studi ini dapat dikatakan sebagai program yang memiliki hubungan langsaung dengan Fakultas Dakwah IAIN, setidaknya dilihat dari aspek akademis. Sungguhpun pada jenjang S.1, Komunikasi Islam tidak dipelajari sebagai mata kuliah tersendiri pada program studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakutas Dakwah, namun pada jenjang Pascasarjana program studi Komunikasi Islam, tema ini menjadi mata kuliah komponen jurusan. Asumsi ini sekaligus menunjukkan bahwa, membincang komunikasi Islam sebagai sebuah bangunan ilmu pengetahuan secara historis tidak dapat dilepaskan dengan pembicaraan mengenai sistem keilmuan dakwah, sebab keduanya memiliki kaitan yang cukup erat.
Adanya benang merah antara ilmu dakwah dan komunikasi Islam dalam konteks sejarah kelahirannya belakangan memunculkan pandangan sebagian kalangan terhadap adannya kesamaan antara ilmu dakwah dengan komunikasi Islam. Bahkan lebih tajam dari pandangan tersebut, ilmu dakwah tidak saja memiliki kesamaan dengan komunikasi Islam, akan tetapi komunikasi Islam merupakan ilmu dakwah itu sendiri. Pandangan ini tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya karena dalam faktanya, berbagai hasil kajian pada ruang lingkup komunikasi Islam yang ada selama ini seringkali menunjukkan wujudnya sebagai dakwah. Akan tetapi, menurut asumsi penulis, keduanya harus dibedakan dan memang pada kenyataannya berbeda. Secara sederhana perbedaan tersebut dapat dilihat dari wilayah kajiannya masing-masing, meski kerap mengerucut pada kesimpulan yang relatif sama, ilmu dakwah dan komunikasi Islam tidak pernah dikonsepsikan sebagai kajian yang sama.
Pandangan yang penulis bangun di atas menjadi asumsi awal perlunya dilakukan pengkajian ulang terhadap komunikasi Islam. Aspek yang cukup efektif disoroti dalam kajian yang penulis maksudkan adalah aspek epistemologinya, karena dengan begitu akan ditemukan kejelasan tentang cara-cara ilmiah yang dipergunakan oleh kajian komunikasi Islam yang dapat membedakannya dengan ilmu dakwah. Selain itu, antara dakwah dan komunikasi Islam sebenarnya sudah dapat dibedakan sejak awal, ketika kedua kajian ini menggunakan terminologinya masing-masing. Jika ilmu dakwah dan komunikasi Islam merupakan disiplin yang sama, tentu keduanya harus konsisten untuk menggunakan istilah, apakah ilmu dakwah atau komunikasi Islam?.
Dilihat dari aspek historis dan filosofis, komunikasi Islam sebagai sebuah kajian baru, ditengarai muncul beberapa dekade terakhir. Alasan yang mendasari lahirnya ilmu komunikasi Islam adalah basis falsafah, pendekatan teoretis, dan penerapan ilmu komunikasi yang dilahirkan barat tidak sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya Islam. Mhd. Rafiq menambahkan, paradigma komunikasi Barat lebih mengedapankan nilai-nilai pragmatis, materialistis, dan penggunaan media secara kapitalis. Alasan kegagalan inilah yang kemudian menarik perhatian sebagian akademisi muslim di berbagai perguruan tinggi untuk melahirkan komunikasi Islam sebagai komunikasi alternatif.
Kebudayaan Barat sendiri dalam faktanya seringkali dibenturkan secara serius dengan kebudayaan Islam. Apa pun alasan yang mendasarinya, stigma umum yang cukup kuat terbangun adalah, bahwa budaya Barat merupakan rivalitas dari kebudayaan Islam, sehingga apapun yang dilahirkan Barat, termasuk ilmu pengetahuan, seringkali mengalami bias yang cukup kontras dengan nilai-nilai dan budaya Islam. Tentu tidak berlebihan jika disebutkan bahwa pardigma ini menjadi salah satu indikator penting munculnya berbagai macam wacana keilmuan Islam yang justru basis ontologi dan epistemologinya telah terlebih dahulu dibangun oleh sistem keilmuan Barat. Komunikasi Islam dapat dikatakan menjadi bagian yang termasuk di dalamnya.
Bukan tanpa alasan jika diasumsikan bahwa paradigma ini memiliki andil besar dalam menciptakan kemandegan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam, selain faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Kemandegan tersebut setidaknya ditunjukkan dengan perhatian ilmuan dan akademisi muslim yang terfokus pada permasalahan bagaimana sebuah objek kajian ilmu yang biasanya lahir dari Barat dapat sesuai dengan nilai-nilai Islam, namun di sisi lain mereka mengabaikan rekonstruksi epistemologinya. Dengan kata lain, paradigma ini lebih melahirkan upaya Islamisasi ilmu, atau “mengislamkan” ilmu yang dilahirkan Barat, dari pada upaya membangun sistem keilmuan mandiri sebagai ilmu alternatif dari ilmu yang dilahirkan Barat.
Memang Islamisasi ilmu sendiri dimaknai secara berbeda sesuai dengan latar belakang para penggagas ide Islamisasi tersebut. Sayed Husein Nashr memaknai Islamisasi ilmu sebagai upaya menerjemahkan pengetahuan modern ke dalam bahasa yang bisa dipahami masyarakat muslim di mana mereka tinggal. pandangan ini berbeda dengan Islamisasi ilmu yang dimaksudkan oleh Naquib al Attas, yang menganggap Islamisasi ilmu sebagai upaya membebaskan ilmu pengetahuan dari makna, ideologi, dan prinsip-prinsip sekuler untuk membentuk ilmu pengetahuan baru sesuai dengan fitrah Islam. Sementara itu, Ismail Razi al Faruqi memaknai Islamisasi ilmu sebagai upaya mengislamkan disiplin-disiplin ilmu hingga menghasilkan buku pegangan di perguruan tinggi dengan menggunakan kembali disiplin-disiplin ilmu modern dalam wawasan Islam, setelah dilakukan terlebih dahulu kajian kritis terhadap kedua sistem pengetahuan tersebut (Islam dan Barat).
Terlepas dari perbedaan para tokoh dalam memaknai Islamisasi ilmu, secara epistemologi penulis melihat bahwa basis keilmuan komunikasi Islam masih rapuh dan belum mampu menjadikan komunikasi Islam sebagai disiplin ilmu mandiri terlepas dari ilmu komunikasi pada umumnya. Jika ditelaah lebih jauh, belum ditemukannya basis epistemologi yang jelas terhadap sistematika keilmuan komunikasi Islam salah satunya diakibatkan oleh kurangnya perhatian para akdemisi muslim untuk mengkonstruk epistemologi kajian tersebut, dan bukan tidak mungkin jika hal ini juga mengakibatkan sulitnya membedakan antara ilmu dakwah dengan komunikasi Islam. Mahasiswa yang secara khusus menempuh pendidikannya pada program studi Komunikasi Islam bahkan jarang sekali yang tergerak untuk melakukan rekonstruksi epistemologi melalui penelitiannya guna menjadikan ilmu komunikasi Islam dapat diterima sebagai sebuah disiplin ilmu mandiri di satu sisi, dan memberikan titik terang tentang perbedaannya dengan ilmu dakwah di sisi yang lainnya.
Dalam tahap perkembangannya, memang ditemukan beberapa kajian tentang ilmu komunikasi Islam, namun jika dilakukan pembacaan lebih jauh, agaknya kajian-kajian tersebut kurang memiliki konsentrasi dalam membangun basis keilmuan komunikasi Islam. Kajian-kajian tersebut hanya terarah pada upaya membedakan paradigma komunikasi Islam dengan komunikasi yang dikembangkan Barat. Lihat misalnya beberapa kajian tentang komunikasi Islam, seperti: tulisan Mohd Rafiq yang dipublikasikan pada Jurnal Analytica Islamica, ; maupun kajian yang dituangkan dalam tulisan Muhammad Husni Ritonga, tentang eksistensi Ilmu Komunikasi Islam. Prof.Dr. Syukur Kholil, MA juga telah menerbitkan buku dengan judul Komunikasi Islami, akan tetapi jika ditelaah secara mendalam, kajian pada buku tersebut belum terfokus pada pembangunan epistemologi ilmu komunikasi Islam. Selain itu, Hasnun Jauhari, pernah melakukan kajian tentang landasan keilmuan komunikasi Islam melalui tesis yang ditulisnya, dan kajian tersebut juga belum menunjukkan adanya perkembangan yang berarti dalam upaya membangun basis epistemologi komunikasi Islam, bahkan dari aspek teori dan metodologinya masih ditemukan banyak kesamaan dengan tesis Epistemologi Dakwah yang ditulis Hasan Sadzali.
Ilmu pengetahuan (science) sendiri dapat dipahami sebagai pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yang diperoleh melalui pendekatan, metode dan sistem tertentu. Pengetahuan secara umum merupakan segala sesuatu yang diketahui manusia. C. A. Van Peursen memberikan pengertian pengetahuan secara sederhana dengan menyebutkan pengetahuan sebagai kesadaran manusia akan barang-barang di sekitarnya. Jika proses “sadar” manusia dianggap sebagai pengetahuan umum/biasa (common sense) yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut, ilmu melalui metodologi tertentu mencoba untuk menguji pengetahuan manusia secara lebih luas dan mendalam. Karenanya, ilmu akan berbicara pada tiga hal, yaitu: hakikat objek keilmuan (ontologi); bagaimana pengetahuan diproses menjadi ilmu (epistemologi); dan, nilai apa yang dapat dilahirkan dari ilmu bersangkutan (aksiologi).
Berbicara mengenai tiga aspek yang menjadi ruang lingkup ilmu pengetahuan yang secara khusus dikaji pada disiplin filasafat ilmu, aspek yang paling krusial dan seringkali menuai berbagai problem adalah aspek epistemologi. Sebagaimana dikutip Dani Vardiansyah melalui Poedjawijatna (1993), ilmu tidak terlalu menghiraukan keguanaan (aspek aksiologi), melainkan hanya semata ingin tahu. Kalau pengetahuan yang disebut ilmu menghasilkan manfaat, kegunaan yang positif, tentu akan lebih baik lagi. Akan tetapi, tujuan utama ilmu adalah untuk mengetahui lebih mendalam.
Pandangan di atas boleh dikatakan merupakan penekanan terhadap pentingnya aspek epistemologi dalam mengkonstruksi bangunan keilmuan, akan tetapi pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan aspek aksiologis (nilai guna) ilmu pengetahuan yang terabaikan di dalamnya. Salah satu tujuan aksiologi ilmu adalah mempersoalkan apakah ilmu pengetahuan bebas, atau justru terikat nilai. Boleh jadi paradigma di atas yang dianggap telah mengabaikan aspek aksiologis ilmu, merupakan paradigma yang dikhawatirkan oleh ilmuan muslim sehingga melahirkan keinginan untuk melakukan upaya Islamisasi ilmu pengetahuan. Upaya Islamisasi ilmu ini pun dinilai wajar, sebab menganggap ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang bebas nilai akan melahirkan dampak buruk yang cukup besar bagi kelangsungan hidup umat manusia. Namun demikian, mengklaim ilmu pengetahuan yang telah mengalami proses Islamisasi sebagai ilmu keislaman juga merupakan tindakan yang terburu-buru, sebab sebuah objek pengetahuan baru dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan ketika memiliki struktur dan metodologi yang jelas dalam proses pencapaiannya. Dengan demikian, sebuah objek pengetahuan baru dapat diakui sebagai ilmu keislaman ketika basis epistemologinya benar-benar dibangun di atas dasar-dasar epistemologi Islam.
Dalam kasus ilmu komunikasi Islam, nilai-nilai keislaman tampaknya hanya dibangun pada aspek aksiologisnya saja. Hal ini setidaknya ditunjukkan melalui buku yang ditulis Prof.Dr. Syukur Kholil berjudul Komunikasi Islami, yang menekankan komunikasi Islam sebagai komuniksi yang berdasarkan kepada Al Qur’ân dan Hadis yang menjunjung tinggi kebenaran. Berdasarkan pengertian ini, dapat dipahami aspek yang membedakan antara komunikasi Islam dengan komunikasi umum yang cenderung menekankan keuntungan politik dan material. Jika kerangka pikir ini digunakan untuk melihat eksistensi komunikasi Islam sebagai disiplin keilmuan, maka harus diakui bahwa komunikasi Islam hanya memberikan kontribusi pada ilmu komunikasi umum pada aspek aksiologinya saja, namun belum terlihat adanya kontribusi pada basis epistemologi berupa metodologi untuk membangun ilmu komunikasi Islam itu sendiri.
Berangkat dari kerangka pikir di atas, maka sangat wajar jika kemudian Syukur Kholil menyebutkan bahwa komunikasi Islam merupakan cabang dari ilmu-ilmu sosial, bukan cabang dari ilmu-ilmu keislaman. Terlepas dari tepat atau tidaknya menempatkan komunikasi Islam sebagai bagian dari ilmu sosial, ilmu komunikasi dalam ranah kajiannya sendiri masih menyisakan sejumlah problem keilmuan yang belum terjawab. Ilmu komunikasi misalnya, merupakan bagian dari ilmu-ilmu sosial, sementara pada saat yang sama ilmu-ilmu eksakta yang lebih cenderung memiliki hubungan dengan natural science, menjadikan komunikasi sebagai salah satu aspek penting yang dikajinya. Beberapa contoh yang dapat disebutkan, antara lain: kajian tentang teknologi komunikasi dan informasi, komunikasi pertanian, dan atau, komunikasi kedokteran.
Komunikasi Islam sebagai paradigma baru yang lahir beberapa dekade terakhir, meskipun secara akademis pengkajiannya baru ditemukan pada perguruan tinggi Islam, boleh jadi merupakan aspek lain yang lahir akibat kelonggaran ilmu komunikasi itu sendiri. Namun demikian, meskipun kajian komunikasi Islam secara akademis masih dikaji di perguruan tinggi Islam, seluruh hasil pengkajian yang dilakukan tersebut menunjukkan disiplin ini belum mampu melepaskan diri dari sumber awalnya, ilmu komunikasi sebagai cabang ilmu sosial. Pertanyaan yang selanjutnya dapat diajukan adalah, apakah ilmu komunikasi Islam masih dapat diletakkan sebagai bagian dari ilmu sosial ketika variabel Islam melekat padanya?; dan, apakah jika komunikasi Islam dalam peta keilmuan merupakan bagian dari ilmu sosial, dengan sendirinya bersifat statis sehingga tidak dapat ditempatkan struktur dan hierarkinya pada ilmu-ilmu keislaman?. Pertanyaan ini dikemukakan berdasarkan asumsi bahwa paradigma keilmuan dalam dunia Islam seringkali dianggap sebagai alternatif dari keilmuan Barat yang cenderung sekuler dan meninggalkan nilai-nilai ilahiah. Murtadha Muthahari misalnya, menyebutkan bahwa epistemologi Barat merupakan epistemologi yang rapuh sementara epistemologi Islam merupakan epistemologi yang kokoh. Hal senada juga diungkapkan oleh Mulyadi Kertanegara, menurutnya agama (Islam) pada prinsipnya memiliki sumbangan yang besar dalam ilmu pengetahuan, sebab akal dan indera saja belum memadai untuk dapat menembus jantung realitas di mana neumena (hakikat) terletak.
Berbagai problem yang dimunculkan melalui pertanyaan di atas cukup terjawab dengan hipotesa yang dikembangkan Amin Abdullah, bahwa belum ditemukan satu pun dari generasi pemikir-pemikir Islam saat ini yang mencoba menjelaskan relevansi penerapan teori-teori dan metodologi-metodologi ilmiah sebagai intisari filsafat ilmu pada wacana ilmu-ilmu keislaman. Amin Abdullah menambahkan, “Selagi ilmu-ilmu keislaman dan studi-studi keislaman dapat disebut sebagai “science”, maka usaha untuk mempertemukan teori-teori dan metodologi ilmiah dengan bangunan ilmu-ilmu keislaman merupakan suatu langkah yang valid dilakukan,…”.
Meminjam pandangan Amin Abdullah di atas, maka untuk menjadikan komunikasi Islam sebagai sebuah ilmu pengetahuan berdimensi ilmiah yang kokoh, kajian konstruktif untuk pengambangannya menjadi penting dilakukan. Dalam pengamatan penulis, kajian komunikasi Islam yang ada selama ini belum berbeda sama sekali dengan apa yang dikaji pada ranah keilmuan dakwah. Untuk mendapatkan kejelasan perbedaan antara ilmu dakwah dengan ilmu komunikasi Islam tersebut, salah satu objek kajian yang belum tersentuh adalah bangunan epistemologi pada aspek metodologi yang lebih spesifik. Oleh karenanya cukup absah dilakukan sebuah kajian mendalam tentang basis epistemologi guna menemukan metode pengembangan Ilmu komunikasi Islam dengan menyandarkannya pada kajian-kajian terdahulu. Pandangan ini dibangun berdasarkan asumsi bahwa beberapa kajian tentang komunikasi Islam yang telah dilakukan sebelumnya, setidaknya telah memuat beberapa aspek yang dapat dikonstruk sebagai basis epistemologi untuk mengembangkan Ilmu komunikasi Islam, kajian-kajian tersebut dapat dijadikan sebagai kerangka acuan untuk melihat metodologi dan struktur ilmu komunikasi Islam dalam peta pengetahuan ilmiah.

