Friday, April 1, 2011

ASBABUN NUZUL

ASBABUN NUZUL



A. Pendahuluan

Secara bahasa Asbabun nuzul terdiri dari dua kata : Asbab dan Nuzul. Asbab merupakan bentuk jama’ dari kata sababun yang artinya sebab-sebab, sedangkan nuzul bentuk masdhdar dari kata anzala berarti turun. Pengertian Asbabun nuzul secara istilah adalah sesuatu yang melatar belakangi turunnya suatu ayat, yang mengungkapkan suatu permasalahan dan menerangkan hukum sesuatu pada saat terjadinya suatu peristiwa.
Berdasarkan definisi di atas dapat diketahui bahwa sebab-sebab turunnya suatu ayat itu adakalanya berbentuk peristiwa dan adakalanya berbentuk pertanyaan. Dalam hal ini asbabun nuzul sifatnya situasional, yakni situasi yang adakalnya didahului pertanyaan yang diajukan oleh sahabat kepada Nabi SAW untukmengetahui hukum syara’, atau juga untuk menafsirkan sesuatu yan berkaitan dengan agama. Adakalanya juga situasi yang berupa gambaran peristiwa yang terkandung dalam ayat itu sendiri.
Selain itu, dari definisi di atas dapat disimpulkan pula bahwa ayat-ayat al-Qur’an dari segi sebab-sebab turunnya dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian. Pertama, kelompok ayat-ayat yang turun tanpa didahului oleh sebab. Kedua, kelompok ayat-ayat yang turun didahului oleh sebab tertentu. Dengan demikian, tidak semua ayat harus mempunyai sebab-sebab turun. Ayat-ayat yang tidak mempunyai sebab-sebab turun kebanyakannya adalah ayat-ayat tentang keimanan kepada Allah dan rasulnya, ayat-ayat tentang akhlak, ayat-ayat yang mengisahkan umat-umat terdahulu beserta dengan nabinya, ayat-ayat tentang keimanan kepada yang ghaib, dan ayat-ayat tentang kejadian di hari akhirat nanti.
Terdapat banyak kegunaan untuk mengetahui sebab turunnya ayat, diantaranya untuk mengetahui hikmah penetapan hukum. Bahwa, pengetahuan tersebut menegakkan kebaikan ummat, menghindarkan bahaya, menggali kebajikan dan rahmat.
Bentuk redaksi yang menerangkan sebab nuzul itu terkadang berupa pernyataan tegas mengenai sebab dan terkadang pula berupa pernyataan yang hanya mengandung kemungkinan mengenainya. Bentuk pertama ialah jika perawi mengatakan: ” Sebab nuzul ayat ini adalah begini”, atau menggunakan fa ta’qibiyah (kira-kira seperti “maka“, yang menunjukkan urutan peristiwa) yang dirangkaikan dengan kata “turunlah ayat“, sesudah ia menyebutkan peristiwa atau pertanyaan.
Sebagian besar ayat-ayat Alquran pada dasarnya diturunkan untuk tujuan umum ini. Tetapi kehidupan para sahabat bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah, atau menghadapi masalah yang masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui bagaimana hukum Islam dalam hal itu.
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai Asbabun Nuzul, maka di dalam makalah ini penulis akan mengemukakan contoh ayat dan Asbabun Nuzulnya. Yakni al-Qur’a, surat al- Baqarah ayat 26.

B. Pembahasan
1. Pengertian Asbabun Nuzul
Secara bahasa Asbabun nuzul terdiri dari dua kata: Asbab dan Nuzul. Asbab merupakan bentuk jama’ dari kata sababun yang artinya sebab-sebab, sedangkan Nuzul bentuk mashdar dari kata anzala berarti turun. Pengertian Asbabun nuzul, secara istilah adalah sesuatu yang melatarbelakangi turunnya suatu ayat, yang mengungkapkan suatu permasalahan dan menerangkan hukum sesuatu pada saat terjadinya suatu peristiwa.

