Thursday, March 17, 2011

SKALA PENGUKURAN

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam penelitian kuantitatif, peneliti akan menggunakan istrumen untuk mengumpulkan data penelitian. Istrumen penelitian ini digunakan untuk meneliti variabel yang diteliti. Dengan demikian junlam instrumen yang akan digunakan untuk penelitian tergantung pada jumlah variabel yang diteliti. Instrumen-instrumen penelitian sudah ada yang dibekukan, tapi ada yang harus dibuat peneliti sendiri. Karena instrumen penelitian akan diguankan untuk melakukan pengukuran dengan tujuan menghasilkan data kuantitatif yang akurat, maka setiap istrumen harus mempunyai skala.
Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam penelitian akan menghasilkan data kuantitatif. Sebagai contoh, misalnya timbangan emas sebagi instrumen untuk mengukur berat emas, disebut dengan skala mligram (mg) dan kan menghasilkan data kuantitatif berat emas dalam satuan mg bila digunakan untuk mengukur; meteran dibuat untuk mengukur panjang dibuat dengan skala mm, dan akam menghasilkan data kuantitatif panjang dengan satuan mm.
Dengan skala pengukuran ini, maka variabel yang akan diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.
Ada beberapa macam teknik skala yang bisa digunakan dalam penelitian. Antara lain adalah: Skala Nominal, Skala Ordinal, Skala Interval, Skala Rasio, Skala Linkert, Skala Perbedaan Semantik, dan Skala Guttman. Ketujuh macam teknik skala tersebut bila digunakan dalam pengukuran, akan mendapatkan data interval, atau rasio. Hal ini tergantung pada bidang yang akan diukur.

BAB II
SKALA PENGUKURAN

Black dan Champion (1999: 148) mendefenisikan skala pengukuran sebagai pemberian angka-angka secara nominal terhadap perangkat sosial atau perangkat psikologis individu atau kelompok yang sesuai dengan aturan dan menetapkan hubungan diantara keduanya secara simbolik. Sedangkan menurut Singarimbun (1982: 69-70), skala pengukuran adalah penunjukan anka-angka pada suatu variable.
Pada dasarnya skala pengukuran dapat dibedakan kepada empat macam yaitu: (1) skala pengukuran nominal yang menghasilkan data berskala nominal, (2) skala ordinal yang menghasilkan data berskala ordinal, (3) skala interval yang menghasilkan data berskala interval, dan (4) skala rasio yang menghasilkan data berskala rasio (Soepeno, 1997: 5).

A. Skala Nominal
Skala nominal adalah skala yang digunakan untuk mengkategorikan data atas dasar kriteria yang jelas dan tegas dan bersifat diskrit. Dalam skala nominal tidak diberi konotasi perbedaan harga, suatu kategori tidak lebih tinggi dari kategori yang lain. Fungsi bilangan hanya sebagai lambang yang menunjukan perbedaan kelompok.
Contoh skala nominal ialah jenis kelamin : 1 pria, 2 wanita. Angka 1 dan 2 hanya sebagai lambang untuk membedakan jenis kelamin pria dan wanita. Angka 1 berarti lebih tinggi atau lebih rendah nilainya dari angka 2. demikian juga agama: angka 1 misalnya dijadikan sebagai lambang agama Islam, angka 2 Protestan, angka 3 Katolik, angka 4 Hindu dan angka 5 Budha. Angka-angka tersebut tidak menunjukan perbedaan tingkatan, fungsinya hanya sebagai tanda yang membedakan suatu kelompok dengan kelompok lain. Contoh lain adalah suku-suku yang ada di Indonesia: Batak, Jawa, Sunda, Minang, Madura dan sebagainya.
Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai contoh kita mengklaisfikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karakteritik tertentu.
Adalah skala yang semata-mata hanya untuk memberikan indeks, atau nama saja dan tidak mempunyai makna yang lain. Contoh:

Data Kode (a) Kode (b)
Yuni 1 4
Desi 2 2
Ika 3 3
Astuti 4 1

Keterangan: Kode 1 sampai dengan 4 (a) semata-mata hanyalah untuk memberi tanda saja, dan tidak dapat dipergunakan sebagai perbandingan antara satu data dengan data yang lain. Kode tersebut dapat saling ditukarkan sesuai dengan keinginan peneliti (menjadi alternatif b) tanpa mempengaruhi apa pun.