B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka permasalahan pokok yang kemudian akan dikaji pada penelitian ini secara umum dapat dirumuskan ke dalam pertanyaan: “bagaimana bangunan metodologi pengembangan Ilmu Komunikasi Islam?. Rumusan masalah ini mencakup beberapa aspek yang dapat diperinci dengan pertanyaan:
1) Apa hakikat ilmu komunikasi Islam?
2) Bagaimana eksistensi ilmu komunikasi Islam dalam peta keilmuan?
3) Bagaimana merekonstruksi metodologi untuk pengembangan ilmu komunikasi Islam?

C. Batasan Istilah
Epistemologi merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan hakikat dan ruang lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasar, serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Epistemologi karenanya dapat dikatakan sebagai filsafat pengetahuan yang berbicara tentang landasan keilmuan. Landasan keilmuan sendiri merupakan disiplin ilmu dari aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Secara etimologis, epistemologi didefenisikan sebagai theory of knowledge. . Dengan demikian, epistemologi merupakan pembahasan mengenai apa yang dapat diketahui yang terkait dengan teori dan substansi keilmuan.
Sementara itu, komunikasi Islam merupakan rangkaian dari dua kata, komunikasi dan Islam. Karenanya, komunikasi Islam dapat dimaknai sebagai proses komunikasi yang dilaksanakan oleh seseorang atau sekelompok orang yang syarat dengan nilai-nilai keislaman. Islam sendiri lebih tepat disebut sebagai etika kemanusiaan dan ilmu sosial sebagaimana ditegaskan Hasan Hanafi.
Sedangkan metode keilmuan, dapat diartikan sebagai metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logico-hipotetico-verifikatif, yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logico-hipotetico-verifikatif, dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, sebagai berikut:
Pertama, perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya.
Kedua, penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
Ketiga, perumusan hipotesis, merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
Keempat, pengajuan hipotesis, merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan denangan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak.
Kelima, kesimpulan, sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.
Berdasarkan batasan istilah yang dikemukakan di atas, maka ruang lingkup penelitian ini akan dibatasi pada upaya melakukan analisa bangunan epistemologi terhadap metodologi pengembangan ilmu komunikasi Islam. Beberapa aspek yang melingkupi kajian pada penelitian ini adalah: melihat dan mengkonstruksi kembali hakikat ilmu komunikasi Islam, mengidentifikasi eksistensi komunikasi Islam dalam peta pengetahuan ilmiah, dan melakukan analisa dalam upaya rekonstruksi metodologi pengembangan ilmu komunikasi Islam.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan, yaitu mendapatkan hasil analisa bangunan metodologi pengebangan Ilmu Komunikasi Islam. Tujuan ini mencakup beberapa aspek bahasan, yaitu:
1) Hakikat ilmu komunikasi Islam.
2) Eksistensi ilmu komunikasi Islam dalam peta pengetahuan ilmiah.
3) Rekonstruksi metodologi untuk pengembangan ilmu komunikasi Islam.

E. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat berguna bagi kalangan akademis yang berkonsentrasi pada program studi komunikasi Islam, khususnya dalam rangka membangun basis epistemologi guna mengembangkan studi tentang komunikasi Islam. Selain itu, secara praktis hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi peneliti dan praktisi komunikasi Islam, baik dalam kajian akademis maupun penerapannya di tengah masyarakat luas.

F. Kajian Terdahulu
Sejauh penelusuran yang telah dilakukan, khususnya pada berbagai perpusatakaan di Kota Medan, pembahasan tentang komunikasi Islam masih belum mampu melahirkan basis epistemologi yang jelas sebagai landasan keilmuan komunikasi Islam. Meski demikian, pembahasan tentang komunikasi Islam dari berbagai dimensi kajian cukup banyak dibicarakan. Di antara kajian-kajian yang dapat disebutkan, adalah:
1) Islam, Komunikasi dan Teknologi Maklumat, yang ditulis Zulkipli Ghani, telah diterbitkan di Selangor oleh Utusan Publications & Distributors SDN BHD pada tahun 2001. Secara umum, buku ini membahas dasar-dasr komunikasi Islam; pemahaman terhadap komunikasi Islam, teori dan model komunikasi Islam, serta etika komunikasi Islam.
2) Komunikasi Islam, yang ditulis A. Mu’is. Diterbitkan Remadja Rosdakarya Bandung pada tahun 2001. Buku ini antara lain membahas tentang paradigma komunikasi Islam berdasarkan al-Qurān.
3) Komunikasi dalam Perspektif Islam, ditulis oleh Syukur Kholil yang menjadi salah satu topik pada buku Antologi Kajian Islam, telah diterbitkan oleh Cipta Pustaka Media, Bandung pada tahun 2004. Tulisannya di arahkan pada apresiasi terhadap jurnal Media, Culture and Society yang diterbitkan di London.
4) Analisa Landasan Keilmuan Komunikasi Islam, sebuah tesis yang ditulis Hasnun Jauhari Ritonga yang mencoba melakukan analisa terhadap basis epistemologi komunikasi Islam.

G. Metodologi Penelitian
Penelitian ini dikelompokkan ke dalam jenis penelitian literatur/studi kepustakaan (Library Research), karena objek yang dipilih adalah hasil kajian tertulis yang dilakukan beberapa peneliti terdahulu tentang komunikasi Islam, baik ditinjau dari aspek landasan keilmuan maupun aspek praktis terhadap penerapannya di lapangan. Titik tekan yang ingin dilakukan adalah melihat sejauh mana basis epistemologi terbangun pada kajian-kajian tersebut, untuk selanjutnya melakukan analisa terhadap metodologi pengembangannya. Kajian-kajian yang dipilih bersifat terbuka dan dapat berkembang pada waktu penelitian, mengingat penelitian ini mengambil paradigma kualitatif, di mana data dapat berkembang ketika penelitian dilakukan. Akan tetapi, secara umum kajian-kajian yang telah dipilih untuk dianalisis, adalah:
1) Tesis berjudul: Analisa Landasan Keilmuan Komunikasi Islam, yang ditulis Hasnun Jauhari Ritonga pada tahun 2008;
2) Buku berjudul: Komunikasi Islami, yang ditulis Syukur Kholil pada Tahun 2009;
3) Kajian berjudul: Komunikasi dalam Perspektif Islam, yang ditulis Syukur Kholil pada tahun 2008;
4) Tulisan berjudul: Eksistensi Ilmu Komunikasi Islam: Suatu Tinjauan Filsafat Ilmu, yang ditulis Muhammad Husni Ritonga pada tahun 2008;
5) Tulisan berjudul: Tantangan dan Peluang Komunikasi Islam pada Era Globalisasi Informasi, yang ditulis Mohd. Rofiq pada tahun 2003.
Sumber data pada penelitian ini dibagi ke dalam dua sumber, primer dan skunder. Sumber data primer seluruhnya diperoleh dari berbagai kajian yang dipilih dalam penelitian ini, sedangkan sumber data skunder merupakan data pendukung yang diperoleh dari berbagai lieteratur-literatur yang terkait dengan masalah penelitian.
Sebagai penelitian literatur, hal pertama yang akan dilakukan untuk menganalisis data adalah menentukan kajian-kajian terpilih, selain kajian-kajian yang telah disebutkan sebelumnya, kajian-kajian berhubungan lainnya yang berkembang dalam penelitian juga tidak luput dari proses analisis yang akan dilakukan. Pemilihan literatur ini disesuaikan dengan kebutuhan penelitian. Sesudah menentukan judul literatur penelitian, maka langkah berikutnya adalah: inventarisasi literatur; deskripsi literatur; kritik teks; dan analisis isi.
Syukur Kholil mengutip beberapa ahli, menyimpulkan pengertian analisis isi dengan beberapa pemahaman: pertama; bersifat sistematis sesuai dengan prosedur yang benar; kedua, bersifat objektif dengan perolehan hasil yang sama jika diuji oleh penelitian lain dengan menggunakan kategori yang sama; ketiga, bersifat kuantitatif namun tidak menutup kemungkinan dikaji dengan menggunakan cara yang lain. Sementara itu, Jalaluddin Rakhmat menyebutkan analisis isi sebagai prosedur yang digunakan untuk memperoleh keterangan dari isi komunikasi yang disampaikan dalam bentuk lambang. Penelitian ini umumnya dilalui dengan beberapa tahap, yaitu: merumuskan masalah; merumuskan hipotesis; memilih sampel; pembuatan alat ukur; pengumpulan data; dan analisis data.
Pengertian analisis isi yang dikemukakan di atas cenderung diarahkan pada penelitian kuantitatif yang bersifat menguji teori karena menggunakan hipotesis, padahal analisis isi sebagai salah satu penelitian dari tradisi ilmu komunikasi lebih tepat dikaji dengan pendekatan kualitatif. Sebagaimana disebutkan Klaus Kripendorf, penelitian bidang komunikasi semestinya bersifat kualitatif, dengan mengutip Jenis selanjutnya ia mengemukakan beberapa klasifikasinya, yaitu:
1. Analisis isi pragmatis, prosedur yang mengklasifikasi tanda menurut sebab atau akibat yang mungkin;
2. Analisis isi semantik, prosedur yang mengklasifikasi tanda menurut maknanya;
3. Analisis sarana tanda (sign-vehicle), prosedur yang mengklasifikasi isi menurut sifat psiko-fisik dari tanda.
Berangkat dari beberapa prosedur yang dipaparkan di atas, penelitian ini diarahkan pada penelitian kualitatif dengan cara memaparkan data secara deskriptif. Data dikumpulkan dengan terlebih dahulu membuat kategori-kategori tertentu dan memilih data sesuai dengan tema-tema yang tepat. Sebagai langkah akhir dari proses penelitian ini, data selanjutnya dianalisis dengan prosedur kualitatif yang dapat dimulai dengan terlebih dahulu menelaah seluruh data yang tersedia, selanjutnya data direduksi dengan melakukan abstraksi, yaitu membuat rangkuman yang inti, proses dan pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Langkah selanjutnya disusun ke dalam satuan-satuan untuk dikategorikan. Sementara itu, Syukur kholil menyebutkan penelitian kualitatif secara umum bersifat grounded research, di mana teori berfungsi sebagai mempertajam kepekaan peneliti dalam melihat data, serta merumuskan teori atas dasar data yang diperoleh. Dengan demikian, teori-teori yang dapat mempertajam pengamatan penelitian ini, khususnya teori-teori yang berhubungan dengan ilmu komunikasi dan filsafat ilmu menjadi titik tekan yang penting sebagai alat analisis untuk menarik sebuah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan.

H. Garis-garis Besar Isi Tesis
Hasil penelitian yang dituangkan dalam penulisan tesis ini disusun ke dalam lima bab secara sistematis, yaitu:
Bab pertama, merupakan bagian pendahuluan yang mencakup beberapa pasal, yaitu: latar belakang masalah; rumusan masalah; batasan istilah; tujuan penelitian; kegunaan penelitian; kajian terdahulu; metodologi penelitian; dan garis-garis besar isi tesis.
Bab kedua, memaparkan beberapa konsep dasar landasan keilmuan, yang mencakup pasal-pasal tentang: beberapa jenis pengetahuan; sumber dan cara memperoleh pengetahuan; landasan keilmuan (epistemologi); metodologi dan struktur pengetahuan ilmiah; serta integrasi ilmu.
Bab ketiga, memaparkan paradigma ilmu komunikasi Islam, yang mencakup pasal-pasal tentang: sejarah dan tokoh komunikasi Islam; ruang lingkup ilmu komunikasi Islam; dan wacana masa depan komunikasi Islam.
Bab ke empat, merupakan hasil penelitian yang mencakup pasal-pasal tentang: hakikat ilmu komunikasi Islam; komunikasi Islam dalam peta pengetahuan ilmiah; dan, rekonstruksi metodologi pengembangan ilmu komunikasi Islam.
Bab kelima merupakan bagian penutup yang memaparkan kesimpulan hasil penelitian dan beberapa saran.
BAB II
KONSEP DASAR ILMU PENGETAHUAN

