Thursday, March 17, 2011

MATURIDIYAH

Pemikiran Al-Maturidiyah : Abu Mansur Al-Maturidi

A. Pendahuluan
Teologi sebagai ilmu yang membahas tentang ketuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan. Memperoleh pengetahuan tentang kedua hal tersebut haruslah dengan mempergunakan akal dan wahyu. Akal sebagai daya berfikir yang terdapat dalam diri manusia yang berusaha keras untuk dapat sampai kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban akal manusia bias sampai kepada Tuhan.
Pada awal kelahiran Islam terutama di saat Rasulullah masih hidup jarang terjadi perbedaan signifikan di kalangan para sahabat yang sampai mengakibatkan perpecahan. Hal ini dikarenakan setiap permasalah yang muncul selalu dapat diselesaikan karena Rasulullah langsung memberikan jawaban terhadap permasalahan tersebut, terutama jika para sahabat tidak mengerti tentang maksud dari suatu ayat maka mereka langsung menanyakan kepada Rasulullah.
Semenjak wafatnya Rasulullah Saw keadaan ini dapat nertahan ditengah-tengah umat Islam hingga terbunuhnya khalifah Utsman bin affan dalam suatu tragedi berdarah di rumah beliau. Terlebih lagi ketika Ali bin Abi Thalib memegang kekhalifahan, saat itulah banyak orang mempertanyakan kembali keabsahan khalifah Islam, sehingga muncul beberapa kelompok yang memberontak terhadap kekuasaan menantu Rasulullah itu. Perselisihan ini pada kahirnya membawa umat Islam pada perseteruan yang berakibat fatal atas persatuan umat Islam.
Dengan demikian maka lahirlah beragam aliran dalam Islam. Namun beragam aliran tersebut tergilas oleh zaman sehingga saat ini sudah tidak ada lagi ditemukan, kecuali hanya sejarah yang tertulis di beberapa literatur. Salah satu aliran tersebut adalah paham Maturidiyah yang lahir pada pertengahan abad kesembilan Masehi dan meninggal pada tahun 944 Masehi.
Selanjutnya dalam makalah ini akan dipaparkan secara singkat tentang paham aliran tersebut di atas yang berkaitan dengan latar belakang dan tokoh-tokohnya.
B. Latar Belakang munculnya aliran Al-Maturidiyah
Nama aliran maturidiyah ini diambil dari nama pendirinya yakni Abu Mansur Muhammad bin Muhammad al-Hanafi al-Mutakallim al-Maturidi al-Samarkandi . Ia lahir di Matured dekat Samarkan wilayah Trasoxania Asia Tengah (sekarang termasuk daerah Uzbekistan). Oleh sebahagian peneliti sejarah al-Maturidi dinyatakan keturunan dari Abu ayyub al-Anshari, seorang ssahabat Rasulullah di Madinah. Hal ini menurut mereka diperkuat oleh fakta bahwa sebahagian kaum kerabat al-Maturidi yang tinggal di Samarkand adalah seorang yang berasal dari Arab Madinah.
Menurut Harun Nasution beliau lahir pada pertengahan abad kesembilah Masehi dan meninggal pada tahun 944 Masehi. Al-Maturidi memperoleh pendidikan dari ulama yang terkenal di masanya: seperti Syekh Abu Bakar Ahmad bin ishak, Abu Nashr Ahmad bin abbas, Nassa’i bin Yahya al-bakhi, Muhammad bin Muqatil Ar-Razi yang kesemuanya merupakan murid Imam Abu Hanifah.
Aliran Al-Maturidi sebagaimana juga al-Asy’ari tampil sebagai reaksi bagi faham teologi Mu’tazilah. Kedua mazhab ini mempunyai persamaan dalam asas ajaran dan metode pemikiran dalam kaitan dengan kedudukan nas dan akal. Sehingga tampak bahwa jalan pemikiran yang dikembangkan oleh Maturidi agak dekat dengan jalan pemikiran yang dimajukan oleh Mu’tazilah.
Perbedaan sistem teologi tersebut nampaknya dilatarbelakangi oleh perbedaan mazhab yang di anut, al-Asy’ari menganut mazhab Syafi’i sedang Al-Maturidi menganut mazhab Hanafi.
Sebagaimana dijelaskan sebeluan mazhab Hanafi yang dianutnya bmnya bahwa pikiran teologi al-Asy’ari sangat banyak mempergunakan teks nash agama maka Al-Maturidi dengan mazhab Hanafi yang dianutnya banyak mempergunakan takwil daalam pemikiran teologinya. Kendatipun Al-Maturidi tampil sebagai penentang ajaran-ajaran yang dikembangkan Mu’tazilah pemikiran-pemikiran teplogi yang dibawa oleh Al-Maturidi lebih dekat dengan Mu’tazilah.
Dikalangan para penganut mazhab Hanafi hasil pemikiran Al-Maturidi dalam bidang aqidah dipandang sama dengan pendapat-pendapat Imam Abu Hanifah. Sebagaimana diketahui bahwa Abu Hanifah sebelum memasuki lapangan fiqh secara intensif dikenal sebagai pemikir teologi. Karya besar Abu Hanifah terkenal di bidang kalam adalah sebuah buku yang berjudul Al-fiqh akbar.
Aliran fiqih yang dianut oleh al-Maturidi sebagaimana yang dianut gurunya yaitu aliran fiqh Hanafi dalam bidang teologi Maturidi merupakan penerus dan pengembang pemikiran Abu Hanifah yang banyak menggunakan rasio . Al-Maturidi telah menulis beberapa karya ilmiah yang kesemuanya masih dalam bentuk manuskrip yang antara lain kitab at-ta’wil al-Qur’an kitab an-na’khaz asy-syara’i, kitab al-jadal, kitab at-tauhid, dan kitab bayan wahm mu’tazilah.
Untuk mengetahui suatu pengetahuan yang benar menurut Al-Maturidi diperlukan tiga sumber :
1. Pancaindra (Al-A’yan)
2. Berita (Al-Akhbar)
3. Akal (An-Nadzr)
Akal merupakan sumber penting diantara tiga sumber itu, sebab tanpa akal maka pancaindra dan berita tidak dapat memberikan kepastian pengetahuan. Meskipun besar peranan akal menurut Al-Maturidi sebagai pancaindra memiliki keterbatasan. Oleh karena itu perlu adanya bimbingan yakni berupa wahyu Allah bila akal bertentangan dengan hukum syara’ maka akal harus tunduk pada hukum syara’. Sunah Rasul diakui sebagai sumber juga dengan ketentuan tidak mengabaikan sifat kritis terhadap isi sanadnya.
Adapun tokoh utama dari aliran Al-Maturidiyah adalah Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi (421-493). Kakek al-Bazdawi yaitu Abdul karim adalah murid Al-Maturidi. Al-Bazdawi ajaran-ajaran Al-Maturidi melalui ayahnya yaitu Abu al-Hasan Muhammad al-Bazdawi. Selanjutnya al-Bazdawi belajar kepada ulama-ulama Hanafiah seperti Ya’kub bin Yusuf bin Muhammad an-Nisaburi dan Syekh al-Imam Abu al-Khatab.
Seperti pewarisan yang sudah melalui tiga jenjang terhadap al-Bazdawi sendiri tidak urung membuat berbagai perbedaan antara dia dengan Al-Maturidi. Apalagi hal itu bila dikaitkan dengan kebebasan intelektual dikalangan ulama masa lampau. Inilah kemudian yang membuat terdapatnya dua cabang dalam aliran Al-Maturidiyah.
Al-Maturidiyah cabang Samarkand yang dilontarkan dengan Al-Maturidi agak dekat dengan Mu’tazilah sedangkan maturidiyah cabang Bukhara oleh al-Bazdawi dekat dengan asy-‘ariah. Pemikiran-pemikiran al-Bazdawi lahir sebagai hasil analisis komperatif atas pembahasan terhadap 96 masalah yang dikemukakan dalam kitab Ushuludin.