B. Skala Ordinal
Skala ordinal ialah skala berjenjang yang menunjukan posisi sesuatu lebih atau kurang dari lainnya, fungsi bilangan selain sebagai lambang juga sebagai rangking. Tetapi walaupun skala ordinal ini dapat menentukan kedudukan seseorang dalam kelompok, namun besarnya perbedaan itu tidak dinyatakan secara konkrit.
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Misalnya frekuensi menonton televisi seseorang dapat di ukur dengan menggunakan skala ordinal.
a. Sangat sering menonton
b. Sering menonton
c. Jarang menonton
d. Sangat jarang menonton
keempat alternative jawaban tersebut menunjukan adanya tingkatan frekuensi menonton televisi antara sangat sering, sering, jarang, dan sangat jarang menonton televisi. Namun tidak diketahui secara konkrit perbedaan keempat frekuensi menonton televisi tersebut.
Contoh-contoh lain yang termasuk kepada skala ordinal ini ialah daftar proyek yang diurut berdasarkan prioritas, status social ekonomi masyarakat yang di urut mulai dari sangat kaya, kaya, sedang, miskin, dan sangat miskin, pernyataan terhadap sesuatu apakah sangat setuju, setuju, ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju dan sebagainya.
Adalah skala ranking, di mana kode yang diberikan memberikan urutan tertentu pada data, tetapi tidak menunjukkan selisih yang sama dan tidak ada nol mutlak.
Contoh:
Data Skala Kecantikan (a) Skala Kecantikan (b)
Yuni 4 10
Desi 3 6
Ika 2 5
Astuti 1 1

Skala kecantikan (a) di atas menunjukkan bahwa Yuni paling cantik (dengan skor tertinggi 4), dan Astuti yang paling tidak cantik dengan skor terendah (1). Akan tetapi, tidak dapat dikatakan bahwa Yuni adalah 4 kali lebih cantik dari pada Astuti. Skor yang lebih tinggi hanya menunjukkan skala pengukuran yang lebih tinggi, tetapi tidak dapat menunjukkan kelipatan. Selain itu, selisih kecantikan antara Yuni dan Desi tidak sama dengan selisih kecantikan antara Desi dan Ika meskipun keduanya mempunyai selisih yang sama (1). Skala kecantikan pada (a) dapat diganti dengan skala kecantikan (b) tanpa mempengaruhi hasil penelitian.
Skala nominal dan skala ordinal biasanya mempergunakan analisis statistik non parametrik, contoh: Korelasi Kendall, Korelasi Rank Spearman, Chi Square.

C. Skala Interval
Skala interval ialah pengukuran jarak antara dua gejala atau lebih untuk mendapatkan perbedaan skor. Fungsi bilangan selain sebagai lambing dan rangking, juga menunjukan perbedaan yang mempunyai besaran sama, dan mempunyai ciri yang berkelanjutan sehingga dapat di ukur.
Contoh : prestasi belajar siswa dari 0-100
Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa dalam skala interval angka 0 tidak memiliki harga mutlak, tetapi nilainya relative. Dalam arti kalaupun seseorang memperoleh nilai 0 pada pelajaran matematika tidak dapat ditafsirkan bahwa pengetahuan tentang matematika tidak ada sama sekali.
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka. Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric.
Skala pengukuran yang mempunyai selisih sama antara satu pengukuran dengan pengukuran yang lain, tetapi tidak memiliki nilai nol mutlak.
Contoh:
Data Nilai Mata Kuliah (a) Skor Nilai Mata Kuliah (b)
Yuni A 4
Desi B 3
Ika C 2
Astuti D 1

Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai A setara dengan 4, B setara dengan 3, C setara dengan 2 dan D setara dengan 1. Selisih antara nilai A dan B adalah sama dengan selisih antara B dan C dan juga sama persis dengan selisih antara nilai C dan D. Akan tetapi, tidak boleh dikatakan bahwa Yuni adalah empat kali lebih pintar dibandingkan Astuti, atau Ika dua kali lebih pintas dari pada Astuti. Meskipun selisihnya sama, tetapi tidak mempunyai nilai nol mutlak.

D. Skala Rasio
Skala rasio ini pada prinsipnya sama dengan skala interval. Bedanya pada skala rasio angka 0 bersifat absolut. Apabila dikatakan panjang suatu meja adalah 0 cm, maka dapat ditafsirkan bahwa meja itu tidak mempunyai panjang sama sekali. Disamping itu angka-angka pada skalarasio memiliki kualitas bilangang yang riil yang dapat dijumlahkan, dikurangkan, dikalikan, dibagikan dan dinyatakan dalam hubungan rasio.
Misalnya seseorang yang mempunyai berat badan 40 kg, berarti dua kali lebih berat dari seseorang yang mempunyai berat badan 20 kg. kecepatan tempuh satu kendaraan bermotor 50 kg/jam, dua kali lebih cepat dari kendaraan yang mempunyai jarak tempuh 25 km/jam. Contoh lain: umur A 30 tahun dan umur B 15 tahun, maka dapat dikatakan bahwa umur A dua kali lebih dari umur b.
Skala rasio mempunyai sifat yang hamper sama dengan skala interval. Karena itu semua teknik yang dapat digunakan untuk skala interval, juga dapat dipakai untuk menganalisis data yang berskala rasio.
Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.
Di samping jeni skalatersebut di atas masih ada jenis skala lain yang lazim digunakan dalam ilmu social termasuk juga dalam ilmu komunikasi. Diantaranya yabg paling popular ialah (1) skala Likert, (2) skala perbedaan semantic, (3) skala Guttman, dan skala (4)Thurstone. Namun pada prinsipnya skala-skala ini juga mengikut kepada salah satu skala: nominal, ordinal, interval atau rasio.
Adalah skala pengukuran yang paling tinggi di mana selisih tiap pengukuran adalah sama dan mempunyai nilai nol mutlak.
Contoh:
Data Tinggi Badan Berat badan
Yuni 170 60
Desi 160 50
Ika 150 40
Astuti 140 30

Tabel di atas adalah menggunakan skala rasio, artinya setiap satuan pengukuran mempunyai satuan yang sama dan mampu mencerminkan kelipatan antara satu pengukuran dengan pengukuran yang lain. Sebagai contoh; Yuni mempunyai berat badan dua kali lipat berat Astuti, atau, Desi mempunyai tinggi 14,29% lebih tinggi dari pada Astuti.

E. SKALA LIKERT
Skala Likert adalah alat ukur mengenai sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang gejala social. Dalam penelitian fenomena social ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti yang selanjutnya disebut sebagai variable penelitian. Dengan skala Likert maka variabel yang akan di ukur dijabarkan menjadi indicator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Skala Likert diciptakan dan diperkenalkan oleh Likert. Dalam penggunaannya peneliti lebih dahulu menetapkan secara spesifik variable-variabel peneliti lengkap dengan indicator –indikator setiap variable.
Indikator-indikator ini kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun instrument peneliti dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Jawaban dari setiap pertanyaan atau pernyataan itu mempunyai tingkatan mulai dari sangat positif sampai sangat negatif seperti contoh berikut:

1. sangat setuju Sangat positif sangat sering
2. setuju Positif sering
3. Ragu-ragu Netral Kadang-kadang
4. tidak setuju Negatif Hampir tidak pernah
5. sangat tidak setuju sangat negatif Tidak pernah
Penerapan skala Likert dalam bentuk ceklis dengan menggunakan alternative jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS) dapat dilihat dalam contoh berikut:

No Pernyataan Alternatif Jawaban
SS S N TS STS
1



2



3




4 Saya menonton TV setiap pagi sebelum pergi bekerja

Setiap waktu
Kosong saya
gunakan menonton TV

TV mempunyai
Nilai hiburan lebih
Tinggi dibandingkan
Dengan media lain

Dan seterusnya V




V


V


Di samping skala Likert dalam bentuk ceklis, dapat juga di buat dalam bentuk pilihan berganda seperti berikut:
1. saya tetap mengikuti acara yang saya gemari di televise walaupun ada kegiatan penting yang lainnya.
a. sangat setuju
b. setuju
c. netral
d. tidak setuju
e. sangat tidak setuju

2. apakah Bapak/Ibu mengawasi pola menonton televise anak-anak di rumah?
a. sangat sering
b. seing
c. kadang-kadang
d. hamper tidak pernah
e. tidak pernah
Menurut James dan Dean (1999: 171-172), ada beberapa kelebihan dan kelemahan skala Likert. Kelebihan system pengukuran dengan menggunakan skala Likert ialah:
1. Skala Likert dapat dibuat dan di interpertasikan dengan mudah karena peneliti menggabungkan pengalaman profesionalnya dengan logika (akal sehat) dalam menurunkan jumlah soal dari seluruh pandangan teoritis yang abstrak, sehingga tidak terlalu sulit untuk menyusun angket sebagai alat ukur.
2. Skala likert merupakan bentuk pengukuran yang sangat lazim dipakai dalam penelitian social.
3. Skala likert bersifat fleksibel
4. Pengukuran yang lazim digunakan dalam skala likert adala pengukuran ordinal. Berbagai teknik statistic dapat digunakan untuk menganalisis tingkat ordinal
5. Skala likert sama dengan bentuk pengukuran setiap lainnya seperti Thutstone dan skala Guttman.

Namun di samping kelebihan skala Likert tersebut, ada juga kelemahannya yaitu:
1. Tidak ada makna yang konsisten yang biasa diberikan pada skor mentah yang dihasilkan.
2. Mengasumsikan setiap soal memiliki bobot yang sama dalam hubungannya dengan pernyataan lain yang mungkin memiliki makna yang lebih dalam bagi subjek.
3. Skor mentah merupakan perkiraan yang sangat kasar.

F. SKALA PERBEDAAN SEMANTIK
Skala perbedaan semantic ialah skala perbedaan yang berusaha mengukur arti objek atau konsep bagi responden. Responden diminta untuk menilai suatu objek atau konsep seperti sekolah, surat kabar, televisi, radio dan sebagainya.
Menurut James dan Dean (1999: 181-182), skala perbedaan semantic mengandung arti skala yang di gunakan untuk mengukur sikap pada penelitian social dan tidak memiliki derajat penerapan. Tetapi skala ini membuat alat untuk mengukur makna psikologis, social, dan objek-objek fisik pada subjek.
Skala perbedaan semantic ini merupakan susunan dalam satu garis kontinum yang jawabannya sangat positif dan sangat negative pada tempat yang berlawanan arah. Responden dapat memberikan jawaban positif negatif, actual –basi, membuka wawasan membodohi dan sebagainya.
Contoh skala perbedaan semantic:

Aktual 5 4 3 2 1 Basi
Lengkap 5 4 3 2 1 Kurang
Kritis 5 4 3 2 1 memusuhi
Membuka 5 4 3 2 1 Membodohi
Wawasan
Menyangkut 5 4 3 2 1 Kepentingan
Kepentingan Kelompok
Umum

G. SKALA GUTTMAN
Skala Guttman lazim digunakan dalam penelitian politik, sosiologi, pendapat umum, antropologi dan ilmu-ilmu social lainnya. Skala Guttman lazimnya mengajukan beberapa pernyataan yang maknanya mempunyai tingkatan-tingkatan dan kedalaman yang berbeda seperti contoh berikut:
1. Penyiaran pornografi di televisi adalah merusak masyarakat
2. anak-anak tidak diperkenankan menonton pornografi di televisi
3. manager stasiun televisi tidak membolehkan penayangan ponografi pada stasiun televisi mereka
4. pemerintah harus melarang penayangan pornografi di televisi.