A. Jenis Pengetahuan
Mengetahui jenis-jenis pengetahuan menjadi konsekuensi logis dalam pembicaraan mengenai ilmu pengetahuan (science) oleh karena ilmu pengetahuan merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. Namun demikian, sebelum menjelajahi lebih jauh tentang jenis-jenis pengetahuan tersebut, terlebih dahulu perlu dipahami apa yang dimaksud dengan pengetahuan yang merupakan sifat dasar manusia atau seperti ditekankan Aristoteles, “setiap manusia dalam kodratnya ingin tahu”. Memang pandangan ini terkesan berbenturan dengan pandangan Sokrates yang menganggap bahwa ketidaktahuan merupakan kenyataan kodrati manusia, akan tetapi dari pandangan keduanya pada dasarnya dapat ditemukan relasi. Relasi tersebut dapat dirumuskan dengan pernyataan bahwa langkah pertama menuju pengetahuan yang dibayangkan Aristoteles pada dasarnya merupakan kesadaran Sokratik terhadap ketidaktahuan manusia, sehingga ada keinginan untuk tahu dan mewujudkan keingintahuan tersebut.
Pengetahuan sendiri bukanlah terminologi yang dengan mudah dapat didefinisikan. Keneth T. Gallagher menyebutkan pengetahuan sebagai “sui genis” atau sesuatu yang berhubungan dengan apa yang paling sederhana dan paling mendasar. Jika mendefinisikan sesuatu berarti menempatkan sesuatu itu pada istilah-istilah yang paling sederhana agar mudah dipahami, maka pengetahuan merupakan peristiwa yang paling mendasar dan tidak dapat direduksi lagi, sehingga pengetahuan sulit dijelaskan dengan istilah yang lebih sederhana dari istilah pengetahuan itu sendiri.
Adakalanya pengetahuan dijadikan faktor untuk membedakan antara manusia dengan binatang. Sebenarnya, jika dikaji secara mendalam, manusia dan binatang tidak dapat dibedakan berdasarkan faktor pengetahuan karena binatang juga memiliki apa yang disebut dengan pengetahuan. Hanya saja pengetahuan binatang tidak berkembang sebagaimana pengetahuan manusia, karena pengetahuan binatang hanya terbatas pada usaha untuk mempertahankan keberlanjutan hidupnya. Faktor yang kemudian yang membedakan antara manusia dan binatang adalah “penalaran”. Jujun S. Suryasumantri menegaskan bahwa kemampuan menalar yang dimiliki manusia menyebabkan manusia dapat mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Penalaran―dijelaskan Jujun lebih lanjut―merupakan proses berpikir dalam menarik kesimpulan yang akan menghasilkan pengetahuan yang ditempuh melalui proses berpikir sebagai upaya untuk mendapatkan pengetahuan yang benar.
C.A. van Peursen, seorang pakar filsafat berkebangsaan Belanda memberikan pemahaman yang lebih sederhana tentang pengetahuan. Menurutnya, pengetahuan berarti manusia sadar akan berang-barang di sekitarnya. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa pengetahuan dapat diukur dengan kesadaran manusia. Tidak ada yang diketahui manusia jika manusia tersebut dalam posisi tidak sadar. Pengetahuan adalah kesadaran manusia akan sesuatu yang berada di sekitarnya. Dalam kajian filsafat, ada sejumlah deskripsi terkait dengan “tahu”nya manusia, yaitu: (1) manusia tahu bahwa ia tahu; (2) manusia tahu bahwa ia tidak tahu; (3) manusia tidak tahu bahwa ia tahu, dan; (4) manusia tidak tahu bahwa ia tahu.
Tipe manusia pertama (manusia tahu bahwa ia tahu) dianggap sebagai manusia yang bijak tempat manusia yang lain dapat belajar darinya. Tipe kedua adalah manusia yang jujur sehingga manusia yang lain perlu meneladaninya. Tipe manusia ketiga adalah manusia yang tertidur (ia tidak tahu bahwa ia tahu), karenanya manusia tipe ketiga ini dianggap sebagai manusia yang tidak sadar. Sedangkan tipe manusia keempat merupakan analogi manusia yang tersesat dan perlu mendapat bimbingan dari orang yang bijaksana. Deskripsi ini tidak lebih dari sekedar ilustrasi, tapi cukup bermanfaat untuk menegaskan bahwa pengetahuan sangat erat hubungannya dengan kesadaran.
Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan (knowledge) didefenisikan sebagai “justified true belief”, artinya pengetahuan harus merupakan kepercayaan yang benar. Pengertian ini mengandung konsekuensi bahwa jika kepercayaan tersebut tidak benar, maka sesuatu itu bukan merupakan pengetahuan melainkan kekeliruan atau kontradiksi. Pandangan ini tampaknya telah dirumuskan sebelumnya oleh Bertrand Russel yang menegaskan bahwa pengetahuan merupakan sub jelas dari kepercayaan yang benar. Russel mengungkapkan: “setiap hal mengenai pengetahuan merupakan hal mengenai kepercayaan yang benar tetapi tidak sebaliknya”.
Definisi pengetahuan sebagaimana dikutipkan di atas pada prinsipnya akan memunculkan pertanyaan, apakah setiap pengetahuan haru mengandung nilai kebenaran?; dan, bagaimana pula orang yang tahu, tapi tidak tahu bahwa pengetahuan itu salah?. Penulis sendiri berasumsi bahwa pengetahuan pada dasarnya merupakan segala hal yang diketahui manusia dalam proses sadarnya, baik pengetahuan tersebut memiliki kesimpulan yang benar maupun kesimpulan yang salah (keliru). Sejarah pengetahuan manusia juga meniscayakan asumsi ini, bahwa pada mulanya pengetahuan manusia berkembang dari taraf yang paling sederhana, bahkan keliru dalam pandangan pengetahuan modern, hingga kemudian ia mampu mencapai tahap pengetahuan ilmiah. Pengetahuan dengan kesimpulan yang benar lazimnya dibicarakan pada ranah pengetahuan ilmiah, dan untuk mengetahui lebih seksama tentang pengetahuan tersebut, maka perlu terlebih dahulu dikemukakan beberapa jenis pengetahuan ini.
Tingkat paling dasar pengetahuan manusia dalam ranah filsafat pengetahuan lazim disebut dengan istilah common sense (akal sehat/pengetahuan umum). Van Peursen menyebutkan common sense merupakan pengetahuan manusia yang diperoleh melalui pencernaan panca indera. Van Peursen lebih lanjut mengemukakan bahwa ahli pikir Yunani sering menganggap bahwa common sense sebagai pengetahuan yang diperoleh melalui panca indera merupakan pengetahuan yang tidak menentu dan menyesatkan. Padahal, baik pengetahuan ilmiah, filsafat, maupun agama, sejatinya merupakan pengetahuan yang berkembang dari pengetahuan common sense.
Pengetahuan yang cenderung berorientasi pada kesimpulan yang benar lazimnya menjadi tugas—atau dibicarakan—dalam ranah pengetahuan ilmiah (ilmu/sains). Ilmu (sains) adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran ilmiah tentang objek tertentu yan diperoleh melalui pendekatan, metode dan sistem tertentu. Jika proses cerapan rasa tahu manusia merupakan pengetahuan secara umum yang tidak mempersoalkan seluk beluk pengetahuan tersebut, ilmu dalam hal ini mencoba untuk menguji kebenaran pengetahuan tersebut secara lebih luas dan mendalam. Ilmu tidak hanya berbicara tentang hakikat (ontologis) pengetahuan, melainkan juga mempersoalkan tentang bagaimana (epistemologis) pengetahuan tersebut dapat diproses menjadi sebuah pengetahuan yang benar dan memiliki nilai guna (aksiologis). Oleh karenanya, ilmu pengetahuan memiliki ciri berkembang secara dinamis sebagaimana ditunjukkan pada skema berikut ini:


Gambar 1
Skema Perkembangan Ilmu Pengetahuan




(Sumber: hasil analisa dan pengolahan beberapa sumber)


Berdasarkan skema di atas, dapat dilihat bahwa ilmu bergerak secara dinamis mengikuti pola, 1, 2, 3,…dst. Ilmu akan menghasilkan sebuah teori yang lazim disebut sebagai tesa, dan teori yang tidak mapan biasanya akan mengalami kritik melalui anti-tesa, dan hasil dari tesa tersebut dengan sendirinya menjadi tesa yang baru. Sejalan dengan pemaparan ini, Irwandar pada buku Dekonstruksi Pemikiran Islam: Idealitas Nilai dan Realitas Empiris menyebutkan Ilmu pengetahuan pada prinsipnya merupakan sebuah tesis yang diuji dengan anti-tesis sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru (sintesis). Hasil pengetahuan baru tersebut (sintesis) akan menjadi sebuah tesis yang baru pula sehingga akan diuji kembali dengan anti-tesis yang baru dan akan melahirkan pengetahuan yang baru (sintesis).
Selain pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah (sains) yang telah dipaparkan di atas, filsafat juga merupakan bagian penting yang turut dibicarakan dalam ranah pengetahuan, sebab filsafat merupakan bagian dari pengetahuan itu sendiri. Filsafat memiliki pengertian yang cukup beragam, antara lain:
1. All learning exclusive of technical precepts and practical arts;
2. a discipline comprising as it core logic, aesthetic, ethics, metaphysic, and epistemology;
3. a search for a general understanding of values and reality by chiefly speculative rather than observational means;
4. an analysis of the ground of and concepts expressing fundamental beliefs;
5. a theory underlying or regarding a sphere of activity of thought;
6. the most general beliefs, concepts and attitudes of and individual or group;
7. calmness of temper and judgment.
Pengertian filsafat yang demikian luas dan beragam tersebut sesungguhnya menunjukkan ciri utama yang harus ada dalam filsafat, yaitu: universal, radikal dan sistematis. Selain itu, Nur Ahmad Fadhil Lubis juga menyebutkan ciri-ciri lain yang ditambahkan beberapa penulis, antara lain: deskriptif, kritis, analisis, evaluatif dan spekulatif. Jika ilmu pengetahuan berjalan dinamis mengikuti pola 1, 2, 3,…dst, maka ciri berpikir filsafat dapat dijelaskan seagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:

Gambar 2
Skema Berpikir Filsafat



(Sumber: hasil analisa dan pengolahan beberapa sumber)
Pemaparan di atas secara umum telah memberikan gambaran pengertian pengetahuan, ilmu (sains), dan filsafat sebagai bagian dari pengetahuan manusia. Berdasarkan gambaran tersebut tentunya dapat dilihat sejumlah perbedaan di antara ketiganya (pengetahuan, sains, dan filsafat). Perbedaan-perbedaan tersebut akan lebih mudah dilihat dengan membuat tabulasi tentang fungsi dan cara memperoleh pengetahuan berdasarkan tiga jenis pengetahuan tersebut (pengetahuan, sains, dan filsafat) sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 1
Perbedaan Ilmu, Pengetahuan, dan Filsafat

Jenis Pengetahuan Fungsi Cara Memperolehnya
Pengetahuan Biasa Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mempersoalkan seluk beluk pengetahuan secara mendalam Melalui pencernaan indra dan pengalaman secara umum
Ilmu (Sains) Untuk menguji kebenaran dari pengetahuan manusia secara umum yang berkisar pada pengalaman sehari-hari guna memenuhi kebutuhan hidup manusia Melalui penalaran dengan metode dan cara-cara tertentu secara objektif dan sistematis
Filsafat Untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan akhir guna menemukan kebenaran yang hakiki Melalui penalaran yang luas dan mendasar dengan pola berpikir sistematis

(Sumber: hasil analisa dan pengolahan beberapa sumber)

Penjelasan di atas menunjukkan perbedaan signifikan pada fungsi dan cara memperoleh pengetahuan dari ketiga jenis pengetahuan yang sedang dibahas. Meskipun pengetahuan secara umum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia—karena pengetahuan tidak lain merupakan jawaban dari berbagai pertanyaan yang muncul berhubungan dengan persoalan-persoalan hidup—fungsi spesifik dari ketiga jenis pengetahuan di atas tetap mengandung beberapa perbedadan disamping perbedaan cara memperolehnya. Perbedaan yang lain, khususnya yang dapat ditemukan di antara ilmu dan filsafat, adalah bahwa filsafat berupaya mencari hakikat dari segala sesuatu, bukan hanya sekedar relasi kausal atau penjelasan deskriptif saja, sementara ilmu pengetahuan merupakan fragmentaris yang menjadikan suatu bagian tertentu sebagai bidang kajiannya.