C. Pemikiran Al- Maturidi
Keahlian Al- Maturidi dalam bidang teologi Islam menjadikan masyarakat memberikan gelar kepadanya dengan sebutan “Imam al-huda” ada juga yang memberi gelar “Imam al-mutakallim”.
Berikut ini penulis memaparkan beberapa pokok pemikiran kalam Al- Maturidi:
1. Akal dan wahyu
Dalam pemikiran teologi Al- Maturidi berdasarkan pada wahyu dan akal. Menurut Al- Maturidi mengetahu Tuhan dan dapat diketahu dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui hl tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memproses pengetahuan dan keimananya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang mahluk ciptaan-Nya. Jikalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut tentunya Allah tidak memerintahkan manusia melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang telah diperintahkan ayat-ayat tersebut.
Al- Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam:
a. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu
b. Akal dengan sendirinya hanya mengetahui keburukan sesuatu itu
c. Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
Dalam hal ini ada perbedaan antara golongan Samarkand dan Bukhara dalam hal fungsi akal dan wahyu:
Maturidiyah golongan Samarkand memberi kekuatan yang tinggi pada akal untuk dapat mengetahu Tuhan. Kewajiban terhadap Tuhan dan kebaikan serta kejahatan, sedangkan untuk mengetahui kewajiban berbuat baik dan kewajiban menjauhi perbuatan jahat hanya dapat diketahui dengan wahyu.
Adapun golongan Bukhara untuk dapat mengetahui Tuhan dan kebaikan serta kejahatan dapat diketahui dengan akal sedangkan mengetahui kewajiban terhadap Tuhan dan kewajiban berbuat baik serta kewajiban menjauhi perbuatan jahat hanya dapat diketahui dengan wahyu.