Apabila responden memilih nomer 4, berarti dengan pernyataan nomor 1-3. jika responden memilih nomor 3, berarti juga setuju dengan pernyataan nomor 1 dan 2. demikian pula jika nomor yang dipilih adalah 2, berarti dia juga setuju dengan pernyataan nomor 1.
Skala pengukuran Guttman dengan tipe ini akan di dapat jawaban yang tegas “ya-tidak”; “pernah-tidak pernah”; “positif-negatif” dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka pada skala Guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju” atau “tidak setuju”. Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Contoh:
1. Bagaimana pendapat anda, bila orang itu menjabat pimpinan di perusahaan ini?
a. Setuju
b. Tidak setuju
2. Pernahkah pimpinan melakukan pemeriksaan di ruang kerja anda?
a. Tidak pernah
b. Pernah

Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk cheklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan terendah nol. Misalnya untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0. Analisa dilakukan seperti pada skala Likert.
Pernyataan yang berkenaan dengan fakta benda termasuk dalam skala pengukuran interval dikotomi.
Contoh:
1. Apakah tempat kerja anda dekat Jalan Protokol ?
a. Ya
b. Tidak
2. Anda punya ijazah sarjana?
a. Tidak
b. Punya






























BAB III

A. KESIMPULAN

Pengukuran dapat didefinisikan sebagai suatu proses sistimatik dalam menilai dan membedakan sesuatu obyek yang diukur. Pengukuran tersebut diatur menurut kaidah-kaidah tertentu. Kaidah-kaidah yang berbeda menghendaki skala serta pengukuran yang berbeda pula.
Dalam mengolah dan menganalisis data, kita sangat berkepentingan dengan sifat dasar skala pengukuran yang digunakan. Operasi-operasi matematik serta pilihan peralatan statistik yang digunakan dalam pengolahan data, pada dasarnya memiliki persyaratan tertentu dalam hal skala pengukuran datanya. Ketidaksesuaian antara skala pengukuran dengan operasi matematik /peralatan statistik yang digunakan akan menghasilkan kesimpulan yang bisa dan tepat/relevan.Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis.
Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk menganalisa datanya.
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karaktersitik antara satu individu atau obyek dengan lainnya.
Angka-angka yang digunakan dapat dipergunakan dapat dilakukan operasi aritmatika, misalnya dijumlahkan atau dikalikan. Untuk melakukan analisa, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametric. Skala pengukuran ratio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut.
Nilai absoult nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran ratio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.

B. Saran
Saran merupakan sebuah usulan yang realistis baik secara keilmuan maupun hal-hal praktis.































DAFTAR PUTAKA



Arikunto, S. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. (Rineka Cipta. Jakarta).
2002
Cahyono, Bambang Tri. Metodologi Riset Bisnis. (Jakarta: Badan Penerbit IPWI).
1996
Syukur Kholil, Metodologi Penelitian (Bandung : Cipta Pustaka Media) 2006

Sarwono, J. 2003. “Perbedaan Dasar antara Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif“.http://www.w3.org/TR/REChtml40.

Nazir, Mohammad. Metode Penelitian. (Jakarta: Ghalia Indonesia.) 1999

Supranto, J. Metode Riset: Aplikasinya dalam Pemasaran. (Jakarta: Rineka Cipta).
1997
TrochimWilliamM2002“PhilosophyofResearch”.http://trochim.humancornell.edu/derived/philosophy.htm.

Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. (Bandung :Alfabeta) 2007














No comments:

Post a Comment