B. Sumber dan Cara Memperoleh Pengetahuan
Setelah mengetahui jenis-jenis pengetahuan, langkah selanjutnya untuk memahami konsep dasar pengetahuan ilmiah adalah mengetahui sumber dan cara memperoleh pengetahuan. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa pengetahuan, termasuk di dalamnya pengetahuan ilmiah dan filsafat, pada haikatnya berawal dari pengalaman yang diperoleh berdasarkan proses ‘pencernaan’ panca indera. Proses pencernaan panca indera terhadap objek tertentu akan melahirkan pengalaman-pengalaman yang bersifat pengetahuan umum (common sense). Pertanyaan yang mendalam, sistematis, dan menggunakan metode-metode tertentu akan mengubah pengetahuan biasa menjadi sebentuk pengetahuan ilmiah.
Sidi Gazalba menyebutkan, dalam sejarah filsafat pengetahuan lazimnya diperoleh melalui salah satu dari empat cara, yaitu: pengetahuan yang dibawa sejak lahir; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan budi; pengetahuan yang diperoleh berdasarkan indera-indera khusus seperti pendengaran, ciuman, dan rabaan; dan atau, pengetahuan yang diperoleh dari penghayatan langsung atau ilham. Sementara itu, Jujun S. Suryasumantri memandang pengetahuan berkembang dari upaya manusia untuk menafsirkan dan memahami gejala alam. Pada awalnya, gejala alam dipersepsi sebagai pencerminan dari kepribadian dan kelakuan makhluk luar biasa yang melahirkan mitos seperti dewa yang pemarah, dewa hujan, atau dewa cinta.
Pada tahap selanjutnya, pengetahuan manusia berkembang ditandai dengan usaha manusia untuk menafsirkan dunia terlepas dari belenggu mitos. Manusia mengembangkan pengetahuannya dengan mempelajari alam berdasarkan akal sehat (common sense) sembari mengembangkan metode mencoba-coba (trial and error). Perkembangan ini menyebabkan tumbuhnya pengetahuan yang disebut “seni terapan” (applied arts) yang memiliki kegunaan langsung dalam kehidupan badani sehari-hari dan bertujuan untuk memperkaya spiritual. Jujun lebih jauh menekankan, akal sehat dan cara mencoba-coba ini memiliki peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan penjelasan mengenai berbagai gejala alam.
Akal sehat (common sense) merupakan cara yang paling mendasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan. Filsafat dan ilmu bahkan harus diawali dengan akal sehat (common sense) sebab keduanya tidak memiliki landasan awal yang lain untuk berpijak. Sebagaimana dikutip Jujun berdasarkan Randall dan Buchler pada buku Philosophy: A Introduction, akal sehat dimaknai sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat pengalaman secara tidak sengaja, bersifat sporadis dan kebetulan, dengan karakteristik: pertama, berakar pada adat dan tradisi sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan; kedua, landasannya berakar kurang kuat sehingga kesimpulan yang ditarik sering berdasarkan asumsi; dan ketiga, karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi dan tidak dikaji lebih lanjut sehingga akal sehat menjadi pengetahuan yang tidak teruji.
Perkembangan pengetahuan manusia pada tahap selanjutnya ditandai dengan tumbuhnya rasionalisme yang secara kritis mempermasalahkan dasar-dasar pikiran yang bersifat mitos. Jujun menegaskan, rasionalisme sering menghasilkan kesimpulan yang benar jika ditinjau dari alur-alur logika yang digunakannya, namun sangat bertentangan dengan kenyataan sebenarnya. Kelemahan rasionalisme ini kemudian menyebabkan lahirnya empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan yang benar itu didapat dari kenyataan pengalaman.
Ada semacam benturan serius ketika rasionalisme dan empirisme dihadapkan. Metode eksperimen kemudian lahir untuk menjembatani keduanya, di mana penjelasan teoretis yang hidup di alam rasional mengambil pembuktian yang dilakukan secara empiris. Metode eksperimen yang belakangan berkembang menjadi paradigma ilmiah pada mulanya dikembangkan oleh para sarjana muslim dan diperkenalkan di dunia Barat oleh Roger Bacon (1214-1294), kemudian mendapatkan penyempurnaan sebagai paradigma ilmiah atas usaha Francis Bacon (1561-1626). Pengembangan metode ini selanjutnya diterima sebagai paradigma (metode) ilmiah sehingga sejarah manusia dapat menyaksikan perkembangan pengetahuan yang sangat cepat.
Pengetahuan manusia pada umumnya dikelompokkan ke dalam empat jenis pengetahuan, yaitu: pertama, pengetahuan umum (common sense) sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tanpa mengetahui seluk beluk yang luas dan mendalam; kedua, pengetahuan ilmiah (sains), yaitu pengetahuan yang masih berkisar di seputar pengalaman dan diperoleh melalui metode dan cara-cara tertentu; ketiga, pengetahuan filsafat, merupakan pengetahuan tanpa batas dengan menggunakan pengkajian secara mendalam dan hakiki menembus batas pengalaman biasa; dan keempat, pengetahuan agama sebagai pengetahuan yang dapat diperoleh melalui Tuhan lewat perantaraan utusan-Nya, biasanya bersifat mutlak dan wajib diikuti.
Jika pada pemaparan sebelumnya diketahui beberapa cara manusia memperoleh pengetahuan antara lain: pengalaman; akal sehat (common sense); trial and eror (metode mencoba-coba); dan metode eksperimen sebagai paradigma ilmiah, maka berdasarkan pengelompokkan jenis pengetahuan manusia ini diketahui pula cara lain manusia memperoleh pengetahuan, yaitu: filsafat dan agama. Kedua cara ini pada dasarnya merupakan cara yang saling bertentangan satu sama lain. Filsafat misalnya, menjadi metode pencarian kebenaran yang masih dipersoalkan oleh kelompok agamais dengan pertanyaan: mungkinkah kebenaran/pengetahuan dapat diperoleh melalui jalan filsafat?. Sebagaimana disinggung Nur Ahmad Fadhil Lubis dalam bukunya Pengantar Filsafat Umum, filsafat tidak menawarkan jawaban yang pasti dan jalan keluar yang aman, justru mempersoalkan permasalahan sehari-hari yang sama sekali tidak dipersoalkan. Sebaliknya, agama kerap dipersepsi sebagai rumusan yang telah selesai dan tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.
Selain filsafat dan agama sebagai cara yang lain untuk memperoleh pengetahuan, beberapa tokoh filsafat juga menyebutkan “intuisi” sebagai salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan. Intuisi adalah pengetahuan yang diperoleh secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Henry Bergson mengaggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal. Ibn Arabi merupakan salah satu tokoh dari literatur Islam yang menganggap penting intuisi sebagai sumber untuk memperoleh pengetahuan. Bahkan, intuisi boleh dikatakan sebagai intisari dari filsafat mistis Ibn Ar-Rabi.
Dari sejumlah penjelasan di atas, dapat ditemukan beberapa cara manusia memperoleh serta mengembangkan pengetahuan. Cara-cara tersebut adalah: pengalaman, common sense (akal sehat), trial and eror (metode mencoba-coba), metode eksperimen yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai pengetahuan ilmiah, filsafat, agama, dan intuisi. Perkembangan pengetahuan manusia dari pengetahun biasa kepada pengetahuan ilmiah dapat dijelaskan sebagaimana gejala tahu yang dirumuskan para pemikir filsafat, yaitu: pertama, tidak dari permulaan adanya manusia itu tahu sehingga ia ingin mengetahui sesuatu tentang dirinya; kedua, lahir keinginan manusia untuk mengajukan pertanyaan guna menemukan jawaban yang memuaskan, dan pengetahuan yang memuaskan adalah pengetahuan yang benar; ketiga, sasaran atau objek yang ingin diketahui adalah sesuatu yang ada atau yang mungkin ada yang mampu merangsang keingintahuan manusia; dan keempat, hasil dari gejala mengetahui adalah manusia secara sadar tahu bahwa ia tahu.