2. Pebuatan manusia
Al- Maturidi menyatakan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaan-Nya, khusus mengenai perbuatan manusia, kebijaksanaan dan keadilan kehendak Tuhan mengharuskan manusia memiliki kemampuan berbuat agar kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya dapat dilaksanakan.
Beliau juga menyebutkan adanya dua perbuatan, yaitu perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia . Perbuatan Tuhan mengambil bentuk penciptaan daya itu sendiri merupakan perbuatan manusia. Daya diciptakan bersama-sama dengan perbuatan. Perbuatan manusia adalah perbuatan manusia dalam arti sebenarnya, pemberian upah dan hukuman sesungguhnya didasarkan pada pemakaian daya yang diciptakan.
Kehendak manusia dalam pemahaman Al- Maturidi bukanlah kehendak bebas yang dikenal dalam Mu’tazilah. Kebebasan kehendak disini bukanlah kebebasan untuk berbuat yang tidak dikehendaki Tuhan, tetapi kebebasan untuk berbuat sesuatu yang tidak disukai Tuhan.
3. Kekuasaan dan kehendak Mutlak Tuhan
Perbuatan manusia dan segala sesuatu dalam wujud ini yang baik dan buruk dan ciptaan Tuhan. Akan tetapi pernyataan ini menurut Al- Maturidi bukan berarti bahwa Tuhan berbuat dan berkehendak dengan sewenang-wenang sekehendak-Nya semata. Hal tersebut terjadi karena qudrat tidak sewenang-wenang (absolutu) tetapi perbuatan kehendak-Nya ini berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan-Nya yang sudagh ditetapkan-Nya sendiri.

4. Sifat Tuhan
Berkaitan dengan masalah ini terdapat persamaan antara pemikiran Maturidi dan Asy’ari keduanya berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat seperti sama’, bashar dan sebagainya. Meskipun demikian pendapat al-Maturidi dan al-Asy’ari berbeda sifat Tuhan sebagai sesuatu yang bukan zat melainkan melekat pada zat itu sendiri. Al- Maturidi menjelaskan bahwa pembicaraan tentang sifat harus didasarkan atas pengakuan bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat-Nya sejak zaman ‘azali tanpa pemisahan antara sifat-sifat zat. Sifat itu tidak dikatakan sebagai esensi-Nya dan bukan pula dari esensi-Nya.

5. Melihat Tuhan
Al- Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, hal ini diberitahukan oleh Al-Qur’an antara lain firman Allah dalam surat al-Qiyamah ayat 22-23. lebih lanjut ia mengatakan bahwa Tuhan kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata, karena Tuhan mempunyai wujud walaupun immaterial, namun melihat Tuhan kelak di akhirat tidak dalam bentuk-Nya karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia.

6. Kalam Tuhan
Pemecahan yang dilakukan oleh Al- Maturidi terhadap kalamullah adalah dengan cara memandang perkataan Tuhan dan membaginya kepada dua segi, yakni:
a. Kalam nafsi yang ada pada zat Tuhan dan qadim dan buka seperti perkataan manusia. Kalam nafsi tersebut menjadi sifat Tuhan sejak zaman ‘azali. Manusia tidak bisa mengetahui hakekatnya dan tidak bisa di dengar atau di baca kecuali dengan perantara.
b. Kalam yang terdiri dari huruf dan suara kalam ini sudah terang, baru dan diadakan.
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadis). Al-Qur’an dalam arti kalam yang tersusun dari huruf dan kata-kata. Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya dan bagaimana Allah bersifat dengannya tidak dapat diketahui kecuali dengan suatu perantara.

7. Perbuatan manusia
Menurut Al- Maturidi tidak ada sesuatu yang terdapat di alam ini kecuali semua atas kehendak Tuhan dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan, kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan kehendak-Nya sendiri. Oleh karena itu Tuhan tidak wajib berbuat ash-shalah wa al-ashlah (yang baik dan yang terbaik bagi manusia).
Setiap perbuatan Tuhan yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang dikehendaki-Nya, kewajiban-kewajiban tersebut antara lain:
a. Tuhan tidak akan membebankan kewajiban-kewajiban kepada manusia di luar kemampuannya karena hal tersebut tidak sesuai dengan keadilan. Manusia juga diberi kemerdekaan oleh Tuhan dalam perbuatan dan kemampuannya.
b. Hukuman atau ancaman, serta janji terjadi karena merupakan tuntutan keadilan yang sudah di tetapkan-Nya.