2. Fungsi mengetahui sebab Turunnya Ayat
Terdapat banyak kegunaan untuk mengetahui sebab turunnya ayat, di antaranya adalah :
1. Mengetahui hikmah penetapan hukum. Bahwa, pengetahuan tersebut menegakkan Kebaikan umat, menghindarkan bahaya, menggali kebajikan dan rahmat.
2. Pengetahuan terhadap sebab turunnya ayat membantu memahami maksud ayat
dan menafsirkan dengan benar, menghindari pemakaian kata dan simbol yang (keluar) dari maknanya.
3. Di antara manfaat mengetahui sebab turunya ayat adalah kemudahan dalam
menghafal, memahami serta memantapkan kepastian wahyu dalam ingatan / pikiran.
4. Pengetahuan terhadap siapa yang dituju (oleh sebuah) ayat menjadi jelas, sehingga tidak dibenarkan menduga-menduga siapa pun sebagai orang yang bertanggung jawab.
5. Di antara manfaat mengetahui Asbab an-Nuzul, adalah mengetahui bahwa sebab turunnya ayat tidak keluar dari hukum ayat, apabila terdapat yang mengkhususkannya.
6. Takhsis terhadap hukum dengan Asbab an-Nuzul, di mana orang yang memandang lafal / ungkapan ayat adalah dengan sebab-khusus, tidak dengan keumuman lafal.






3. Perlunya mengetahui Asbabun nuzul
Pengetahuan mengenai asbabun nuzul mempunyai banyak faedah, yang terpenting di antaranya:
a. Mengetahui hikmah diungkapkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap Kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa, karena sayangnya kepada umat.
b. Mengkhususkan (membatasi) hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi, Bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum.
c. Apabila lafal yang turunkan itu lafal yang umum dan terdapat dalil atas
Pengkhususannya, maka pengetahuan mengenai asbabun nuzul membatasi pengkhususannya itu hanya terhadap yang selain bentuk sebab.
d. Mengetahui sebab nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab nuzulnya.
e. Sebab nuzul dapat menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan.










4. Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 26 dan terjemahannya.
 •       •     •         •                      a


Artinya :
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.

5. Tafsir

•       •   

a. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.

Maksudnya, Allah Yang Maha Kuasa itu sungguh tiada menganggap sebagai sesuatu kehinaan membuat perumpamaan dengan nyamuk atau lainnya yang lebih kecil. Sebab dialah pencipta segala sesuatu, kecil maupun besar.

•        

b. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka.

Maksudnya,orang-orang mukmin mengatakan, bahwa Allah membuat perumpamaan ini hanyalah karena hikmah dan kepentingan yang menghendaki demikian, yaitu untuk menetapkan dan menguatkan kebenaran. Jadi, Allah membuat perumpamaan itu untuk menjelaskan hal yang masih samar, yaitu sesuatu yang maknawi diungkapkan dalam inderawati atau memerinci yang global, agar menjadi jelas dan tenang.

•          


c. Tetapi orang-orang kafir berkata : Apakah yang Allah kehendaki dengan perumpamaan seperti ini ?
Orang kafir, yaitu kaum Yahudi dan Musyrikin, setelah melihat kebenaran Nabi saw, membantah dan mengatakan: Apakah yang Allah kehendaki dengan membuat perumpamaan remeh ini, yang berisi lalat dan laba ? Kalau mereka mau mengerti perumpamaan ini, tentu mereka menyadari betapa pentingnya, dan tidak akan mau mengingkarinya. Tetapi manusia itu makhluk yang paling banyak membantah. Kemudian pernyataan mereka ini Allah jawab dengan Firmannya:

     

d. Dia sesatkan banyak orang dengan perumpamaan itu, dan dia beri petunjuk banyak
orang dengannya itu.
Maksudnya, orang-orang bodoh, bila mendengar perumpamaan yang remeh, mereka menyombongkan diri, menentang dan mengingkarinya. Sikap seperti itulah menyebabkan kesesatan mereka. Tetapi orang-orang yang insaf dan berakal sehat, bila mendengar perumpamaan seperti itu, mereka jadikan petunjuk jalan. Karena mereka menilai sesuatu menurut kegunaannya.
    
e. Dan Dia tidak sesatkan dengan perumpamaan ini kecuali orang-orang fasik
Maksudnya, perumpamaan remeh yang Allah buat itu tidak menyebabkan manusia sesat, kecuali orang-orang yang menyimpang dari sunnatullah yang berlaku pada makhluknya, menyalahi akal dan perasaan sehat, serta petunjuk dari kitab suci yang Allah berikan kepada Rasul-Rasulnya.
•       •   

Artinya :
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu.

Maksud penggalan ayat ini : ketika Allah membuat perumpamaan berupa nyamuk, kaum kafir memahaminya dengan pengertian tersurat tanpa memahami maksud yang tersirat, maka mereka berkata: Apa maksud dan tujuan perumpamaan Allah berupa nyamuk yang sangat kecil ini, yang bila dipukul dengan sesuatu atau dengan tangan ia pun akan mati. Mengapa Allah tidak membuat perumpamaan berupa gajah atau singa yang mempunyai kekuatan yang lebih besar ? Sebagaimana ungkapan mereka di rekam.…………………………………………………………….
        