C. Metode Ilmiah dan Struktur Pengetahuan Ilmiah
Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan prosedur yang disebut sebagai metode ilmiah. Sebagaimana yang telah disinggung pada pembahasan terdahulu, kelahiran metode ilmiah diawali dari keberhasilan Francis Bacon meyakinkan masyarakat ilmuan untuk menerima metode eksperimen sebagai kegiatan ilmiah. Dengan demikan, sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Jujun, bahwa: secara konseptual metode eksperimen dikembangkan oleh sarjana muslim dan secara sosiologis dimasyarakatkan oleh Francis Bacon, meskipun secara jujur—ungkap Jujun—Francis Bacon tidak pernah menyebutkan para pendahulunya.
Jujun S. Suryasumantri pada bukunya yang lain menyebutkan: metode ilmiah yang menghasilkan pengetahuan yang bersifat logis dan teruji dengan jembatan berupa pengajuan hipotesis disebut juga sebagai metode logico-hipotetcko-verifikatif, yang menuntun cara berpikir untuk mendapatkan hasil pengetahuan ilmiah. Metode ilmiah ini dicerminkan melalui penelitian ilmiah yang merupakan gabungan dari cara berpikir rasional dan empiris. Kerangka berpikir ilmiah yang bertolak pada logico-hipotetico-verifikatif, dijelaskan Jujun pada bukunya Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, sebagai berikut:
1) Perumusan masalah, yang merupakan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasi faktor-faktor yang terkait di dalamnya;
2) Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis, merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengkait dan membentuk kontelasi permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan;
3) Perumusan hipotesis, merupakan jawaban sementara antara dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir yang dikembangkan;
4) Pengajuan hipotesis, merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak;
5) Penarikan kesimpulan, sebagai penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.
Pola penggunaan metode ilmiah ini secara sederhana ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 3
Pola Metode Ilmiah















(Sumber: Jujun. S. Suryasumatri, 1985:129)
Metode ilimiah yang digambarkan melalui pola di atas memperlihatkan bagaimana pengetahuan diproses melalui serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan. Sangat wajar jika kemudian—ungkap Jujun—karakteristik kedisiplinan ini menjadikan ilmu dikonotasikan sebagai disiplin. Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal akan diakui sebagai pengetahuan ilmiah yang baru, yang tentunya akan memperkaya khazanah keilmuan yang telah ada.
Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam, meramalkan dan mengontrol apakah ramalan tersebut akan terjadi. Dengan demikian, ilmu pengetahuan secara garis besar memiliki tiga fungsi: menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol. Fungsi-fungsi ilmu pengetahuan ini pula yang selanjutnya menghendaki sebuah pengkajian ilmiah melahirkan teori sebagai pengetahuan yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Karena memang pada dasarnya tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan itu adalah mengembangkan teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.
Jujun lebih jauh menyebutkan, sebuah teori biasanya terdiri dari hukum-hukum untuk menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih dalam satu kaitan sebab akibat. Hukum yang diperoleh dari sebuah teori memungkinkan manusia meramalkan apa yang akan terjadi sebagai akibat dari sebuah sebab. Contoh paling mudah yang dapat dikemukakan dari hukum yang dilahirkan oleh teori antara lain: hukum permintaan dan penawaran yang ditelurkan dari disiplin ilmu ekonomi. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa teori merupakan pengetahuan ilmiah yang memberikan penjelasan tentang “mengapa” suatu gejala terjadi, dan hukum akan memberikan kemampuan untuk meramlakan tentang “apa” yang mungkin terjadi.
Jika dilakukan pembacaan ulang secara cermat sebuah pengkajian ilmiah yang melewati serangkaian metode ilmiah untuk kemudian menghasilkan teori-teori tertentu dengan seperangkat hukum-hukum di dalamnya, tampak jelas bagaimana sebuah keilmuan tersusun secara rapih, sistematis dan penuh dengan kedisiplinan. inilah yang selanjutnya dapat disebut sebagai struktur pengetahuan ilmiah, mengingat pengertian “struktur” membicarakan bagaimana sesuatu disusun dengan baik.

D. Landasan Keilmuan: Perbandingan Epistemologi Barat dan Islam
Agar dapat disebut sebagai pengetahuan ilmiah, suatu objek pengetahuan harus memiliki fondasi atau landasan keilmuan. Landasan keilmuan sebuah objek kejian umumnya berbicara tentang tiga hal, yaitu: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pembahasan pada bagian ini akan menekankan aspek epistemologis sebagai bagian yang banyak dibicarakan dalam landasan keilmuan. Titik tekan yang ingin dikemukakan adalah untuk membandingkan kajian epistemologi Barat dan epistemologi Islam.
Secara terminologis, epistemologi terambil dari bahasa Yunani episteme dan logos, atau logy. Keduanya berarti pengetahuan (knowledge), dan teori, dengan demikian epistemologi berarti teori tentang pengetahuan (theory of knowledge). Dalam Dictionary of Philosophy yang ditulus Dagobert D. Runners, diungkapkan: “epistemology is the branch of philosophy with investigates the origin, artructure, methods and vilidity of knowlodge”. Epistemologi disebut juga dengan istilah seperti gnosiologi, logika material, criteriologi, dan Filsafat Pengetahuan.
Epistemologi merupakan kajian filsafat yang mempersoalkan proses terjadinya pengetahuan, dari mana pengetahuan berasal, bagaimana nilai kebenaran dari pengetahuan tersebut, serta metode-metode apa yang digunakan, dalam epistemologi dibahas pula aliran-aliran dari teori pengetahuan. Berdasarkan pemaparan ini, maka dapat disimpulkan bahwa epistemologi setidaknya membahas tiga aspek penting, yaitu: asal-usul pengetahuan, karakteristik pengetahuan, dan tingkat kebenaran pengetahuan.
Ada semacam benturan pandangan antara epistemologi dalam perspektif Barat dengan epistemologi dalam perspektif Islam. Epistemologi Barat—untuk sementara pandangan—dianggap sebagai epistemologi sekuler karena mereka mengabaikan nilai-nilai ketuhanan. Padahal, sumber dari segala pengetahuan tidak terlepas dari hakikat Tuhan sebagai zat yang paling mutlak, dan konsep inilah yang ditawarkan dalam epistemologi Islam. Selain itu, dalam epistemologi Barat, ilmu merupakan fakta yang objektif, karenanya hanya objek yang benar-benar riil dan empiriklah yang dapat dijadikan sebagai objek ilmu pengetahuan, sehingga sistem keilmuan Barat banyak mengabaikan hal-hal yang bersifat metafisik.
Adapun ciri dan pendekatan epistemologi Barat—mengutip Mujamil Qomar—dapat disebutkan, antara lain:
Pertama, skeptis atau penuh keraguan. Pendekatan keraguan ini tampaknya dipengaruhi oleh Descartes yang pernah mendapat julukan “bapak pengetahuan filsafat modern”. Menurut Descartes, filsafat dan ilmu pengetahuan dapat diperbarui melalui metode dengan menyangsikan segala-galanya. Descartes juga membangun sebuah konsep pemikiran bahwa dalam bidang ilmiah, tidak ada sesuatu yang dianggap pasti, semuanya dapat dipersoalkan dan pada kenyataannya memang dipersoalkan, kecuali ilmu pasti.
Kedua, karena pendekatan yang skeptis, maka pendekatan ini juga tidak dapat dilepaskan dengan metode rasional-empiris. Mekanisme kerja epistemolgoi Barat sangat menekankan—bahkan mutlak dibutuhkan—penggunaan rasio, karena tidak ada kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan tanpa mendapatkan pembenaran rasio. Oleh karena rasio memainkan peranan penting dalam epistemologi Barat, maka adakalanya fakta yang benar-benar riil tidak dikategorikan sebagai ilmu, seperti “ilmu santet”, karena objeknya tidak dapat dinalar melalui rasio.
Ketiga, pendekatan dikotomik, yaitu pembagian atas dua konsep yang saling bertentangan. Dapat dikatakan, pendekatan dikotomik ini meninggalkan sejarah yang jelas dalam kemajuan keilmuan Barat yang ditandai dengan kemunculan zaman renaisans sebagai pintu masuk abad modren di dunia Barat. Dalam faktanya, modernitas telah menelurkan sejumlah problem mendasar, seperti mempertebal “sekat” yang memisahkan para Saintis dengan Gereja. Galileo (1564-1626) dijatuhi hukuman mati karena temuannya mengukuhkan teori Coperniccus (1473-1543) tentang heliosentris yang jelas-jelas bertentangan dengan dogma Gereja. Sebenarnya, masih banyak para Saintis lain yang mengalami nasib sama karena beberapa temuan mereka kontradiktif dengan apa yang telah dikisahkan al Kitab, seperti Giordano Bruno (1548-1600), seorang pengagum Coperniccus yang pernah dibakar hidup-hidup. Dominasi Gereja yang kerap menutup diri dengan berbagai temuan ilmiah yang bertentangan dengan al Kitab kemudian menyebabkan Gereja dan Saintis berjalan pada porsinya masing-masing. Kaum Gereja menganggap kebenaran al Kitab sebagai kebenaran mutlak yang tidak membutuhkan pembuktian ilmiah, kondisi ini kemudian mempengaruhi sikap para Saintis yang seolah tidak mendapatkan tempat nyaman dari dominasi Gereja terhadap temuan mereka sehingga melahirkan sikap apatis dan menafikan legitimasi al Kitab terhadap berbagai temuan ilmiah. Dari sinilah diyakini tonggak awal modernisasi (Barat) yang meniscayakan apa yang sering disebut dengan istilah sekularisme, dan pendekatan dikotomik dalam epistemologi keilmuan.
Keempat, pendekatan positif-objektif. Seperti ditegaskan sebelumnya, bahwa seringkali epistemologi Barat mengabaikan persoalan-persoalan yang bersifat metafisik, maka pendekatan positif objektif banyak memainkan peranan dalam hal ini. Pendekatan ini bahkan dapat dikatakan sebagai lawan dari pendekatan filsafat spekulatif atau metafisik. Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh aliran positivisme dengan tokoh terkemuka Agus Comte (1798-1857). Pendekatan ini berpandangan bahwa hanya objek positiflah yang dapat dialami kebenarannya, maka ilmu yang objeknya tidak positif bukan merupakan ilmu yang sebenarnya. Karenanya positivisme bertentangan dengan idealisme yang dipelopori Plato.
Kelima menentang dimensi spiritual. Karena bertentangan dengan dimensi spiritual, epistemologi Barat cenderung bersifat materialistik dengan menjadikan manusia sebagai subjek atas segala sesuatu. Dalam mekanisme kerja ilmiah Barat, keterlibatan unsur spiritual bukan saja tidak dibutuhkan dalam bidang ilmu eksakta, tetapi juga dalam ilmu sosial. Epistemologi Barat lebih menekankan orientasi antroposentris dan mengabaikan orientasi teosentris.
Epistemologi Islam lahir sebagai alternatif dari terabaikannya nilai-nilai transendental atau objek metafisika dari apa yang telah dibangun pada epistemologi Barat. Epistemologi dalam terminologi Islam—seperti ditulis Omar Hasan Kasole Sr —dipahami sebagai ilmu pengetahuan, ‘ilm al ‘ilm. Epistemologi berarti mempelajari asal-usul, hakikat dan metode sebuah ilmu pengetahuan dengan tujuan mendapatkan keyakinan. Epistemologi Islam (nadhariyyat ma'rifiyyat Islamiyyat) didasarkan pada paradigma tauhid. Parameter utamanya adalah wahyu (wahy), sedangkan parameter sekunder dapat disesuaikan dengan keadaan, waktu dan tempat yang bervariasi. Sumbernya adalah wahyu (al Qur’ân dan As Sunnah), observasi dan percobaan empiris, serta alasan kemanusian. Menurutnya, tantangan-tantangan epistemologi Islam saat ini adalah meraih obyektivitas (al istiqamat) yaitu tetap pada jalan kebenaran dan tidak dapat digoyahkan oleh tingkah laku dan hawa nafsu.
Sebagaimana penjelasan di atas, prinsip-prinsip tauhid menjadi penekanan penting dalam epistemologi Islam, dan karena berkaitan dengan tauhid, maka menjadi wajar jika sumber primer epistemologi Islam adalah al Qur’ân dan Sunnah. Akan tetapi pandangan semacam ini masih terkesan apologetis dan belum benar-benar mampu menampakkan hubungan antara prinsip tauhid dengan objek yang bersifat metafisik untuk kemudian menjadi basis epistemologi Islam. Untuk melihat secara kongkrit prinsip tauhid sebagai pijakan epistemologi, maka apa yang pernah ditulis Mulyadhi Kartanegara dalam buku Integrasi Ilmu: Sebuah Rekonstruksi Holistik, tampaknya perlu dijadikan sebagai bahan perbandingan.
Jika harus membandingkan antara epistemologi Barat dengan epistemologi Islam, maka perlu diulang kembali—sebagaimana yang juga ditegaskan Mulyadhi—bahwa sains modern (Barat) telah menentukan objek-objek ilmu yang sah adalah segala sesuatu yang dapat diobservasi atau diamati oleh indra. Dengan demikian, konsep epistemologi Barat menganggap objek yang bersifat metafisik tidak masuk pada wilayah pengkajian ilmu, karena tidak dapat diobservasi dan diamati oleh indra. Sebenarnya pandangan semacam ini bisa memunculkan dua kesimpulan sekaligus, kesimpulan pertama boleh jadi membenarkan konsep epistemologi Barat yang menganggap objek metafisik sebagai bukan ilmu karena ia tidak dapat diverifikasi, tapi sekaligus akan terbantah dengan kesimpulan kedua yang justru menganggap epistemologi Barat tampak rapuh karena pada dasarnya objek metafisik dapat diverifikasi dengan metode tertentu yang ditawarkan dalam epistemologi Islam.
Dalam ranah filsafat, metafisik merupakan kajian tertinggi karena ia menyangkut wujud non-fisik. Filsafat cenderung menyebutnya hierarki wujud sebagai sebab pertama, yang dalam ranah agama sebab dari wujud tersebut dihubungkan dengan Tuhan sebagai wujud mutlak yang menduduki posisi tertinggi. Al Farabi, membagi bidang kajian metafisika ini kepada tiga bagian, yaitu: (1) bagian yang berhubungan dengan eksistensi wujud-wujud atau ontologi; (2) bagian yang berhubungan dengan substansi material, sifat dan bilangan, derajat keunggulan, yang merupakan prinsip terakhir dari segala sesuatu yang lainnya sebagai sumber wujud atau teologi, dan; (3) bagian yang berhubungan dengan prinsip-prinsip utama yang mendasari ilmu-ilmu khusus.
Secara indrawi tentu objek metafisik-seperti dijelaskan di atas- tidak mampu dijamah sehingga menjadi mustahil diverifikasi sebagai pengetahuan yang benar. Akan tetapi fakta ini tentu tidak serta merta dapat dijadikan alasan untuk mengklaim objek metafisik sebagai bukan wilayah ilmiah, bahkan diragukan kebenarannya. Sebelum lebih jauh mengemukakan pandangan epistemologi Islam dalam menarik wilayah metafisik sebagai objek keilmuan, ada baiknya dipaparkan sedikit tentang bagaimana kebenaran dapat diuji dalam ranah filsafat. Paling tidak ada tiga konsep ukuran kebenaran dalam kajian filsafat, yaitu: pengujian secara koresponden, koheren, dan pragmatis. Ketiga konsep ukuran tersebut secara sederhana dapat digambarkan melalui skema di bawah ini:


Gambar 4
Skema Ukuran Kebenaran



(Sumber: hasil analisa dan pengolahan beberapa sumber)


Berdasarkan skema di atas, maka dapat dipahami bahwa ukuran kebenaran koresponden menghendaki persesuaian antara fakta dengan pernyataan, dengan demikian teori koresponden ini lebih banyak dipergunakan oleh kelompok realis. Jika disebutkan bahwa papan tulis berwarna hitam, pernyataan tersebut dapat dianggap benar ketika dalam faktanya dapat dibuktikan bahwa papan tulis yang dituju memang berwarna hitam. Pengukuran kebenaran dengan teori korespondensi ini memang menjadi teori yang paling mudah diterima, tapi bukan berarti tidak menuai kritik. Sebab, adakalanya suatu kebenaran tidak memiliki realitas yang objektif, seperti ide manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, karenanya teori koherensi atau konsistensi diperkenalkan oleh idealis-rasionalis untuk mengatasi hal ini.
Nur Ahmad Fadhil Lubis menjelaskan teori koherensi menempatkan kepercayaan dalam konsistensi atau keharmonisan sebagai proporsi dan pertimbangan. Suatu pertimbangan adalah benar jika pertimbangan tersebut bersifat konsisten (runtut) dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang diterima kebenarannya. Teori koherensi ini juga mendapatkan pertentangan karena terlalu bertumpu pada konsistensi, padahal konsistensi tidak hanya dimiliki kebenaran. Kesalahan juga dapat bersifat konsisten, karenanya dalam hal ini teori pragmatis memberikan jalan keluarnya. Pengukuran kebenaran secara pragmatis akan mempertimbangkan nilai guna pada sesuatu yang dianggap benar.
Melihat tiga konsep ukuran kebenaran sebagaimana dipaparkan di atas, maka sudah tentu objek yang bersifat metafisik tidak dapat diukur secara objektif dengan menggunakan teori koresponden, tapi ini tidak berarti kebenaran objek tersebut tidak terukur melalui teori koherensi, bahkan pragmatis. Memang cukup jarang dilakukan pengujian secara koherensi terhadap kebenaran adanya Tuhan yang merupakan objek metafisik—sekalipun hal tersebut dapat dilakukan, namun demikian secara pragmatis Tuhan benar adanya karena meyakini bahwa Tuhan benar adanya memiliki nilai guna bagi kehidupan manusia.
Eksistensi Tuhan sebagai realitas sejati (Inggris The Ultimate Reality; Arab al Haq) dalam epistemologi Islam diyakini—bahkan dibenarkan—sebagai sumber utama segala ilmu. Karena berhubungan dengan Tuhan, maka sumber pengetahuan tentang-Nya mutlak akan disandarkan pada al Qur’ân, dan tentunya hal ini akan bertentangan dengan epistemologi Barat, sebab Tuhan tidak dapat diverifikasi secara indrawi. Akan tetapi, harus disadari—seperti ditekankan Mulyadhi—dengan menyandarkan status ontologis pada objek-objek yang fisik dan mengabaikan metafisik, pada dasarnya epistemologi Barat telah terbantah berdasarkan fakta yang seringkali terabaikan, bahwa dengan ketundukannya pada “kejadian” (generation) dan “kehancuran” (corruption), maka alam fisik tidak mungkin menjadi sebab dari dirinya. Konsekuensi logis dari konsep ini menghendaki adanya sebab utama yang dalam epistemologi Islam diyakini sebagai Tuhan.
Mulyadhi lebih jauh menegaskan, untuk kepentingan ini al Farabi merumuskan konsep hierarki wujud (martabat al maujudat) sebagaimana deskripsi berikut:
1. Di puncak hierarki wujud adalah Tuhan yang merupakan sebab bagi keberadaan yang lain;
2. Para malaikat, di bawahnya, yang merupakan wujud-wujud yang murni immaterial;
3. Benda-benda langit atau angka (celestial); dan,
4. Benda-benda bumi (terresstrial).
Penting pula dicatat—dalam penegasan Mulyadhi lebih lanjut—bahwa sebab berbeda dengan akibat, sebab berdiri sendiri (self sufficient) yang oleh Suhrawardi disebut dengan istilah al Ghani, yang tidak membutuhkan apapun dari yang lain, sementara akibat (al faqir) akan bergantung pada yang lain. Karenanya, status ontologis Tuhan—sebagai sebab utama—jauh lebih fundamental dan esensial dari pada status ontologis alam dan lainnya sebagai akibat yang muncul dari-Nya.
Pada dasarnya, konsep yang dikembangkan al Farabi tentang hierarki wujud dapat dianggap sebagai sebuah upaya untuk merasionalisasikan eksistensi Tuhan sebagai objek yang seringkali dianggap tidak rasional. Konsep ini lebih dikenal dengan istilah emanasi, sebuah proses untuk menggambarkan akibat yang banyak lahir dari satu sebab, yaitu Tuhan sebagai sumber sebab yang bersifat Esa, tidak berubah, jauh dari materi, Maha Sempurna, dan tidak berhajat pada apapun. Proses emanasi yang dirumuskan al Farabi dapat digambarkan melalui skema berikut ini:

Gambar 5
Skema Emanasi al Farabi’


(Sumber: Yamani, 2005:30)


Konsep emanasi al Farabi—sebagaimana digambarkan melalui skema di atas—merupakan sebuah upaya untuk mendeskripsikan bagaimana yang banyak dapat lahir dari yang Esa. Berdasarkan proses emanasi tersebut, dapat dipahami bahwa segala yang ada bersumber dari yang satu, yaitu Tuhan sebagai sumber utama. Proses emanasi yang digambarkan al Farabi berhenti pada akal kesepuluh yang kemudian memunculkan bumi, roh-roh, serta materi pertama yang menjadi dasar empat unsur: api, udara, air, dan tanah.
Mulyadhi Kartenegara menjadikan teori emanasi al Farabi’ ini sebagai salah satu yang mendasari integrasi ilmu yang disebutnya sebagai “konstruksi holistic”. Dalam kenyataannya, epistemologi Islam memang benar-benar menjadi alternatif bagi metodologi keilmuan modern (Barat) yang cenderung mengabaikan objek metafisik, dan melalui epistemologi Islam hal tersebut dapat diatasi. Fakta ini semakin diperkuat dengan sejumlah alasan, seperti ditegaskan Mulyadhi, seorang ahli astro-fisika kontemporer Bruno Guiderdoni mengatakan: “pengamatan yang seksama terhadap fenomena alam dengan menggunakan alat-alat yang semakin canggih sekarang ini justru telah menimbulkan banyak sekali teka-teki yang tidak terselesaikan. Semakin dalam alam diamati, semakin banyak ia menguak rahasia-rahasianya yang tak kunjung selesai”.