8. Pengutusan Rasul
Akal tidak selamanya mengetahui kewajiban yang dibebankan, seperti kewajiban mengetahui baik dan buruk serta kewajiban lainnya dari syariat yang di bebankan kepada manusia. Oleh karena itu menurut Al- Maturidi akal memerlukan bimbingan ajaran wahyu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban tersebut. Jadi pengutusan Rasul berfungsi sebagai suatu informasi tanpa mengikuti ajaran wahyu yang disampaikan Rasul berarti manusia telah mebebankan sesuatu yang berada di luar kemampuannya kepada akalnya.
Pengutusan Rasul menurut Al- Maturidi adalah sebuah kewajiban, sebab akal manusia tidak bisa mengetahui kewajiban-kewajibannya tanpa petunjuk wahyu.

9. Pelaku Dosa Besar
Al- Maturidi erpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak kafir dan tidak kekal dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertaubat. Hal ini karena Tuhan telah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya, kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang yang berbuat dosa syirik. Dengan demikian berbuat dosa besar selain syirik tidak akan menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka. Menurut Al- Maturidi iman cukup dengan tashdiq dan ikrar sedangkan amal adalah penyempurnaan iman. Oleh karena itu amal tidak akan menambah atau mengurangi esensi iman, kecuali hanya menambah atau mengurangi sifatnya saja.









C. Kesimpulan

Al-Maturidi lama berkonsentrasi pada kajian pemikiran beliau menanggapi problem ini dan mempertimbangkan pengaruhnya pada lapangan aqidah dan ibadah. Sikap itu tidak mengherankan karena ia adalah seorang muatakallimin dan faqih (ahli hukum Islam) dalam menyelesaikan masalah ini ia berusaha mensucikan keadilan ilmu dan kehendak Allah, sekaligus memperkokoh prinsip bertanggung jawab. Utnuk itu ia menjelaskan perbedaan pendapat dikalangan kaum muslimin mengenai kebebasan kehendak, baik itu jabariyah dan Qadariyah. Ia menjelaskan mengenai kekurangan dan kelemahan masing-masing pihak, ia juga meisa menjelaskan secara detail teori niat dan fisikologi.
Menurutnya manusia itu adalah pelaku yang bebas memilih apa yang dilakukannya. Al-Maturidiyah menjelaskan al-Qasd atau unsur kesengajaan merupakan salah satu unsur penting bagi kebebasan kehendak. Al-Qasd merupakan pangkal bagi taklif (perintah agama) yang mempunyai prinsip bagi pahala dan dosa, begitu juga pujian dan celaan. Seseorang berniat melakukan perbuatan baik maka Allah menciptakan qudrat pada dirinya agar bisa melakukannya dan berhak menerima pahala karena niatnya itu.
Al-Qasd harus disertai dengan kemampuan untuk berbuat yang disebut istita’ah. Al-Maturidi telah merinci masalah ini dengan menjelaskan pula hakikat dan sumbernya. Menurut istita’ah ada dua macam, pertama, istita’ah mumkinah (kemampuan yang mungkin) yang berarti keselamatan. Sebab alat dan anggota tubuh yang kesemuanya merupakan pemberian dari Allah yang berfungsi membantu seseorang untuk melakukan perbuatan dan tidak ada taklif untuk istita’ah ini. Oleh sebab itu seorang muslim tidak harus menunaikan ibadah haji. Kedua, istita’ah muyassirah (kemampuan yang memudahkan) yaitu qudrat hadisah (kemampuan temporal) yang menyebabkan manusia bisa berbuat.



DAFTAR PUSTAKA


As-Syahrastani,al-Milal wa an-Nihal I, Beirut: Daral Kutub Al-Ilmiyah,1992.
A H. Hanafi, Pengantar Teologi Islam Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1987
A. Daudi, Kuliah Ilmu Kalam, Jakarta : Bulan Bintang, 1997
Harun Nasution, Akal dan wahyu dalam Islam. Cet. I Jakarta: 1982
Yusran, M. Asmuni, Ilmu Tauhid, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996
Ahmad Amin, Zhuh al-Islam, jilid IV, Beirut : Dar al-Fikr, 1996
Al-Asy’ari, Abu al-Hasan, Al-Ibanah ‘an ushul al-Diniyah, Idarah al-Thaba’ah al-Muniriyah, Kairo: t.t

No comments:

Post a Comment