Apa maksud tujuan Allah dengan perumpamaan ini.
Tetapi mereka tidak mengetahui bahwa pada bentuk nyamuk yang halus itu ada kekuatan yang luar biasa. Karena dalam ukuran yang kecil itu, telah diciptakan Allah semua sarana yang sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Oleh sebab itu orang-orang yang beriman kepada Allah pasti menerima ayat ini sebagai kalam Allah sekaligus mempercayainya, baik mereka memahaminya ataupun tidak. Mereka menerima ayat ini atas dasar iman kepada allah dan inilah sebenarnya hakikat iman seorang mukmin.
Setiap orang yang membenarkan bahwa Al Qur’an adalah Firman Allah tidak akan menerima keterangan atau hikmah yang ada di dalam Al Qur’an,kebalikan orang kafir yang selalu berkata : “ Apa yang diinginkan Alla dari perumpamaan ini ?” kemudian Allah menjawab dengan firmannya :
            

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah dan banyak pula orang yang di berinya petunjuk, dan tidak ada yang disesatkan oleh Allah kecuali orang-orang fasik.
Untuk menolak perkataan orang-orang Yahudi : ”Apa maksud Allah menyebutkan barang-barang hini ini”, yakni ketika Allah mengambil perbandingan para lalat dalam firmannya” dan sekitaranya lalat mengambil sesuatu dari mereka” dan pada laba-laba dalam firmannya” tak obahnya seperti laba-laba.

6. Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Allah membuat dua perumpamaan kaum munafikin dalam Firmannya (Q.S. 2 al Baqarah : 17 dan 19), berkatalah kaum munafikin:” Mungkinkah Allah yang Maha Tinggi dan Maha luhur membuat perumpamaan seperti ini ?” Maka Allah menurunkan Ayat tersebut di atas ( Q.S. 2 al-Baqarah : 26 ).
Ayat ini menegaskan bahwa dengan perumpamaan-perumpamaan yang Allah kemukakan, orang yang beriman akan menjadi lebih tebal imannya dan hanya orang fasik yang pasik yang akan semakin sesat karena menolak petunjuk Allah.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa surah 2 al-Baqarah ayat 26 tersebut diturunkan sehubungan dengan surah 22 al-Hajj ayat 73 dan surah 29 al-‘Ankabut ayat 41, dengan reaksi kaum munafikin yang berkata:”Bagaimana pandanganmu tentang Allah menerangkan lalat dan laba-laba di dalam al-Quran yang diturunkan kepada Muhammad.Apakah ini bukan bikinan Muhammad ?”

Firman Allah dalam Surat al-Hajj ayat 73 dan terjemahnya.

 ••                              

Artinya :
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, Maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, Tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.