E. Integrasi Ilmu
Karena tauhid menjadi prinsip dasar epistemologi Islam dengan asumsi bahwa Tuhan merupakan status ontologis yang utama, maka dalam konsep epistemologi Islam status ontologi seluruh ilmu pengetahuan adalah Tuhan. Dengan asumsi semacam ini, dikotonomi antara agama dan ilmu pengetahuan yang cenderung sekuler tentu dapat diselesaikan melalui upaya integrasi ilmu. Integrasi ilmu memang memiliki makna yang beragam, sebagaimana ditekankan Zainal Abidin Bagir, integrasi tidak bermakna tunggal. Integrasi ilmu dan agama dapat bermakna penggabungan sistem sekolah agama dan sekolah umum; penyandingan rumus-rumus ilmu alam dengan ayat suci; atau, penyatuan ayat sudi dengan temuan ilmiah modern. Integrasi yang dioreintasikan Abidin Bagir sendiri disebutkan sebagai “integrasi yang konstruktif”.
Mulyadhi Kartanegara—seperti telah disinggung sebelumnya—mendemonstrasikan integrasi melalui apa yang ai sebut sebagai “rekonstruksi holistik”. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah menjadikan tauhid sebagai landasan integrasi ilmu, dari sini kemudian dapat dilakukan integrasi objek dan sumber ilmu; integrasi bidang-bidang ilmu, seperti fisika, matematika, dan metafisika; integrasi metode dan penjelasan ilmiah, serta; integrasi ilmu-ilmu praktis dan teoretis.
Armahedi Mazhar, pencetus “integralisme Islam”, memberikan gambaran tentang beberapa model integrasi, yaitu: pertama, model monadik-totalistik. Model ini cukup dikenal di kalangan fundamentalisme religius maupun sekuler. Kalangan religius memandang agama sebagai keseluruhan semua cabang, sementara kalangan sekuler menganggap agama sebagai salah satu cabang kebudayaan. Model monadik-totalistik ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 6
Model Monadik Totalistik



(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 94)
Mazhar sendiri berpandangan bahwa model monadik-totalistik ini sulit dijadikan landasan integrasi sains dan agama di lembaga-lembaga pendidikan. Mengingat kelemahan tersebut, diajukan model kedua, yaitu model diadik. Model diadik ini memiliki beberapa varian, antara lain: (1) model diadik independen; (2) model diadik komplamenter, (3) model diadik dialogis, dan; (4) model triadik komplamenter. Varian yang pertama memandang agama dan sains merupakan dua kebenaran yang setara, sains membicarakan fakta ilmiah sedangkan agama membicarakan nilai ilahiah. Varian pertama model ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 7
Model Diadik Independen



(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 96)

Varian kedua dari model diadik memandang sains dan agama adalah sebuah kesatuan yang tidak terpisah. Untuk memahami model ini, sangat tepat apa yang pernah diungkapkan Firtjof Capra, “sains tidak membutuhkan mistisisme dan mistisisme tidak membutuhkan sains, akan tetapi manusia membutuhkan keduanya”. Karenanya varian model diadik ini disebut dengan model diadik komplamenter dan dapat digambarkan dengan sebuah lingkaran yang terbagi oleh sebuah garis lenkung menjadi dua bagian yang sama luasnya, sebagaimana ditunjukkan pada gambar berikut ini:


Gambar 8
Model Diadik Komplamenter



(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 97)

Varian ketiga adalah model diadik dialogis yang dapat dilukiskan secara diagram dengan dua buah lingkaran sama besar yang saling berpotongan. Terdapat beberapa kesamaan antara sains dan agama dan menjadi wilayah yang dapat didialogkan. Aspek yang dapat didialogkan tersebut misalnya, seperti temuan Maurice Bucaille tentang sejumlah fakta ilmiah di dalam al Qur’ân; atau para ilmuan yang menemukan bagian pada otak yang disebut “the God spot” yang dipandang sebagai pusat kesadaran religius manusia. Varian model ini dapat digambarkan seperti diagram berikut ini:
Gambar 9
Model Diadik Dialogis



(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 97)


Model ketiga adalah model traidik. Model ini merupakan suatu konstruksi terhadap model diadik independent. Pada model ini terdapat unsur ketiga yang menjebatani sains dan agama. Unsur yang menjembatani keduanya adalah filsafat, sebagai model yang diajukan para teolog. Model ini dapat digambarkan seperti gambar berikut ini:

Gambar 10
Model Triadik Komplamenter



(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 98)

Seperti disebutkan di atas, model ini hanya merupakan perluasan dari model diadik komplamenter dengan memasukkan filsafat sebagai komponen ketiga yang letaknya di antara sains dan agama. Model ini mendapatkan koreksi dengan dikembangkannya model tetradik. Wilber kemudian memperkenalkan model keempat kuadran. Model empat kuadran Wilber ini sumbu individu/sosial diletakkan secara horizontal dengan individualitas di sebelah kiri dan sosialitas di sebelah kanan. Sementara itu sumbu interior/eksterior diletakkan pada arah vertikal dengan interioritas di sebelah kiri dan eksterioritas di sebelah kanan. Model ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 11
Model Empat Kuadran Ken Wilber



(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 99)

Mahzar sendiri memandang model Wilber ini masih mengalami banyak kelemahan. Ia kemudian memperkenalkan paradigma integralisme Islam, yang menambahkan unsur kelima, yaitu kategori sumber yang merupakan sumber esensial bagi kategori nilai-nilai. Paradigma integralisme Islam yang diperkenalkan Mahzar dirangkumkan melalui tabel di bawah ini:

Tabel 2
Paradigma Integralisme Islam

Kategori
(Integralitas) Epistemoligi
Shūfī Aksiologi
Fiqhi Teologi
Tauhidi Kosmologi
Hikmati

Sumber Rūhī
Spirit Qur’ānī
Transendental Dzātullah
Substansi Tāmmah
Kausa Prima

Nilai Qalbi
Nurani Sunnī
Universal Shifatullah
Atribut Ghaā’iyah
Kausa Final

Informasi Aqli
Rasio Ijtihādi
Kultural Amrullāh
Perintah Shūriyah
Kausa Formal

Energi Nafsī
Naluri Ijma’i
Sosial Sunatullah
Prilaku Fā’illiyah
Kausa Efisien

Materi Jismi
Tubuh ‘Urf
Instrumental Khalqillāh
Ciptaan Māddiyah
Kausa Materiil

(Sumber: Mahzar dalam Zainal Abidin Bagir [ed]. 2005: 101)

Beranjak dari beberapa model integrasi yang dideskripsikan Armahedi Mahzar, pada tempat yang lain M. Amin Abdullah memperkenalkan paradigma jaring laba-laba keilmuan yang bercorak teoantroposentris-integralistik. Paradigma ini dikembangkan Amin Abdullah berkaitan dengan kasus studi ilmiah di perguruan Islam yang menurutnya masih jauh berada pada fokus lingkar pertama dan jalur lingkar lapis dua. Berdasarkan paradigma jaring laba-laba yang diperkenalkannya, Amin Abdullah menunjukkan demikian luasnya jarak pandang atau horizon keilmuan integralistik. Amin Abdullah juga menegaskan, melalui integrasi ini pada dasarnya setiap langkah kelimuan yang ditempuh selalu dibarengi landasan etika moral keagamaan objektif dan kokoh karena keberadaan al Qur’ân dan Sunnah yang dimaknai secara baru (hermeneutis) selalu menjadi pijakan pandangan hidup keagamaan manusia yang menyatu dalam satu tarikan nafas keilmuan dan keagamaan. Paradigma jaring laba-laba yang diperkenalkan Amin Abdullah ditunjukkan dengan gambar berikuti ini:


Gambar 12
Jaring Laba-laba Kelimuan
Teoantroposentrik-Integralistik



(Sumber: Amin Abdullah, 2006: 107)

Terkait dengan kondisi studi ilmiah di perguruan tinggi Islam—seperti telah ditegaskan sebelumnya—Amin Abdullah memandang bahwa radius daya jangkauan aktivitas keilmuan, lebih-lebih pendidikan agama di perguruan tinggi agama, khususnya IAIN dan STAIN di seluruh tanah air, masih terfokus pada lingkar pertama dan jalur lingkar lapis dua (Kalam, Falsafah, Tasawuf, Hadis, Tarikh, Fiqih, Tafsir dan Lughah), bahkan—tegas Amin Abdullah lebih lanjut—hanya terbatas pada ruang gerak pendekatan keilmuan humaniora klasik.
Berangkat dari berbagai pandangan di atas, maka dapat dipahami bahwa melakukan reintegrasi terhadap studi ilmiah di dunia Islam dalam berbagai aspek tidak saja dapat dilakukan, bahkan sangat dibutuhkan mengingat semakin majunya bidang-bidang kajian keilmuan pada ranah keilmuan umum. Tesis yang penulis tulis ini dapat dikatakan sebagai salah satu wujud dari pentingnya reintegrasi tersebut, meskipun tidak secara sempurna dapat mencover seluruh kebutuhan pada setiap bidang kajian, karena fokus kajian tesis ini adalah bangunan epistemologi komunikasi Islam melalui pengembangan metodologinya.

No comments:

Post a Comment