Firman Allah didalam al-Ankabut 41


            •         

Artinya :
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat tersebut di atas (Q.S. 2 al-Baqarah:26 ), diturunkan sehubungan dengan surah 22 al-Hajj ayat 73 dan surah 29 al-‘Ankabut ayat 41, dengan reaksi kaum musyrikin yang berkata: “ contoh macam apakah ini yang tidak patut di buat perumpamaan ?”
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Allah membuat dua contoh perumpamaan kaum munafiqin dalam firmannya ( S.2 : 17 dan 19 ), berkatalah kaum munafikin : “Mungkinkah Allah Yang Maha Tinggi dan Maha luhur membuat contoh seperti iri ?”. Maka Allah turunkan ayat tersebut di atas ( S. 2 : 26 ).
Ayat ini menegaskan bahwa dengan perumpamaan-perumpamaan yang Allah kemukakan, orang yang beriman akan menjadi lebih tebal imannya dan hanya orang fasik yang akan lebih sesat dari petunjuk Allah.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat 26 tersebut diatas,(S.2: 26) diturunkan sehubungan dengan surat al-Haj ayat 73 (S. 22:73) dan surat al-Ankabut ayat 41), dengan reaksi kaum munafiqin yang berkata :” Bagaimana pandanganmu tentang Allah yang menerangkan lalat dan laba-laba di dalam Al- Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad. Apakah ini bukan bikinan Muhammad ?”
Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa ketika Allah menerangkan laba-laba dan lalat dalam surat al- Haj 73 ( S. 22: 73) dan surat al-Ankabut ayat 41 ( S. 29 : 41), dengan reaksi kaum munafikin yang berkata:” Bagaimana pandanganmu tentang Allah yang menerangkan lalat dan laba-laba di dalam Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad. Apakah ini bukan bikinan Muhammad ?”
Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa ketika Allah menerangkan laba-laba dan lalat dalam surat al-Haj 73 (S.22 : 73) dan al-Ankabut 41 ( S.29 : 41),kaum musyrikin berkata :”Apa gunanya laba-laba dan lalat diterangkan dalam Al-Qur’an?”. Maka Allah turunkan ayat tersebut di atas (S.2: 26).
Dalam riwayat lain dikemukakan, bahwa ayat tersebut di atas (S.2: 26) diturunkan sehubungan dengan surat al-Haj 73 (S.29 : 41), dengan reaksi kaum musyrikin yang berkata :” Contoh macam apakah ini yang tidak patut dibuat perumpamaan ?”
Allah tidak akan segan untuk membuat perumpamaan dengan sesuatu yang dia kehendaki : misalnya dengan nyamuk atau yang lebih rendah darinya. Semua itu adalah makhluknya dan keajaiban kebijakannya dalam penciptaan nyamuk dan semut itu sama seperti keajaiban kebijakannya dalam penciptaan gajah dan unta.
Dan orang beriman, ketika mendengar perumpamaan ini, ia akan meyakini bahwa perumpamaan ini benar dan datangnya pasti dari sisi Allah. Berbeda dengan orang kafir: ia akan terdiam kebingungan dan terus dihinggapi keraguan. Setiap perumpamaan yang diutarakan akan membuat orang yang beriman semakin bertambah keimanannya dan orang kafir semakin bertambah kekafirannya.
Maka dari itu kita akan mendapatkan keteguhan dan kekokohan iman pada diri seorang yang alim dan memahaminya tanda-tanda kebesaran Allah; karena ia akan mendapat banyak bukti dan petunjuk. Dan keadaan iman yang sangat kokoh ini tidak akan pernah kita jumpai pada orang yang berpaling dari petunjuk Allah. Bahkan, pada diri orang yang menyimpang lagi fasik ini, kita akan melihatnya justru semakin bertambah kefasikannya ketika mendengar bukti-bukti nyata dan alasan-alasan yang jelas.
‘Abdurrazaq meriwayatkan dari Mu’tamar, dari Qatadah, menurutnya: “Ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat, orang-orang musyrik pun bertanya: “Untuk apa laba-laba itu disebut ?” lalu Allah menurunkan ayat :
•       •   
Makna ayat tersebut bahwa Allah tidak memberitahukan bahwa dia tidak memandang remeh. Ada yang mengartikan, tidak takut untuk membuat perumpamaan apa saja baik dalam bentuk yang kecil maupun yang besar.
  
Salah satunya menyatakan: “Artinya yang lebih kecil dan hina, ”sebagaimana jika seseorang disifati dengan tabi’at keji dan kikir. Maka orang yang mendengarnya mengatakan: “ Benar, ia lebih dari itu,” maksudnya apa yang disifatkan. Ini merupakan pendapat al-Kisa-i dan Abu ‘Ubaid.
Pendapat kedua menyatakan :” Artinya yang lebih besar darinya,”karena tidak ada yang lebih hina dan kecil daripada nyamuk, ini pendapat Qatadah Ibnu Da’amah, dan menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Maka Allah memberitahukan bahwa Dia tidak pernah menganggap remeh sesuatu apapun yang telah dijadikannya sebagai perumpamaan, meskipun hal yang hina dan kecil seperti halnya nyamuk. Sebagaimana Dia tidak memandang enteng penciptaannya, Dia pun tidak segan untuk membuat perumpamaan dengan nyamuk tersebut, sebagaimana Dia telah membuat perumpamaan dengan lalat dan laba-laba. Di dalam al-Qur’an terdapat banyak perumpamaan.
Sebagian ulama Salaf menuturkan:” jika aku mendengar perumpamaan didalam al-Qur’an, lalu aku tidak memahaminya, maka aku menangisi diriku, karena Allah telah berfirman :
   ••      
: Artinya
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang
memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”(QS.Al-‘Ankabut : 43).
•       
Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. ”Qatadah mengatakan:” artinya, mereka mengetahui bahwa yang demikian itu merupakan firman Allah dan berasal dari sisinya.”
Hal yang sama juga diriwayatkan dari Mujahid, al-Hasan al-Bashri, dan ar-Rabi’ bin Anas. Menurut Abul ‘Aliyah:
•       
Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, Yakni perumpamaan tersebut.
Firman Allah selanjutnya:
•        
“ Adapun orang-orang yang kafir, maka mereka mengatakan: "Apakah maksud Allah Menjadikan ini untuk perempamaan. Allah berfirman:

           
Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
Kesesatan mereka itu akan terus bertambah karena pengingkaran mereka terhadap perumpamaan yang diberikan Allah dan telah mereka ketahui dengan benar dan yakin.
Ketika perumpamaan itu benar dan tepat, maka yang demikian itu merupakan penyesatan bagi mereka. Dan dengan perumpamaan itu Dia telah memberikan petunjuk kepada banyak orang yang beriman, sehingga petunjuk demi petunjuk terus bertambah bagi mereka, iman pun semakin tebal, karena kepercayaan mereka atas apa yang mereka ketahui secara benar dan yakin bahwa ia pasti sesuai dengan apa yang diperumpamaan.

C. Penutup
Asbabun nuzul secara istilah adalah sesuatu yang melatar belakangi turunnya suatu ayat, yang mengungkapkan suatu permasalahan dan menerangkan hukum sesuatu pada saat terjadinya suatu peristiwa, dan adakalanya berbentuk pertanyaan.Dalam hal ini asbabun nuzul sifatnya situasional, yakni situasi yang adakalanya didahului pertanyaan yang diajukan oleh sahabat kepada nabi Muhammad SAW untuk mengetahui hukum syara’ atau juga untuk menafsirkan sesuatu yang berkaitan dengan agama.
Allah tidak akan segera untuk membuat perumpamaan dengan sesuatu yang dia kehendaki: misalnya dengan nyamuk atau yang lebih rendah darinya. Semua itu adalah makhluk-nya dan keajaiban kebijakan-nya dalam penciptaan nyamuk dan semut itu semua seperti keajaiban kebijakannya dalam penciptaan gajah dan unta. Bahkan, bentuk dan susunan makhluk yang kecil lagi hina ini lebih memukau dan menakjubkan dari makhluk yang besar.
Al-Qur’an surat al- Baqarah ayat 26, merupakan contoh Asbabun nuzul. Ayat ini diturunkan sehubungan dengan surah 22 al-Hajj ayat 73 dan surah 29 al-‘Ankabut ayat 41, kaum musyrikin berkata: “Apa gunanya laba-laba dan lalat diterangkan dalam al-Qur’an? “ Maka Allah menurunkan ayat tersebut diatas.























DAFTAR PUSTAKA

Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an, Terj, Mudzakir As, Jakarta: Litera AntarNusa, 1994.
Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maragi, Terjemah Bahrum Abu Bakar, Lc, dan Heri Noer Aly Semarang : CV.Toha Putra, 1993.
Al-Qarni, ‘Aidh. Tafsir Muyassar, Terjemah Team Qisthi Press, Jakarta:2007.
Ibnu Abbas, Tanwir al Maqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas, Beirut Lebanon : Dar al kutub al Ilmi’ah, 1992.
As Syafi’I, Imam Abi Muhammad Al Husain Ibn Mas’ud al Fara’I al Baghawayyi. Tafsir al Baghawayyi, Beirut Lebanon: Dar al Kutub al Ilmi’ah, 1993.
Ar- Rumi, Fahd bin Abdurrahman. Ulumul Qur’an, Terjemah Amirul Hasan, Yogyakarta: Titian Haki, 1996.
As Syuyuthi, Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaluddin. Tafsir Jalalain Asbabun nuzul, ayat, Terj. Bahrum Abu Bakar, Bandung: Sinar Baru Al gensindo, 2008.
Ibnu Katsir, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsir, H. Salim Said Bahraisy Surabaya: Bina Ilmu, 1993.
Mustafa, Al Maraghi, Terjemah Al- Maraghi, Semarang: CV. Toha Putra, 1987.
M. Zaka Al farisi, A.A Dahlan. Asbabun nuzul, Bandung : CV. Penerbit Di Ponegoro, 2000.
Yunus, Mahmud.Tafsir Al-Qur’an karim, Singapore, 1973.
Shihab, M.Quraish. Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan, 1993
Said Hawii, Tafisr Al Asasu, Darusslam, Nasro Tanjih, 1993.
Sya’rawi, Syekh Muhammad Mutawalli. Tafsir Sya’rawi, Medan: Duta Azhar, 2006.

1 comment:

  1. Terima kasih...
    Sangat bermanfaat...
    Salam Komukote...

    ReplyDelete